My soul mate

My soul mate
149. Extra part Andhra Basil Raksa



"Ahkirnya Raksa menambah jumlah penerus lelakinya " ucap opa yang baru datang berbarengan dengan Tante Arin dan om Damar, kalau papa dan mama datang semalam begitu mendengar aku mules mama langsung mencari tiket pesawat yang tentunya papa ikut karena tidak akan membiarkan Mama Ika berpergian sendirian.


" Pa mau lelaki atau perempuan sama aja," tegur Raffi.


"Apa salahnya cicitku lelaki kan baru satu ini" ucap opa cuek tidak peduli orang disana memandang aneh. Buat yang sudah paham dan mengenal opa mungkin maklum kaya mama Ika yang tahan banting menghadapi opa, bahkan istri Om Radit sering menangis menghadapi Opa. Tante Arin sebagai anak tertua juga sering bersitegang dengan Opa masalah anak ,karena Dino yang dulu di anggap mampu menjadi penerus malah mundur sekarang lebih memilih fokus menjalankan usaha bersama temannya yang bergerak dalam bidang otomotif ,dengan alasan meski ada darah Raksa tetapi dia ingin bebas seperti kakaknya yang bebas memilih masa depan mereka namanya jelas-jelas Mahardika bukan Raksa .


Jika biasanya keluarga kaya pada berebut kekuasaan dan kekayaan, keluarga suamiku malah pada menolak kekuasaan dan kekayaan .


"Siapa nama cicitku ?" tanya Opa.


"Andhra Basil Raksa, lelaki kuat dan berani singa dari keluarga Raksa " ucap Fathar sambil memandang Putranya yang sedang tidur pulas di box bayi.


"Wah Opa suka dengan nama pemberianmu, keluarga kita perlu singa yang kuat yang bisa mengalahkan semua musuhnya.


Ahkirnya siang harinya aku di ijinkan pulang bersama putra kecilku, berbeda dengan saat melahirkan Diva selain aku harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit ,aku juga terpaksa pulang duluan meninggalkan Diva yang masih kurang sehat saat itu.


"Mas mulai sekarang harus belajar mengerjakan pekerjaan rumah sendiri belajar memandikan anak-anaknya" ucap mama Ika, setelah 2 minggu di sini membantu ku merawat anak-anak hari ini Mama akan kembali ke Jakarta, karena papa tiap hari sudah menelpon mama untuk segera pulang karena papa kemarin cuma mengantar Mama dan melihat cucu lelakinya yang baru lahir jadi hanya menginap dua malam di sini.


" Siap mama ku sayang mas akan dengan senang hati mengerjakan semua pekerjaan rumah, jangankan memandikan anak-anak memandikan mamanya pun aku siap" ucap Fathar yang langsung aku cubit pinggangnya dan mama memukul bahunya.


"Dasar bapak anak sama aja makin tua makin mesum " ucap mama ya langsung pergi ke bandara diantar oleh om Bayu.


Kehidupanku selama di sini berjalan seperti biasa sesekali diselingi dengan pertengkaran kecil antara anak-anak, atau kadang anak-anak nangis karena ulah Isal atau Fathar yang isengnya minta ampun.


"Isal kamu mau lanjut SMA kemana?" tanya Fathar saat kami sedang menikmati acara malam mingguan dengan berlibur ke daerah Batu.


"Papa memintaku kembali ke Jakarta menemaninya sekalian belajar mengenal lingkungan sekolah " ucap Isal.


"Pasti kendalanya mbak mu ya" ucap Fathar yang langsung di anggukin Isal. "Nanti coba mas bilang mbakmu,tapi kalau boleh tahu kamu sendiri mau lanjut ke mana ?" tanya Fathar.


" Aku sebenarnya kasihan sama papa di umurnya yang semakin tua tidak ada teman yang menemani hanya sepupunya jauh yang membantu mengelola sekolahan itupun mereka tidak tinggal satu rumah"ucap Isal.


"Kami ingin tinggal sama papa berarti "ucapku memastikan." Iya mas , lagian mbak Feby sudah bahagia punya keluarga dan anak-anak yang menggemaskan,aku yakin mas tidak ada melukainya lagi" ucap Isal.


"Coba nanti mas akan bicara dengan mbakmu semoga dia mau mendengar dan memahami alasanmu ,tapi mas tidak janji ya Jangan terlalu berharap kamu tahu Mbak mu itu wataknya kaya apa " ucapku bukannya gak yakin, karena aku tidak mau terlalu percaya diri menghadapi sifat istriku yang akhir-akhir ini lagi sibuk-sibuknya mengurus acara HUT TNI AU,jika para ibu-ibu mempersiapkan acaranya sendiri yang tentunya berbeda dengan persiapan para anggota yang akan mempersiapkan demonstrasi udara.


"Sibuk Bun" ucap Fathar saat melihat Feby masuk ke dalam kamar mereka membawa beberapa kertas rencana kegiatan dan anggaran yang harus di cek ulang.


"Kenapa ada yang mau di omongin" ucap Feby sambil duduk di kasur yang sudah ada kedua anaknya tidur dengan pulas.


"Bunda tau rencana Isal mau lanjut sekolah ke mana?" tanya Fathar.


"Bunda belum nyari sih, soalnya waktu aku tanya dia gak jawab cuma bilang papa menawarkan kalau mau ke Jakarta papa akan senang " ucap Feby tanpa melihat kearah Fathar.


" Isal bilang ke mas sebenarnya dia mau tinggal sama papa itu artinya Isal berencana sekolah SMA di Jakarta," ucap Fathar sambil memperhatikan respon Feby yang sudah menghentikan kegiatannya dan memandang tajam kearah Fathar.


"Jangan bicara ngawur mas kamu " ucap Feby sewot.


"Mas tidak mengada-adakan "ucap Feby. memastikan.


" Buat apa mas mengada-ada , lagian kamu sekarang sudah punya mas dan anak-anak beda dengan ayah istri udah diceraikan, orang tua juga ga ada tau sendiri ibu tirinya kabur karena takut di laporkan polisi " ucap Fathar.


"Sebenarnya aku kasihan juga sama papa bagaimana pun aku marah sama papa tidak akan bisa membalikkan keadaan seperti semula " ucap Feby.


"Makanya coba kamu bicara berdua dengan Isal kamu pastikan apa maunya Isal" ucap Fathar.


"Baiklah nanti aku cari waktu yang tepat buat ngobrol berdua ".


"Ya udah mas mau tidur dulu kamu jangan malam-malam tidurnya "ucap Fathar sebelum menarik selimutnya.


Feby dan Fathar selalu menyempatkan menyelesaikan setiap masalah dengan saling bicara sebelum tidur.


"Kenapa sih cantik dan ganteng ko rewelnya bareng-bareng begini" ucap Fathar sambil menggendong Diva sedang Feby menggendong Andhra. Setelah semua kegiatan Feby di PIA Ardhya Garini selesai Feby dan Isal berbicara empat mata dan sesuai yang dikatakan Fathar,Isal mengaku kasihan sama papa dan akhirnya Feby harus ikhlas adiknya melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA di Jakarta tinggal berdua dengan papanya.


" Ya wajar lah Andra habis imunisasi campa sedang kakak kan emang begitu kalau lagi kangen panas terus manja, badannya sejak kemarin demam waktu kamu telepon bilang pulangnya mundur habis itu langsung demam" ucap Feby.


"Maafkan ayah sayang " ucap Fathar sambil mencium puncak kepala putrinya. Semakin besar Diva semakin lengket dengan Ayahnya,bukan Feby yang sering bertelpon menanyakan kabarnya tetapi Diva yang setia hari menelponnya kalau lagi dinas jauh.


"Ah pegalnya " keluh Feby setelah menidurkan putranya sambil memukul-mukul bahunya sehabis menggendong putranya dalam waktu yang cukup lama.


" Sini Mas pijat sekalian mau ada yang mas bicarakan" ucap Fathar sambil menarik Feby untuk duduk di ranjang mereka.


"Mau ngomong apa".


" kemarin Mas bertemu dengan Zahra dia mengasih mas undangan pernikahan ,Zahra mau menikah dengan kapten Bian" ucap Fathar,Feby yang tadi tengkurap langsung membalikan badan menghadap suaminya.


"Wow semoga menjadi keluarga yang sakinah ya"ucap Feby.


"Tetapi Zahra mau mengajukan pengunduran diri mau mengurus ibunya kapten Bian yang sudah tua dan sakit-sakitan " ucap Fathar.


" Yang bener gak sayang sama karirnya " ucap Feby.


"Setelah sepupunya di penjara dan di pecat dari polri Zahra tidak di akui keluarga sama mereka, karena Zahrah anak yatim-piatu dia tersentuh dengan kasih sayang ibunya kapten Bian padanya yang hanya orang lain" ucap Fathar.


"Emang sering ketemu mereka?" tanya Feby." kebutuhan mereka sekarang dinasnya satu Skadron 31,jadi sering bertemu " ucap Fathar.


"Semoga ya kebahagiaan selalu menyertai mereka ".


"seperti keluarga kita " ucap Fathar yang sudah mendekap erat tubuh istrinya.


Hua hua suara tangis Andra menghentikan aksi Fathar yang sudah ******* bibir istrinya.