
Malam hari kami seluruh keluarga Raffi mengadakan acara makan malam yang dihadiri juga oleh keluarga kakaknya ,mereka berkumpul di rumah orang tua Raffi, orang tua Raffi juga menawariku pekerjaan di salah satu perusahaan cabang raksa group yang berada di sekitar solo dan Surakarta, tapi usul orang tua Raffi ditolak mentah-mentah oleh Raffi,katanya istrinya tidak boleh bekerja jika ingin bekerja ,bekerja di rumah saja seperti yang selama ini aku lakukan jasa keuangan lepas atau guru les rumahan biasa, kalau aku sih nurut aja selama kebutuhan hidupku terpenuhi, lagian sejak menikah dengan Raffi penghasilanku dari jasa keuangan tidak pernah kepakai mengendap di tabungan ,aku selalu menggunakan uang dari gaji Raffi dan penghasilan dari saham juga tidak pernah terpakai.
"berapa umur kandunganmu sayang"tanya Mama Raffi padaku,
"dua puluh minggu mah"
"papa anak tunggal ada gak enak nya menjadi anak tunggal, karena itu kalau nanti udah melahirkan jangan menunda untuk menambah adik"
"papa papa yang ini aja belum lahir udah disuruh program bikin adik "kata Mama semua yang mendengar hanya tertawa.
"Raffi itu jarang menemani istrinya ini aja dia mau berangkat lagi itu ke pedalaman katanya" kata kak Airin.
"kamu ada misi lagi" tanya papa yang di jawab Raffi dengan anggukan.
"Untung ya kamu dulu tidak menikah sama Jeny, jika kamu nikah sama Jeny dan kamu sering pergi meninggalkan nya karena misi nggak kebayang gimana nasib keluargamu" kata Mama lirih tapi masih bisa aku dengar tapi tidak tau yang lain.
" maafkan mama dulu sempat tidak restui kalian "kata Mama sambil memegang tanganku.
"emang ada apa dengan Jeny mah"tanya aku penasaran dan sekarang kulihat semua mata mengarah padaku.
"Jeny cerai dengan suaminya karena anak yang di lahir kan jenny bukan anak dari suaminya tapi dari laki-laki lain, sekarang tante kalian juga sudah angkat tangan dengan tingkat Jeny"
"berarti Alhamdulillah keluarga kita dijauhkan dari wanita semacam jennie ,Mama tidak perlu bersedih malah mama harus bersyukur"kata kak Arin.
"mama malu sempat pernah merasa gak setuju dan menganggap Jeni yang terbaik buat menjadi pendamping Raffi"
"nggak apa-apa ma Aku maklum kalau mama nggak langsung menerima aku , karena kita pun belum saling mengenal, tapi aku harap mulai sekarang mama bisa mulai menerima ku"kataku sambil menggenggam tangan mama Raffi.
"iya sayang mama udah mulai menerimamu apalagi sekarang udah ada calon cucu Mama di sini"kata Mama sambil mengelus perutku.
"Untung ya dek kita nggak serumah sama-sama mama"
"kok gitu sih kamu Raf sama mama"
"kan kalau di sinetron mertua nggak cocok sama menantu, pasti mertua suka cari-cari kesalahan menantu"perkataan Raffi barusan membuat semua yang di meja maka tertawa.Malam ini pertama kali aku tidur di kamar Raffi di rumah orang tua Raffi sejak kami menikah.
"Mas mau punya anak nya cewek apa cowok untuk anak pertama kita"
"kalau buat mas sendiri cewek cowok tidak masalah yang penting sehat semua, jujur aku tidak mau mengalami apa yang Angga alami"
"siapapun orangnya tidak ada yang mau dalam posisi Angga dan lili Mas"
"makanya Mas juga tidak mau mengalaminya waktu melihat kamu pergi tidak ada di kamar malam itu serasa dunia mas runtuh"
"lagian siapa suruh udah dikasih ancaman di larang pergi masih aja ngeyel pergi, bandel sih"
"nggak taunya pulang-pulang istrimu kabur ya"kataku sambil ketawa kecil.
" udah nyari seminggu nggak ketemu-ketemu , Santi Ratih semua nggak ada yang tahu ,ponselmu yang kamu tinggal aku hubungi semua nomor temanmu di ponsel nggak ada yang tahu"
"gimana cara mas menghubungi semua nomor telepon teman di ponselku "
"mas bilang aja Mas mencari pemilik ponsel ini karena Ponsel ini Mas temukan di pinggir jalan"
" ha ha ha pinter juga Mas berbohong dan semua temanku percaya"
"percaya semuanya kecuali Lily aku tidak bertanya dengan lily aku bertanya dengan Angga"
"pantes waktu ketemu aku Lily biasa aja"
"ayo udah malam kita tidur besok kita jalan-jalan katanya mau keliling Dufan"
"siap kapten"
"tapi sebelum tidur kapten mau nengok Dede bayi dulu"kata Raffi yang langsung menyerang ku tanpa menunggu jawaban dariku.Esok paginya Kami pergi ke Dufan berdua seperti selayaknya ABG yang lagi pacaran, padahal kami orang dewasa.Raffi dan aku menggunakan baju yang senada Raffi mengenakan celana denim warna hitam dengan atasan kaos putih dan jaket bomber dengan topi warna hitam, sedang aku pakai celana bahan longgar warna hitam dengan kaos panjang warna putih dan kerudung warna hitam .
Karena Mbak Arin sekeluarga semalam menginap di rumah mama papa dia sempat ketawa melihat penampilan kami, katanya kami terlalu alay aku dan Raffi hanya tersenyum masam, kata Raffi kita kan tidak pernah mengalami masa masa pacaran Jadi hitung-hitung pacaran setelah menikah.
Semua berjalan dengan sangat cepat hingga tak terasa sore pun datang, dan kami pun harus segera berkemas untuk kembali ke asrama, begitu sampai di asrama Raffi memiliki kegiatan yang padat berangkat pagi ,siang pulang buat makan siang dan sholat terus berangkat lagi pulang malam habis sholat isya, begitu seterusnya sampai hari H keberangkatan nya ke pedalaman.
"hati-hati di perut Bunda sayang jangan merepotkan cukup Ayah yang merepotkan"katanya sambil mengusap-ngusap perutku.
"kan anak Ayu Udah manggil Ayah aku nggak mau anakku juga ikut-ikutan manggil ayah"
"terserah Adik aja mau dipanggil apa nanti mau Ayah, Abi ,papa ,papi, Dedi aku ngikut"katanya sambil terus mengusap-usap perutku dengan posisi Aku duduk di kursi sedangkan dia jongkok di bawah.
"dek selama di sana aku yang akan menghubungi kamu, kemungkinan nomornya mas tidak aktif"
"mas berangkat sendiri letnan Riko sama serka Sandi nggak ikut"
"enggak sayang mas cuma berlima dengan teman Mas"
"ayo kapten Raffi kita berangkat"kata mayor Lutfi menghampiri kami.
"siap laksanakan mayor"
"Mas tinggal dek jaga diri baik-baik"kata Raffi sambil mencium keningku dan mencium perutku sebelum pergi meninggalkanku, tak terasa air mata menetes.
YA ALLAH YA TUHANKU LINDUNGI LAH SUAMI HAMBA SUPAYA BISA MENYELESAIKAN TUGASNYA DENGAN BAIK DAN KEMBALI KE TENGAH-TENGAH KAMI DALAM KEADAAN SEHAT WALAFIAT TANPA KURANG SATU APAPUN kataku dalam hati ku iringi dengan istighfar, sambil melihat kepergian Raffi dengan mobil dinas.