My soul mate

My soul mate
137. Istiqomah



" Diva makan dulu ya sayang, bunda suapin" ucap Feby pada putrinya yang sekarang sudah aktif berjalan ke sana sini tidak mau diam.


Sudah 2 tahun sejak sidang keduaku sampai sekarang nasibku belum jelas, dalam sidang kedua itu tuntutan Fathar untuk sidang ulang dikabulkan, karena dia mempunyai alasan yang kuat kenapa dia datang terlambat hari itu.


Anehnya sampai detik ini tidak ada lagi panggilan sidang begitupun juga kabar di mana Fathar berada aku tidak tahu.


Terahkir aku bertemu dengannya di ruang sidang 2 tahun yang lalu, menurut cerita Yumi sekarang kakaknya bekerja menjadi pilot pribadi sebuah perusahaan. Anehnya dia cuma menghubungi keluarganya sebulan sekali atau dua kali , meski mama dan Yumi sering marah-marah tentang dia yang memilih bekerja untuk orang lain bukan meneruskan perusahaan keluarga tapi papa malah terlihat santai dan terkesan bodo amat, setiap bulan juga ada m-banking masuk Aku yakin itu pasti dari Fathar. Selama 2 tahun ini aku hanya fokus terhadap putri kecilku dan penyembuhan kaki dan luka-luka ringan yang ada di sekitar tubuh dan wajahku.


"Dak mau " Jawabnya sambil berlari mengejar kelinci yang sengaja dibawa oleh Yumi buat teman main Diva.


" Mba katanya mau fighting baju buat acara nikahan Mas Bagas sama Mbak Yumi ?" tanya Isal.


"Emang Sekarang pukul berapa".


" Sudah jam 10.00 pagi" ucapnya.


" Ya ampun Mbak lupa ya udah jagain dulu Diva mbak ganti baju" ucapku sambil berlari ke kamar buat ganti baju.


Meski sekarang kaki dan lukaku sudah sembuh seperti sedia kala aku tetap memakai baju hijab , hari ini aku mau fighting baju buat acara nikahan Yumi dan Bagas. Aku tidak tahu gimana ceritanya mereka 2 tahun ini sangat akrab bahkan mereka menikah tanpa proses bertunangan atau pacaran, setelah lamaran sebulan kemudian langsung menikah hanya resepsi sederhana. Tidak seperti waktu dengan Aufar dulu yang serba mewah dari pertunangan mewah bahkan acara pernikahan pun dirajang dengan sangat mewah meskipun akhirnya gagal sebelum undangan di sebar.


" Dengan hijab Mbak kelihatan anggun aku senang meskipun mbak udah sembuh Mbak tidak melepas hijabnya masih terus memakainya sampai sekarang" ucap Isal saat melihat aku sudah bersiap.


" Mbak pingin belajar Istiqomah dengan apa yang mbak jalani, mbak ga mau memakai hijab di saat Mbak terluka dan saat sudah sembuh mengumbar aurat lagi" ucapku sambil mengganti baju Diva karena yang di sudah sangat kotor.


Selama di temani sama Lilis, Lilis tidak hanya membantu dalam mengurus putriku dan mengurus diriku tapi juga membantuku memperbaiki agamaku kearah yang lebih baik.


" Mbak Lilis sudah gak pernah ke sini lagi mbak" tanya Isal, karena sudah 3 bulan ini Lilis kembali ke rumah sakit menurutnya aku sudah bisa mandiri tanpa perlu bantuannya.


" Katanya sih udah 2 Minggu ini dia berada di ruang ICU , merawat orang katanya lukanya lumayan parah bahkan ada luka tembak" ucapku sesuai yang di ceritakan padaku beberapa hari yang lalu.


"Ya udah mbak berangkat duluan hati-hati kamu di rumah" ucapku ,karena sudah 3 bulan ini aku cuma hidup berdua dengan Isal. Papa fokus dengan perusahaan tambang milik keluarganya yang berbeda di Sumatera Utara , sedangkan untuk masalah sekolah yayasan diserahkan kepada yang lebih profesional dengan dibantu oleh sepupu ayah yang juga berkecimpung di dunia pendidikan.


" Hai Gemoy aunty yang paling cantik seminggu tidak ketemu ko tambah gembul aja sih " ucap Yumi menyambut ku, saat aku sampai di depan butik langganan keluarganya.


" JANGAN dicubit pipinya" tegur mama yang tiba-tiba muncul dari dalam Butik.


" Ih Mama kan aku gemes lagian mama aneh Diva udah bukan bayi lagi udah batita" protes Yumi.


"Febi sana Kamu masuk cobain bajunya Diva bersama mama" ucap mama sambil mengambil Diva dari dalam gendonganku.


Aku bergegas masuk bersama Yumi dan mengambil baju sesuai arahan Yumi, setelah mengganti dengan baju aku keluar dari ruang ganti sayap-sayap aku mendengar perkataan mama dan Yumi yang sedikit aneh.


" Apa tidak sebaiknya Mbak Feby kita kasih tahu keadaan yang sebenarnya" suara Yumi


" Mama juga sependapat denganmu di awal, tapi kata papa tidak perlu karena kondisinya yang hilang ingatan malah bikin Mbakmu nanti sakit hati" suara mama. Aneh kataku dalam hati siapa yang hilang ingatan.


" Papamu dulu juga pernah mengalami hilang ingatan sementara setelah diterapi sembuh, kita tunggu aja dulu Setelah dia sembuh". Suara mama lagi yang ku dengar Karena penasaran aku semakin mendekat tapi sialnya kakiku malah menendang kursi hingga mengakibatkan mama dan Yumi menyadari keberadaan aku.


" Mbak udah selesai,wah pas banget buat mbak " ucap Yumi ya langsung berdiri menghampiriku diikuti mama.


" Menurut ku sebenarnya terlalu pas banget aku mau yang agak longgar dikit" ucapku.


" Bajunya udah sepasang sama punya Diva mama foto dulu " ucap mama sambil menarikku untuk duduk di sebuah sofa tunggal. Dengan Yumi sebagai pengatur gayanya Mama yang mengambil fotoku.


Setelah acara fighting baju mama dan Yumi mengajakku keliling mall mencari sepatu dan hijab yang serasi dengan model bajuku. Sungguh melelahkan hari ini berkeliling mall , fighting baju dengan mengikuti Diva kecil yang tidak mau diam lari ke sana lari ke sini.


"Mbak kalau capek istirahat aja aku takut kaki mbak sakit Diva biar aku yang jagain" ucap Yumi.


" Kamu duduk aja di sini seumuran Diva lagi senangnya jalan dan berlari jadi nggak bisa diem" ucap Mama aku hanya tersenyum menanggapinya, emang bener kakiku terasa sakit yang nyeri.


"Sekarang kita mau kemana " tanya Mama setelah selesai berkeliling mall.


" Pulang aja ya mah kakiku udah nggak kuat" ucapku.


Mama dan Yumi ya paham kondisiku langsung menyetujui tanpa protes, mereka mengantarku pulang ke rumah.


Hua hua suara tangis Diva tidak mau berhenti, dari jam 10.00 tadi dia terbangun sampai sekarang menangis terus dengan badan yang mulai demam membuat ku kewalahan. karena sudah jam 11.00 malam dan Diva tidak mau berhenti demamnya juga semakin tinggi akhirnya dengan terpaksa aku membawa Diva ke rumah sakit hanya berdua dengan bibi yang bekerja di rumah. Aku tidak hanya tinggal berdua dengan Isal tetapi di temani sepasang suami istri yang berusia sekitar 60 tahun mereka yang membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh Diva.


" Dok putri saya demam dari tadi nggak mau diam tadi sore cuma demam biasa setelah saya kasih obat dia tertidur ,dari jam 10.00 dia terbangun sampai sekarang nggak mau diam dan demamnya semakin tinggi" ucapku pada dokter jaga di UGD yang sedang memeriksa Diva.


" kebetulan dokter anak sedang jaga malam saya panggilin aja ya Bu, karena demam Putri Ibu 39.9 derajat" ucap dokter jaga tersebut yang sepertinya masih dokter baru karena masih terlihat sangat muda.


Setelah dokter spesialis anak memeriksa kondisi Diva, dia memberikan obat penurun panas. Setelah menunggu reaksi obat selama 1 jam ahkirnya demam Diva turun dan dokter mengizinkan Kami membawa pulang Diva saat itu juga.


" Kalau boleh tahu mama Diva hanya berdua dengan nenek?" tanya dokter anak padaku.


" Iya Pak dokter" jawab ku sambil tersenyum sopan.


"Ini jam 03.00 pagi Ibu tidak apa-apa pulangnya hanya berdua" ucapnya.


"Siapa bilang hanya berdua,kan kami bertiga dengan putri saya dok" ucapku yang disambut gelak tawa olehnya.


" Anda orang yang lucu dan menyenangkan kalau boleh tahu mama Diva namanya siapa ?"tanyanya padaku.


" Aduh dokter Apa arti sebuah nama cukup panggil aja mama Diva" ucapku.


" Bagaimana kalau saya antar pulang " tawar sang dokter.


" Terima kasih Dok, saya tidak mau merepotkan lagian Jakarta 24 jam ramai terus, Rumah saya juga dekat kok dari sini" ucapku berusaha menolaknya secara halus.


" kalau begitu boleh nggak saya simpan nomor teleponnya Mama Diva" kata dokter.


" Kalau saya bilang nggak boleh ntar saya di bilang sombong lagian pasti dokter juga sudah menyimpan nomor saya" kataku.


" Hahaha bener sekali yang Anda bilang saya bertanya hanya sebagai formalitas doang, perkenalkan saya dokter Dika" ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Karena kami sudah di parkiran dan tidak mau berlama-lama akhirnya kusambut uluran tangganya untuk berjabat tangan sebelum masuk ke dalam mobil.


"Baru kali ini ada dokter nganter pasiennya sampai di dalam mobil" kata si mbok sambil tersenyum saat kami sudah di dalam mobil.


"Aisss gak usah dibahas mbok" ucapku kesel si mbok malah tertawa.