
"masuk"kata Raffi mengajak ku untuk masuk ke dalam kamar nya, sesuai rencana kami tadi pagi selepas adzan subuh kami berangkat ke bandara untuk berangkat menuju ke rumah papa dan Mama, tapi sayang karena Raffi secara mendadak memberitahu mama dan papa Raffi ,hingga tidak dapat membatalkan jadwalnya hari ini yang padat.
"Aku udah pernah masuk ke sini waktu kamu pelatihan dulu"
"oh ya, kamu menemukan apa di kamarku"
"nggak ada ,nggak ada yang aneh kamarmu seperti pada umumnya kamar cowok yang lain"Kata Ika sambil berjalan menuju ke meja belajar tanpa melihat Raffi.
"berarti kamu udah pernah masuk kamar cowok selain kamarku" kata Raffi dengan nada tidak suka.
"kamu lucu adikku kan dua cowok, ada Dwi sama Bayu ya pasti aku pernah masuk kamar cowok lah membersihkan kamarnya"kataku sambil terkekeh melihat-lihat mukanya yang masam.
"Kamu ngerjain aku ya"katanya sambil mendekap tubuhku yang sedang duduk di kursi belajarnya.
"kamu nya saja yang terlalu negatif thinking"
"emang kamu tidak pernah berprasangka buruk padaku"
"kalau aku berprasangka buruk padamu karena aku melihatnya sedangkan kamu baru juga mendengar ucapanku tidak melihat dengan langsung "
"maaf katanya sambil mencium rambut kepala ku ".
"dua hari kita akan bersenang-senang di sini, kamu mau kita pergi ke mana ke Dufan mau shopping"
"sama aja bohong, dua hari kita bersenang-senang habis itu kau tinggalkan aku"kataku lirih.
"maaf, risiko pekerjaanku kamu jadi nomor dua "
"bohong buktinya aku kemarin-kemarin jadi nomor dua ada yang di nomor satu kan daripada aku"
"situasinya beda sayang udah nggak usah di bahas lagi terus ujungnya Kamu marah, ngambek gak jadi seneng seneng deh "
"gimana kalau kita ke Dufan sekarang"
"emang kamu nggak capek baru sampai lo"
"tinggal istirahat di jalan kalau capek"
"oke tapi kita sarapan dulu ya kamu dari pagi cuma makan roti doang , kasihan dedeknya ntar"katanya sambil mengusap-usap perutku.
"tapi bajuku banyak yang gak muat Mas"
"oke kita sarapan habis itu kita ke butik beli baju hamil buat kamu"
"kenapa tidak ke pasar aja atau ke toko baju yang ada di pinggir jalan itu"
"karena Mas belum pernah masuk pasar dan toko-toko baju itu"
"emang selama ini kamu kalau beli baju di mana"
"kalau nggak ke mall ya ke butik"
"dasar orang kaya ,terus waktu kamu jadi tentara Kamu juga ke butik ke mall gitu"
"ya kalau nggak ke mall ya ke butik tapi kalau nggak butik ya ke mall tapi ya selama jadi tentara Aku jarang beli baju sih"
"Apa karena gaji tentara kecil jadi nya kurang buat beli bajumu di butik gitu"
"bukan sih tapi karena sejak menjadi tentara ,aku jadi suka kesederhanaan Aku jarang membeli baju membeli sepatu kalau aku tidak butuh butuh banget"
"bagus deh ntar anakku enggak harus ngikutin gaya hidup Mas yang woo itu " kataku sambil berjalan keluar kamar.
"Mau sarapan apa biar mas suruh bibi nyiapin"
"gimana kalau sarapan di luar aja Mas"
"boleh ayo kita pergi sekarang"
"ini tuh udah hampir jam 10.00 sudah hampir siang jadi udah bukan sarapan tapi mendekati makan siang tahu Mas"
"terserah kamu lah dek ayo"kata Rafi sambil merangkul turun ke bawah dan pergi meninggalkan rumah.Dengan mengendarai Ranger Rover Velar yang harga nya milyaran Raffi mengajak ku ke sebuah butik.
"emang beda ya mobil berharga ratusan juta dengan yang harga nya milyaran "
"ha ha ha bisa aja kamu "kata Rafi sambil ketawa.
"ya emang duit nggak bisa bohong kan Mas"
"emang nggak sayang mas buang-buang duitnya untuk sebuah mobil"
"buat sebagian orang kaya tentu tidak, harga miliaran kan itu sesuai dengan yang di dapat kan, membeli barang mewah buat sebagian orang kaya adalah penghargaan buat dirinya sendiri atas kerja keras dia sendiri"
"Tadi di garasi mobil siapa aja Mas banyak amat,"
"koleksi papa ,punya mama dan punya Radit, kalau yang ini punya mas hadiah ulang tahun waktu mas umur dua puluh lima tahun itu hadiah terakhir yang Mas terima karena setelah umur dua puluh lima Mas dapat bukan barang tapi saham"
"wow wow wow nggak nyangka ya ternyata kehidupan Mas menggiurkan pantes banyak cewek-cewek yang nempel kaya prangko "
"nggak juga ada yang susah didapatnya"
"siapa mantan mas yang ke berapa, apa Ayu waktu sekolah dulu"
"kamu yang susah mas dapatin, untuk mendapatkan mu mas harus membujuk Bayu dan mendekati orang tua mu dulu, baru kamu bisa Mas dapatin " kita berbicara banyak hal sampai ke butik.
"totalnya semua limi belas juta mau dibayar cash apa kredit"
"kartu debit aja Mbak"kata Raffi sambil menyerahkan kartu debitnya.
"Mas nggak sayang beli baju doang lima belas juta" bisik ku di telinganya Raffi.
"nggak tiap bulan ini"
"itu kartu siapa yang kamu pakai perasaan aku nggak pernah lihat"
"hasil dari mas joint kerja sama dengan teman Mas, pendapatnya tidak banyak sih ,masih banyakan gaji tentara mas,tapi sejak mulai menanam modal ga pernah mas pakai "
"pantes perasaan kartu gaji di kasih ke aku ,kartu penghasilan saham di kasih ke aku juga,tapi kamu gak pernah minta uang buat beli bensin ke mana-mana"
"mau kamu pegang juga ini, ntar Mas tinggal minta uang ke kamu buat bensin kalau kamu mau "
"nggak deh kata ibu kunci rumah tangga itu saling percaya, lagian aku udah punya yang lebih berharga dari semua yang Mas punya"kataku sambil mengusap-usap perutku.
"benar sekali kamu yang di sini sangat berarti melebihi apapun bahkan melebihi nyawa Mas" Kata nya sambil berjalan dengan merangkul pinggang ku.
"Raffi apa kabarmu, kapan datang kenapa nggak ngasih tahu kalau kamu datang" kata perempuan berdandan modis yang tiba-tiba memeluk Raffi dan mengabaikan aku yang di sampingnya.
" maaf jangan kayak begini"kata Rafi sambil melepaskan pelukannya.
"ih kamu lama nggak berjumpa sombong di peluk aja nggak mau, padahal kita dulu saling berbagi peluh saling menempel"katanya vulgar membuatku melotot mendengarnya,
"Maaf itu Raffi yang dulu ,Raffi yang sekarang bukan seperti dulu"katanya dingin tanpa melihat wanita itu.
"kamu nggak pernah kelihatan di perusahaan kantor raksasa Group, apa pegang cabang yang luar negeri ".
"saya tidak memegang cabang perusahaan raksa manapun, Maaf saya harus segera pergi "
"ayo sayang kita pergi"kata Rafi sambil merangkul pinggangku dan berjalan meninggalkan perempuan tadi.
"wow belum dua puluh empat jam suamiku udah dipeluk wanita lain"
"jangan gitu dek dia Masa lalu Mas, dia salah satu mantan SMA mas"
"jangan-jangan dia ngambil ke perjaka Mas ya"kataku sambil berbisik lirih, yang dijawab Raffi dengan anggukan lemah.
"setelah tadi ketemu salah satu mantan Mas habis ini kira-kira ketemu siapa lagi ya"
"semoga saja tidak ketemu siapapun"kata Raffi sewot.
"ha ha ha yang kebanyakan mantan"
"sama ya dek kamu juga banyak mantannya"
"beda gaya pacaranku dengan mas beda jauh"
"Ya bedalah kalau mas kan gaya pacaran dewasa kalau kamu kan gaya anak TK" katanya sambil tersenyum meledak.
"itu bukan pacar anak TK tapi menjaga diri"kataku sambil memukul bahunya, kita berjalan-jalan di mall setelah itu kita mencari makan dan di rumah makan yang menyediakan masakan italy pilihan Raffi,kata Rafi biar anaknya doyan segala makanan dari semua negara.
"ini cara makanya gimana mas"tanyaku tanpa malu pada Raffi ,karena aku bingung ada pisau kecil ada sendok ada garpu Aku sering lihat di TV tapi tidak pernah mempraktekkannya dan baru melihat sekarang , dengan telaten Raffi mengajari ku makan menggunakan pisau dan garpu.
"makanya cari istri yang setara makan aja harus diajarin, biasa makan pakai tangan sih makan kayak begitu aja nggak bisa ha ha"kata perempuan berdandan glamor yang tiba-tiba duduk di samping Rafi.
" Aku menikah dengan siapa bukan urusanmu, jangan mengganggu ku, jangan mendekatiku pergi saja aku tidak mau makan ku terganggu oleh kehadiranmu"
"Rafi aku sepupu mu nggak seharusnya kamu berkata begitu padaku"
"Aku tidak suka orang mengganggu istriku"
"dasar bucin kau Raffi " kata jenny sambil meninggalkan meja makan kami, sehabis makan dan mengelilingi mall ,Raffi mengajakku pulang dan berjanji besok akan mengajakku jalan-jalan ke Dufan, karena hari ini udah banyak aktivitas dia tidak ingin aku kecapean.