
Sesuai permintaan Zahra kemarin yang ingin berkeliling Jakarta maka rencana hari ini kami akan menjemput Zahra di asrama putri menggunakan mobil Agya milik ceweknya Ali yang juga orang Jakarta.
" Jam berapa cewek lu akan datang menjemput kita" tanyaku pada Ali.
Atas saran dari Ali Kami pergi menggunakan mobil Agya milik ceweknya tadinya aku ingin pergi ke rumah mama mengambil mobilku, karena aku suka menggunakan motor ke mana-mana jadi mobilku ku taruh di rumah mama mobil Subaru Impreza. Subaru New Impreza 2.5 WRX STI Sedan A-line A/T Rp675 juta yang aku beli bukan dari gajiku tapi dari saham keluarga papa,aku suka mobil ini karena tenaganya yang besar ku beli sejak aku pindah tugas kesini atas desakan adikku.
" Kita akan lihat bagaimana ekspresinya waktu kau menjemputnya dengan mengenakan mobil kelas menengah haha" ucap Ali sambil tertawa. Ali sendiri juga belum tahu mobil apa yang ku punya saat aku bilang mau ke rumah orang tuaku ngambil mobil dia melarang ku daripada ribet mendingan pakai mobil 1 saja satu buat rame-rame bisa mengurangi kemacetan Jakarta.
" Biasa aja kali emang apa masalahnya dengan mobil kelas menengah yang penting bisa jalan " ucapku.
"GW taruhan hari ini dompetmu bakal jebol " ucap Ali.
"Nggak lah" ucapku karena setahuku Zahra itu anaknya gak suka belanja dan menghambur-hamburkan uang. Karena saat kami masih jadi taruna AAU dulu waktu kita pesiar bersama Zahra selalu menolak jika aku ingin membelikan sesuatu .
"Kenalkan ini cewek gw " ucap Ali.
"Erni "
"Fathar" ucap kami berdua secara bersamaan.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Ali.
" Kami pernah satu sekolah waktu di SMA" ucap Erni yang di anggukan oleh Fathar.
"Karena sudah berkumpul mari kita berangkat sekarang" ucap Ali. kami berangkat menuju asrama putri sesampainya di sana nampak di gerbang Zahra sudah menanti di tempat sesuai yang dia bilang.
" Ini mobil punya siapa " tanya Zahra mengingat Fathar duduk di samping Ali yang menjadi sopir.
"Tidak penting ini mobil siapa yang penting kita tidak kepanasan tidak kehujanan dan mobil bisa jalan" ucap Ali sambil tertawa kecil melihat ekspresi muka Zahra.
Benar sekali dugaan Ali bukannya keliling Jakarta sesuai permintaannya Zahra malah minta berhenti di sebuah mall dengan alasan ingin membeli perlengkapannya yang sudah habis.
" Alasan doang ngapain ia belanja disini kalau disini cuma tinggal hitungan hari saja" bisik Ali.
" Fathar tolong bayari dulu ya, total aja sama uang yang aku pakai sama kemarin " ucapnya.
"Emang habis berapa " ucap Fathar.
"1 juta 150 rbu" ucap Zahra santai.
"Ok" ucap Fathar sambil berjalan kearah kasir. Fathar hanya menanggapi dengan tersenyum ocehan sahabatnya itu.
" Benarkan dugaanku dia mau bikin jebol dompet loo" ucap Ali .
Setelah selesai aku membayar belanjaan Zahra kamu melanjutkan jalan mengelilingi mall, jika tadi berhenti membeli pakaian sekarang Zahra berhenti di tempat penjualan make up .
Karena hanya Zahra yang berbelanja kami bertiga menugu sambil duduk di kursi luar .
"Masak selama hampir 2 jam kita hanya mengikuti dia belanja, sungguh membosankan" gerutuan Ali.
"Aku tidak menyangka selera mu wanita kaya begitu ,ternya masih kalah jauh sama Feby"ucap Erni.
"Bukannya dulu kamu suka di perintah Feby kenapa sekarang kamu membelanya" ucap Fathar.
"Benar katamu dahulu Feby suka perintah aku,tapi hanya sebatas perintah membeli atau melakukan sesuatu bukan dengan menghina seperti cewekmu tadi,Feby dasarnya baik cuma mudah sekali percaya orang itu kekurangannya" ucap Erni.
"Kapan dia menghina kamu?" tanya Fathar.
" Cara penyampaian dan cara melihat mobil Erni tadi itu sorot mata meremehkan " ucap Ali.
"Fathar udah 750 rb" kata Zahra yang sudah mendekati mereka.
"Ok " ucap Fathar sambil mengeluarkan kartu debitnya dari dalam dompetnya.
"Uang cas mu ada berapa kurangnya pake uangku" ucap Ali mencegah Fathar mengeluarkan kartu debitnya.
"Tapi.."ucap Ali berhenti di saat dia melihat kode mata yang diberikan oleh Ali, hingga Fathar menuruti permintaan sahabatnya.
"Itu uang cash mu ada kenapa harus meminjam uang Ali" ucap Zahra dan Ali hanya tersenyum. Di dalam dompet Fathar tadi memang ada uang cash sekitar 2 juta jadi masih tersisa.
" Ayo sekarang kita ke mana lagi" ucap Ali kesal.
"Bagaimana kalau kita makan dulu kita cari restoran terdekat" usul Zahra.
"Di restoran cepat saji di sini aja lah yang dekat ngapain jauh-jauh nyari restoran keburu pingsan aku ntar" ucap Ali menarik Erin masuk di ikuti Fathar dan Zahra.
"Kapten Bian" ucap Ali saat melihat Bian duduk sendiri di dalam
"oh letnan Ali ,letnan Zahra dan calon kapten baru kita terus yang satu " ucap Bian ramah.
"Boleh ikut duduk di sini nggak kapten" ucap Zahra yang sudah duduk di samping kapten Bian.
"Nggak papa silakan tapi saya lagi ada janji sama orang. Jadi tolong jangan sentuh yang ada di meja " ucap Bian .
" Ini seperti sebuah bangunan rumah lagi merencanakan membuat rumah kapten" tanya Fathar sambil memperhatikan gambar yang ada di atas meja.
"Rencana sih begitu buat mama biar tidak teringat papa kalau tinggal di rumah lama" jelasnya.
"Terus orangnya ke mana ini" tanya Zahra.
" Lagi di kamar kecil " ucap Bian sambil meminum minumannya.
"Fathar Aku dengar kamu juga akan naik pangkat" ucap Bian lagi.
" Insya Allah doakan ya Kep. lancar sampai hari kenaikan pangkat "jawabnya.
"Maaf Aku mau mengantarkan Erni ke kamar kecil dulu" pamit Ali.
"kalian pesan aja , sekalian pesankan buat Ali dan kekasihnya " ucap Bian.
" Sini biar aku yang pesan " ucap Zahra.
"Maaf saya agak lama" ucap Feby yang baru datang dan mengagetkan Fathar. Sudah hampir tiga hari Fathar tidak ketemu dengannya,Fathar terakhir ketemu hari kamis pagi saat Fathar ngasih undangan upacara dan baru ketemu hari ini Sabtu siang.
"Dia siapa mas Bian " ucap Zahra manja.
" Perkenalkan saya Febi arsitek yang jasanya sedang dipakai oleh mas Bian" ucap Feby sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tapi dengan angkuhnya Zahra mengabaikan tangan Feby dan itu tidak lepas dari penglihatan Fathar.
"Dari dulu kamu tidak pernah berubah selalu sombong" ucap Bian saat melihat kelakuan Zahra yang mengabaikan Feby.
"Emang Mas yakin hasil karyanya bagus penampilannya aja tida menyakinkan" ucap Zahra .
"Apa kamu tahu yang menempel di tubuhnya ini jika di uangkan harganya kalah dengan apa yang menempel padamu" ucap Erni yang tiba-tiba datang dan merangkul Feby yang masih berdiri.
"Yang bener aja kaos dan celana bolong kaya gitu " ucap Zahra tak percaya.
" Aku tanya padamu itu celana,baju, sepatu,tas sama jam tangan yang kamu pakai jika ditotal tidak lebih dari 5 juta bukan" ucap Erni.
" Lebih lah 5 juta hampir 6 juta " ucap Zahra tidak terima.
"Tapi harga celana yang kamu bilang bolong , beserta sepatu dan baju yg dipakai harganya mendekati 10 juta,itu belum topi sama jam tangan yang di pakai temanku" ucap Erni.
"Haha bohong aku gak percaya " ucap Zahra.
" Buka ponselmu dan lihat ini Produk Calvin Klein dan ini channel asli " ucap Erni sambil memegang baju yang Feby kemakan.
Setelah Feby dan Bian pergi .
"Ternyata selera Lo rendahan" ejek Erni sebelum pergi menarik Ali meninggalkan Fathar dan Zahra.
" Aku tidak menyangka mulutmu dan kelakuan mu sangat tidak mencerminkan wajahmu yang cantik, kamu menghina orang hanya karena penampilannya" ucap Fathar.
"Kenapa kamu jadi menghakimiku , aku cuma mengutarakan pendapatku mana aku tahu barang yang digunakan bermerek " ucap Zahra acuh.
"Mau itu yang digunakan barang bermerek atau bukan bahkan jika itu barang jelek pun bukan hak kamu menghinanya, kamu harus tetap menghargai dan menghormatinya" ucap Fathar.
"kenapa kamu jadi membela dia bukannya membelaku" ucap Zahra marah.
" Aku tidak membelanya tapi caramu berbicara dan mengomentari orang itu tidak pantas, itu sudah termasuk menghina dan merendahkan orang lain aku hanya ingin mengingatkanmu" ucap Fathar.
"Terserah apa katamu dan niatmu apa mengingat kan atau membelanya tapi, sekarang masalahnya bagaimana nasib makanan yang kita pesan ini sedang semuanya udah pergi dan uangmu sudah habis buat bayarin belanjaanku jadi pikirkan bagaimana cara kita membayarnya" ucap Zahra melihat makanan yang baru datang dan ditata oleh pelayan di meja mereka.
" Aku tidak nafsu memakannya Kamu saja yang makan" ucap Fathar sambil menahan kesal.
"Terus gimana bayarnya uangku gak bakalan cukup " ucap Zahra.
"Aku yang akan membayarnya" ucap Fathar.
" oke kalau begitu biar dibungkus aja" ucap Zahra dan saat Fathar membayar makanan mereka menggunakan kartu debitnya Zahra langsung berbinar matanya.
" Sekarang antarkan aku beli sepatu dong" ucap Zahra.
"Bukannya kamu tidak membawa uang mau bayar pakai apa" ucap Fathar.
" Pakai kartu debit mu lah " ucapnya tanpa beban.
"Maaf aku mau pulang terserah kamu kalau mau beli ,beli aja pakai uang mu sendiri" ucap Fathar pergi meninggalkan Zahra.