
Seminggu sudah aku kembali ke Yogyakarta tinggal di rumah sederhana milik nenek warisan almarhum kakek yang seorang dokter, tapi tidak ada satupun yang meneruskan profesi kakek atau nenek yang seorang perawat.
" Mbak malming yuuk," ucap Isyal yang tiba tiba duduk di sampingku sepulang sholat magrib di mushola depan rumah.
" Gayamu anak kecil emang tau apa itu malming."
" Tahu lah Mbak malam minggu."
" Bosan dia nggak punya teman Bian kan lagi mudik ke rumah kakeknya," ucap mama yang baru datang.
" Udah selesai ma acara bantu-bantunya di sebelah."
" Wes udah siap semua,"kata ibu mukul-mukul bahunya mungkin capek habis bantu-bantu memasak buat acara lamaran di samping rumah.
" Si Mbah mana ," tanya mama lagi.
" Masih ngaji di mushola," jawab adikku.
" Kamu gak datang ke sebelah Feb" tanya mama padaku.
"Nggak di undang masak tiba tiba datang ya nggak enak ma."
"Nikah dapat orang mana mbak Yuli ma" ucap Isyal.
"Kalau nggak salah dengar kakak kelas waktu SMP ketemu pas acara reuni" ucap mama sambil berdiri.
"Ya udah mama masuk dulu mau mandi terus sholat."
" Gimana mbak mau yaaa " ucap Isyal sambil memohon.
" Ya udah sana ganti bajumu masak Pake sarung kamu".
Tanpa bicara 2x Isyal langsung berlari pergi masuk ke dalam rumah, Faishal Jayantaka Kusuma yang berati pemimpin yang tegas dan bijaksana dari keluarga Kusuma, tidak ada yang menyangka kalau dia adikku perbedaan usia kami 19 tahun biasa di panggil Isyal atau Ishal ,tetapi menolak di panggil Faiz gara gara disekolah ada teman yang namanya sama .
Dengan menggunakan sepeda motor Beat yang aku beli dengan keringatku sendiri kami berwisata kuliner malam hari di alun-alun kidul Yogyakarta. Sebenarnya aku juga punya mobil meski masih belum lunas baru setahun lalu aku membelinya Nissan March warna sky blue, tetapi aku lebih suka jika pergi berdua menggunakan roda dua.
" Kenyang nya perut ku terasa mau pecah" ucap Isyal sambil mengelus perut nya.
" Ya gimana gak kenyang semua yang kau lihat kamu minta" omel ku yang dibalas dengan tertawa ngakak.
" jarang-jarang Mbak kita jalan-jalan malam Minggu" ucapnya, selama ini dia menghabiskan malam minggunya bersama teman-teman usianya bermain di halaman depan rumah.
" Terus kenapa baru sekarang kamu minta ke sini biasanya juga suka main sama teman-temanmu" ucapku ingin tahu alasannya.
" Bian suka cerita kalau malam minggu kalau bapaknya pas pulang dia pasti mengajaknya ke sini naik odong-odong ,beli jajanan . Aku mau ngajakin Mbak kasihan Mbak pulang kerja udah capek kebetulan Bian pergi ke rumah kakeknya dan Rian ada acara di rumah nggak boleh main sama mamanya ya udah aku ajakin Mbak kalau mau syukur kalau nggak juga maksa sih sebenernya ".
" Nggak maksa sih cuma merengek " ucapku yang disambut dengan tawa.
🎼 Fathar calling
"Assalamualaikum" ucap seseorang di seberang telepon.
"Waalaikumsalam Ada apa menghubungiku malam-malam" ucapku dengan sedikit berteriak karena berisik suara jalanan.
" Lagi di mana sih sepertinya berisik banget ".
" Lagi di jalan biasa malam minggu anak muda" kataku sengaja bilang malam Minggu biar dia mengira aku jalan sama cowokku.
"Maaf ya mengganggu kalau gitu".
" Ya udah aku matikan ponsel aku dulu. Aku mau pulang assalamualaikum".
" Tar dulu aku mau menagih janjimu buat mentraktirku dan menjadi tour guide selama aku di Jogja".
" Ya udah atur aja kapan kamu ke jogjanya".
" Malam ini aku berangkat ini sudah di bandara tinggal nunggu penerbangan ".
" Apa " kaget ku.
" Hari Senin aku ada acara di sana selama seminggu makanya aku datang malam ini jadi besok pagi aku bisa menghabiskan waktu seharian bersamamu".
" Ya Ya udah ntar kalau udah sampai Jogja kamu hubungin aku kamu minta diantar ke mana aja" ucapku . Sungguh aku tak menyangka dia akan datang secepat ini baru juga seminggu pulang dari Bandung udah ketemu dia lagi, gerutu ku dalam hati.
" Ya udah aku aku hubungi kamu kalau sudah nyampe di hotel assalamualaikum" ucapnya "waalaikumsalam" Jawabku.
"Ayo pulang udah malam Mbak udah ngantuk" ajak Isal padaku.
Sampai di rumah HP sengaja aku silent biar tidak ada yang menghubungiku, sungguh aku tak menyangka harus ketemu Fathar secepat ini. Meski Aku berusaha bersikap cuek di depannya tapi hatiku tidak bisa berbohong jika sering bertemu dengannya aku takut benih benih cinta itu akan tumbuh dan menyiksaku lagi seperti dulu.
Saat terbangun pagi hari untuk menjalankan salat subuh sudah begitu banyak pesannya masuk ke dalam ponselku, akhirnya dengan terpaksa aku baca satu persatu pesan darinya .
Dengan menarik paksa Isal buat menemaniku berlari pagi di area alun-alun kota sesuai permintaan Fathar sesuai pesannya semalam.
"Maaf udah lama menunggu " ucapku sambil menghampiri Fathar yang sedang melakukan pemanasan.
" Tidak masalah santai aja hanya menunggu beberapa menit ini" .
" Ayo jogging keliling alun alun " ajak
ku setelah menurunkan Ishal dan Bian mereka lari berdua meninggalkanku.
Kami berlari di lapangan sekitar 15 menit setelah aku tidak sanggup aku duduk melihatnya yang sedang push up.
" Mbak haus bagi duit dong buat beli minum" ucap Isyal yang tiba-tiba ikut duduk selonjoran di sampingku.
" Nih sekalian beli air minum 4 botol sedang" kataku sambil menyerahkan selembar uang biru kepadanya.
" Sekalian jajan ya "
" HM belikan Bian juga".
" Itu adikmu" tanya Fathar yang sudah duduk di sampingku. Aku hanya menemukan kepala sebagai jawabanku.
" Siang ini anterin aku jalan-jalan ya"
" Terserah kamu kamu kan tour guide nya".
"Aku sudah 10 tahun di sini tapi tidak pernah berjalan-jalan, aku hanya sibuk bekerja kuliah dan belajar" jawab ku.
" Ini minum nya mbak " kata Isal sambil menyerahkan air minum kepadaku dan kuberikan kepada Fathar.
" Halo perkenalkan namaku Fathar temannya Feby" ucap Fathar sambil menyodorkan tangan nya untuk bersalaman yang disambut Isal.
" Faisal adik mbak Feby dan ini temanku Bian".
Setelah beristirahat Fathar mengajak kami untuk mencari sarapan , gudeg Jogja pilihan Fathar.
" Kira-kira enaknya ke mana ya" ucap Fathar.
" Emang Mas Fathar mau ke mana? tanya Bian.
" Mas pengen liburan di sekitar sini".
" Ke mana aja boleh kalau bisa yang berbau alam".
"Air Terjun Kedung Pedut aku sih belum pernah kesana cuma pernah lihat foto teman hehe " ucap Isal.
" Ya udah gimana kalau kita kesana kalian mau ikut ".
" Boleh " seru kedua bocah itu secara bersamaan.
"Kalau begitu kita berangkat sehabis ini gimana ".
" Siap" jawab kedua bocah itu lagi secara bersamaan.
" Kenapa sih kalian kalau di ajak jalan kompak banget, coba kalau di suruh belajar juga kompak gitu " kata ku yang cuma di balas nyengir kuda.
Ahkirnya setelah selesai makan aku mengantar Fathar kembali ke hotel , karena tadi pagi Isal mengajak Bian jadinya kami tadi membawa mobil.
" Gw boleh turun ga kenal keluarga mu" ucap Fathar ketika mobil udah berhenti di depan rumahku.
" Ngapain ga penting juga kali" ketusku.
" Demi sopan santun menyapa orang tua " ucap Fathar yang juga ikut turun dari mobil, mengapa tadi minta ijin toh sekarang sebelum aku ijinkan dia sudah turun berjalan bertiga dengan Isal dan Bian meninggalkan aku di belakang sendiri kata ku dalam hati.
"Assalamualaikum"
" Walaikumsalam,ada tamu sopo Iki le? tanya nenek dengan logat jawa.
" Ini teman mbak Feby mbah " ucap Isal mengenal kan Fathar, aku langsung berjalan masuk karena harus segera mandi,aku tidak tahu lagi apa yang mereka obrol kan lagi.
Aku tidak menyangka bakal kenal dengan keluarga Feby, apalagi sekarang selain adiknya aku juga di kenal kan dengan neneknya.
" Mbah aku mau jalan-jalan sama mbak Feby dan temannya juga Bian , boleh ".
" Sana bilang mama mu terus Bian ijin dulu sama orang tuanya boleh gak " ucap Mbah Feby sambil mengunyah sirih atau orang biasa menyebutnya nginang.
Tanpa di komandon Bian langsung berlari dan berlari Yang sepertinya kearah rumahnya dan Isal masuk ke dalam rumah, tidak sampai 5 menit dia kembali dengan seorang wanita yang aku tahu dulu juga mengajar di tempat kami sekolah .
" Assalamualaikum bu perkenalkan nama saya Fathar, teman SMA Feby" ucapanku sambil mencium tangan mama Feby.
" Walaikumsalam kalau kamu teman sma-nya pasti udah tau siapa ibu dong " ucap mama Feby dengan tersenyum.
" Hehe iya Bu".
" Ayo duduk dulu mau minum apa ibu bikinin," ucapnya ramah.
" Tidak usah repot-repot bu , saya ke sini mau minta izin mau ngajak Feby dan Isal buat jalan-jalan".
" Iya tadi Isal juga sudah bercerita pesan ibu hati-hati saja nitip anak-anak ibu".
" Siap Bu akan saya jaga ".
" Sekarang Isal mandi dulu tadi mbakmu kayanya udah selesai mandinya "ucap ibu sambil mengelus rambut putranya.
" Nak Fathar asli Jakarta ya"
" Bukan Bu saya lahir di Surakarta dan besar pindah - pindah ngikutin bapak yang suka pindah pindah tempat tinggalnya" ucapku sambil bercanda.
" Sekarang kerja di mana"
"Bandung"
" Jangan-jangan ketemu Feby waktu Feby ada kerjaan di Bandung kemarin ya" tebak ibu.
" Iya Bu".
" Aku dah siap " kata Isal sudah keluar dengan wajah segar sehabis mandi.
" Kamu mandi tidak cepat banget sih ".
" Mandilah ma,kena Pake air pakai sabun mandi biar wangi "
" Yaudah Mama kedalam dulu"
" Assalamualaikum mbak "
"Walaikumsalam ono opo"
" Ini Bian bilangnya mau ikut Feby jalan-jalan bersama Isal dan teman Feby".
"Iya ini teman Feby".
" Teman opo calon mantu ".
"Apa sih cuma teman, ayo berangkat " ucap Feby yang tiba - tiba nongol dan langsung menghentikan obrolan kedua ibu-ibu tersebut.