My soul mate

My soul mate
63.Jenny



Setelah makan siang bersama di sebuah Restoran mewah yang di boking Raffi kami langsung pulang dengan yang di kendarai Bayu sedang Raffi kembali ke Cijantung.


"ndok tadi makan siang di restoran habis berapa banyak," tanya ibu yang dari tadi sangat terkesan dan kagum saat makan siang di restoran.


"Aku nggak tahu Bu Raffi yang bayar semua"


"udah Bu e nggak apa-apa sekali-kali merayakan kelulusan Dwi"kata bapak.


"kasihan pak kalau habis banyak"


"alah Bu kok dipikirin mas Rafi duitnya banyak nggak bakal habis Bu"kata Bayu,


"mertuamu kapan balik dari luar negeri"


"kata Raffi masih seminggu atau dua minggu lagi"


"kirain besok atau lusa kalau besok atau lusa nggak papa sehari dua hari ini di sini"


"mereka orang sibuk Bu maklum" cuma Satu malam semuanya menginap di rumah mama papa,Bapak tidak mau berlama-lama libur kerja karena sebentar lagi dia masuk masa pensiun, Dwi punya waktu beberapa hari untuk menunggu keputusan penempatannya dinas untuk pertama kalinya, jadi Dwi mau pulang mau menghabiskan liburannya bersantai di rumah dan bermain ke rumah teman-temannya, Bayu tadinya masih mau tinggal mau keliling Jakarta main ke Dufan ,ke Ancol, taman mini tapi di larang bapak ntar kalau liburan kuliah baru boleh main-main begitu kata bapak.


"ada apa kok lemes"tanyaku pada Raffi yang lagi merokok di dekat kolam renang.


"tentu kamu tahu Mama angkat Jeni adik bungsu mamaku"


"iya kenapa"


"beliau lagi sakit tadi habis dari Cijantung Aku menjenguk nya di rumah sakit, aku tidak mengajakmu karena aku pikir sekalian lewat aku mampir"


"terus masalahnya"


"dokter memvonisnya umurnya tidak lama, dia menitipkan Jeny kepadaku, tapi Jeny malah meminta aku menikahinya" aku yang mendengarnya langsung melotot dan duduk dari posisi rebahan ku.


"gila emang tentara boleh poligami "


"ya gak lah, emang kalau boleh kamu ngizinin "


"boleh asalkan ceraikan aku dulu"


"bodoh sekali aku menceraikan mu dan menikahi Jeny"


"tantemu yang ngomong langsung padamu"


"bukan tetapi Jeny yang bilang"


"aku jadi sanksi itu hanya akal-akalan Jeny"


"bisa jadi tapi masalahnya tante tidak bisa ngomong jadi Aku susah alasan "


"emang kalau tantemu yang minta kamu juga mau"


"Ya nggaklah nggak bakal mau"


"aku pegang kata-katamu awas kamu aneh aneh di belakang ku "


"sebelum balik ke Surakarta Aku mau mengunjungi Tante mau di rumah sakit"


"Ya udah besok siang ke sana Fathar biar dia jaga pembantu selama kita pergi"


"Kamu kasih tahu Jenny nggak kalau kita kan ke sini"


"nggak " saat ini aku sudah berada di rumah sakit sedang menuju kamar perawatan mama Jinny.


"gue mau lu bikin wasiat seolah-olah nyokap meminta gue menikah dengan Raffi"suara dalam ruangan menghentikan langkahku dan Raffi yang hendak mengetuk pintu, tanpa menunggu segera ku keluarkan ponsel dari tas kecilku dan aku rekam pembicaraan mereka.


"gimana mau bikin nyokap lu aja koma tanda tangannya gimana"


"gampang itu aku bisa memalsukan tanda tangan nyokap"


"gila kamu kalau sampai terbongkar bukan hanya berurusan dengan polisi karir ku sebagai Advokat taruhan nya, lagian kaya gak ada laki lain aja sih Lo "


"laki lain banyak tapi yang tajir kaya keluarga Raksa cuma dua"


"yang incar aja yang satu lagi bukannya masih single"


"aku nggak tertarik sama Radit"


"gw pernah tidur dengan nya waktu masih sama sama kuliah di luar negri "


"gila Lo, jadi karena udah pernah tidur dengan nya Lo ga mau lagi "


"ya gak lah, pantang buatku untuk tidur dengan lelaki yang sudah pernah kutinggalkan"


"emang sudah berapa lelaki yang tidur dengan mu"


"empat,gila lo"suara yang bertanya tadi seperti nya kaget, mungkinkah Jenny menjawab dengan jarinya.


"yang pertama pacar gw,ke dua Radit,terus mantan suami, dan pacar gw yang sekarang " ku matikan rekaman di ponsel ku dan aku berjalanan keluar meninggalkan rumah sakit,kami masih saling diam hingga sampai di rumah mama papa, di dalam hati aku terus beristigfar dan berdoa supaya di jauhkan dari orang orang semacam Jeny yang menghalalkan segala cara demi harta dan kemewahan dunia.


"maafkan mas seharusnya Mas curiga dari awal, ternyata kecurigaan kamu benar" kata Raffi sambil duduk di lantai menggegam tanganku dan posisiku duduk di sofa di dalam kamar.


"kenapa Mas tidak curiga dari awal"


"Mas nggak menyangka Jenny berpikir ke arah sana hanya demi harta keluarga Raksa, sejak diadopsi tante kami tumbuh bersama karena dia seumuran Radit udah aku anggap dia adikku"


"emang bener tidak ada orang yang sempurna" kataku sambil melirik kearah nya.


"Dalam hal karir otak Mas bisa diandalkan, tapi untuk kehidupan nyata Mas mudah di bohongi " sambung Ika.


"maaf kan Mas ya " malam nya dengan penerbangan terahkir kami kembali ke asrama, sudah seminggu menjalani aktivitas seperti biasa aku selalu bersyukur hari itu bisa mendengar rencana buruk Jeny bahkan aku juga mintak tolong Radit untuk menyimpan rekaman itu buat bukti jika suatu saat di butuhkan.


"mbak Fathar barusan memukul Rony Lo " adu Ratih pada ku,Rony adalah anak laki laki Ratih sedang Santi melahirkan seorang putri yang dikasih nama Syifa.


"Fathar nggak boleh sayang kalau main sama-sama nggak boleh temannya di pukul"


"bapakmu waktu kecil bandel kali ya, suka sekali bikin nangis anak orang"kata Santi sambil mencium pipi tembem Fathar, karena sebelum Rony nangis Syifa juga di buat nangis gara-gara mainannya direbut sama Fathar.


🎼🎼 Radit calling


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam aku mau menyampaikan kabar duka Mama Jeny meninggal satu jam yang lalu"


"innalillahiwainnailaihirojiun, aku akan ke sana "


"siapa Mbak yang meninggal"


"adik mamanya Raffi"segera aku booking tiket ke Jakarta hari ini juga dengan penerbangan yang paling cepat ,tak lupa aku beri kabar Raffi untuk segera menyusu ke sana jika pekerjaan nya selesai.


Begitu tiba aku di jemput sopir keluarga, dan langsung di anter ke rumah duka.


" baru datang"ucap Mbak Arin.


"iya dari bandara langsung ke sini"


"terus Fathar mana"


"langsung diajak pulang sama sopir, sama Mama nggak boleh di bawa ke sini"


"dewa dan Dewi juga di rumah Mama kok biar mereka bermain bersama" setelah acara doa tahlil baru aku pulang ke rumah mama di sana sudah ada Raffi.


"kok kamu nggak nyusul ke sana sih"kata Mbak Arin pada Raffi yang lagi asik bermain dengan Fathar.


"aku baru nyampe setengah jam yang lalu Mbak, jadi aku kira udah pada di rumah makanya aku langsung pulang ke sini" malam ini kami sekeluarga bermalam di rumah mama, malam ini rumah mama ramai karena semua anaknya berkumpul dan cucu-cucunya.


"ntar malam kita langsung ketemu disana saja"kata papa Raffi.


"pah aku menunjukan sesuatu dulu aku takut jennie berulah"kata Raffi , membuat semua orang yang sedang sarapan pagi melihat ke arahnya.


"coba kalian dengarkan ini" kata Raffi sambil mengeluarkan rekaman yang kamu rekam saat di rumah sakit sebelum Mama Jeny meninggal.


"Ya Allah Jeni"ucap Mama dan yang lain secara bersamaan.


"karena itu Maaf aku langsung ajak pulang anak dan istriku siang ini"


"baiklah itu lebih bagus biar Jeni kami yang urus " kata papa.


"maafkan kelakuan Jenny"ucapan mama Raffi sambil memelukku.Ahkirnya siang itu kami langsung pulang tanpa Raffi menemui Jeny.