My soul mate

My soul mate
48.Periksa kandungan



"makan yang banyak dek biar anak kita sehat makan sayur juga nih , Mas juga bikin susu juga di minum ya" seperti biasa Raffi akan pulang untuk makan siang di rumah setelah sholat Dzuhur di mushola atau masjid.


"anak kita, anak aku aja kali "


"ko gitu,"


"kamu kan sudah dipanggil ayah, berati udah punya anak kalau aku kan masih menunggu "kata ku sambil mengelus perut ku meski belum kelihatan buncit Udah mulai terlihat kalau lagi mandi.


"dek "katanya sambil menghembuskan nafas kasar.


"apa mau protes bener kan, Ayah aku kangen kapan main bersama"kataku menirukan gaya bicaranya putri semalam.


"jangan dekat-dekat, mau bilang kasihan lagi,basi tau" Kata ku saat Raffi hendak mendekat.


"allhamdullilah kenyang nya "


"dek tadi waktu kamu salat Mas gak sengaja baca pesan masuk ke ponsel mu dari Santi , Adek dapat urutan nomor pertama, tadi Udah di daftar kan sama temen santi nya yang sama sama perawat "aku tidak menjawab hanya mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Mas anter ya dek"


"Aku mau sekalian nengokin Ratih yang tadi katanya mas Riko pingsan waktu kerja ,kalau nunggu kamu pulang kerja keburu sore, lagian dua kali periksa aku selalu sendiri "


"dek, kalau itu mas minta maaf "katanya sebelum menarik nafas panjang.


"tadi aku ketemu ibu Lutfi rencananya kalau kakaknya fajar bersedia mau aku akan ajarin les"


"les apa"


"ya les pelajaran lah dia kan udah kelas dua belas bentar lagi mau ujian kelulusan"


"dia udah remaja dek"


"iya aku tahu delapan belas tahun umurnya ,seumuran Bayu udah kayak adikku sendiri jadi nggak masalah boleh ya buat kesibukan"


"boleh tapi entar sore periksanya nunggu mas pulang nih ,terus nengok Ratih sehabis periksa aja"


"eh kok gitu pakai syarat segala"


"biarin pokonya adik nggak boleh pergi sebelum Mas pulang"


"kalau ngaret aku tinggal aku nggak mau menunggu yang nggak pasti"


"Ya udah sekarang adik habiskan susu dan makannya habis itu istirahat Mas mau balik ke kantor"


" hm"


"kok hmm doang Sini dong cium tangan dulu", meski aku marah aku juga tidak mau durhaka,aku Samper Raffi yang sudah berdiri ku cium tangan nya, dan dia cium kening ku.


"hati hati kalau ada apa apa hubungi mas" entah dapat keberanian dari mana Aku kecup bibirnya Raffi sekilas,


"eh" kata ku saat selesai malah Raffi menarik pinggang ku dan belum sempat aku protes Raffi udah ******* bibir ku atas bawah secara lembut, sesekali memberikan hisapan kecil.


"baru juga di kecup" kata ku di sela nafasku Yang masih belum normal.


"siapa suruh mancing kan lama mas puasa"


"siapa suruh lupa sama istri ngurusin anak orang Mulu,Sono kerja lagi"


"mas bolos boleh gak mau buka puasa"


"eh gak ada cerita buka puasa aku masih marah"


"katanya mau periksa sama suamimu mana suamimu" kata Santi yang menemuiku di poli kandungan yang lagi mengantri.


"kan aku udah bilang nggak boleh ngaret ,aku udah tunggu setengah jam kok gak datang ya udah aku berangkat duluan"


"hm sabar mbak"kata Santi sambil membuang nafas kasar.


"tu dokter nya udah datang,aku balik kerja jam kerja ku sudah mau mulai lagi "


"oke makasih sudah ditemani"


" dek maaf mas telat"kata Raffi yang baru datang dengan nafas yang masih ngos ngosan dan masih memakai seragam PDH yang lengkap.


"ibu Ika Pratiwi" suara suster mengurangkan niat ku yang hendak mengomel pada Raffi, segera aku masuk di ikuti Rafi.


"selamat sore menjelang malam Ibu Ika akhirnya bisa ketemu juga ya sama suaminya saya kira nggak punya suami loh"kata dokter menyambut kedatangan ku.


"apa maksud lo ngomong kayak gitu sama istri orang belum pernah ya diajar sama suami orang" kata Rafi membuat dokter itu ketawa ngakak bukannya marah.


"sensi amat sih bro lama gak ketemu ketemu kamu udah punya istri aja" aku yang bingung cuma bengong.


"kenal " bisikku pada Raffi.


"kami teman SMA dulu, teman sama sama bandel nya,tapi kami pisah pas masuk kelas tiga"jawab sang dokter menjawab bisikan kepada Raffi yang hanya melotot.


"udah udah buruan periksa kamu kelamaan pindah dokter aja yuk dek jangan di sini"


"apaan sih Mas aku sudah dua kali periksa di sini udah cocok sama dokternya"


"ayo sini, tolong dibantu sus"


"wah udah mulai kelihatan ya ini kepalanya meskipun masih kecil usianya masih enam belas minggu"


"kalau udah enam belas Minggu apa boleh melakukan hubungan suami istri"


"mas mas"bisikku sambil mencubit pahanya.


"udah boleh tapi jangan terlalu kasar harus pelan-pelan, santai aja Bu udah biasa pertanyaan kayak gini"


"ini seperti biasa saya kasih vitamin, bro minta nomor teleponnya dong"


"buat apa"


"komunikasi lah ngopi-ngopi bareng dan lama kita nggak ada komunikasi"


"kalau nggak mau ngasih gue minta aja nomor telepon istri mu aja kalau gitu "kata dokter William karena tidak ada jawaban dari Raffi.


"berapa nomor lo sini aku miscall"setelah mereka bertukar nomor ponsel kami segera keluar ruangan untuk mengantri obat.


"kalau dia temanmu berarti dia kenal Ayu juga dong Mas"Raffi tidak menjawab hanya mengangguk kan kepala.


"terus tahu yang menimpamu berarti dia salah satu teman yang meninggalkanmu dong"


"dia bukan teman satu sekolah tapi musuhku saat kami tawuran balapan liar dia sering menjadi musuhku"


"oh pantes mukamu asem kayak gitu tapi sepertinya dia kayak kamu Mas udah tobat"


"belum tentu siapa tahu dia belum taubat"


"kok Mas gitu ntar kalau aku tudu Mas belum tobat gimana marah nggak"


"eh kok gitu sih dek"


"makanya jangan berprasangka buruk sama orang,"


"kamu aja apa prasangka buruk ama Ayu dek"


"Ya gimana aku nggak berprasangka buruk kamu ngobrol sambil senyum-senyum aku tanya dari mana cuma bilang ketemu teman ,kalau kamu bilang ketemu teman lama namanya ini orangnya cewek gitu kan enak aku nggak perlu prasangka"statusku.


"coba sekali-kali aku tak ngobrol sama cowok sambil senyum-senyum Mas marah nggak"


"eh kok jadi balas dendam sih dek nggak boleh"


"Ibu Ika Pratiwi" panggil sang apoteker menghentikan perdebatan kami.


"Kamu duduk aja mas yang ngambil"


"Mas pulangnya mampir belanja yu aku mau beli baju ,baju ku banyak yang sempit"


"ok tuan putri " katanya tidak lupa kami menengok Ratih,tapi Ratih sedang tidur jadi kami tidak bisa berlama-lama dan kabar baik nya Ratih lagi hamil muda,tapi ketika kami mau pulang sampai di tempat parkir mendapatkan hujan mulai turun, ahkirnya gagal rencana belanja ku.


"dek "


" hm " jawab ku karena masih berusaha melepaskan baju ku.


"sini mas bantu " kata nya sambil melepas blouse ku,


"dek di sini anak kita tumbuh " kata Raffi sambi mengelus perut ku.


"sini dek aku mau denger suara dedek "


"mau ambil baju mas" kata ku tak gubris Raffi di menundukkan ku di pinggir ranjang dan dia duduk di bawah dan langsung mencium perut ku yang sedikit kelihatan.


"sehat sehat terus sayang, jangan repotin bunda"


"mas kumis mu bikin geli potong gih besok, udah mas geli " kata ku saat ciuman ciuman Rafi di perut berubah menjadi hisapan kuat dan meninggalkan bekas merah.


" mas "


" aku cuma mau memberikan tanda cinta ku pada anakku" kata nya dengan suara serak tapi tidak menghentikan kegiatan nya,


"mas" Panggil ku pada nya saat ciuman dan hisapan nya naik keatas perut di sertai jilatan seperti seekor kucing menjilati bulunya.


"dek sebelum buat adek buat ayahnya dulu ya dek"sebelum sempat aku protes Raffi sudah melepas dan membuang dan langsung menghisap seperti bayi kehausan.


"boleh ya dek,nolak dosa Lo"


" hmmm"