
"Pak Gani ada di rumah " tanya Raffi.
"Ada pak sebentar saya panggilkan" kata pelayan di rumah tersebut.
"Tidak perlu kami kan saudara biar kami aja ntar ya menemuinya kami mau ke temu Isal dulu ,Isal di mana " tanya Raffi. Saat pelayan membuka pintu dan menyuruh masuk Raffi langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah untuk mencari sesuatu hal yang mencurigakan, hingga dia melihat ada 2 wanita duduk di teras samping rumah sedang melihat ikan peliharaan Gani.
"Ada di kamarnya sepertinya lagi istirahat siang" ucapnya.
" Kalau Pak Gani " tanya Rafi.
"Di ruang kerja " jawab si pelayan.
" Kamu teruskan pekerjaanmu kami akan menunggu Isal sambil melihat ikan kesayangan Pak Gani" ucap Raffi yang diangguin sang pelayan sebelum meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Sepertinya Feby masih hidup " ucap Raffi sambil matanya fokus ke teras samping.
"Mana " tanya Ika penasaran mengikuti arah pandang Raffi.
"Pa apa menantu kita salah satu dari mereka" ucap Ika.
" Ayo kita pastikan " ucap Raffi, tapi sebelum mereka bertiga mendekat Gani lebih dulu mendekati 2 wanita itu.
" Kita perlu mendekat biar mendengar obrolan mereka" ucap papa Raffi.
"Mbak Irma bisa bantu menjelaskan " tanya Gani kepada Irma .
" Febi juga tidak tahu kalau lagi hamil saat kecelakaan, karena kami tidak membawa ke rumah sakit takut dikira kami yang menabrak Feby jadi saya mengobati Febi dengan ilmu sebagai perawat yang saya punya.
Setelah sebulan tinggal bersama saya Febi tidak mendapatkan periodenya , baru kami periksa menggunakan alat tes kehamilan Feby sempat menolak karena dua hari sebelum kecelakaan dia bilang mengalami flek, sedang sepengetahuan saya flek adalah ciri-ciri awal kehamilan"ucap Irma.
"Jadi sampai detik ini belum pernah periksa ke dokter" tanya Gani.
"Belum kami hanya periksa ke bidan dekat rumah Febi menolak jika dibawa ke rumah sakit dia malu keluar dari rumah setelah mengetahui keadaannya"ucap Irma.
"Papa mohon pikiran anak dalam kandunganmu , papa tahu kamu tentu sayang dia dan tidak ingin terjadi apa-apa bukan " ucap Gani yang di anggukin Feby.
"Bagus ikut saran papa kita cari dokter terbaik " ucap Gani.
" kita ke rumah sakit kita periksakan lukamu juga kandungan mu kita periksakan semua biar tahu langkah apa yang harus kita ambil dokter lebih tahu" nasehat Gani.
" Aku tidak mau ke rumah sakit Aku tidak mau ketemu siapapun Aku mau di rumah aja" ucap Feby menolak.
" Tapi di rumah sakit dokter mempunyai alat yang bisa memeriksa kaki dan wajahmu biar dokter bisa mengobatinya" ucap Gani.
"Aku tidak mau mungkin ini sudah takdirku coba kalau dari awal aku mau mendonorkan tulang sumsum belakangku mungkin Calya juga akan tertolong mungkin kecelakaan ini jika tidak akan terjadi" ucap Feby.
" Dengarkan papa semua yang terjadi tidak dapat diputar semua terjadi sudah ditakdirkan kita tinggal menjalani , Calya memang sudah waktunya bukan karena kamu tidak mau mendonorkan sumsum tulang belakang mu, berhenti menyalahkan dirimu" ucap Gani sambil memegang tangan putrinya.
Ika yang melihat dan mendengar berniat mendekati Feby tapi dicegah oleh Raffi dengan gelengan kepala.
" Dengarkan papa semua yang terjadi bukan salahmu semuanya takdir" ucap Gani lagi.
" Suamimu juga berhak tahu kondisimu dan calon anaknya " ucap Gani.
"Tidak Fathar tidak boleh tau aku masih hidup " ucap Feby.
"Kenapa tidak selama ini dia selalu mencarimu pasti dia senang jika bertemu denganmu" ucap Gani.
" Papa lihat tadi perempuannya berjalan di belakang Fathar dia memandang suamiku dengan rasa cinta apakah aku sepadan dengannya,aku buruk rupa mukaku cacat,kakiku cacat " teriak Feby.
" kamu akan sembuh kita akan periksakan ke dokter papa akan carikan dokter terbaik untukmu kalau perlu kita berobat ke luar negeri" ucap Gani.
"Aku tidak mau obat tidak bagus untuk anakku" ucap Feby.
"Apa kamu tidak memikirkan perasaan anakmu nanti jika lahir dan tumbuh tanpa seorang papa" ucap Gani Feby hanya dia menunjuk dan mengelus perutnya yang besar.
"Papa tahu aku mencintainya dari zaman SMA aku mengejar-ngejarnya kala itu tapi dia menolak aku ,dia menerimaku setelah 12 tahun kami berpisah mungkin itu karena fisikku dan karena aku yang cuek padanya. Jadi aku yakin jika saat ini dia tahu kondisiku dia akan menerimaku hanya demi anak yang kau kandung bukan demi diriku dan menerima aku apa adanya" ucap Feby membuat Gani kaget. Rafi yang mendengar menarik istrinya menjauh , meski sempat protes ahkirnya Ika menurut untuk menjauhi nya di ikuti papa Raffi mereka meninggalkan rumah orang tua Feby dalam diam.
"Kenapa papa melarangku menemui Feby" ucap Ika saat mereka kembali ke kantor.
" Saat mereka menikah Fathar harus membuktikan cintanya kala itu dari hati bukan karena penasaran karena perubahan Feby, tapi Feby jadi tidak percaya cinta setelah melihat nasib mamanya mereka menikah karena komitmen bukan karena cinta " ucap Raffi.
" Kalau mama yakin Fathar mencintainya biarkan Fathar membuktikannya, mungkin sekarang saatnya cinta Fathar buat diuji , dibuktikan ketulusannya" ucap Raffi.
" Apa papa meragukan Fathar" tanya Ika.
" Mama dengar sendiri tadi Fathar berciuman dengan salah satu pramugari di parkiran jadi biarkan dia membuktikan cintanya" ucap Raffi.
" Terus gimana cucuku masa kita pura-pura tidak tahu tentang keadaan cuci kita" kesal Ika.
" kita akan pantau dan kita lihat langkah apa yang akan diambil Feby kalau anak itu lahir pasti mereka membutuhkan Fathar buat bikin akte buat cucu kita " ucap Raffi.
"Buat apa sekarang bisa diurus asalkan ada uang" ucap Ika.
" Mama lupa Feby pergi dari rumah karena kecelakaan otomatis semua data pribadinya dan surat nikahnya masih berada di tangan Fathar" ucap Raffi seketika Ika paham arah tujuan suaminya.
"Sekarang biarkan rahasia ini kita bertiga yang tahu, biarkan Fathar tahu dengan sendirinya" ucap papa Raffi.
" Kalau Fathar tidak tahu tahu bagaimana opa" ucap Ika.
" kita bisa mengusahakan pertemuan secara tidak sengaja atau sesuatu hal kita buat supaya mereka bertemu" ucap opa.
" Papa akan coba bicara empat mata dengan Gani supaya kita tahu perkembangannya psikologi Feby " ucap Raffi.
" Aku ikut kalau papa hendak ketemu mereka " ucap Ika.
Keesokan Gani menemui Raffi dan Ika di kantornya.
" Gimana kabarnya Pak Gani sehat"ucap Raffi.
" Alhamdulillah".
" Ada apa ini sampai menemui saya di kantor" ucap Raffi.
" saya ingin minta tolong kepada Bapak Raffi untuk menanyakan beberapa kartu identitas putri saya yang masih disimpan putra bapak termasuk juga ijazah dan surat nikahnya apa bisa" ucap Gani.
"Buat apa ya Pak kalau boleh saya tahu biar saya juga gampang untuk bicara dengan Putra saya"ucap Raffi.
" Untuk mengurus beberapa berkas penting yang masih atas namanya" ucap Gani.
tok tok suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka hingga masuklah Fathar yang datang dengan seragam pilotnya.
" Eh papa kok juga ada di sini" ucap Fathar bingung saat melihat mertuanya berada di kantor orang tuanya.
"Kebetulan Fathar di sini sebaiknya Bapak ngomong sama yang bersangkutan" ucap Raffi santai seolah tidak tahu apa-apa, padahal dia sudah menyuap salah satu pembantu di rumah Gani untuk menjadi mata-matanya. Dari mata-matanya itu Raffi dapat info Feby berencana menggugat cerai putranya, Raffi geram mengapa harus di putuskan dengan perceraian.
"Begini nak Fathar Bapak berniat meminta beberapa kartu identitas anak Bapak dari ijazah KTP juga surat nikah " ucap Gani berusaha tenang.
" Buat apa sedang keberadaan istri saya aja tidak jelas,apa jangan-jangan papa sudah tahu di mana istri saya "tanya Fathar dan Gani hanya diam.
"Jika papa diam aku anggap istriku sudah ditemukan di mana dia sekarang" ucap Fathar.
๐ผ๐ผ๐ผ suara ponsel Fathar mengahkiri obrolan mereka karena Fathar harus segera ke bandara, tinggallah orang tua Fathar dan orang tua Feby masih duduk bersama.
" Putri sayang mengalami patah paha bagian dalam dan wajahnya sebelah pipi kiri mengelupas, karena itu dia mengalami rasa kurang percaya diri jika bertemu dengan orang luar jadi bantuannya untuk mempermudah" ucap Gani.
" Mempermudah untuk mengurus surat perceraian maksud anda" ucap Raffi membuat Gani dan Ika kaget karena Ika belum tahu rencana itu sedang Gani kaget bagaimana besannya tau keinginan anaknya.
" Kenapa diam dengarkan yang saya omongkan. Saya akan mempermudah proses perceraian mereka asal pertemukan mereka dalam keadaan sekarang" ucap Raffi tenang.
" Saya tunggu putra Anda di rumah saya untuk melihat kondisi putri saya, saya pegang janji anda untuk membantu proses perceraiannya " ucap Gani sebelum pamit pergi.
Setelah kepergian Gani giliran Ika yang marah besar dengan Raffi atas persetujuannya mengizinkan anak dan menantunya berpisah.
" Sebagai perempuan dan sebagai seorang ibu apa Mama rela jika putri mama menikah dengan laki-laki tetapi laki-laki itu tidak mencintainya lagi " ucap Rafi .
" Apa maksud papa".
" Aku tahu apa yang dirasakan Gani karena aku juga mempunyai seorang putri Aku membayangkan Feby sebagai putriku bukan sebagai menantuku" ucap Raffi.
"Sebagian besar lelaki melihat wanita hanya dari segi fisik kita tidak tahu apakah Fathar termasuk laki-laki tersebut. Apa bisa menjamin Fathar akan mau menerima Feby" ucap Raffi .