
Saat aku terbangun untuk melaksanakan kewajiban subuhku aku sudah tidak menemukan Fathar di sekeliling kamar. Baru sekitar jam 09.00 pagi mama datang bersamaan Yumi, membantuku berkemas barang-barang untuk pulang ke rumah setelah semalaman Diva tidak demam lagi.
" Aneh banget semalam tiba-tiba dia datang lalu bilang mau ke sini tapi pagi tadi kita ke sini dia sudah tidak ada terus dimana dia semalam ma" ucap Yumi pada mamanya ,Feby yang di depan kamar mandi hendak keluar menghentikan langkahnya untuk mendengarkan obrolan mereka.
" Ya mana mama tahu mas mu kemana, buat mama Alhamdulillah dia sudah sembuh bisa jalan lagi udah ingat sama anak istrinya itu sudah cukup" ucap Ika Sambil menyuapi Diva buah.
"Aku sebenarnya merasa aneh aja ma, coba mama pikir dia kan jadi pilot pesawat jet pribadi terus kenapa bisa mengalami pembajakan pesawat, kecuali kalau itu pesawat komersial penumpang kan banyak, kalau jet pribadi kan penumpang hanya tertentu" ucap Yumi.
"Gini simpel aja kamu naik mobil pribadi aja bisa di begal atau dirampok , udah ah gak usah dipikirin yang penting kakakmu kembali selamat tidak kurang apapun, banyak yang harus mama pikirkan termasuk persiapan pernikahan mu juga jadi jangan nambah apa yang harus mama pikirkan " ucap mama.
Aku di dalam kamar mandi mendengarkan semuanya ada benarnya omongan Yumi kendaraan di udara tidak seperti kendaraan di darat yang mudah di bajak atau dirampok.
"Sudah beres ma?" tanya Feby yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Sudah ,barangnya sudah di bereskan semua administrasi sudah di selesaikan Yumi tinggal nunggu dokter Dika memeriksa keadaan Diva untuk memastikan kalau udah sembuh benar langsung kita pulang" ucap mama.
" Mbak pulang ke rumah aja ya lusa semua sudah mulai berdatangan" ucap Yumi, seketika aku teringat kalau beberapa hari lagi Yumi akan menikah dengan kakak sepupu ku Bagas. Aku sebenarnya sudah disiapkan baju dari keluarga Bagas, tapi mama Ika bilang sampai detik ini status ku masih istriku Fathar jadi harus ikut keluaga mereka.
"Iya sebaiknya langsung pulang ke rumah mama aja" ucap mama, kalau mama sudah bicara aku tidak enak untuk menolaknya akhirnya aku anggukkan kepala ku.
" selama pagi " ucap dokter Dika saat masuk.
" pagi" jawab kami.
" Diva udah siap untuk pulang ya" ucap Dokter Dika .
"Udah dong kan sudah sehat " ucap Yumi.
" Wah nanti pasti dokter kangen sama Diva, boleh nggak kalau dokter kangen main ke rumah Diva" ucap dokter Dika.
" Boleh kok dok asal mainnya ajak pasangannya jangan main sendirian" ucap Yumi ketus. Membuat aku dan mama merasa tidak enak.
"Haha Ok saya periksa dulu Diva nya ya".
"Allhamdullilah sudah bisa pulang " ucap Dokter Dika Sambil mencium pipi gembul Diva tapi matanya melirik kalah Feby membuat Feby tidak nyaman.
" Ayo sayang kita pulang sini gendong Tante" ucap Yumi mengambil Diva yang masih duduk sehabis di periksa.
"Maaf aku terlambat " ucap Fathar yang muncul disaat kami hendak keluar.
"Kamu dari mana saja sih Mas dari semalam gak kelihatan" ucap Yumi Sambil menyerahkan Diva kepada Fathar.
" Maaf ada yang harus aku selesaikan" ucap Fathar sambil berdiri di samping Feby.
"Mas kok sudah pakai pakaian lengkap mau terbang lagi?"tanya mama.
"Habis ngantar pulang aku langsung ke bandara menyelesaikan tugas terahkir " ucap Fathar sambil menarik pinggang Feby hingga badan mereka saling menempel.
Feby rasanya ingin sekali protes tapi dia tidak mau bikin malu Fathar, bagaimanapun keadaannya Fathar masih tetap suaminya dan sebagai istri dia wajib menjaga kehormatan suaminya. Selama belajar keagamaan dengan keluarga Lilis banyak ilmu agama yang didapat Febi selain membaca Alquran dia juga belajar gimana menjadi istri berbakti, menjadi istri yang baik menurut agama.
" Terima kasih atas bantuan dokter selama istri dan anak saya di rumah sakit, jika butuh bantuan apapun saya dan seluruh keluarga Raksa tentunya siap membantu dokter" ucap Fathar sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Sudah kewajiban saya sebagai dokter membantu merawat pasien tidak perlu sungkan" jawab dokter Dika sambil membalas uluran jabat tangan Fathar.
Mereka di jalan keluar meninggalkan rumah sakit dengan beriringan ada senyum terukir di bibir Fathar, tetapi bagi dokter Dika itu adalah senyum meremehkannya.
Setelah mengantar anak dan istrinya ke rumah orang tuanya Fathar langsung pergi lagi yang dia bilang ke bandara, dan sejak hari itu tidak ada kabar lagi dari Fathar hingga di hari pernikahan Yumi dan Bagas dia baru kelihatan. Aku juga tidak bertanya dia pergi ke mana ada penerbangan ke mana.
"Dek kita foto bareng yuk satu keluarga kita belum punya foto keluarga kan"ucap Fathar.
" Nanti juga dipanggil sama fotografernya kalau sudah waktunya foto keluarga" Ucap Feby.
" Maksud aku foto keluarga kita Aku Kamu dan Diva" ucap Fathar.
" Ini acaranya Yumi dan Bagas bukan acara kita jadi tidak usah aneh-aneh" ucap Feby ketus, karena sejak tadi pagi datang Fathar selalu mengikutinya padahal Diva tidak ada bersama dengannya.
" Assalamualaikum Mbak ini AA Ari, jadi konsultasi hukumnya " ucap Lilis Yang tiba-tiba menghampiri mejaku dengan laki-laki yang aku kenal sebagai kakak sambung Lilis.
" Kebetulan saya ada kerjaan di Jakarta kurang lebih seminggu" ucap Ari.
" Kalau begitu kita bisa ngobrol besok siang aja bagaimana" ucap Feby.
" Wah aku setuju sekalian aja makan siang ntar aku juga ikut mbak bisa ajak Diva" ucap Lilis.
"Bisa nanti hubungi Lilis saja tempatnya di mana" ucap Ari.
" Ya udah kalau begitu aku pamit dulu ya Mbak aku sama AA mau pulang".
Setelah berpamitan dan memberi salam mereka pergi, meninggalkan aku dan Fathar sebenarnya dimeja kamu banyak sepupu Fathar yang lain juga.
" Mbak Dini nitip Diva bentar aku sama Mamanya mau bicara dulu penting " ucap Fathar sambil menarik tangan istrinya dan membawanya ke salah satu kamar hotel tempat acara pernikahan Yumi dan Bagas.
" mengapa harus masuk kamar sih kalau cuma bicara aja" ucap Feby sambil berjalan mengikuti suaminya. "Apa-apaan sih" ucap Feby kesel saat tiba-tiba Fathar duduk di sofa dan menariknya hingga terjatuh duduk di pangkuannya Fathar.
"Aku sudah bilang tidak ada perceraian di antara kita, dari awal kita menikah saat kamu menawarkan komitmen aku udah bilang bukan. 'Saat kamu memutuskan menikah denganku kamu akan terikat denganku selamanya tidak ada kamus perceraian antara kita ' harusnya kamu mengingat kalimat ku yang itu" ucap Fathar.
Seketika ingatan Feby kembali ke Masa lalu saat dia mengajak Fathar menikah karena komitmen saat itu.
**
"Apa kamu mau menikah denganku karena dengan menikah denganmu aku rasa keselamatan Isal akan sangat terjaga"ucap Feby tenang.
"kamu tahu artinya pernikahan " ucap Fathar.
"Sebuah hubungan sakral yang tidak bisa dipermainkan"jawab Feby.
" Dan kamu tahu artinya jika kamu menikah denganku kamu akan terikat denganku selamanya tidak ada kamus perceraian antara kita " ucap Fathar.
" Aku tahu kalian lelaki semua sama aja papa aja yang mencintai mama dan sudah saling mengenal dari awal kuliah sampai aku remaja bisa berbuat kaya begitu " ucap Feby dengan senyum sinis nya.
"Aku tidak percaya cinta jadi mari kita buat komitmen untuk bertanggung jawab dengan komitmen pernikahan, hidup bersama dengan komitmen saling menghargai dan menghormati bertanggung jawab menjagaku dan Isal sudah cukup buat ku" ucap Feby datar.
" Jika kita menikah tidak ada nikah kontrak, Kita nikah secara agama dan negara saling memenuhi kewajiban dan hak, kebutuhan jasmani dan rohani apa kamu sanggup " tantangan Fathar.
" Aku wanita dewasa tentu aku tahu dengan resiko jika sudah menikah , semua tanggung jawab dan kewajibanku sebagai istri akan aku jalankan selama keselamatan Isal terjamin " ucap Feby.
**
Seketika Feby lemas dia lupa dengan perjanjian mereka berdua sebelum pernikahan dilaksanakan, meski tidak ada hitam diatas putih bagi Feby perjanjian tetaplah perjanjian yang harus di tepati.
Sapuan lembut di are lehernya dengan menggunakan lidah hingga menyebabkan rasa basah diarea lehernya menyadarkan Feby dari lamunannya. Tapi saat Feby sadar dia kaget dengan yang di lakukan Fathar terhadapnya, jilbab serta niqab nya sudah terlepas serta resleting tunik nya juga sudah merosot pantas rasanya dingin ucap Feby dalam hati.
"Mas" lenguh Feby berusaha menolak rangsangan yang diberikan Farhat kepada tubuhnya.
"Kita masih halal kamu masih wajib memenuhi kebutuhan biologis ku" ucap Fathar dengan suara semakin berat dan tangan yang sudah mulai merangsang istrinya itu.
" Tapi aku tidak KB " ucap Feby karena kalau dia menolak secara langsung dia tidak berani.
" Tidak perlu KB kita bikin adik Diva" ucapnya sambil menurunkan ciuman nya.
"Nanti Diva nyari aku" ucap Feby berusaha bangun dari pangkuan Fathar karena merasakan ada bangunan dari diri suaminya.
" Aku sudah mengirim pesan ke mama kamu tidak perlu kuatir, Diva banyak yang menjaganya gak perlu kuatir. Diva sudah tidak nyusu kan jadi biarkan aku sekarang yang menggantikan nya" ucapnya yang langsung di praktekkan tanpa bisa di cegah Feby sendiri gak sadar sejak kapan bagian atasnya sudah tidak ada penghalang.
" Maafkan aku menyakitimu, hanya kamu yang kucintai meski aku terlambat menyadarinya perasaanku padamu " ucap Fathar sambil mencium kening Feby sebelum tertidur dengan memeluk istrinya dari belakang.
Feby merasa bodoh dan kesal pada dirinya sendiri saat malah terlena dengan buaian Fathar bukannya menolak sentuhan suaminya itu, bahkan dia juga terbawa suasana dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
" Buruan tidur Diva berada di tangan yang tetap atau mau ronde ketiga "bisik Fathar pada istrinya. Ancaman Fathar sangat mancur buktinya Feby bener-bener tertidur setelah 5 menit.
" Semoga Benih yang selalu ku buang kali ini langsung jadi" ucap Fathar sambil mengusap-usap perut Feby hingga tertidur.