
Feby berjalan menuju kantin di rumah sakit setelah memilih menu makan siangnya dia mencari tempat duduk di kantin, saat sedang memilih tempat duduk dari tempatnya berdiri Feby tidak sengaja dia melihat Zahra dengan seorang laki-laki akhirnya yang dia putuskan untuk duduk di belakang kursi Zahra persis tanpa diketahui Zahra tentunya.
"Gimana sudah kamu dapatkan " suara lelaki.
"Gila kamu untung Fathar hilang ingatan kalau dia tidak hilang ingatan bisa habis aku dihajarnya" suara Zahra lirih.
"Biasa aja kali ngomongnya nggak usah dibikin begitu malah bikin orang curiga tahu, lagian orang juga tidak akan paham apa yang kita omongkan" ucap lelaki itu.
" waktu aku datang kesana pertama kali berniat menjenguk sesuai instruksi mu Fathar baru sadar, waktu dokter bertanya tentang namanya tentang orang yang ada di sama semua dia bisa menjawab dengan benar, tapi waktu dia ditanya kenapa bisa kecelakaan dia tidak bisa menjawab apa-apa."
"Berarti bener dong dia hilang ingatan" ucap sang lelaki.
"Tidak semua hilang waktu ditanya dia bekerja apa dia menjawab TIN AU bukan pilot pesawat komersial, setelah di tanya oleh semua anggota keluarga dia merasa masih menjadi TNI AU berdinas Lanud Husein Sastranegara (HSN), Bandung" ucap Zahra.
"Jadi gak ingat kalau pernah jadi pilot dan sudah berhenti menjadi TNI" ucap lelaki itu.
"Ya begitulah ia juga melupakan masa tugasnya di Lanuma Halim Perdanakusuma dan Lanud Padang (PDA), Padang" ucap Zahra.
"Bagus kamu bisa mencari barang itu di simpan di mana,kamu bisa pura-pura menjadi kekasihnya" ucap lelaki itu.
"Akan semakin susah buatku karena keluarganya tidak menerima ku, lebih gampang kalau dia tidak amnesia jadi bisa bertanya langsung padanya " ucap Zahra.il
" Nggak bakalan dia mau ngasih tahu " ucap lelaki itu.
" Bego lo kamu culik aja anak dan istrinya habis itu paksa dia untuk memberi tahu dia barang itu di mana,lagian kamu yakin barang itu sama dia siapa tau sudah di amankan polisi "ucap Zahra.
"Bener juga yang kamu bilang coba deh, aku cari informasi di mana barang itu berada".
" Ya udah gue balik dulu ke kamar inap Fathar, tadi waktu ku tinggal dia lagi tidur" ucap Zahra langsung pergi dari kantin tanpa memperhatikan sekitar.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Fathar tanya Feby dalam hati sambil memakan makan siangnya yang sudah terlewat.
"gimana kalau kita jalan-jalan sore begini ramai di taman biar kamu tidak suntuk " ucap Fathar yang hanya diam di kamar inapnya, setelah adiknya pergi.
"Ambilkan aku kursi rodanya " ucap Fathar.
"Kenapa tidak jalan aja sih,biar kakimu cepat sembuh " ucap Zahra sambil berjalan keluar ruangan untuk mengambil kursi roda.
"Kenapa selama kamu dirawat aku tidak pernah bertemu dengan istri dan mamamu" ucap Zahra saat mereka sudah sampai di taman rumah sakit. Duduk menikmati keramaian taman yang yang diramaikan dengan pasien anak-anak atau para pasien dewasa, bahkan juga para pengunjung.
" Mama kadang ke sini kemarin juga ke sini tapi tidak sesering papa maupun Yumi, kalau istri aku aja lupa istriku siapa apalagi istriku tidak pernah ke sini aku jadi sanksi kalau mereka bohong tentang pernikahanku. Buktinya selama aku dirawat seingatku tidak sekalipun aku bertemu dengan istriku hanya fotonya yang Mama perlihatkan, sebuah foto pernikahan kepadaku ,saat kami melaksanakan resepsi dan saat upacara pedang pora"ucap Fathar sambil mengamati sekeliling taman sampai matanya menangkap sesuatu yang bikin nyeri di hatinya.
Disana nampak istrinya sedang berjalan memegang selang infus sedang seorang dokter berjalan di sampingnya, sambil menggendong putrinya yang lama tidak di lihat langsung dan di gendongnya harus nya dia yang berada di sana. Fathar mencengkram erat sandaran tangan kursi rodanya melihat interaksi mereka, kenapa putrinya tidak menangis di gendong orang asing.
"Aku ke toilet dulu ya " ucap Zahra meninggalkan Fathar sendiri di taman. Dengan pelan Fathar menggerakkan roda kursinya mendekat ke arah anak dan istrinya yang sedang bermain di wahana anak-anak, nampak putrinya duduk di ayunan si dokter di belakangnya mengayun dari belakang dengan sangat pelan.
" Jangan mendekati mereka bukanya kamu masih hilang ingatan " ucap papanya yang langsung membelokkan arah kursi roda berputar membelakangi keberadaan Febi.
"Tapi pak anakku lagi sakit tuh buktinya dia dirawat di sini" ucap Fathar.
"Yakin karena putrimu sakit bukan karena cemburu melihat istrimu bersama pria lain, daripada kamu istrimu lebih paham kondisi anaknya" ucap Raffi duduk di kursi taman yang tak jauh dari Feby.
"Papa tahu kenapa putriku di rawat di sinilah ".
" Tadi jam istirahat papa telepon Isal Katanya tadi pagi demam Diva naik lagi makanya dibawa ke rumah sakit dan malah disuruh di rawat buat mengetahui lebih lanjut penyebab panasnya yang turun naik. Tapi papa curiga itu akal-akalan dokternya saja yang ingin lebih dekat dengan istrimu" ucap Raffi tenang berbeda dengan Fathar yang menahan geram.
" Meski istrimu memakai cadar atau masker yang menutupi wajahnya sebagian hanya matanya yang kelihatan tapi sudah kelihatan kalau istrimu itu cantik dan anggun dari penampilannya" ucap Raffi.
" Sepertinya papa sengaja ya membuatnya aku panas"ucap Fathar kesal dengan papanya.
" kalau kamu tidak mau istrimu keburu diambil orang segera selesaikan tujuanmu dan kembali ke ingatanmu seperti semula" ucap Raffi sambil berdiri.
" Pikirkan kata-kata papa ,papa pergi dulu pacar gadungan mu datang" ucap Raffi segera meninggalkan Fathar sendiri di taman.
" Maaf lama toilet penuh " ucap Zahra duduk di kursi panjang taman.
" Permisi numpang duduk ya mas, mbak " ucap dokter Dika yang sudah duduk di samping Zahra dengan menggendong Diva dan memegang selang infus.
" Wah putrinya cantik dok umur berapa ?" tanya Zahrah.
" Umurnya 2 tahun 2 bulan Maaf saya bukan orang tuanya hanya dokter yang merawatnya" ucap dokter Dika sopan.
"Ke mana mamanya dok?" tanya Zahrah.
" Mamanya lagi ke toilet jadi saya bantuin mengendong".
" Pasti mamanya temen akrab dokter buktinya dokter mau meluangkan waktu untuk menjaga putrinya" ucap Fathar tenang padahal hatinya bergemuruh.
"Bukan mamanya pasien saya baru semalam saya mengenalnya cuma kasihan malam-malam ke rumah sakit tanpa di dampingi suaminya, terus dari pagi dirawat juga suaminya tidak kelihatan sepertinya nggak punya suaminya " ucap dokter Dika.
"Wah ceritanya Pak dokter lagi pdkt sama Mama pasiennya" ucap Zahra.
" Doakan saja dia benar-benar masih single tidak punya suami dan bisa menjadi jodoh saya".
Bangsat gw suaminya ****** ini dokter umpat Fathar dalam hati , sumpah serapah dan caci maki dia ucapkan dalam hatinya untuk dokter Dika itu.
" Saya doakan ya dokter berhasil menaklukkan mamanya bocah Gemoy ini" ucap Zahra sambil mencubit gemes pipi Diva.
" Saya permisi itu Mamanya menunggu sepertinya udah selesai dari kamar mandi" pamit dokter Dika meninggalkan taman menuju ke tempat di mana Feby berdiri. Feby sendiri sengaja tidak mendekat karena tau itu Fathar yang masih suaminya harusnya.
"Aku mau kembali ke kamar " ucap Fathar tanpa ekspresi.
" Aku dengar-dengar adikmu lagi mempersiapkan pernikahannya" ucap Zahra untuk memecahkan keheningan mereka berdua yang berjalan menuju ke kamar inap Fathar.
"Aku tidak tahu sebaiknya kamu jangan menemuiku lagi meskipun kamu bilang kamu kekasihku, tapi aku tidak merasakan getaran-getaran itu terhadapmu. Aku hanya mengenalmu sebagai adik asuh ku waktu kita sama-sama menjadi Taruna di akademi angkatan Udara" jawab Fathar.
" Jadi kamu tidak percaya padaku dan menuduhku berbohong, kamu tidak ingat dulu kamu pernah menyatakan cinta padaku" ucap Zahra.
" Aku akui aku mengingatnya waktu zaman kita Taruna aku pernah menyatakan perasaan itu padamu tapi, untuk saat ini perasaanku sudah tidak ada rasa sama sekali padamu tidak seperti waktu kita menjadi taruna dulu" ucap Fathar.
Sesampainya Fathar di kamar Zahra langsung mengambil tasnya.
" Aku bela-belain cuti hanya untuk menunggumu di rumah sakit tapi ini balasan yang ku terima darimu kamu sungguh tidak menghargai perasaanku" ucap Zahra sambil menangis pergi meninggalkan Fathar sendiri di kamar perawatannya.
Ternyata tidak hanya laki-laki wanita juga punya air mata buaya, ucap Fathar dalam hati sambil tersenyum sinis,lalu menghubungi seseorang.
"Suruh orang memantau nya 24 jam mulai sekarang "ucap Fathar di ponselnya.