
Tadi siang setelah ngobrol panjang dengan Bagas aku sempat browsing tentang hubungan suami istri, tentang seksual suami istri apalagi menurut agama aku sudah berdosa karena tidak memenuhi kebutuhan biologis suamiku.
Entah kenapa apa yang ku baca tadi siang sekarang berputar-putar di kepalaku,apa karena baju aku kenakan baju yang kata Fathar masih baru ini . Aku sadar baju yang aku gunakan terlalu besar dan tipis hingga jika aku membungkuk pasti buah dadaku akan kelihatan ,aku juga tahu dia sudah menahan hasratnya itu bisa ku baca dari tanda-tanda yang ku baca tadi di internet.
Kami makan sambil menikmati acara film yang kupilih secara acak dari kaset CD yang tersedia, aku sendiri tidak tahu apa yang aku tonton.
"Aku membeli gulai kambing dan sate kambing karena ayamnya habis ,kamu tidak masalah kan makan ini" tanya Fathar sambil sesekali melirik istrinya.
"Gak masalah " ucap Feby sambil menyiapkan mangkok, piring dan sendok buat makan. Sial sepertinya aku salah mengambil kaset maki Feby dalam hati, mengingat pakaiannya yang juga mengundang nafsu .
" Sepertinya aku salah mengambil kaset sebaiknya kita ganti kaset aja" ucapku canggung saat dalam film ada adegan foreplay di mana sang lelaki mencium pasangannya dengan panas dan kedua tangan lelaki lincah membuka kancing kemeja teman wanitanya.
" Tidak apa-apa kamu teruskan saja makan mu yang tinggal sedikit" ucap Fathar santai tetapi dalam pikiran dan hatinya juga sedang berusaha menyeimbangkan,Fathar sendiri mati-matian menahan untuk tidak menonton adegan yang ada dalam film itu.
"Sepertinya ini film punya yang ngontrak sebelum apartemen di renovasi "ucap Fathar canggung saat Feby tiba-tiba mematikan tontonan mereka karena meski mereka berusaha tidak melihat televisi tapi suara ******* dalam film itu sangat menggangu , setelah mematikan televisi Feby bergegas merapikan bekas makanan mereka.
"Dek" ucap Fathar sambil memeluk Feby dari belakang saat Feby sedang mengeringkan tangan di mesin pengering setelah mencuci bekas makan mereka.
" Hmm " Jawab Feby dengan menahan gejolak hati dan debaran jantungnya yang makin menggila saat Fathar mulai mencium lehernya yang jenjang dengan lembut disertai kecupan kecil yang lama-kelamaan berubah menjadi hisapan.
" sungguh itu bukan kaset CD punyaku". ucapnya dengan suara serak.
"Iya aku percaya kamu kan kutu buku gak mungkin menonton begituan" jawab ku asal, tapi sangat ku sesali akhirnya kenapa aku berkata demikian.
" Siapa bilang aku juga pernah menonton begituan sekali karena penasaran saat hari kelulusan kita dulu" ucapnya dengan tangan yang mulai masuk menyusup ke dalam kaos yang ku gunakan .
Apa malam ini aku harus melepaskan kesucian ku monolog ku dalam hati, disaat pikiran Ku melayang entah ke mana Aku tidak sadar kalau kaos yang ku gunakan sudah naik ke atas menampilkan perutku dengan posisi aku bersandar di dadanya yang lebar.
Tangan kanan meraba perut ku tangan kiri mengusap lembut paha dalam ku.Ya tuhan baru pertama aku menerima rangsangan seperti ini, meski Fathar adalah suami halal ku tapi debar jantungku bukan berhenti tapi malah makin menggila.
"Dek boleh mas mintak hak Mas malam ini sebagai suami" ucapnya lembut dengan suara serak di telingaku hingga aku bisa merasakan nafasnya di telinga dan leherku, saat aku mengagukan kepala dia langsung memutar badanku menghadap ke arahnya hingga sekarang posisi kami saling berhadapan. Tanpa memberi jeda dia langsung melahap bibirku menghisap, ******* seolah bibirku adalah makanan yang enak. Karena badan yang sudah lemas karena mendapat serangan darinya aku tidak terasa kalau Fathar sudah memindahkan ku dan menidurkan ku di atas kasur miliknya.
Melihat dan merasakan tangan Fathar yang cekatan melepas kaos yang ku gunakan tanpa kusadari, aku jadi tidak percaya dengan kata-katanya yang baru sekali menonton film dewasa itupun kalah masih duduk di bangku SMA.
" Maaf aku menyakitimu" ucapnya setelah Fathar berhasil menyatukan inti tubuh kami.
"Tidak apa-apa emang sudah waktunya aku melepasnya, paling tidak aku melepasnya untuk suamiku yang halal buatku " ucap ku dengan muka merah menahan malu.
"Terima kasih telah menjaganya untukku suamimu" ucapnya sambil mencium keningku lama.
"Boleh Mas melanjutkannya" ijin nya untuk melanjutkan dan menyelesaikan aktivitas olahraga malam kami, setelah mendapat izin diriku dia memulai bergerak mengejar kepuasaan.
Suara alarm dari ponselku membangunkan ku dari tidur pagi, saat membuka mata kurasakan ada tangan yang melingkar di pinggangku. Aku bergegas bangun menuju kamar mandi dengan berjalan perlahan supaya tidak membangunkan kannya dan juga karena sedikit perih. Aku memilih berendam dengan air hangat untuk meredakan rasa nyeri yang masih sedikit terasa.
Fathar merasa sangat puas dan bahagia ahkirnya dia bisa merasakan menjadi lelaki dewasa seutuhnya dengan orang yang halal untuknya.
Fathar yang peka sebenarnya mendengar alarm dari ponsel Istrinya dan tahu kalau istrinya sudah bangun tapi dia pura-pura tidur supaya istrinya tidak malu.
" Mas bangun adzan subuh kita salat subuh dulu" ucap Feby sambil menepuk-nepuk pipi Fathar secara pelan. Fathar pura-pura terbangun dengan mengucek matanya dan melihat istrinya yang sudah berpakaian lengkap dengan menggunakan pakaian kerja yang dipakainya kemarin.
" Baju sudah kering, dek".
"Udah mas sebaiknya mas segera mandi kita salat subuh ada mukena tidak?"
"Ada punya Yumi ambil aja di lemari" ucap Fathar sambil bangun dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah sholat subuh mereka kembali ke asrama karena tidak mungkin Feby berangkat kerja dengan pakaian yang sama dengan yang kemarin. Fathar sebenarnya melarang istrinya untuk bekerja mengingat cara berjala istrinya dia merasa kasihan, tetapi itu Feby menolak dengan alasan dia harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum Risen. Fathar mengantar istrinya bekerja menggunakan motornya mengingat mobilnya masih di bengkel.
" Tumben lu berangkat pagi" ucap Bagas sambil melihatnya aneh. Karena sejak menikah dan tinggal di asrama Febi lebih sering berangkat sampai di kantor dengan waktu mepet berbeda dengan hari ini yang datang setengah jam lebih cepat.
" kebetulan aja bangun terlalu pagi" dustanya tidak mungkin dia berkata apa adanya sengaja berangkat pagi biar tidak ketahuan jalannya oleh teman-temannya.
Bagas yang tidak curiga hanya mengagukan kepala tapi keadaan terjadi lagi saat makan siang , biasanya Feby akan selalu sholat dulu sebelum makan siang, tapi hari ini dia makan dulu dan salat setelah teman-temannya pergi untuk makan siang.
" Ada yang aneh deh kayaknya lu hari ini" ucap Bagas dengan mengamati Feby yang masih duduk di meja kerjanya sambil membereskan mejanya.
"Tidak ada biasa aja kali" ucapnya.
" Mbak ada pesan dari satpam kamu ditunggu suami di lobby " ucap Zaki yang baru mendapatkan panggilan dari lantai bawah.
" oke gw balik dulu" ucap Feby sambil berjalan perlahan.
" Gw tau sekarang " ucap Bagas mengejar Feby masuk ke dalam lift dengan berlari ngos-ngosan.
"Apaan " tanya Febi judes karena dia merasa Bagas pasti akan meledeknya.
" Lu baru lepas perawanan loo kan "ucapnya sambil berbisik di telingaku dan menyeringai. Sial umpatku dalam hati tapi tidak bisa juga menyangkal hanya diam sampai lift berhenti.
" Selamat akhirnya perjuangan mu tidak sia-sia singa betina tunduk juga padamu" Ucap Bagas sambil tertawa membuatku kesal di buatnya dan Fathar hanya tersenyum.
" Sana balik ke ruangan mu apa tidak sadar tawamu kenceng jadi pusat perhatian" ucapku kesel
"Yang jadi perhatian bukan tawaku tapi lelaki lo" ucap Bagas yang sebenarnya ku akui benar. Fathar menjemput ku dengan pakaian seragam masih lengkap serta kacamata hitamnya membuat kadar ketampanannya sangat sempurna.
"Ayo balik" ucapku sambil menarik Fathar meniggalkan Bagas yang di sambut tawa oleh Bagas.
" Aku tidak bercerita apa-apa pada Bagas tentang kita" ucapku saat Fathar memakaikan helm buatku.
" Aku tahu Baga meledek kita karena melihat jalanmu bukan kamu yang bercerita" ucapnya lembut.