My soul mate

My soul mate
47.Gosip baru



"dek bangun sholat subuh dulu"sayup sayup kudengar suara Raffi.


"hmmmm "


"mas lagi masak nasi ,adek bangun sholat subuh, mas mau ke mushola dulu"


"hmmm" begitu terdengar suara pintu di tutup, aku melirik jam dinding sudah jam empat lewat tiga puluh menit, aku bersandar duduk di atas tempat tidur, sambil mengingat perasaan aku semalam tiduran di teras sama Ratih dan Santi kenapa sekarang bangun udah di dalam kamar , ahhhhh pasti digendong Raffi, setelah cukup lama duduk di atas kasur terdengar iqomah adzan subuh segera aku bergegas ke kamar mandi mengabil air wudhu untuk segera melaksanakan shalat subuh setelah selesai aku memilih merebahkan badan dikasur sambil mendengarkan Murottal Al-Qur'an hingga Raffi datang dan membuka pintu seketika bau nasi dari magic com yang seperti nya baru matang membuat perut ku mual segera aku berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan cairan bening.


"dek "panggil Raffi sambil memijat tengkuk ku.


"mas gedong ya"ketika ia melihat aku sudah tidak mual lagi, aku hanya mengaguk sambil memejamkan mata ku, saat dalam gendongan Raffi aku mencium dalam dalam bau yang keluar dari badan Raffi.


"mas bisa peluk sebentar aku suka baunya, dari pada bau nasi yang baru masak" entah sudah berapa lama aku tertidur, saat aku bangun Raffi udah tidak ada di dekat ku,ku lirik jam dinding sudah pukul delapan pagi pasti Raffi dah berangkat,seger aku bangun dan menuju kamar mandi, saat lewat meja makan ku buka tutup saji kulihat ada lalapan sambal ,ikan dan tahu goreng, segera ku berjalan ke kamar mandi membersihkan diri, setelah itu aku makan dengan sangat lahap.


Setelah makan aku buka email siapa tau ada kerjaan, setelah tahu aku hamil aku menutup jasa keuangan yang aku buka, Karena jenuh ahkir nya aku keluar jalan jalan,


"baru bangun Mbak"sapa Santi ketika aku keluar pintu rumah, nampak Santi lagi membersihkan got depan rumahnya.


"kamu masuk kerja jam berapa San,kok jam segini masih di rumah"


"shift siang Mbak"


"bisa minta tolong ambilin antrian poli kandungan dong buat hari ini"


"siap"


"gimana kamu udah cek kandungan juga"


"Alhamdulillah Mbak positif, entar Dede Mbak ada temen nya he he he tapi aku belum periksa ke dokter aku juga belum cerita ke suami,mau memastikan dulu baru cerita ke suami "


"Alhamdulillah aku ikut senang mendengar nya"


"semoga mbak Ratih juga ketularan kita ya mbak biar tambah seru "


"amin ha ha ha, bener kamu"


"udah makan mbak "


"udah mas Raffi masak tadi kaya nya soalnya aku habis sholat subuh tidur lagi, baru bangun pukul delapan hehe hehe "


" jalan jalan Yo mbak kedepan, aku mau beli sayur,"


"boleh Yo,aku masuk dulu ganti baju "kata ku sambil berjalan ke dalam rumah mengingat penampilan ku hanya memakai daster panjang dan jilbab instan lebar, setelah berganti dengan gamis yang lebih baik dan jilbab yang senada dengan gamis aku segera keluar.


"beli apa kamu mbak" tanya Santi saat kami berada di tempat jualan sayur,aku mengakat kantong plastik yang berisi makanan ringan.


"buset banyak banget beli nya mbak"


"hehe habis menggiurkan jadi tergoda,tar kalau gak habis bantu ngabisin" kata ku, karena hampir semua jenis makanan ringan dan jajanan pasar aku beli semuanya aku beli satu macam dua biji .


"ha ha ha kamu mbak doyan makan ya hamil"


"doyan makan males masak"


ha ha ha ha tawa kami berdua sambil berjalan pulang,


"eh itu mas Riko kenapa buru buru"kata Santi saat melihat Rio sibuk memakai helm.


"ada apa mas kayanya buru buru"tanya ku,saat sudah sampai di dekat nya.


"ini aku baru dapat kabar dari rumah sakit Ratih pingsan saat bekerja"


"innalilahi semoga tidak terjadi apa-apa, ya mas" jawab kami ber dua kompak.


"Amin ya udah aku tinggal dulu"


"perasaan semalam Ratih tidak apa apa deh ya"


"ya namanya tubuh ga bisa di tebak pagi sehat pulang kerja demam,juga bisa"


"mbak aku pulang mau masak, nanti suami ku pulang belum matang masakkan ku"


"he he maaf ya,sana masak tapi ga mabuk kan cium bau masakan


"Alhamdulillah ga mbak , malah seneng masak dulu aku malas masak pulang kerja capek sekarang semangat kalau masak"


"kebalikan sama aku ya aku suka makan tapi males masak he he he".


"assalamualaikum " sapa ku pada ibu lutfi yang kebetulan lewat depan rumah dinas ku.


"walaikumsalam "


"ijin Ibu dari mana"


"eh Bu Raffi,ini dari rumah Bu arka,kan Bu arka mau pindah dan selama ini kan fajar les disana jadi ya tau lah "


"oo,ya saya paham Bu, emang Bu arka ngajar apa Bu"


"sebenarnya sih tidak mengajar cuma Si Andi kan suka main sama fajar,belajar bareng juga ya di rumah nggak mau belajar ya udah tak suruh sekalian"


"oo gitu,kelas berapa fajar Bu"


"empat,em boleh saya bertanya sesuatu ga sama Bu Raffi"


"silahkan ibu'


"sebenarnya nya saya gak enak, gara-gara si Ayu anaknya demam kemarin dan minta tolong kapten Raffi di lapangan kemarin jadi ada gosip yang tidak enak di dengar mungkin Ibu Raffi udah tahu gosipnya"


"izin ibu saya malah tidak tahu emang ada gosip apa"kulihat Ibu Lutfi mengambil nafas dalam dan menghembuskan kembali sebelum lanjut bercerita.


"ada gosip mereka ada hubungan spesial, soalnya di situ ada saya dan bapaknya anak-anak kenapa tidak minta tolong saya atau bapak nya anak-anak malah minta tolong sama kapten Raffi"


"saya malah tidak dengar ibu" bohong ku dalam hati.


"apalagi beberapa ibu-ibu pernah melihat Ayu ngobrol berdua dengan kapten Rafii beberapa kali di pinggir jalan, saya dan suami sebenarnya sering menasehati Ayu untuk tidak dekat dengan tentara yang sudah beristri "


"kalau boleh tahu keluarga Mbak Ayu sendiri berada tinggal di mana Ibu"


"adik Ayu tugas di Papua sedang ibunya tinggal di Jakarta di rumah nenek kakeknya"


"ijin ibu maaf sebelumnya berati di sini dia sebatang kara hanya mayor lutfi dan ibu "


"iya tapi dia sama saya malah kayak orang lain, papanya Ayu itu adik dari papanya suami saya"


"keluarga mayor Lutfi semuanya angkatan ya Bu"


"tidak juga Kakak yang pertama PNS yang kedua baru TNI ayahnya Ayu yang ketiga Ayah suami saya polisi"


"wah sukses semua ya Bu Alhamdulillah"


"itu karena didikan kakek nenek mereka yang keras hingga menjadi anak yang sukses, tapi jujur saya tidak suka cara didik mereka, keluarga suami terlalu keras menurut saya ,anak-anak manusia bukan robot butuh waktu bermain bukan belajar terus"


" tapi kan bikin sukses Bu"pancing ku.


"sekeras-kerasnya kita mendidih kalau nasib anak kita tidak di bidang itu ia tidak akan jadi, didikan keras perlu tapi kan nasib juga udah ditakdirkan Bu Raffi "


"he he he benar semua orang udah ada takdir nya masing-masing "


"kayak suami saya menuntut anak pertama saya mengikuti jejak dia menjadi tentara atau kakeknya menjadi polisi tapi anak saya tidak minat minatnya mungkin menjadi arsitek"


"terus gimana Bu emang sekarang kakak fajar kelas berapa"


"ya sempat cekcok juga sih akhirnya saya kasih pengertian buat suami biarkan anak menentukan masa depannya sendiri jangan dipaksakan ntar kalau dipaksakan dia menjalaninya dengan setengah-setengah,ya ahkir nya setuju"


"sekarang kakaknya fajar kelas berapa Bu"


"kelas dua belas ini ntar lagi mau ujian kelulusan saya pusing nyari guru les"


"les apa Bu siapa tahu saya bisa bantu kalau matematika bahasa Inggris saya sanggup dulu pernah sempat mengajar waktu masih jadi mahasiswa ama waktu sekolah menengah umum saya suka ngajar les"


"wah kebetulan sekali matematika bahasa Inggris masalahnya di situ ntar deh saya tanya anaknya mau nggak"


"boleh bu suruh aja ke rumah waktunya biar diatur sendiri semaunya anaknya saya mah pengangguran setiap saat bisa"


"terima kasih loh bu Rafi ntar saya kabari lagi"


"sama-sama Bu biar ilmunya ga jadi mengendap ntar jadi jelly biar ilmunya bermanfaat'


"ya udah kalau begitu saya pulang dulu assalamualaikum"


"walaikumsalam "