My soul mate

My soul mate
143. Bertemu



Fathar yang bingung harus bagaimana berhadapan dengan Istrinya hanya bisa melihat dari kejauhan kamar inap putrinya tersebut, tetapi setelah semua tamunya pergi Fathar berjalan mendekat dan masuk tanpa mengetuk pintu.


"Biasakan kalau masuk ketuk pintu tidak sopan an..." ucap Feby terhenti saat melihat siapa yang masuk ruang rawat inap putrinya. Saat para tamu sudah pulang semua Feby menggantikan baju putrinya dengan piyama pribadi dari rumah saat itulah pintu terbuka,Feby yang kaget dengan spontan membentak orang yang telah lancang membuka pintu kamar rawat inap putrinya.


"Fathar " ucap Fathar lirih.


"Iya ini aku maafkan mas yang baru datang " ucap Fathar yang sudah berada di depan istrinya.


"Sayang ini ayah nak"ucap Fathar beralih di depan putrinya.


"Ya yah" ucap Diva sambil memukul-mukul muka Fathar dengan tangan mungilnya, membuat Fathar menangis haru putrinya sudah bisa memanggil namanya. Adiva nya yang waktu di tinggal masih bayi yang sangat kecil sekarang sudah bicara dan berjalan.


" Maaf maafkan ayah yang baru datang "ucap Fathar sambil menangis dan mendekap putrinya.


Feby tak terasa juga ikut meneteskan air matanya, anehnya Diva yang di dekap Fathar tidak menangis atau meronta malah memukul menarik-narik rambut Fathar.


"Maafkan mas dek" ucap Fathar setelah berdiri di depan Feby sambil menggendong Diva. Feby hanya diam membatu sungguh ini diluar dugaannya sama sekali, bukannya katanya Lilis dan mama Fathar kena amnesia kenapa dia bisa mengingat namaku dan tahu anak kami, kata Feby dalam hati.


"Bukannya kamu lagi hilang ingatan memorimu jangka pendek mu, Kata mama kamu hanya mengingat saat terakhir bertugas di di Lanud Husein Sastranegara (HSN), Bandung" ucap Feby.


"Allhamdullilah sudah mulai membaik emang benar aku pertama sadar aku hanya mengingat saat masih dinas Lanud Husein Sastranegara Bandung. Waktu itu aku memang sangat bingung dan tidak mengenal tentang Diva dan kamu jadi aku minta maaf untuk itu. Berkat Mama yang telaten menjelaskan tentang kamu dan Diva dan memberikan bukti-bukti nyata dari surat nikah ,foto pernikahan kita, ingatan aku kembali pulih puncaknya saat aku pingsan karena sakit kepala. Sejak hari aku bisa mengingat semua aku bertekad untuk sembuh kakiku yang dulunya susah bergerak akhirnya bisa sembuh secara perlahan dan sekarang sudah berjalan dengan normal seperti biasa"jelas Fathar.


"Alhamdulillah aku ikut senang mendengarnya dengan kembalinya ingatanmu berarti kamu sudah bisa mengingat semuanya,tentu kamu mengingat apa yang terjadi sebelum kamu pergi aku dan menghilang".


" Maksudnya " ucap Fathar.


"Aku ingin menjelas status ku" ucap Feby.


" Statusmu dari dulu jelas kamu istriku setiap bulan aku memberi kamu nafkah lahir meskipun aku tidak bisa memberimu nafkah batin " ucap Fathar tenang. Fathar sendiri sudah memikirkan bagaimana reaksi istrinya saat bertemu dengannya.


" Saat kau pergi status kita masih mengambang gugatan masih di pengadilan" ucap Feby.


" Siapa bilang sejak hakim menolak dan menerima alasan ku hari itu, sejak hari itu aku cabut berkas gugatan mu melalui pengacara. Datanglah ke apartemen studioku di sana aku menyimpan semua berkas-berkasnya " ucap Fathar kali ini dia sambil berjalan menimang-nimang Diva yang mulai menguap,Feby hanya memperhatikan suami dan anaknya hingga 10 menit akhirnya Diva tidur dalam gendongan Fathar.


Sepertinya Diva sangat nyaman bersama Fathar. Ayahnya yang baru pertama kali bertemu secara langsung setelah 2 tahun.


" kita harus bicara" ucap Fathar setelah menidurkan Diva.


" Tidak ada yang perlu kita bicarakan 2 tahun kamu pergi meninggalkanku tanpa kabar , meski aku akui kamu rutin memenuhi kebutuhan kami tapi itu tidak bisa di benarkan " ucap Feby


"Aduh "teriak Feby saat tangannya ditarik Fathar hingga dia terjatuh dan duduk di pangkuan Fathar yang sedang duduk di sofa rumah sakit. Dengan perlahan Fathar melepaskan niqab dan hijab Feby.


"Aku masih halal buatmu karena sampai saat ini aku belum menjatuhkan talak buatmu" ucap Fathar kepada Feby saat Feby mencegah Fathar untuk melepaskan hijabnya.


"Kenapa kau menuduk saat di depan ku sedang di depan kedua lelaki tadi kamu biasa aja bicara sama mereka " ucap Fathar membuat Feby langsung mengakat kepalanya.


Harusnya dia marah meluapkan kemarahannya pada Fathar,bukan hanya diam seperti patung saat dipaksa duduk di paha Fathar,Feby hanya bisa diam bahkan saat Fathar melepaskan niqab dan jilbabnya dia masih juga diam.


"Jangan kaya begini kalau nanti ada yang masuk bisa salah paham" ucap Feby saat Farhat mulai mencium rambutnya yang sengaja di beri warna pirang.


" Salah paham bagaimana kita pasang halal jadi tidak masalah" ucap Fathar sambil terus mencium aroma sampo di rambut Istrinya dan kedua tanganya melingkar di pinggang istrinya.


" Tetapi mereka tidak pernah melihat kamu" ucap Feby saat merasakan tangan Fathar semakin tidak terkendali.


" Biar mereka melihat kalau begitu, biar mereka tahu wanita cantik ini sudah ada yang punya" ucap Fathar yang sudah memindahkan ciumannya dari rambut ke leher dengan tangan yang mengusap-usap punggung Feby dan tangan satu lagi masih melingkar di pinggang Feby.


Feby sendiri badan terasa kaku tidak dapat bergerak, ingin sekali dia bangun dari pangkuan Fathar dan duduk menjauh tapi badannya terasa di paku tidak bisa di gerakkan.


ceklek "Maaf saya kira mama Diva tidur saya mau ambil Stetoskop" ucap dokter Dika.


" Meski istri saya sedang tidur seharusnya anda tetap mengetuk pintu bukan langsung masuk" ucap Fathar dingin, sedang Feby tidak bisa berbuat apa-apa. Saat pintu terbuka secara cepat Fathar memegang kepala Feby dan ditarik hingga Feby membelakangi pintu,hanya rambut pirangnya yang di gulung keatas menampilkan leher mulusnya yang kelihatan.


"Saya minta maaf sungguh saya tidak ada niat apa-apa, saya hanya takut mama Diva tidur jadi saya tidak mau mengganggu tidurnya" ucap dokter Dika dengan mata lurus kearah Feby yang berada di pangkuannya Fathar.


'" Saya harap ya dokter katakan benar karena jujur sebagai lelaki saya curiga. Anda sengaja meninggalkan Stetoskop anda supaya bisa kembali kesini " ucap Fathar dengan sorot mata tajam.


" Ha haha buat apa saya melakukan hal kaya gitu" ucap dokter Dika sampai tersenyum canggung .


" karena saya juga lelaki saya tahu mana yang benar-benar tertinggal atau yang pura-pura ditinggal" ucap Fathar.


Dokter Dika hanya menampilkan senyum kikuk tidak nyaman seperti orang yang ketahuan berbohong.


" Karena saya sudah menemukan yang saya cari , jadi saya pamit undur diri" ucap dokter Dika sambil menujuk Stetoskop yang ada di tangannya sebelum berjalan keluar.


" Jujur saya sangat penasaran dengan wajah istri anda, apalagi sikap anda barusan membuat saya semakin penasaran" ucap dokter Dika sebelum menutup pintu.


" Apa-****apan**** sih kalian" ucap Feby sambil berdiri dari pangkuan Fathar setelah dokter Dika keluar dan menutup pintu.


" Tidak ada aku hanya menjaga istriku supaya tidak dipandang jelalatan sama lelaki. Apa kamu tidak lihat waktu dia masuk dia tidak berkedip melihatmu meskipun hanya punggung mu dan rambutmu saja " ucap Fathar tak suka.


"Aneh kamu sudah malam sebaiknya kamu pulang aku mau istirahat" ucap Feby mau ngusir Fathar.


" Ya sudah kamu istirahat kamu tidur di kasur khusus buat penunggu, aku yang di sini sekarang aku yang jaga kalian " ucapnya sambil merebahkan badannya di kasur pasien di sebelah putrinya.


Feby hanya bisa menarik nafas melihat tingkah Fathar lalu kembali memakai jilbab instan nya dan maskernya.


Melihat istrinya yang tidak protes menimbulkan senyum tipis di wajah Fathar, sampai dia yakin istrinya benar-benar tidur baru dia bangun. Semalaman Fathar terbangun memperhatikan wajah anak dan istrinya yang sudah lama ditinggalkannya demi tugas, hingga adzan subuh dia baru pergi meninggalkan kamar perawatan putrinya.