
"Assalamualaikum" ucap Fathar saat masuk ke dalam rumahnya.
"Walaikumsalam " jawab semua yang berada di dalam rumah, setelah
mencium tangan kedua orangtuanya Fathar ikut gabung makan pagi bersama adik dan kedua orangtuanya.
"Mama akan ke rumah Feby kan biar aku yang mengantar mama,aku tahu rumahnya" ucap Fathar sambil memperhatikan semua yang berada di meja makan.
"Yakin loo siap ketemu Feby" tanya Yumi kepada sang kakak.
" Iya aku salah dan aku harus memperbaiki kesalahanku, sebenarnya aku sudah ke rumahnya dan bertemu dengannya kemarin sore dia saat dia baru pulang belanja" ucap Fathar.
"Jadi kemarin sore itu kamu pergi ke rumahnya" tanya papa.
" Iya aku sengaja ke rumahnya dan saat rumahnya kosong aku sengaja menugu kedatangannya" .
"Bagaimana responnya melihatmu?" tanya Yumi.
" Feby memintaku untuk meninggikan nya karena menurutnya kita sudah tidak ada kecocokan, seperti persyaratannya diawal " ucap Fathar kali ini mengalihkan pandanganya ke piringnya tanpa melihat ke arahku keluarganya.
" Persyaratan apa "tanya Yumi.
"Aku akan mundur saat tidak ada kecocokan dan ternyata selama beberapa hari aku tidak menghubungi nya dia melihat ku jalan berdua dengan Zahra " ucap Fathar.
"Dan dia meminta mu untuk menjauhi nya"tebak papa.
"Iya karena menurutnya itu bukti jika tidak ada kecocokan diantara kami jadi dia meminta aku untuk tidak mendekatinya ".
"Kamu mau menyerah dan memilih Zahra " tanya Yumi.
"Aku tidak akan memilih Zahra karena sejak kejadian kemarin, tidak pernah terlintas nama Zahra di benakku " ucap Fathar.
" Kalau aku jadi Feby aku juga akan langsung mengakhiri semuanya" ucap Ika sang mama yang dari tadi hanya menjadi pendengar.
" Mama kok gitu sama Fathar kan anak mama" ucap Fathar.
"Karena baik mama atau Feby tahu kalau kamu lagi bimbang terhadap perasaanmu sendiri dari pada dijadikan pilihan ya lebih baik mundur cukup sampai disini saling mengenalnya dari pada dilanjut tar bikin sakit hati " ucap mama membuat Fathar mengingat kata-kata Feby yang hampir sama dengan sang mama.
"Fathar itu lagi memilih yang terbaik untuk masa depannya ma" bela papa.
" Papa sama anak kelakuannya hampir sama pantas di bela" ucap Ika sambil berdiri meninggalkan meja makan menuju kamarnya untuk bersiap-siap .
cklek suara pintu dibuka dan ditutup serta yang di kunci terdengar oleh Ika membuatnya memutar badan ke arah suara.
"Mama ko ngomong begitu dih" ucap Raffi sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.
" Emang benarkan yang mama omongin".
"Itu kan udah lama ma anak-anak juga sudah pada dewasa " bujuk Raffi.
" Emang sudah lama tapi kesel aja liat tingkah anak yang ku besarkan kelakuan ko sama kaya papa nya"ucap Ika sambil melepas baju hendak berganti.
"Ya aku papanya wajar lah mirip" jawab Raffi santai, spontan Ika yang sedang melepas baju nya bertolak pinggang menghadap kearah nya.
" Ya kalau yang diikutin kesuksesannya keberhasilan mu Mama sih senang aja tapi selain itu kebaikanmu kenapa juga harus mengikuti kejelekan" ucap Ika ketus.
"Apanya yang buruk sih sifatku kan baik semua" uca Raffi sambil berjalan kearah Ika.
" Tidak tegas terhadap wanita, ingat wanita itu bukan barang yang bisa di pilih, anakmu boleh galau tapi mama gak suka caranya yang masih jalan sama si A tapi membiarkan si B masuk kehidupannya...emph ph" ucapan Ika terpotong oleh serangan Raffi yang tiba-tiba menyerangnya.
"Salah sendiri ngoceh sambil tidak pakai baju " ucap Raffi dengan nafas ngos-ngosan dan di suara serak.
"Aku mau ganti baju ya wajar kalau di lepas dulu kamu aja yang makin tua makin mesum" ucap Ika sambil melepaskan pelukan Raffi.
"Tanggu jawab dulu ini kalau tidak di tidurkan lagi papa bisa sakit kepala " keluh Raffi saat melihat Istrinya keluar dari walk-in closet.
"Siapa suruh ngikutin dan main sosor " ucap Ika langsung duduk di meja riasnya.
" Ayolah dosa Lo menolak suami " ucap Raffi sambil mendekap istrinya dari belakang.
"Papa mama lama banget apa lagi berantem ya" ucap Yumi.
" Berantem kenapa " tanya Fathar bingung perasaan tadi orang tuanya baik-baik saja tadi.
"Kamu gak ingat mama ngomong apa sebelum meninggalkan meja makan " .
"Papa sama anak kelakuannya hampir sama pantas di bela" ucap Yumi menirukan ucapan mamanya tadi sebelum pergi.
"Emang ada yang aneh dengan kalimat mama" tanya Fathar bingung,si Yumi yang mendengar langsung kesel dan berdiri merapikan meja makan.
Meski berada dalam kehidupan yang sangat berkecukupan Ika selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mengenal pekerjaan rumah, makanya setiap hari libur pembantu di rumah banyak yang libur pulang kerumahnya atau jalan-jalan sendiri.
"Jadi pergi gak sih mama ko gak turun-turun " ucap Fathar sambil melihat jam tangan melingkar di tangannya, sudah 1 jam berlalu sejak mamanya meninggalkan meja makan.
"Ayoo mama dah siap " ucap Ika dan Raffi yang muncul bersamaan.
" Hmm pantes lama mandi bareng "ucap Fathar.
"Makanya buruan nikah keburu tumpul itu tombak mu" ucap Raffi yang langsung di tatap tajam istrinya.
"Santai aja kali mah anakmu sudah bukan anak kecil lagi sudah siap menikah semua" ucap Raffi membuat Ika memperhatikan kedua anaknya.
" Perasaan baru kemarin aku melahirkan mereka gak kerasa udah pada siap memberikan kita cucu ya pa"ucap Ika.
"Apan sih ma cucu cucu nikah saja belum" kesal Yumi.
"Ok dah siap ayo ma" ucap Fathar.
"Papa mau ngapain "tanya Ika saat melihat Raffi hendak masuk ke dalam mobil Fathar.
" Mau ikut lah masa aku di rumah sendiri " ucap Raffi.
"Papa di rumah aja nemeni Yumi "ucap Ika.
"Yumi sebentar lagi pasti di jemput Aufar, dari pada aku di rumah sendirian lebih baik aku ikut kalian "ucap Raffi sambil masuk di dalam mobil.
Dirumahnya Feby memberikan pengarahan kepada adiknya untuk memasak, Isal yang mengerjakan Feby tinggal menyuruhnya sambil duduk di meja pantry.
Tok tok tok
" Siapa yang pagi-pagi bertamu kayak gini " tanya Isal yang dijawab dengan mengakat bahu Feby .
" Mbak duduk aja biar aku yang buka" ucap Isal.
Tok tok Assalamualaikum
" walaikumsalam " jawab Isal sambil membukakan pintu.
" Mau apa lagi ke sini aku sudah bilang jangan mendekati kakakku lagi, dia sudah capek bekerja membiayai hidupku aku tidak mau melihat dia menangis " ucap Isal kesal.
"Maaf mas hanya ingin minta maaf "ucap Fathar.
"Tante yang kemarin di mall kan" ucap Isal.
"Tamunya siapa ?" tanya Feby yang menyusul Isal kedepan.
"Ada apa lagi Thar please jangan ganggu gw lagi kita urus kehidupan kita masing-masing " ucap Feby kesel.
Semalaman dia menangis menyesali kebodohannya yang jatuh ke lubang yang sama dengan Cinta pertamanya, dari awal dia sudah sadar kalau Fathar hanya penasaran dengan dirinya yang sekarang terkesan jual mahal. Buktinya begitu ada yang baru dia langsung berpaling yang biasa berkirim pesan Jadi tidak ada kabar sama sekali.
" Maaf Fathar mengantar Tante,Tante yang memaksanya untuk ke sini" bohong Ika demi anaknya.
"Kecelakaan itu sudah takdir bukan 100% salah tante, jadi mari kita lupakan anggap tidak terjadi apa-apa saya ikhlas menerimanya " ucap Feby.
"Tapi kalau Tante tidak menabrak pasti nak Feby bisa bekerja dengan baik" ucap Ika.
"Yang namanya takdir musibah meskipun bukan tante Yana yang menabrak bisa saja orang lain yang menabraknya saya" ucap Feby.
"Apa kamu menolak pertanggungjawaban mama karena aku" tanya Fathar.
"Iya aku gak mau berhubungan dengan mu lagi Karena Aku ga mau menjadi bahan perbandingan mu karena aku bukan pilihan" ucap Feby.
"Tidak ada yang menjadikanmu pilihan dia hanya temanku adik asuhku saat menjadi Taruna kami kebetulan bertemu sehari sebelum upacara di Istana Negara "ucap Fathar untuk menyakinkan Feby meski ada sedikit kebohongan.
"Tidak ada teman yang berjalan dengan bergandengan tangan tidak ada teman yang berjalan saling merangkul " ucap Feby membuat Fathar tidak bisa berkutik. Mengingat dirinya saat di Istana Negara berjalan bergandengan tangan dengan Zahra dan di bioskop dengan merangkul Zahra.
Fathar berjalan lemas duduk di teras rumah.
Membuat yang melihatnya menjadi heran bukannya pergi malah duduk sambil mengambil rokok di kantongnya.