
Kehamilan kedua ini aku tidak mengalami Morning sickness atau drama apapun, hanya sifatku yang mungkin sedikit kekanakan mudah marah, manja dan sedikit keras kepala jika punya sesuatu harus segera diturutin dan karena itu aku sering cekcok dengan Raffi untuk hal sepele.
"mas setelah acara Persit aku mau langsung belanja bulanan"
"kenapa gak pulang dulu aja tar Mas anter "
"ya kalau kamu pulang tepat waktu kalau jam 8 malam baru nyampe rumah gimana gagal lagi, kulkas ku sudah kosong hanya ada air putih "
"tapi kakimu itu baru sembuh , belum Fathar gak mau diam kalau di swalayan, aku gak mau ya kamu Gedhong Gedhong Fathar"
"iya nggak nggak dah sana berangkat"
"tar kalau mau berangkat buat kegiatan Persit info ke mas"
"iya sana keburu telat"
"papa mu nyebelin apa apa dilarang"kataku pada Fathar.
"papa ebeilin "
"ha ha bener katamu" katanya sambil mencium pipinya yang gembel.
Setelah melakukan persiapan ahkirnya aku berangkat dengan mobil ditemani Fitri sepupu Ratih yang bertugas mengawasi ketiga anak kami sedang Ratih dan Santi dalam satu mobil.
"eh mbak ko bawa anak sih,emang ngga di marahin sama ibu Danyon " kata seorang wanita berpakaian persit seusai dengan ku.
"enggak kok mbak bentar lagi juga sama pengasuh nya"kata ku, membuat Ratih melotot.
"tapi kan harusnya gak di bawa ke acara kaya begini tar bisa menggagu Lo kalau rewel mbak nya yang tar terkena teguran ibu Danyon atau wadanyon"
"he he he " tawaku garing berbeda dengan tawa Ratih dan Santi yang ditahan.
"kenalan dong mbak aku windu istri kapten Raka Danki dari tim 2"
"eh saya Ika biasa dipanggil ibu Raffi"
"suaminya pangkat apa"
"he he" kalau dia menyebutkan jabatan suami nya tar dia shock, jadi Ika cuma tersenyum.
"ma ma ma"
"oh mau ikut mbak Fitri ya,"
"ini pengasuh nya "Ika cuma tersenyum.
"Fitri tolong ajak anak anak ke gazebo"kata Ratih,setelah kami masuk bersama sama sama.
"baru jadi istri Danki "dengus Ratih, Ratih sendiri ibu Danki dari tim 1.
"kayanya orang baru " kata Santi.
"kita lihat ekspresi wajahnya pas perkenalan nanti "
"benerkan dugaanku "
"ha ha lihat tadi mukanya langsung pucat "
"huss ga boleh gitu "
" orang baru pindah aja gayanya sudah hadeewwww"
"ya selama senioritas masih berakar ya akan tetap kaya gitu "
"ijin ibu maaf saya mau minta maaf karena udah tidak sopan untuk yang tadi " kata Windu yang berdiri di sampingku.
"santai saja"
"eh Fitri mana Fathar ko ga ada sama kamu "
"itu mbak pas jalan kesini ketemu papanya jadi ikut papanya "
"ya udah tar biar aku yang Samper kamu buru buru mau ke kampus kan"
"iya mbak "
"mau di transfer ke mana "
"biasa aplikasi aja mbak, udah ya aku buru buru "
"mama mama"teriakan Fathar terdengar setelah kepergian Fitri, terlihat Fathar berlari kearah nya diikuti papanya.
"ko bisa sama papa "
"lihat aku malah nangis pingin ngikut ya udah aku ajak" kata Raffi.
"ayo kita jalan jalan ke mall "
"ayo mama"
"gak mau sama mas aja tar malem "
"nggak ah aku mau ke time dengan jagoan ku"
"kita belanja kebutuhan dapur aja dulu baru bermain dan setelahnya kita beli chiken "
"Tangkap copet "suara seorang wanita sambil tangannya menujuk laki laki yang berlari kearah ku, dengan spontan aku pegang Fathar tapi belum sempat aku meraih tangan Fathar seseorang mendekapku dan menodongkan pisau kearah leher ku
"awas jangan bergerak " melihat aku di dekap laki laki spontan Fathar menangis dan hendak berlari ke arahku , namun bisa di cegah oleh para ibu yang melihat kejadian.Suara tangis Fathar dan jeritan beberapa orang membuat suasana tampak tidak terkendali.
"apa maumu akan aku turuti tapi tolong lepaskan aku lihat anakku menangis mencariku"Kataku berusaha tenang kejadian ini mengingatkan dengan kejadian demo di pabrik gula dulu (episode 18). Melihat tangannya yang bergetar aku yakin dia juga takut tenang tenang aku harus tenang monolog ku.
"kamu aku kasih uang tapi lepaskan aku, kasihan anakku dia terus menangis "
"setelah aku melepas mu sekuriti akan menangkap ku dan memasukkan ke penjara aku tidak mau masuk penjara"
"kalau tidak mau masuk penjara kenapa kamu mencopet, harusnya kamu tahu resikonya jika tertangkap "
"aku butuh uang istriku baru melahirkan harus ada uang untuk membawa anak dan istriku pulang "
"Di mana mereka dirawat aku akan membantumu tapi lepaskan aku dulu kasih anakku"
"kalian semua orang kaya sama aja hanya berjanji tapi tidak pernah ditepati" kulihat Fathar terus meronta ronta tidak dapat terkendali sudah ada beberapa polisi yang mengepung jika begini Fathar tidak akan berhenti menangis, berpikir kataku dalam hati.Begitu aku merasakan dekapan nya mulai kendor aku injak kakinya dengan sekuat tenaga dan mendendangkan tumitku ke kaki pencopet sambil menundukkan badan dan mendorong pinggang lawan dengan bokongku sekuat tenaga, begitu berhasil terlepas polisi yang ada segera menyergapnya dan aku berlari kearah Fathar yang sudah tidak terkendali tangisnya.
"cup cup cup udah aman ada mama disini"
"mbak itu lehernya tergores apa sebaiknya diobati dulu "katanya dengan spontan aku memegang area leherku ada darah segar sedikit.
" tidak apa apa pak ntar saya obati di rumah"
"tapi sepertinya darah lumayan mbak itu nggak mau berhenti sampai baju mbaknya merah semua " kata polisi didepan ku.
"baiklah, tapi bisa tolong bawa belanjaan saya ke mobil saya" ahkirnya dengan di anter polisi tadi aku di bawa ke rumah sakit terdekat dengan belakangku yang di bawakan.
"sudah Bu darahnya sudah di hentikan, sebenarnya goresannya tidak pajang tapi sedikit dalam dan mengenai sedikit Pembuluh darah jugularis di leher, arteri percabangan di ketiak, dan banyak percabangan lain"
"tidak terjadi apa-apa kan dok"tanyaku.
"tidak ini saya resep kan beberapa vitamin dan penambah darah dan pereda nyeri "
"makasih dok misi"
"kalau boleh tau siapa namanya mbak "kata polisi dengan nametag Bima.
"nama saya...." suara kaki orang berlari menghentikan Kata kataku .
"aku bilang juga apa tunggu aku"kata Raffi yang langsung memeriksa kondisi leherku, dan setelah nya langsung mengambil Fathar dalam gendongan Bima.
"terima kasih sudah membawa istri saya ke rumah sakit"
"iya pak kami juga terima kasih dan Maaf istri yang terluka"
"ayo kita pulang"
"Pak Bima bisa tolong tanyakan kepada pencopet tadi di mana istrinya dirawat saya akan menemui ke sana"
"baik Bu entar saya tanyakan kalau sudah saya hubungi Ibu gimana ya"
"ke no saya aja"kata Raffi sambil menyerahkan ponselnya, setelah mereka bertukar nomor ponsel kami langsung pergi meninggalkan rumah sakit.
"buat apa sih minta nomor telepon segala "
"aku cuma kasihan kata pencopet tadi istrinya lagi di rumah sakit habis melahirkan tidak bisa keluar terhalang biaya"
"kamu itu sudah dilukai kayak begitu masih mikirin istrinya "
"kasihan pa"
"kamu itu membikin jantungku terasa mau copot"
"kok papa tahu"
"ada yang merekam secara live adegan tadi terus orang itu mengenal aku dan mintanya padaku untuk memastikan apa itu kamu"
"mana kunci mu aku yang anter pulang "
"pa udah di cek belum kata kata pencopet kemarin apa polisi itu belum menghubungi kamu pa"
"udah malamnya polisi itu langsung menghubungiku dan aku udah cek kebenaran nya"
"gimana "
"iya dia tidak bohong, dan kamu tidak perlu khawatir Mas sudah melunasi biaya rumah sakit dan sekarang udah diizinkan pulang"
"Alhamdulillah"
"kamu itu hamil ini udah dua kali Lo terluka "
"namanya juga musibah apa"
"masak baru kemarin lo mah baru sembuh udah terluka lagi"
"kamu aja sering terluka aku juga biasa aja"sebel ku, Aku sebenarnya tahu dia terlalu sayang padaku ,terlalu kuatir tidak mau aku terluka tapi nggak lebay juga Kata ku dalam hati.