My soul mate

My soul mate
40.Menguji kesabaran Kapten



Raffi pulang ke asrama pukul sebelas malam,aku tahu tapi aku lebih suka pura pura tidur,bahkan saat dia habis mandi aku bisa merasakan dia mengelus perutku yang masih rata sampai aku tertidur.


Saat aku bangun aku beraktifitas seperti biasa tapi hari ini aku tidak bikin kopi buat Raffi atau sarapan buat nya ,hanya ada air putih hangat buat diriku sendiri.


"dek kamu ga masak ,"


"sesuai kataku semalam kita urus kebutuhan masing masing ,mas bisa beli di warung atau makan berdua dengan sesorang kalau butuh teman,atau mau dimasakin orang lain juga silahkan.Karena ga mungkin kita berpisah di usia pernik..


"dek mas ga suka kita bahas perpisahan "potong nya cepat


"bisa dengerin aku sebentar ga "protesku yang di anggukin oleh nya.


"Gak mungkin kita berpisah di usia pernikahan kita yang belum genap setahun,jadi sampai anak ku lahir kita akan hidup bersama tapi tidak saling mencapuri urusan masing masing,"


"aku tidak mau itu juga anakku bukan anak mu sendiri dek, aku gak mau ada perpisahan di antara kita" protes Raffi.


"kenapa tidak setuju dengan tidak mencampuri urusan masing masing kamu bebas ketemu dengan siapa dan di mana ,samap siapa kamu pergi aku tidak akan ambil pusing"


"dek kamu salah paham dengerin mas ngomong dulu".


"salah paham di mana nya"


"hari itu aku di mintak tolong ibu Lutfi mengantar ayu berobat, karena mobil ayu lagi mogok jadi kamu salah paham dek,kalau ga percaya kamu bisa tanya ibu.lutfi"ucap Raffi.


"o ya,terus waktu kamu telat pulang habis sholat magrib kamu bilang apa padaku"


"ngobrol sama teman,"


"bukan Ayu"


"Ayu kan teman ku dek..


dari mana kamu tau dek, siapa yang kasih tau "


"Tidak ada, aku melihat nya sendiri dengan mata kepala ku"kata ku sambil tersenyum sinis pada nya.


"Dan waktu mantan mas mengajak mas ngobrol berdua aku tau, dia menunjuk tanda di leher mu yang sengaja aku buat dengan tidak suka" sambungku lagi ku lihat Raffi memejamkan mata nya.


" saat wanita itu mengajak kamu,aku berharap kamu menolak dan aku senang waktu kamu gunakan aku buat menolak nya, tapi aku salah di saat aku sengaja pergi, kamu malah pergi menghabiskan waktu dengan nya,persis seperti keluarga kecil yang bahagia,jujur aku kecewa mas" kata kali ini dengan sedikit penekanan bahwa aku benar benar kecewa.


"Dek "ucap Rafi lirih.


"Pagi itu aku iseng cek dan aku positif, karena kecewa padamu aku sengaja tidak memberi tahu mu,tapi kamu malah membuat ku tambah kecewa dengan pergi bersama mereka bahkan kamu pulang sore dan saat aku periksa aku pergi dari habis magrib tp mas mencari ku satu jam sehabis sholat isya" ucap ku dengan menahan air mataku.


"Mungkin jika hari itu kamu tidak pergi menemani Ayu dan putrinya aku akan mengajak mu untuk cek kandungan"kata ku kali ini dengan air mata mengalir yang gak bisa di tahan lagi.


"jangan mendekat, bahkan waktu mas pamit beli lauk dan Bayu memberi kabar tentang bapak, aku hubungi mas tapi mas ga angkat dan aku melihat dengan mata ku sendiri mas, lagi ngobrol berdua dengan nya, begitu asyik nya mas bicara sampai ponsel bergetar lebih sepuluh kali ga diangkat".


"Dek dengar kan mas dulu, waktu mas ketemu ayu itu gak sengaja dek , kalau mas ga angkat Karena mas lupa masih mematikan nada dering ponsel mas "ucap Rafi berusaha meraih tangan ku tapi aku tepis dan pergi meninggalkan nya.


POV Raffi


Setelah pertengkaran tadi pagi aku putuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang telah diketahui istriku aku tidak tahu dan tidak mungkin aku memaksanya bercerita lagi kalau ujung-ujungnya kami berantem lagi.


"sebenarnya waktu kapten Raffi menghabiskan liburan jalan-jalan bersama Ayu dan putrinya kami bertiga mengikuti kapten di setiap area bermain dan kami berdua tahu kalau mbak Ika hari itu dah cek Pake taspek dan positif"ucap Santi lirih.


"Sebenarnya kami yang membantu mendaftar kan ke poli kandungan, kami juga sudah menyarankan buat Mbak Ika mengasih tahu tentang keadaannya yang lagi hamil muda kepada kapten, tapi Mbak Ika bilang ini pembalasannya karena telah membohongi nya jika dia bisa berbohong kenapa dia tidak "ucap Ratih.


Ah kenapa bisa kacau ucapku dalam hati, aku bersikap baik sama Ayu mengingat dia temanku satu-satunya di saat aku tidak punya teman, tapi kenapa menjadi bumerang pada keluargaku.


"jujur sebagai sesama perempuan saya benci dengan kapten yang tega menyakiti Mbak Ika, apalagi dalam kondisi hamil muda,"ucap Ratih


"Selama hamil muda Mbak Ika tidak bisa makan kalau tidak ada sambel, dia tidak menolak makanan apapun yang ada tapi dia tidak bisa mengelola makanan itu, setiap kali dia berusaha memasak dia akan mual mual sampai badan lemas, katanya bau masakan sama bumbu bikin dia mual, makanya dia hanya masak nasi sama tempe tahu tidak pakai bumbu seperti biasanya, jadi jika dia tidak masak bukan karena dia males karena bawaan bayi"ucap Ratih, aku jadi ingat terakhir aku pulang misi aku melihat hanya ada nasi sama sambal ternyata karena itu kamu tidak masak dek, kataku dalam hati kenapa kau tidak peka.


"karena itu cobalah mengalah demi anaknya kapten yang ada di perut Mbak Ika".


"lihat aja kalau sambelnya habis pasti dia bikin sekalian banyak dan lihat kalau bikin pasti badannya lemes habis bikin sambel, lemes karena bau sambal bikin muntah , tapi dia juga tidak bisa makan kalau nggak ada sambel"


"bersyukur kep bisa ngeladenin kerepotan ibu hamil muda kami menunggu momen kayak gitu",ucap letnan Riko.


"terima kasih udah menjaga istri ku,"


"tidak gratis Kep, jika saya mengetahui kapten bikin ulang lagi ,saya tidak akan pernah membocorkan yang saya tau lagi sama kapten"ucap Ratih.


"lagi makan apa dek"


"bisa lihat kan kenapa bertanya"ucap istriku ketus. Nggak tega rasanya melihat dia cuma makan nasi sama sambel dan kerupuk.


Akhirnya ku putuskan meminta tolong pada Ratih untuk membelikan ikan dan ayam buatku masak besok pagi, setelah pulang salat subuh di mushola aku mampir ke rumah Riko mengambil pesananku , begitu sampai di rumah dengan semangat empat lima ,aku memasak lauk buat istriku disaat dia masih pulas.


Huek huek huek kulihat Ika berlari ke kamar mandi, tapi setelah aku ikuti tidak ada yang dimuntahkan hanya cairan bening yang keluar.


"aku bantu dek"Ika hanya bisa pasrah waktu digendong Raffi masuk ke dalam kamar.


"tolong kalau masak pintunya dibuka biar baunya keluar"cap Ika lirih.


Jadi bener kamu tidak bisa mencium bau masakan dek kataku dalam hati.


"Dek dek dek bangun dek sarapan dulu"ucapku sambil menepuk-nepuk pipinya supaya bangun.


"nggak perlu aku bisa masak sendiri"jawabnya jutek, Aku hanya bisa menarik nafas panjang menghadapi sikapnya, "


"Makan dek Mas udah masak ,demi dedek yang di perut dek, Mas sudah masak banyak kata adik tidak boleh menyia-nyiakan makanan"


"kalau adik tidak mau makan ,Mas akan menelpon Bapak ma ibu"


"kenapa harus bawa bapak dan ibu jangan cari pembelaan ,suka aku di marahin Bapak sama Ibu karena membantah suami padahal suamiku sendiri yang bikin masalah"


"Iya Mas ngaku salah udah bikin masalah sekarang makan ya dek" mengalah tidak berarti kalah mungkin itu harus aku terapkan mulai sekarang, aku harus selalu mengalah demi anak yang di perut Ika.


"lemes nggak kuat jalan"


"sini Mas bantu ke depan ya"ucap ku dan langsung menggendongnya , dan aku duduk kan di kursi dengan meja makan.Benar kata Ratih kalau istriku nafsu makannya banyak dengan apa aja yang penting ada sambel.


"kamu tidak makan"


"iya ini Mas juga makan"ucapku sambil mengambil nasi,


"kamu minta dilayanin ya makanya hanya melihatku"


"bukan gitu dek"


"terserah, terima kasih makanannya"ucapnya sambil mencuci piring bekas makanya.


"mau ke mana dek"


"jalan pagi"jawabnya ketus, seperti awal-awal baru kenalan dulu, sabar sabar Raffi demi anak lu kataku dalam hati.