My soul mate

My soul mate
107. Penampilan yang menipu



Bener dugaanku apa yang di alami Fathar padaku hanya perasaan yang timbul karena rasa penasaran.Sejak Fathar memberikan undangan buat menghadiri upacara yang aku kasih jawaban ketidakpastian sejak hari itu dia mulai berkurang intens berkirim pesannya kepadaku . Apalagi setelah aku melihatnya sedang menonton di bioskop bersama temannya sejak hari itu dia tidak pernah menghubungiku sama sekali. Ada rasa sakit dan kehilangan saat dia tiba-tiba tidak ada kabar padahal selama ini dia selalu mengirim pesan padaku, tapi aku juga harus berpikir positif mungkin ini jalan terbaik yang Tuhan berikan untuk aku ke depannya.


"Mau kemana mbak" tanya Isal melihatku hendak keluar dengan sepedah motorku.


" Janjian sama temen yang rencananya mau beli desain Mbak"kataku sambil memakai helm. Selain bekerja menjadi arsitek yang terikat di suatu perusahaan aku juga membuka Freelance yang aku pasarkan lewat status ponselku . Sebenarnya ada temanku yang menawariku buat mempromosikan freelance arsitek ku ke media sosial yang lebih luas seperti Facebook Twitter atau yang lainnya, tapi aku menolak dengan alasan Aku terikat dengan pekerjaan tetap ku .


Dengan mengendarai sepeda motorku aku menuju ke tempat janji perempuan kami sebuah mall di daerah Jakarta Barat.


"Maaf menunggu lama" sapaku pada orang yang hanya aku lihat wajahnya di kontak ponsel.


"Tidak apa-apa saya juga baru sampai" ucapnya sambil memperhatikan penampilanku, mungkin dia tidak yakin dengan penampilanku yang hanya menggunakan celana jeans sobek dengan atasan kaos oblong warna putih.


" Ini desain yang anda minta sesuai request anda, hunian yang minimalis tetapi tidak sempit dan nampak asri dengan banyak ventilasi udara dan jendela kaca dengan taman kecil yang berada di samping berhadapan dengan ruang makan" ucapku menjelaskan permintaannya kemarin dengan mengeluarkan gambar yang aku simpan di Drafting Tube dan kubuka lebar di atas meja.


"wow amazing" ucapnya setelah 10 menit tidak ada komentar apa-apa.


" Emang benar kata orang terkadang penampilan itu menipu, seperti anda yang berpenampilan cuek apa adanya tetapi menghasilkan karya yang sangat memukau" ucapnya yang kubalas dengan senyum tipis.


" oh ya kita sampai lupa ya belum berkenalan Nama saya Biantara biasa dipanggil Bian" ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


" Feby Annisa" ucapku sambil membalas jabatan tangannya .


" Papa saya meninggal 5 tahun yang lalu dan saya membangun rumah ini untuk mama saya , yang merasa kesepian di rumah peninggalan mendiang papa yang sangat luas" ceritanya.


" kenapa tidak direnovasi saja apa tidak sayang membangun rumah baru tapi masih ada rumah yang lama" ucapku.


"Rumah yang lama ditempati Kakak tertua saya beserta keluarganya, Karena saya belum berkeluarga jadi hunian ini buat saya dan buat calon keluarga saya nantinya,jadi saya ingin mama saya dan calon istri saya nyaman nantinya" ucapnya.


"wah beruntung sekali calon anda semoga di rumah ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan membuat kenangan indah bisa di ukir disana" ucapku tulus.


"Bagaimana dengan anda apa sudah berkeluarga?" tanya nya, membuatku tak nyaman.


"doakan secepatnya" jawab ku berbohong.


" wah kalau gitu sudah ada calon ya terlambat saya kalau begitu saya tunggu undangannya " ucapnya.


Aku hanya bisa tersenyum aku mengenal Bian melalui salah satu klienku yang puas dengan hasil rancanganku ,dari dialah Bian menghubungiku langsung untuk mendesain gambar sesuai harapannya dan kami baru bertemu kali ini setelah desainnya selesai ku buat ,masalah pembangunan Bian serahkan kepada kontraktor langganan keluarganya keluarga besarnya yang masih ada ikatan saudara.


"Maaf saya tinggal ke kamar kecil sebentar " ucapku karena merasa pingin buang air kecil.


"silahkan ".


"sekarang kita ke mana lagi" ucap Ali yang sudah menahan kesal karena dari tadi mengikuti Zahra berbelanja.


"Bagaimana kalau kita makan dulu kita cari restoran terdekat" usul Zahra.


"Di restoran cepat saji di sini aja lah yang dekat ngapain jauh-jauh nyari restoran keburu pingsan aku ntar" ucap Ali menarik Erin masuk di ikuti Fathar dan Zahra.


"Kapten Bian" ucap Ali saat melihat Bian duduk sendiri.


"oh letnan Ali ,letnan Zahra dan calon kapten baru kita terus yang satu " ucap Bian.


"Ini Erni insyallah calon saya" ucap letnan Ali.


"Boleh ikut duduk di sini nggak kapten" ucap Zahra yang sudah duduk di samping kapten Bian.


" Ini seperti sebuah bangunan rumah lagi merencanakan membuat rumah kapten" ucap Fathar.


"Rencana sih begitu buat mama biar tidak teringat papa kalau tinggal di rumah lama" jelasnya.


"Terus orangnya ke mana ini" tanya Zahra.


" Lagi di kamar kecil " ucap Bian sambil meminum minumannya.


"Fathar Aku dengar kamu juga akan naik pangkat" ucap Bian lagi.


" Insya Allah doakan ya Kep. lancar sampai hari kenaikan pangkat ".


"Maaf Aku mau mengantarkan Erni ke kamar kecil dulu" pamit Ali, jadinya tinggal bertiga di meja itu. Dengan posisi duduk Zahra yang di apit dua laki-laki.


"kalian pesan aja , sekalian pesankan buat Ali dan kekasihnya " ucap Bian.


" Sini biar aku yang pesan " ucap Zahra.


"Maaf saya agak lama" ucap Feby yang baru datang dan itu sangat mengagetkan Fathar begitupun juga Febi yang kaget Father ada di situ.Karena hanya melihat dari samping belakang hingga Feby tidak jelas melihat Fathar yang tertutup Bian dan Zahra.


Sebenarnya Feby udah selesai dari tadi tapi melihat meja mereka yang ramai dia enggan untuk kembali ke meja nya, tapi mengingat semua alat gambar dan laptopnya masih di meja itu mau tidak mau dia harus kembali buat mengambil alat kerjanya.


"Dia siapa mas Bian " ucap Zahra manja.


" Perkenalkan saya Febi arsitek yang jasanya sedang dipakai oleh mas Bian" ucap Feby sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tapi dengan angkuhnya Zahra mengabaikan tangan Feby.


"Dari dulu kamu tidak pernah berubah selalu sombong" ucap Bian saat melihat kelakuan Zahra yang mengabaikan Feby.


"Emang Mas yakin hasil karyanya bagus penampilannya aja tida menyakinkan" ucap Zahra .


"Apa kamu tahu yang menempel di tubuhnya ini jika di uangkan harganya kalah dengan apa yang menempel padamu" ucap Erni yang tiba-tiba datang dan merangkul Feby yang masih berdiri.


"Yang bener aja kaos dan celana bolong kaya gitu " ucap Zahra tak percaya.


" Aku tanya padamu itu celana,baju, sepatu,tas sama jam tangan yang kamu pakai jika ditotal tidak lebih dari 5 juta bukan" ucap Erni.


" Lebih lah 5 juta hampir 6 juta " ucap Zahra tidak terima.


"Tapi harga celana yang kamu bilang bolong , beserta sepatu dan baju yg dipakai harganya mendekati 10 juta,itu belum topi,jam tangan nya loo" ucap Erni.


"Haha bohong aku gak percaya " ucap Zahra.


" Buka ponselmu dan lihat ini Produk Calvin Klein dan ini channel asli " ucap Erni sambil memegang baju yang dikenakan Feby.


" Maaf ini aku harus pergi sepertinya " ucapkan karena melihat situasi yang tidak kondusif sambil membereskan berapa barangnya di atas meja.


"Kita yang duluan jika mereka nggak nyaman biarkan mereka pergi" cegah Bian saat aku membereskan barang-barang ku.


"Saya sudah menjelaskan semua bentuk detail desain gambar yang saya buat jika mas Bian berkenan memakainya silakan jika tidak juga tidak apa-apa" ucapku yang hendak pergi.


" Saya suka karyamu dan akan memakainya, mari kita bahas sisanya di tempat lain" ucap Bian sambil membantu membereskan barang Feby sebelum pindah tempat.


" Ternyata selera Lo rendahan" ejek Erni sebelum pergi menarik Ali meninggalkan Fathar dan Zahra.