
"pinjam para suaminya ya"Kata Ika
"nggak papa mbak ada suami bikin repot ,bikin emosi Mulu"kata Santi , membuat suaminya sandi melotot dan Rico ketawa cekikikan.
"sama Mbak aku juga nggak papa ,ada Mas Riko baunya asap rokok mulu" ketus Ratih, Riko hanya menghela nafas.
"kenapa suami mu dari tadi sih mbak"tanya Santi ketika melihat Raffi sibuk menyiapkan tempat duduk yang nyaman buat sang istri.
"ayo dek kita berangkat"
"mas aku itu sehat kenapa harus di bikin tempat tidur segala sih,aku gak mau, bongkar dulu itu kasur" marah Ika dan langsung masuk kamar, karena pada penasaran ahkirnya nya Santi dan Ratih mengintip seketika mereka ketawa.
"Kep ya pasti marah istri mu, Kamu memperlakukan seolah istri mu itu orang sakit," kata Ratih masih sambil ketawa, ahkirnya dengan sangat terpaksa Raffi membongkar kembali tempat duduk seperti sedia kala.
"ayo sayang kita berangkat"
"mampir beli cemilan mas buat mereka"
" ok siap nyonya besar,Riko berhenti bentar ya nyonya besar mau beli cemilan"
"siap laksanakan"
"kalian mau apa yang pedes,gurih, atau manis"
"apa aja boleh kita pemakan segala" Jawa mereka berdua.
"waktu kita ada misi di hutan makan ikan tanpa di bumbui aja itu udah mewah, kalau lagi kepepet bahkan kita cuma makan buah aja seharian"
" ih jangan di omong itu resiko kerja kalian "
"mas mau ikut turun apa di sini aja "
"ikut ini dompet mu"kata raffi sambil menyerahkan dompet yang kemarin sengaja aku tinggal.
"ada isi nya gak mas dompet ku"bisikku pada Raffi saat kami di meja kasir, setelah memilih beberapa Snack dan minuman.
"ada kemarin mas isi dua juta"
"banyak amat"
"ya habis dompet nya kosong ya mas penuhi lah"
" semua nya lima ratus tiga puluh tujuh ribu lima ratus rupiah"
"ayah, ayah ko gak pernah mau main ke rumah putri lagi sih" kata putri yang baru masuk dan ketemu kami di dekat meja kasir membuat Raffi salah tingkah.
"maaf ayah sibuk" karena putri di hanya di anter baby sister jadi aku gak perlu basa-basi, langsung ku langkah kan kaki keluar tangan menyapa putri atau baby sister .
"langsung jalan aja kapten kalian gak jadi ikut mau nemenin anaknya" kata ku begitu masuk ke dalam mobil membuat kedua kaki laki di depan kemudi itu saling melempar pandangan.
"dek kok gak nugu mas"kata raffi yang baru masuk saat mobil sudah siap siap hendak mundur karena tempat duduk yang tadi ditempati kami berdua aku kuasai.
"dek mas duduk di mana"
"penuh udah ga muat, Mas tinggal sini aja ga usah ikut aku pulang "ketus Ika, Raffi hanya bisa menarik nafas dia tau istri nya marah gara gara ia di panggil ayah di depan umum, sedang para lelaki yang duduk di bangku kemudi hanya bengong karena tidak tahu apa yang terjadi .
"rik tolong buka bagasinya"setelah bagasinya di buka Raffi segera masuk dengan cara melompat dari belakang, Riko dan sandi, cuma cekikikan melihat tingkah kapten mereka yang jika di lapangan galak nya minta ampun sedang di rumah takut istri.
"kalian berdua rapikan lagi itu bagasinya terus tutup lagi"perintah Raffi, Ika hanya bisa melirik sinis suaminya.
"dasar suka perintah, itu anakmu ga nangis nyariin kamu" kata Ika sinis.
"anak ku kan dalam perut mu sayang" kata Raffi membuat Riko dan sandi terkekeh.
"kenapa kalian ketawa mau di suruh pus up"
"siap salah, tidak kapten" jawab mereka dengan intonasi tegas.
", ga usah sok tegas ini bukan batalyon, lagian juga biasanya ga tegas lembek hati mu"
"bukan gitu dek"
"terus kalau bukan lembek apa namanya kalau mudah kasihan"
"ga pa pa Kep nikmati aja"
"iya lah aku juga sadar kalau aku yang salah, niatku baik ga tau nya malah bikin salah paham"
" lagian kapten sih nanggepin mba Ayu, sebelum kapten pindah, mbak Ayu sempat dekat dengan beberapa prajurit juga tapi selalu gagal karena orang tua pasangan nya mempermasalahkan status nya yang janda " kata Riko
"ko kamu tahu "
"di asrama udah bukan hal aneh kalau gak salah udah dua orang yang digosipin "kata Sandi. mereka bertiga ngobrol bersama sampai tiba di tujuan .
"eghh" udah sampai rumah ibu ternyata segera ku lirik jam dinding sudah pukul lima pagi ku laksanakan sholat subuh dan bergegas turun,
"Bu " saat ku lihat ibu sibuk di dapur.
"udah bangun"
"udah"
"Raffi ga ada" kata ibu saat melihat ku seperti mencari seseorang.
"kan suami mu langsung pulang"kata ibu ,meski kemarin Raffi sudah bilang tapi ada rasa kecewa kenapa tidak pamit .
"kalian sampai pukul dua pagi,terus jam empat pagi tadi sudah berangkat ke bandara, kenapa gak nunggu besok sekalian syukuran sih,cuma mundur dua hari kenapa ga sabar,apa karena kalian ada masalah "tanya ibu.
"Memaafkan kesalahan itu adalah yang paling sulit, tetapi menjadi hal paling penting. Menurunkan ego dan saling memahami membutuhkan waktu untuk tumbuh, tapi pasangan suami istri memilki banyak waktu untuk berproses bersama". kata ibu saat melihat ku hanya diam , ahkirnya aku menceritakan kepada ibu garis besar masalah ku dan Raffi.
"cemburu itu tanda cinta "kata ibu,apa benar udah tumbuh rasa cinta hingga aku cemburu.
"tapi cemburu yang berlebihan juga bisa menghancurkan kita, Raffi melakukan atas dasar sayang dan kasihan pada putrinya kalau sampai kau turuti amarah dan cemburu mu, akan ada yang dengan senang hati memanfaatkan keretakan rumah tangga mu dan orang itu akan sangat senang jika keluarga mu hancur, karena ada celah buatnya untuk masuk " benar kata ibu jika keluarga hancur Ayu akan senang dan makin mudah kembali pada Raffi dia bisa bahagia dan aku akan bersedih.
"ngelamun aja pagi pagi, sampai ada orang ngucapin salam ga di jawab" kata Bayu yang langsung duduk di depan ku.
"dari mana"
"nganter suami mu ke bandara, masak lupa" kata Bayu sambil menghitung uang di tangan nya.
"banyak amat "
"satu juta "
"buat apa "
"buat jagain mbak selama di sini "
"hah itu uang dari Raffi " yang di jawab Bayu dengan anggukan.
"wah banyak banget duit mu Bu lek pinjam dong"kata Bu lek Ranti yang tiba-tiba masuk tanpa mengucap salam, membuat Bayu yang langsung lari masuk ke dalam kamar nya.
"dasar pelit" kata nya padahal yang ngomong pelitnya minta ampun.
"mana Ibu mu"
"ada apa mencari ku"kata ibu yang datang dengan segelas kopi bua bapak.
"suami mu mana mbak"
"kolam lele"
" mbak pinjam sepuluh ribu buat Dini bisa beli bensin"
"eh"saat aku merogoh kantong ada dua puluh ribu, tanpa berucap terimakasih Bu lek Ranti langsung mengambil dan pergi begitu saja.
"jangan di contoh" kata ibu sambil geleng-geleng melihat tingkah adek nya.
"ibu bisa aja menegurnya tapi ujung nya marah, terkadang kita harus mengalah untuk ketenangan batin kita"kata ibu sambil tersenyum.
"karena ketika kita mengalah bukan berarti kita kalah"
🎼🎼 Raffi calling obrolan ku dengan ibu terpaksa berhenti karena panggilan masuk dari Raffi yang mengabarkan bahwa dia baru sampai di Bandar Udara Internasional Adisumarmo.