
"Kamu wanita cacat yang tempo hari ya, perasaan kita sering ketemu ya di bandara rumah sakit dan sekarang " ucap Fathar.
" Ini tempat umum Jadi wajar kita ketemu sebaiknya Anda menjauh jangan mengganggu teman saya" ucap Lilis mengusir Fathar.
"Aku tidak mengganggu cuma ketemu dan menyapa apa salah, lagian temanmu aneh udah ketemu tiga kali tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluarkan suara hanya menunduk" ungkap ku sambil memperhatikan wanita yang memakai masker yang dari tadi hanya diam dan menunduk.
" Emang masalah dengan anda kalau teman saya diam tidak mau komentar yang Anda omongkan".
"Apa jangan-jangan teman kamu itu bisu, Jadi selain kakinya yang cacat dia juga bisu" ucap ku kala itu memperlihatkannya.
" kasihan sekali suamimu nanti sudah cacat bisu lagi ,jangan-jangan mukamu juga jelek makanya selalu ditutupin"ucap ku mengingat setiap kali bertemu kalau tidak memakai cadarnya ya memakai masker.
Jadi karena dia istriku makanya setiap kali aku bertemu dengannya aku merasa berdebar hatiku dan aku yang telah menghinanya, yang telah merendahkannya kata hati Fathar terus mengingat setiap kata yang keluar dari mulutnya untuk menghina istrinya.
Pantas saja setiap kali ketemu dia tak pernah memandangku atau memperlihatkan matanya dia akan menunduk dan terus menunduk tanpa bersuara.Ahhhhh PRANG PRANG teriak Fathar sambil menghancurkan seisi kamarnya. Hari itu setelah Fathar tidak jadi bertemu Bagas dia langsung pulang ke rumah orangtuanya, baru paginya ia terbang seharusnya pas sidang pertama hari dia libur setelah pulang malam dari penerbangan Bandar Udara Internasional Supadio. Anehnya dari Bandar Udara Internasional Supadio dia bukan ke Bandara Soekarno-Hatta tapi ke Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara itulah yang mengakibatkan Fathar terlambat di persidangan pertamanya.
Yumi yang tidak tahu apa-apa langsung menghubungi kedua orang tuanya yang entah pergi ke mana dan bukannya pulang orang tuanya hanya bilang biarkan kakakmu tenang.
Sampai pukul 10 malam orang tuanya baru datang ke rumah bersama kakeknya dan Fathar yang sedang duduk di meja makan hanya dengan pandangan kosong dengan segelas Alkohol di tangannya.
Sebenarnya di rumah Raffi tidak ada alkohol tersedia entah dari mana Fathar mendapatkannya mungkin dari om Radit nya atau si Dino.
"Mama dari mana sih" tanya Yumi.
"Jagain cucu Mamanya lagi pergi" ucap Raffi membuat Fathar dan Yumi langsung melihat ke arahnya.
"Apa maksud papa juga tahu keadaan istriku yang sebenarnya" ucap Fathar .
"Iya "jawab Raffi tenang tanpa ekspresi berbeda dengan Yumi dan Ika yang sudah sangat kuatir.
"Dan kalian semua hanya diam tidak ada yang memberitahu aku satu pun"ucapnya geram.
"Memberitahu tentang apa"tanya Yumi yang kebingungan.
" Kamu tidak tahu kalau Feby sudah ketemu " .
"Mbak Feby sudah ketemu pantas Bagas susah dihubungi"jawab Yumi.
"Kamu sendiri yang membuat istrimu ingin menuntut cerai bukan kami" ucap Raffi.
"kalau dari awal kalian bilang Febi sudah ketemu dan mempertemukan kami aku tidak akan menghinanya".
"Mau siapapun itu perempuan mau dia cantik mau dia jelek mau dia cacat kamu tidak pantas menghinanya,kamu harus menghormatinya karena kamu lahir dari rahim perempuan karena dari rahim para perempuan anak-anakmu juga akan di lahir kan " ucap Raffi.
"Apa maksud papa bawa mama baru menjaga cucunya"tanya Yumi karena selama 10 menit tidak ada yang bicara, jadi dia bertanya yang mengagu pikirannya. Sukses ucapan Yumi membawa Fathar kembali dari pikirannya yang berkelana mengingat momen pertemuan pertama dengan istrinya yang di ikuti Luna kala itu.
"Iya "jawab Raffi.
" kenapa dari tadi Mama hanya diem setiap kali aku bertanya dan Fathar bertanya papa yang selalu menjawab" ucap Yumi heran.
" karena kalau mamamu yang menjawab bukan suara yang keluar hanya air mata yang keluar"ucap Raffi.
"Adiva Fathiyyah Raksa . Perempuan lemah lembut membawa kemenangan untuk keluarga Raksa" ucap Raffi.
" Kalau dia menyandang nama Raksa berarti dia anak salah satu dari kami, sedang sekarang aku belum menikah jadi dia anak.." ucap Yumi tak percaya sambil menutup mulutnya.
" Aku jadi seorang ayah dan kalian tega menutupi dariku" ucap Fathar lirih dengan muka penuh kekecewaan.
"Itu sepadan dengan perbuatanmu yang hampir menghilangkan nyawanya, karena kata-katamu bayi yang seharusnya lahir 10 hari lagi harus dilahirkan dan harus tinggal di inkubator sampai sekarang" ucap Raffi dengan menatap putranya tajam.
" Apa maksud papa " kata Fathar dengan terbata-bata.
" Hari di mana kau mengasih suami wanita cacat yang katamu cacat juga bisu dan buruk rupa yang mukanya selalu ditutupin itu, membuat shock dan stres ibu si bayi yang menyebabkan dia harus melahirkan secara operasi sesar karena kondisinya yang lemah.
Dan kamu tahu Gani susah payah membujuk putrinya untuk pulang kesini bukan untuk kau hina tapi untuk mengobati luka-lukanya, tapi kau malah memberikan luka yang lebih parah meski tidak berdarah tapi lebih menyakitkan " ucap Raffi sebelum meninggalkan ruangan itu sambil menengadahkan mukanya ke atas untuk menghalau air matanya supaya tidak turun.
"Kamu pernah dengar Slogan 'mulutmu harimaumu' mengajarkan kita agar berhati-hati dalam berucap, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Ambilah hikmah dari peristiwa ini Jagalah Lisanmu kedepannya " ucap opa sambil memukul-mukul pelan pundak Fathar sebelum pergi menuju kamar opa yang ada di rumah Raffi.
Fathar memandang mamanya yang matanya sudah banjir dengan air mata dan adiknya yang masih bingung mencerna apa yang terjadi. Fathar berdiri hendak mengambil kunci mobil dan ponselnya hendak ke luar rumah.
" Kamu baru minum alkohol jangan mengendarai mobil berbahaya buat dirimu dan orang lain" cegah Ika.
"Biar aku antar mau kemana " ucap Yumi sambil menarik kunci yang dipegang kakaknya.
" Jangan temuin Febi dulu Ini sudah malam" ucap Ika sebelum meninggalkan kedua anaknya menuju ke kamarnya.
"Telpon Bagas ada di mana sekarang " ucap Fathar ke pada Yumi.
"Tidak diangkat " ucap Yumi.
"Hubungi terus sampai diangkat olehnya"ucap Fathar.
"Tetap tidak di angkat "ucap Yumi.
"Mana kunci mobilnya aku hanya mau melihat dari jauh "ucap Fathar sambil tangannya menengadah meminta kunci, dengan terpaksa Yumi memberikan pada sang kakak.
Dengan kecepatan maximal Fathar membelah jalanan mengendarai mobil menuju rumah orang tua Feby yang sekarang ,dia berhenti di depan rumah orang tua Feby sambil memandang kearah kamar yang terlihat masih menyala di pukul 1 pagi.
Pasti itu kamar anak dan istrinya karena tidak mungkin lampunya dipadamkan saat ada bayi di kamar tersebut, kata Fathar dalam hati. Dengan kemampuannya yang pernah menjadi Kopasgat (komando pasukan gerak cepat ) dan juga menjadi pasukan kopassus, sangat mudah buat Fathar naik ke lantai 2 dengan mengandalkan pohon yang ada di sekitar seperti ninja Fathar sudah berada di balkon kamar yang menurut filling nya ada anak dan istrinya.
Setelah berada di depan pintu jendela dengan sangat pelan ia membuka paksa jendela kamar dan masuk dengan sangat pelan ,melihat wanita tidur dengan muka di tutup masker disampingnya ada box bayi dengan perlahan dia mendekati box bayi yang masih kosong.
Itu sepadan dengan perbuatanmu yang hampir menghilangkan nyawanya, karena kata-katamu bayi yang seharusnya lahir 10 hari lagi harus dilahirkan dan harus tinggal di inkubator sampai sekarang" Fathar teringat ucapan nya seketika meneteskan air matanya. Di lihatnya Feby yang tidur sambil mendekap baju bayi , getaran ponsel di kantong celananya membuatnya segera berlari ke balkon karena tidak mau menggagu tidur Feby.
Yumi
Bagas ada di rumah sakit keluarga Wira
📷(menampilkan foto bayi dala inkubator ).