
"Assalamualaikum pak lek " ucap Bagas yang lagi menemui ayah Feby dan Isal di rumahnya, tadi setelah mendengar cerita dari papanya dia bergegas menuju rumah orang tua Feby.
"waalaikumsalam duduk dulu Gas" ucap Gani tenang karena papa Bagas sudah memberitahukan kalau Bagas sudah mengetahui semuanya.
"Isal kenapa tidak cerita ke mas Tetang mbak Feby" ucap Bagas sambil melihat ke arah papa Feby.
"Feby tidak mau banyak orang mengetahui kondisinya, Isal juga tahu bukan karena dikasih tahu tapi tidak sengaja mendengar omongan Om dan Feby ditelepon"jelas Gani.
"Kami tumbuh bersama bahkan selama dia pergi dari Om. Kami selalu bersama alasan apa yang membuat dia tidak mau ketemu saya lagi" ucap Bagas.
"sebagai wanita dewasa dia malu bertemu seorang pria meskipun itu sepupunya atau adiknya dengan muka yang rusak dan kaki yang cacat" ucap Gani tenang, berbeda dengan Bagas yang baru tahu dia merasa tidak dianggap oleh sepupunya itu.
" saya bukan lelaki di luar sana yang hanya memandang wanita hanya dari segi fisik" ucap Bagas.
" Tapi bagi seorang wanita fisiknya adalah yang utama, meskipun tidak cantik tapi kalau dia tidak cacat dia akan berbangga hati berbeda dengan cacat yang dialaminya, baik yang nampak atau tidak ".
"Tapi aku sepupu yang sudah tumbuh bersama bahkan seperti seorang kakak" ucap Bagas masih tak terima dengan alasan Feby .
" kamu tanya Isal meskipun dia sudah bertemu kakanya apa pernah dia melihat wajah kakaknya" ucap Gani.
" Aku terakhir melihat wajah mbak Febi saat di hotel dulu bersama Mas Bagas sehabis itu Aku tidak pernah meski mbak Febi sudah pulang dia tidak pernah membiarkan aku melihat wajahnya. Mbak Feby jika di depanku kalau tidak pakai masker yang pakai cadar" ucap Isal.
"Apa maksudmu sekarang Mbak Feby pakai baju gamis syar'i bercadar seperti orang Arab" tanya Bagas yang diangguin oleh Isal.
"Ijinkan aku bertemu dengannya om, dia bukan adik sepupuku dia sudah seperti adik kandungku sendiri Om tahu itu " ucap Bagas. Gani hanya diam tapi dia mengambil pulsanya menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum "ucap di seberang telepon,Bagas yakin itu suara Feby dia hafal suara itu.
"Walaikumsalam bagaimana kabarmu nak " ucap Gani.
" Alhamdulillah aku sehat bagaimana papa dan Isal".
"Alhamdulillah kami sehat,Bagas mau bertemu dengan mu apa boleh "tanya Gani, tidak ada jawaban membuat Bagas gatal pengen sekali merebut pensil milik papa Feby tersebut.
"Aku akan ke Jakarta hari ini aku ingin membeli alat gambar buat anak-anak di sini temui aku Intermedia Bookstore
di sana pada jam istirahat mu, ku tunggu di Intermedia Bookstore" ucap Feby setelah lebih dari 5 menit hanya diam.
"salam buat Isal papa Assalamualaikum "ucapnya sebelum mengahkiri panggilan telepon.
"Walaikumsalam "ucap Gani sebelum mematikan ponselnya.
"Terima kasih Pak lek" ucap Bagas sebelum dia meninggalkan rumah Gani.
"Bangun Lo ga terbang " ucap Bagas membangunkan Fathar yang masih tidur, setelah dari rumah orang tua Feby Bagas langsung ke hotel tempat menginap Fathar.
"Jam berapa " tanya Fathar dengan suara serak habis bangun tidur.
"Jam 08.00 Lo ga terbang "
"Libur besok jam 04.00 pagi baru ke Bandung - Surabaya - Makasar " jawabnya.
"Ini sarapan buat Lo gue mau berangkat kerja,jam makan siang aku tunggu di Intermedia Bookstore " ucap Bagas sambil melangkah pergi.
"Mbak gak kebanyakan beli alat gambar ini mahal -mahal lo" cegah Lilis.
Lilis perawat yang merawat Feby sejak Irma kembali ke Padang adalah anak yatim , karena ibunya menikah lagi dengan salah satu pengurus pesantren yang ada di tempat tinggalnya jadi ibunya ikut mengajar anak-anak mengaji.
Sejak Feby memutuskan menepi Lilis menawarkan untuk tinggal di rumahnya yang kosong karena ibunya tinggal di pesantren yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka, Lilis mempunyai kakak sambung yang tinggal dan mengajar di pesantren, sedang 2 adiknya tinggal di pondok pesantren sebagai santri.
Setiap pagi Lilis mengumpulkan anak kecil yang belum sekolah di sekitar rumahnya biar bisa menghibur Feby dan tidak kesepian ada sekitar 5 balita yang selalu kerumahnya untuk bermain bersama Lilis dan Feby.
Dari jauh Bagas melihat dua wanita berpakaian muslim sama-sama memakai kulot panjang dan kerudung lebar yang satu pakai masker dengan tangan memegang kruk untuk membantu menyangga kakinya. Saat hendak mendekat Bagas melihat Fathar mendekati orang yang dia tebak tadi Feby, Bagas juga berjalan mendekat tapi kata-kata yang keluar dari mulut Fathar membuat dia menghentikan langkahnya.
" Kamu wanita cacat yang tempo hari ya, perasaan kita sering ketemu ya di bandara rumah sakit dan sekarang " ucap Fathar.
" Ini tempat umum Jadi wajar kita ketemu sebaiknya Anda menjauh jangan mengganggu teman saya" ucap Lilis mengusir Fathar.
"Aku tidak mengganggu cuma ketemu dan menyapa apa salah, lagian temanmu aneh udah ketemu tiga kali tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluarkan suara hanya menunduk" ungkap Fathar sambil memperhatikan Feby yang dari tadi hanya diam dan menunduk.
" Emang masalah dengan anda kalau teman saya diam tidak mau komentar yang Anda omongkan".
"Apa jangan-jangan teman kamu itu bisu, Jadi selain kakinya yang cacat dia juga bisu" ucap Fathar membuat Feby meneteskan air matanya.
" kasihan sekali suamimu nanti sudah cacat bisu lagi ,jangan-jangan mukamu juga jelek makanya selalu ditutupin"ucap Fathar dengan nada santai tapi sungguh menyakitkan.
"Sebaiknya anda segera pergi kalau tidak saya akan panggilkan satpam dengan tuduhan menggagu kenyamanan teman saya" ucap Lilis ,Fathar pergi tanpa dosa dengan senyum sinisnya. Setelah kepergian Fathar badan Feby serasa lemas dengan bertumpu pada kruk dan di rak buku dia bersandar merasakan badannya yang lemas dengan cekatan Lusi memapah Feby untuk duduk di kursi yang berada di situ.
"Feb" ucap Bagas yang yang sudah berdiri di samping Feby dengan mata memerah.
" Iya kamu Febi adik kesayanganku" ucapnya langsung memeluk Feby saat yang melihat kearah nya.
"Tolong anterin aku ke rumah sakit " ucap Feby tiba-tiba membuat Lilis dan Bagas kaget, tetapi Lilis yang tau keadaan Feby langsung membantu berdiri.
" kalian tunggu di sini biar aku yang membayar belanjaan kalian" ucap Bagas saat melihat Lilis yang membatu Feby sambil membawa belanjaan mereka.
Setelahnya mereka langsung ke rumah sakit karena Feby terus menerus merintih kesakitan Bagas yang bingung hanya bisa konsentrasi untuk segera sampai ke rumah sakit, sedang Lilis terus memberikan instruksi supaya Feby mengatur nafasnya dan menghubungi papa Feby. Bagas bingung saat masuk UGD Feby langsung dibawa ke ruang bersalin oleh suster setelah bicara yang dia gak tahu dengan Lilis, selama di perjalanan Rumah Sakit Lilis
juga menghubungi papa Febi selain menghubungi beberapa dokter yang bagus tidak tahu apakah hanya mendengar kata dokter yang dipanggil.
"Tolong jelaskan sebenarnya apa yang terjadi" tanya Bagas.
" Apa tidak sebaiknya kamu tidak mengangkat teleponmu dulu ,perasaan dari tadi ponselmu berdering dari kita dalam perjalanan ke sini" ucap Lilis, bukannya mengangkat ponselnya Bagas malah mematikan ponselnya.
"Sudah tidak menggangu sekarang tolong jelaskan apa yang terjadi" ucap Bagas, tetapi belum sempat Lilis menjawab Ika dan Raffi datang mereka tahu setelah dokter tahu keadaan dari Lilis langsung menghubungi Raffi .
"Bagaimana keadaannya apa yang sebenarnya terjadi "ucap Ika,belum juga di jawab giliran suara Gani yang datang .
"Bukannya waktu melahirkannya masih 10 hari lagi" ucap Gani.
" Feby hamil " ucap Bagas yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
" Kondisi pasien lemah demi untuk keselamatan semua saya sarankan di lakukan operasi sesar aja" ucap dokter yang baru muncul memberikan sedikit petunjuk buat Bagas.
"Lakukan yang terbaik " ucap Raffi dan Gani bersama-sama.
Gani segera pergi mengurus administrasi di bantu Lilis yang merupakan perawat di rumah sakit tersebut.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi" ucap Gani setelah mengurus administrasi dan kembali ke ruang tunggu operasi.
Ahkirnya Bagas menceritakan apa yang dilihat dan didengar tadi antara Feby dan Fathar, setelah mendengar sukses membuat Ika,Raffi dan Gani marah besar.
"Aku tidak akan biarkan putramu hidup jika terjadi apa-apa dengan putriku dan cucuku" ucap Gani sedang Ika dan Raffi hanya diam merasa malu dengan kelakuan putra kebanggaannya.
"Bagaimana keadaan cucu dan putri saya dok " ucap Gani saat dokter keluar dari ruang operasi.
"Kondisi pasien masih lemas jadi masih kami pantau saya sarankan jangan biarkan dia terlalu stress dan tertekan selama pemulihan, untuk keadaan bayi dokter anak yang akan menjelaskan saya permisi " ucap si dokter sebelum pergi.
"Untuk sementara bayi kami letakkan di inkubator. Bayi mengalami berat badan lahir rendah dari seharusnya " ucap dokter tersebut .