My soul mate

My soul mate
112. Jatuh ke lubang yang sama



Berjalan di swalayan berdua dengan Isal seperti ini sudah lama tak pernah kulakukan sejak tidak ada mama. Aku belanja bulanan paling di minimarket dekat rumah terkadang juga Isal yang belanja aku sibuk bekerja, untung Isal bisa memaklumi kalau aku bekerja untuk dirinya dia tidak malu berbelanja dia tidak menuntut aku ada untuknya seperti mama yang selalu ada buat kami.


" Mau beli apa lagi mbak" ucap Isal sambil mendorong troli belanjaan kami.


"sepertinya sudah semua deh ,buah sayuran daging sabun mandi udah komplit , kamu tidak ada yang mau dibeli " ucap Feby sambil memeriksa belanjaannya takut ada yang kurang.


" Aku mau beli sepatu buat olahraga khusus futsal boleh nggak Mbak" ucap Isal.


" Oke setelah belanja kita titipkan belanjaan ke penitipan baru kita beli sepatu ,Mbak juga pengen beli sepatu olahraga sudah lama mbak nggak berolahraga" ucap ku sambil berjalan menuju tempat kasir.


" Lagi belanja bulanan ya kak Feby" ucap Yumi yang juga ikut mengantri di tempat kasir.


"Ya begitulah" ucap Feby sambil memperlihatkan belanjaannya.


" Boleh niti ngga Aku cuma beli air putih doang" ucap Yumi sambil menunjukkan dua botol air mineral.


" Taruh aja sini kamu bisa menunggu di depan" ucap Feby .


"thanks " ucap Yumi sambil menaruh air mineralnya ke troli Feby .


" Maaf adik kecil merepotkan terima kasih ya" ucap yumi pada Isal yang mendorong troli belanjaan mereka meninggalkan tempat kasir.


"Teman Mbak" tanya isyal yang dijawab anggukan Feby.


" Mana air mineralnya Mama udah haus nih" ucap Ika saat putrinya menghampirinya.


" Kasirnya rame cuma beli air mineral doang jadi aku titipkan aja sama temen" ucap Yumi.


"lagian kalau cuma beli air kenapa beli di swalayan kan banyak yang jual air putih sekitar sini" ucap Ika kesal melihat tingkah putrinya.


"Karena di antrian kasir ada cewek yang mau aku kenalin ke mama" ucap Yumi .


"Siapa " tanya Ika penasaran.


"Cewek yang dulu waktu SMA menantang ku makan makanan pedas dan berahkir aku di UGD yang suka sama Fathar "ucap Yumi.


"Iya ya mama ingat sekarang " ucap Ika setelah diam mengingat untuk beberapa saat.


" Sekarang kan Fathar lagi galau mendekati si Feby ini atau adik asuh nya di AAU dulu ma" ucap Yumi.


" Kenapa galau kalau suka ya harus memantapkan pada satu nama jangan dua-duanya dideketin" ucap Ika.


"Begini mah ceritanya ...( ahkirnya sambil menunggu air mineral datang Yumi menceritakan sedikit kegalauan kakaknya kepada sang mama)".


" Permisi Kak ini air minumnya" ucap Isal yang datang menghampiri Yumi dan mamanya sambil mendorong troli belanjaannya menghentikan ke dua orang dewasa yang lagi asik mengobrol.


" Oh terimakasih,mana kak Feby dek" tanya Yumi.


" Masih di kasir saya duluan soalnya mau nitip ini ke penitipan" ucap Isal sebelum pergi ke tempat penitipan barang yang letaknya 2 m di belakang tempat duduk Yumi dan Mamanya.


" Lihat mah tu ceweknya yang lagi berjalan ke sini memakai celana jeans dan Hoodie kebesaran warna putih" tunjuk Yumi pada wanita yang berjalan kearahnya dengan celana jeans dan Hoodie besar bahkan sangking besarnya seperti dress jika tidak memakai celana jeans.


Ika yang melihat dari jauh merasa mengenali perempuan itu tapi siapa ,Ika terus memperhatikan dan melihat sampai wanita itu berjarak kurang lebih 1 meter di hadapannya baru dia ingat siapa gadis ini.


" Thanks air mineralnya" ucap Yumi sambil menyodorkan satu lembar uang warna biru.


" Nggak perlu gue ikhlas" tolak Feby.


" Ahkirnya tante menemukanmu nak , tante bingung mencarimu ke mana sedangkan tante tidak tahu namamu maupun no ponselmu" ucapkan Ika setelah mengingat siapa Feby, meski cara penampilan mereka hampir sama, sama-sama kasual dan santai tetapi tadi pagi saat kecelakaan Feby memakai kacamata jalan dan sekarang tidak memakai kacamata.


"Mama kenal " tanya Yumi.


" Ini korban yang mama tabrak tadi pagi" ucap Ika.


" Jadi tangan Kakak luka karena kecelakaan, bukan jatuh sendiri" tanya Isal.


" Wah sepertinya kita perlu duduk manis minum kopi atau teh sambil ngobrol" sela Yumi.


" Maaf saya nggak bisa saya buru-buru mau membeli sepatu buat adik saya" tolak Feby, Feby tidak mau berlama-lama berurusan dengan Yumi apalagi mengingat Yumi memanggil mama orang yang menabraknya berarti dia keluarganya Fathar.


" Kenapa loo menghindari gw" kata Yumi kesel karena niatnya ngobrol bersama Feby ditolak dan ini adalah penolakan ke 2 Feby atas ajakan ngobrolnya.


" kemana mereka "ucap Ika saat sadar tidak ada Feby dan Isal.


Setelah Feby menghindar dan bersembunyi di tempat yang menurut Feby aman ,karena dari posisinya sekarang dia bisa memantau Yumi dan Mamanya tanpa mereka sadari.


"Isal beli sepatunya jangan di sini ya Kita pindah tempat aja" ajak Feby.


" Emang mereka siapa Mbak bukannya tadi ibu-ibu itu bilang yang menabrak Mbak" ucap Isal.


" Yang cewek itu adik kelas mbak waktu SMA dan untuk sementara Mbak nggak bisa cerita , mbak lagi malas bercerita tentang mereka " .


" Ya udah kita pergi setelah mereka tidak ada " ucap Isal. Ya


Setelah melihat Yumi dan mamanya menjauh,Feby dan Isal mengambil belanjaan mereka dan berjalan keluar.


Ahkirnya Isal membeli sepatu futsalnya melalui online. Ternyata sesampainya di rumah masalah baru datang nampak mobil Fathar terpakir di depan rumahnya.


"Kita perlu bicara ada yang perlu aku sampaikan" ucap Fathar setelah Feby keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih ya pak" ucap Feby pada driver yang membantu Feby membawakan belanjaannya masuk kedalam rumah yang di balas senyum manis sang driver.


" Isal bawakan 2 botol air mineral " teriak Feby pada Isal yang sudah berada di dalam rumah .


" Ini mbak, mbak aku ke mushola menugu adzan magrib sekalian jamaah " ucap Isal pada sang kakak setelah meletakkan dua botol air mineral di meja dan tak lupa membukakan segel botol air mineral buat sang kakak.


"oke hati-hati habis salat magrib langsung pulang".


"Sekarang apa yang ingin kau katakan keburu maghrib" ucap Feby datar.


" Aku hanya ingin menjelaskan tentang yang terjadi tadi di mall tentang.."


"Tidak perlu" ucap Feby cepat memotong ucapan Fathar yang belum selesai.


" Aku " ucap Fathar bingung harus mulai dari mana menjelaskan yang sebenarnya dia sadar dia yang salah.


" Aku sudah pernah bilang jika kamu sudah yakin tentang perasaanmu hanya penasaran segera tinggalkan aku, Jadi apa yang kulihat kemarin itu adalah bukti " ucap Feby sebelum dia meminum air putih yang telah disediakan adiknya.


" Tapi aku masih belum yakin tentang perasaanku padamu" kata Fathar dengan memandang ke arah Feby yang tidak mau melihat kearah nya.


"Tapi kamu sudah pernah bilang jika tidak ada kecocokan kamu akan langsung mengakhiri semuanya, jadi tidak perlu kamu bilang aku tahu perasaanmu lagi bimbang , itu sudah bukti kita tidak cocok maka tidak perlu kamu mengahkiri aku yang mundur cukup sampai disini saja kita saling mengenal " ucap Feby berusaha tenang tanpa emosi padahal hatinya sakit saat mengingat Fathar hanya diam saat dia dihina berbeda dengan Erni dan Bian yang membelanya meski mereka baru saling mengenal.


Akhirnya dugaan nya benar dia jatuh untuk yang kedua kalinya dengan orang yang sama, sakit saat melihat Fathar mengandeng wanita lain meskipun mereka hanya sebatas saling mengenal tanpa status.


Tanpa bicara lagi Feby masuk ke dalam rumah dan menutup pintu meninggalkan Fathar duduk sendirian di teras rumah , hingga kumandang azan maghrib membuat Fathar meninggalkan rumah Febi menuju ke mushola terdekat.


" Mas Fathar bisa bicara sebentar " tanya Isal saat Fathar hendak masuk ke dalam mobilnya.Bocah berusia 12 tahun itu mengajak father berbicara di teras mushola .


" Maaf sebelumnya mungkin aku hanya anak kecil yang bahkan dari segi usia aja belum genap 12 tahun tapi sebagai adik aku mohon jangan mendekati kakakku lagi, hanya kakak yang ku punya aku tidak mau kehilangan kakakku atau melihat kakaku sedih, dia sudah capek bekerja membiayai hidupku aku tidak mau melihat dia menangis apalagi hanya karena seorang pria" ucap Isal dengan berani.


" Mas Fathar janji tidak akan membuat mbak Febi menangis" ucap Fathar.


"Jangan berjanji hanya di mulut lebih baik kakak urus perempuan yang setara dan seprofesi sama kakak jangan mendekati kakakku tapi juga mendekati wanita lain" ucap Isal membuat Fathar bingung.


"Bukan seperti itu".


"Aku memang masih kecil belum mengetahui hubungan orang dewasa, tapi aku tahu tidak mungkin Kakak mau tiap pagi sarapan di rumah kami Kalau tidak ada perasaan tapi Kakak juga harus menjaga perasaan pasangan kakak" ucap Isal.


" Tunggu Maksud kamu apa aku tidak mengerti yang kamu omongin " ucap Fathar.


" Tiap pagi kakak sarapan dengan mbak Feby tapi Kakak juga menggandeng tangan perempuan lain kenapa Kakak tidak menjaga perasaan mbak Feby bagaimana kalau Mbak Feby melihatnya".


" Kapan aku melakukannya. Aku tidak pernah menggandeng tangan perempuan lain" ucap Fathar.


" Pada hari upacara kemerdekaan di Istana Negara Kakak menggandeng tangan perempuan yang berpakaian penerjun dengan berjalan di depan kami berdua" ucap Isal sambil berdiri.


"Jadi kamu dan kakakmu saat upacara juga ada di Istana Negara?" tanya Fathar yang diangguin oleh Isal.


"Bahkan mas Fathar berjalan di depan mbak Febi persis Papa sama anak kelakuannya hampir sama pantas di bela perempuan itu yang memeluk erat lengan mas Fathar bahkan Malam sebelum upacara kemerdekaan kami melihat Mas Father masuk ke dalam bioskop bersama wanita itu" ucap Isal sebelum berjalan meninggalkan Fathar sendirian di teras mushola.