
"udah pak luka luarnya udah di obati,tapi kalau menurut bapak pakunya berkarat dan takut kena tetanus kami akan memberi suntikan anti tetanus"kata dokter muda
"ga perlu dok"kataku
"harus kamu ga tau itu paku ada tetanus nya ga"kata Raffi,aku hanya bisa pasrah menolak juga percuma,dari aku di bawa kerumah sakit sampai segala administrasi dia yang mengurusi
"udah pak,ini resep obat nya buat pencegahan takut demam,"kata dokter
"ayo "kata Rafi membantuku bangun
"aku bisa sendiri,yang luka tanganku bukan kakiku"bisik ku,malah membuat perawat dan dokter tersenyum
"romantis ya dok"kata si perawat
"istri saya memang pemalu dok"kata Rafi,sialan aku cubit aja pinggangnya karena kesel,tapi sial kulit nya keras ga bisa di cubit
"makan dulu ya,di depan rumah sakit ada rumah makan enak"katanya
"tapi'
"ga menerima penolakan"katanya,ahkirnya aku hanya pasrah mengikuti,
"makan yang banyak biar ga kurus"kata nya
"aku kurus ya,emang dari Sono nya ya"ketusku
"cepat banget kamu makanya,aku aja masih banyak"
"buruan habisi aku keluar bentar ini bawa dompetku kalau mau bayar"katanya sambil menaruh dompet dan meninggalkanku tanpa belum sempat aku bertanya,karena udah habis aku bergegas membayar karena tadi pergi tanpa membawa apa apa jadi aku membayar Pake uang di dompet Raffi,
"udah"
"dari mana lama banget "kataku
"ganti bajunya Pake ini,"
"hah"
"itu darahnya membuat kotor bajumu,"ahkirnya aku terima paper bag dari Rafi
'ganti baju di pabrik aja"kataku ahkirnya aku balik ke pabrik,dan langsung mengganti bajuku kayanya baju mahal ni kataku dalam hati
"ka tadi kata Radit tangan lo luka"kata mas Haris
"cuma ke gores"
"terus kenapa ganti baju,coba lihat ini baju branded"kata mas Haris setelah melihat bajuku
"gimana tangan Lo,coba lihat"kata Radit
"ga papa tadi juga udah disuntik ko,gimana pak agung"
"udah diserahkan ke polisi"
"tapi itu yang demo ko masih belum buyar"tanyaku
"lagi di usahakan,ada yang sebagian masih ngotot bertahan"
"wah rusuh "kata Rafi dan langsung berlari keluar di ikuti mas haris kulihat dari atas pendemo udah mulai melempari para pengaman baik satpam pabrik,anggota TNI polri,hingga ku lihat bapak juga disana,ingin aku keluar dan menghampiri bapak pasti bapak marah,ahkirnya aku duduk ke mejaku berusaha mengerjakan apa aja yang bisa ku kerjakan,tapi karena pikiranku ga tenang ahkirnya aku turun dan pingin melihat langsung nampak mas Haris dan direktur personalia mulai kewalahan
"BERHENTIIIIII" suara Radit dengan menggunakan pengeras suara yang biasa digunakan resepsionis
"DENGARKAN SEMUA JIKA MASIH PINGIN BEKERJA SEGERA Tinggalkan lapangan ini dan kembali ke bagian masing masing,yang masih bertahan disini saya akan jamin besok kalian tidak akan bisa bekerja disini lagi "
"Halah emang siapa dia,
"ya udah ga boleh kerja ya ga sah kerja
"emang gampang nyari karyawan baru"omongan omongan merendahkan itu di ucapkan sebagian,tapi ada sebagian yang sudah masuk bagiannya Masing Masing,sungguh kacau dalam satu jam ada sekitar lima puluh orang yang bertahan
"saya tegaskan kalian masih ingin bekerja disini tidak, jika tidak hari ini kalian saya pastikan terahkir kerja disini"kata Radit tegas kulihat
"emang kamu siapa bisa mecat saya,saya dah bekerja disini sebelum kamu lahir"sombongnya '
"Oya "tanya Rafi balik yang baru datang
"Budi "teriak rafii memanggil satpam baru,kalau ga salah belum setahun
"bapak Jatmiko bekerja disini dari umur lima belas dari jaman pemilik pabrik pertama sekarang berumur lima puluh dua"
"berati udah tiga puluh tuju tahun kalau mau nyaman kembali ke bagian Andan tunggu tiga tahun lagi masa pensiun anda dan dapatkan pesangon sesuai hak anda jika anda bertahan disini saya pastikan besok anda tidak bekerja lagi "
"anda hanya tentara yang disewa pabrik buat menjaga bukan mengancam saya "kata pak Jatmiko
"nyari bapak ndok"kata rekan bapak
"inggih pak"
"bapakmu di bawa ke klinik kepalanya kena batu"
"sowon pak"aku langsung lari ke klinik
"pak "kulihat perawat jaga sedang mengobati bapak
"ga papa cuma kena lemparan batu"
"putri nya pak"bapak hanya mengaguk
"cantik,saya sudah setahun kerja disini Lo mbak tapi baru ketemu sekali,bapak ini sering cerita mbak itu anak yang membanggakan me no satukan keluarga,"
"ah ga mbak saya aja sampai saat ini belum bisa membahagiakan bapak"
"gampang membahagiakan bapak itu mbak,katanya bapak itu cuma mau lihat mbak nikah"katanya,kulihat bapak hanya diam
"Oya mbak dari tadi ngobrol belum tau namanya "
"Ika"
"Eka"
"nama kita mirip mbak"
"gimana bapak ada luka serius "kata Raffi yang baru datang
"mas ganteng ko kenal sampean pak kakaknya mbak Ika ya"kata Eka genit
"kenalkan saya Raffi calon suami Ika",membuatku melotot dan bapak tersenyum
"bener pak"kata Eka lesu
"Insyaallah doakan ya"kata bapak dengan tersenyum membuatku yang mau marah pada Raffi menguap
"ayo pak istirahat pulang"kataku mengajak bapak pulang,setelah tiba dirumah langsung disambut ibu,ibu sempat kaget tapi langsung ditenangkan bapak,setelah mengantar bapak aku putuskan balik ke pabrik,begitu aku sampai ku lihat Raffi sedang memberi pengarahan pada anak buahnya membantu membereskan kekacauan
"bisa bicara bentar
"apa"
"aku terima tawaran mu"
"tawaran apa ni"
"ya udah kalau lupa ,aku terima Radit aja berondong"kata ku langsung berbalik,tapi belum sempat melangkah tanganku di cekal Rafi
"ok gw paham"
"gw terima tawaran Lo demi bapak,tapi sebelum itu aku mau mastikan keluarga Lo terima gw apa adanya,kalau salah satu keluarga Lo nolak gw batal"kataku
"ok gw atur pertemuan mu dan orang tua ku"katanya ,sebelum aku pergi meninggal kannya
"ko sepi dit"
"mas Haris ada rapat katanya dewan direksi dalam penerbangan kesini"
"semoga cepat selesai ya "
"amin"
"kalian terusin ya,gw ada urusan bentar penting"kata Raffi pada anak buahnya,
"kemana bang"
"bandara,jemput dewan direksi"kataku,udah empat tahun aku menghindar keluargaku,padahal ada mobil pabrik yang udah jemput papa tapi karen aku ada perlu aku harus ngomong langsung,setelah di bandara ku lihat Budi yang menjemput papa
"papa dah datang Bud"Budi adalah anak asisten papa dia baru lulus menjadi sarjana hukum karena papa ngerasa ada yang gak beres makanya menurun kan Radit dan Budi untuk menyamar
"wah tumben kamu nemuin papa"kata papa begitu aku menyalami tangannya
"ada yang perlu ku bahas dengan papa"
"pasti penting sampai nuguin di bandara padahal empat tahun kamu menghindar papa "aku cuma mendengus dan papa tertawa
"Budi ke hotel dulu,"kata papa ,aku mengikuti mobil papa dari belakang