
Besok ketok palu putusan hakim atas gugatan cerai yang aku ajukan, mengenai kabar Fathar sudah ketemu tiga hari yang lalu di pedalaman Timor Leste yang dirampok oleh warga lokal. Sejak ketemu dia hanya berdiam diri di kamar itu yang aku tahu dari Yumi, Yumi seperti mata-mata buatku padahal aku tidak pernah meminta informasi darinya.
" Kenapa sih adek kok nangis mulu ini udah malam bobok ya" ucap ku pada Diva sambil menggendong mengayun-ayun badannya biar tertidur lagi.
Sudah pukul 12.00 malam aku tidak enak membangunkan Lilis yang sekarang tidak hanya membantuku tapi juga mengurus Diva kecilku. Padahal kakiku sudah sangat terasa nyeri karena sudah berdiri terlalu lama , sudah hampir satu jam lebih aku berdiri mengayun putriku tapi dia masih tetap menangis aku kasih ASI juga tetap menangis membuatku jadi serba salah.
Ceklek
"siapa kamu" ucapku saat jendela kamarku terbuka dan seorang dengan memakai pakaian serba hitam dan topi hitam masuk.
"Ini aku " ucap Fathar tenang sambil melepas kedua sarung tangannya dan topinya serta jaket hitamnya, lalu mengambil Diva dariku dan mengayun-ayun tidak sampai 10 menit Diva sudah tertidur dalam gendongannya.
" Kamu menunggu ayah ya kasihan Bundamu Kalau tidak ada Ayah jangan rewel, mulai besok ayah tidak bisa menemui mu " ucap Fathar, aku merasa aneh dengan kalimat menunggu ayah apa Fathar selama ini diam-diam menemui Diva setiap malam. Karena sejak Fathar di temukan Aku jarang bergadang menemani Diva aku selalu terbangun saat adzan subuh.
" Apa maksudmu menunggu ayah apa selama berapa hari ini yang menemani Diva bergadang kamu ?" tanyaku.
Sejak Diva pulang dari rumah sakit di atas jam 11.00 malam aku pasti akan terbangun karena tangisan Diva, setelah mendengar suara entah dari aku atau seorang musik dia akan diam dan akan tertidur lagi diantara jam 03.00 pagi.
"Aku hanya bisa menggantikan tugasmu selama beberapa hari setelah ini aku titip Diva padamu, aku mohon cabut gugatan cerainya tunggu aku kembali" ucap Fathar sambil meneteskan air matanya.
aku merasa aneh dengan kata-katanya tapi aku tidak mau bertanya dan juga tidak mau pusing, saat dia menyuruhku istirahat aku langsung tidur karena memang aku sudah sangat mengantuk.
Adzan subuh membangunkan ku , aku amati sekitar tidak ada orang Diva juga sudah tidur nyenyak selama di box nya.
" Wah hebat kamu sudah beberapa hari bisa dilepas ngurus Diva sendirian, meskipun kamu sepertinya harus bekerja ekstra lihat nih aku perhatikan beberapa malam ini kamu memasang Pampers Diva selalu kebalik pasti Kamu mengantuk ya saat memakaikannya", ucap Lilis membuatku jadi mengingat kalau beberapa malam selamat Diva tidak terbangun aku tidak pernah mengganti pampesnya.
Aku menutup mataku sambil mengingat-ingat dan aku bisa simpulkan, kalau selama beberapa hari ini aku tidak terbangun oleh tangisan Diva karena Diva sedang ditemani ayahnya.
Tapi buat apa dia harus menemui Diva malam-malam, kenapa tidak siang hari aja kenapa harus lewat jendela kayak maling aja dan kenapa pakaiannya serba hitam semua aneh ucapku dalam hati.
" kamu kok belum diajak bicara kamu denger nggak aku ngomong apa" ucap Lilis.
" Maaf aku hanya mengingat sesuatu takut lupa " bohongku.
"Kamu tidak bersiap diri bukannya hari ini sidang kedua mu ,katamu kemarin hari ini juga putusan hakim" ucap Lilis mengingatkan aku.
" Iya bener aku siap-siap dulu kalau begitu" ucapku sambil berdiri untuk masuk ke dalam Walk-in closed .
Dengan memakai celana kulot dengan atasan tunik serta jilbab yang lebar , tidak lupa masker aku masih takut untuk melakukan operasi plastik pada wajahku .
Sebenarnya aku sudah menemui dokter kecantikan menurutnya Operasi plastik memberikan hasil paling baik untuk menghilangkan bekas luka di wajahku.
" Diva mau dibawa apa biar di rumah kalau mau dibawa ntar aku yang gendong" ucap Lilis.
"Sama mama tidak boleh ntar Mama ke sini akan menjaganya" ucapku mengingat tadi pagi mama wa akan ke sini menjaga Diva. Diva tidak boleh keluar dulu terlalu bahaya untuk anak seumurannya. Aku sendiri merasa heran atas sikap mama dan papa Fathar Yang sepertinya menjaga keberadaan Diva supaya tidak diketahui dunia luar,aku tidak tahu alasannya jika mereka tidak menginginkan nya tapi sikap yang mereka tunjukkan sangat menyayangi Diva.
" Pa aku pergi dulu mau menjaga Diva sesuai yang papa bilang biar Diva di rumah , setelah aku pikir-pikir bener juga omongan papa Diva baru berumur 2 bulan kok dibawa ke pengadilan pasti banyak orang banyak polisi" ucap Ika berpamitan pada Raffi sebelum pergi ke rumah menantunya.
" Papa tidak ikut mama " ucap Fathar yang baru turun.
" Papa ingin bicara denganmu" ucap Raffi sambil berjalan ke ruang kerjanya di ikuti Fathar di belakangnya.
" Ada pa?"tanya Fathar setelah ruang kerja bapaknya benar-benar terkunci.
"kenapa kamu ambil misi ini?" tanya Raffi.
Papa tidak bisa menjawab kan itu murni kemauan hati nurani papa sendiri bukan tekanan orang lain begitu juga dengan aku saat ini".
" gunakan ini siapa tahu berguna buatmu" ucap Raffi sambil meletakkan pistol kecil seperti gantungan kunci.
" Woo Swiss Mini Gun " ucap Fathar takjub.
Swiss Mini Gun memegang rekor dunia Guinness untuk revolver terkecil di dunia. Harga yang tercantum di situs web Swiss Mini Gun adalah $6,820 atau setara dengan Rp 96 juta.
"Bukannya pihak AS dan Inggris telah melarang impornya, ada desas-desus yang beredar bahwa revolver kecil itu dapat digunakan untuk membunuh atau setidaknya melukai orang secara serius" sambung Fathar lagi.
"Papa membelinya melalui teman papa sejak ketemu kamu di Timor Leste, kamu bisa menggunakannya sebagai gantungan kunci buat dompetmu atau buat ikat pinggang.Ingat hanya jika tembakan mu benar-benar sempurna dan kamu harus mengenai bagian tertipis tengkorak pada jarak tertentu dan dalam kondisi sempurna" ucap Fathar.
"Apa ini tidak berlebihan buatku" ucap Fathar.
" Tidak lagian aku melakukannya buat cucuku ,aku tidak mau cucuku menjadi Yatim" ucap Raffi dengan ekspresi mengejek Fathar.
" Cepat sekali posisiku tergantikan" kelekar Fathar.
" Biasanya hasil pekerjaan BAIS TNI banyak dianggap hasil dari pihak lain. Apa kamu akan kecewa jika kali ini keberhasilan kamu tidak akan diketahui orang?" tanya Raffi.
" Saat aku menerima tawaran ini aku sudah siap semua resikonya,Slogan Badan Intelijen Strategis (BAIS) Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah Berbakti Tanpa Pamrih".
" Hati-hati pulanglah dengan selamat, apapun keadaanmu nanti".
" Aku harus segera ke pengadilan agama" ucap Fathar sambil berdiri.
"Jika tuntutan cerai Feby di kabulkan papa harap kamu tetap semangat dan legowo" ucap Raffi sambil berdiri menepuk bahu putranya.
" Tentu pa, apapun hasilnya di pengadilan nanti aku akan terima aku pergi dulu titip putriku dan Feby" ucap Fathar sebelum meninggalkan papanya.
" Terima kasih papa sudah membantuku bertemu dengan putriku selama beberapa hari ini" ucap Fathar memeluk Raffi.
Mengingat papa yang akan mengantarkannya ke rumah Feby dan akan menjemput lagi setelah pukul 03.00 pagi.
" Kamu sendirian mana perawat mu?" tanya Fathar.
" kenapa mencari Lilis suka kamu sama dia,tu lagi di toilet " jawab Feby ketus. ketemu bukannya menanyakan kabarnya atau kabar putrinya malah orang lain kata Feby dalam hati.
" Syukurlah kalau dia ikut kamu ada temannya" ucap Fathar sambil melihat istrinya sekilas.
"Aku titip Adiva apapun keputusan hakim aku akan terima. Aku percaya kamu bisa mendidik Putri kita menjadi wanita yang kuat dan tangguh" ucap Fathar lirih dengan menundukkan kepalanya.
"nggak jelas omongan lu ah" ucap Feby melotot tidak suka dengan kalimat Fathar, entah kenapa dia merasa Fathar seperti seorang yang lagi
menitipkan wasiat terakhir.
" Jadi selama beberapa harinya kamu yang menemani bergadang Diva dan menggantikan pokoknya?" tanya Feby.
" hmmm"
" Terima kasih tapi aku kasih saran , lain kali kalau memakaikan Pampers lihat depan belakangnya masa selalu kebalik depan taruh belakang , belakang taruh depan" ucap Feby.
Fathar dan Feby duduk berdampingan di teras pengadilan tapi terlihat mereka seperti pasangan yang saling terdiam tanpa bicara, karena muka Fathar yang dingin tanpa ekspresi dan berbicaranya lirih mirip orang bergumam dan Feby yang memakai masker dan hijab hanya kelihatan matanya saja.