My soul mate

My soul mate
102. Mengenang masa lalu



Aku tidak mengingat apa yang telah terjadi , Yang kuingat terakhir kali aku minta tolong Fathar untuk membawaku pergi jauh dari orang-orang yang menyakiti mama.Ahh ingat aku sekarang sepertinya aku tertidur di mobil Fathar,tapi sekarang aku sudah berada di kamarku lalu siapa yang mengantar aku pulang perasaan aku belum ngasih alamat rumah kepada Fathar.


"Sudah bangun " ucap Bagas saat aku keluar kamar, kulihat dia sedang duduk di meja pantry sedang menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu yang membawa aku pulang ?".


"Apa yang Lo ingat ?" tanya Bagas balik padaku.


" Aku sepertinya tertidur di mobil Fathar".


"Karena kamu belum ngasih alamat ahkirnya Fathar membawamu pulang ke rumahnya dan aku menjemput mu disana" jelasnya padaku.


"Aku lapar mau bikin mie instan Lo mau gak " kataku mengalihkan pembicaraan kami, saat ini aku tidak ingin membahas siapapun cukup tahu siapa yang mengantarkan aku pulang sampai di rumah.


" Gw ada janji jadi gw harus pergi sekarang " ucap Bagas sambil merapikan semua perlengkapan kerjanya.


Setelah Bagas pergi meninggalkan aku di rumah sendirian.


" Loo mbak ko udah pulang aja biasanya habis Isyak sampai rumah " ucap Isal saat baru masuk dan melihat ku sudah duduk di pantry menikmati seporsi mie instan.


" Kebetulan tadi survei lapangan jadi sekalian pulang, kamu udah makan belum mau Mbak buatkan mie instan sekalian" ucapku berbohong tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya.


"Aku masih kenyang tadi pulang futsal mampir beli bakso sama teman-teman" ucapnya sambil menarik kursi di depanku.


"Faisal sebentar lagi umurmu 12 tahun, jika ada orang yang mengaku sebagai papa atau saudara papa terus membawamu pergi dari Mbak apa kamu akan meninggalkan Mbak" ucapku tanpa melihat ke arahnya.


" Sejak aku lahir aku hanya mengenal Mama dan Mbak, apalagi Setelah Mama dan nenek meninggal tugasku sebagai saudara laki-laki harus menjaga dan melindungi Mbak bukan malah meninggalkan" ucapnya sok bijak dan dewasa membuatku menjadi terharu.


" Ohh adikku sudah dewasa " ucapku sambil berdiri dan memeluknya.


Malam ini beberapa kali dala


m tidurku aku terbangun teringat beberapa memori lama saat masih tinggal sama papa dan mama.


Saat sebelum keputusan bercerai.


" Mamamu itu susah di bilangin aku udah sering bicara untuk mengikhlaskan


papamu menikah lagi biar keluarga kita punya keturunan laki-laki kenapa selalu saja membantah" ucap nenek padaku.


" Hanya orang yang tidak bisa berpikir jernih hanya masalah anak laki-laki menyuruh suaminya menikah lagi" ucapku berani.


" Hai kamu harus tahu anak kecil jika mamamu berpisah dengan anakku mamamu tidak punya apa-apa ,apa dikira gampang nyari kerja hanya mengandalkan title sarjananya ".


" nenek itu perempuan nggak malu minta menantu nenek untuk menikah lagi hanya demi seorang anak laki-laki".


" Aku kasih tahu suatu rahasia hanya kau dan aku yang tahu, papamu bukan anak kandungku dia anak maduku".


JEDARRRRRR


Hos hos


Meski hujan begitu deras dan dinginnya menusuk tulang tapi aku malah berkeringat hanya karena mimpi itu. Hanya aku yang tau dan wanita tua itu yang gila harta monolog ku dalam kegelapan malam.


Faisal tidak boleh ketahuan wanita tua itu.Apa yang harus kulakukan, apa aku perlu pindah keluar kota, tapi nanti mereka bisa curiga gimana ini.


Iya pak Dhe, aku bisa minta tolong pak Dhe buat mengadopsi Faisal biar mereka tidak tahu monolog ku.


Ku ganti bajuku dan kuambil jaket serta kunci motorku, bergegas kerumah pak Dhe.


Butuh sekitar 1 jam perjalanan dari tempat tinggal ku ke rumah pakde dengan menggunakan sepeda motorku.


BRAAAK BRAAK


Aku tidak tahu apa karena pikiranku yang tidak konsentrasi atau karena memang nasibku lagi apes sepeda motorku menabrak pembatas jalan.


"Mbak mbak tidak apa-apa " ucap seseorang yang membantuku berdiri dan membenarkan letak sepeda motorku yang roboh .


" Terima kasih saya tidak apa-apa hanya sedikit mengantuk sepertinya" bohongku pada pria yang sudah menolongku.


" Mbak sepertinya montirnya rusak tidak bisa jalan" ucapnya.


" Terima kasih atas bantuannya Mas tidak apa-apa nanti saya akan minta tolong saudara saya".


Setelah orang tersebut pergi baru aku menghubungi Bagas dan menceritakan apa yang terjadi padaku, Bagas memintaku menugu tanpa boleh kemana-mana hampir jam aku menunggu barulah ada mobil yang sepertinya aku kenal berhenti tapi bukan Bagas melainkan Fathar.


"Bagaimana keadaanmu kamu tidak apa-apa mana yang terluka, tadi Bagas menghubungiku katanya kamu mengalami kecelakaan" ucapnya dengan rasa kuatir yang ketara.


" Dimana Bagas kenapa kamu yang datang" tanyaku ,bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya keberadaan Bagas.


" Tadi Bagas menghubungiku katanya kamu mengalami kecelakaan dan dia tidak bisa ke sini untuk melihat keadaanmu jadi dia minta tolong aku".


"Aku tidak apa-apa hanya motor aku yang rusak, kalau tidak bisa ke sini seharusnya ngomong ngapain juga ngerepotin kamu" kesal ku sambil berusaha berdiri.


Auh Auh keluhku saat mencoba berjalan tapi malah kakiku terasa sakit buat berjalan.


"Ini yang kamu bilang gak apa-apa, coba kamu jalan aku mau melihat " Ocehnya sambil berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.


Dengan sekuat tenaga aku gerakan kakiku meski sakit,tapi harga diriku tidak boleh terluka.


"Ayo berjalan bukan melangkah"katanya sambil tersenyum meremehkan.


Karena aku tidak suka diremehkan dengan sekuat tenaga yang aku punya ku tahan rasa sakit di kaki aku paksakan kakiku berjalan.


" Ahh apa yang lo lakuin" ucapku marah saat tiba-tiba Fathar menggendongku dan langsung mendudukkan ku di dalam mobilnya.


"Diam di sini biar aku suruh orang untuk mengurus montor kamu " ucap Fathar sebelum pergi meninggalkan aku . Kulihat dia bicara dengan seseorang setelah 10 menit ,dia kembali padaku langsung masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudi.


" Mana alamatmu aku yang akan mengantar kamu pulang ".


" Montor ku gimana ".


"Orang bengkel akan mengurus semuanya " ucapnya sambil menyalakan mesin mobil.


" mana alamatmu atau kau mau aku antar ke rumah sakit aja" ucapnya sekali lagi dengan tanpa menoleh ke arahku karena mata masih fokus ke jalan raya.


Dengan sangat terpaksa akhirnya ku sebutkan alamat perumahan di mana aku tinggal, pukul 12.00 malam aku sampai di rumah.


" Terima kasih sudah mengantar aku pulang, tapi maaf aku tidak menyuruhmu untuk mampir karena sudah tengah malam".


"Iya aku tahu, segera obati lukamu biar tidak infeksi " ucapan sebelum pergi meninggalkan rumahku.


Kenapa akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan Fathar apa benar dia jodoh yang dikirim buat aku, tetapi aku belum siap menikah.


Rencana aku menemui pak Dhe berujung Fathar yang tahu alamat tempat tinggal aku.


Apa aku terima Fathar aja dengan koneksi keluarga dan jabatannya aku rasa dia bisa melindungi Isal dari wanita tua penggila harta itu, ucap ku dalam hati.