
Sudah satu minggu Raffi pergi seperti biasa pergi tanpa kabar,
"ma ma maem"
"maaem dulu sini habis itu kita jalan jalan ok boy" Fathar langsung bertepuk tangan gembira.
"sore Bu Raffi mau ke mana nih"
"sore juga ibu-ibu ini mau nyuapin Fathar maunya disuapin sambil jalan-jalan"
"ko gak ngajak aku sih ganteng " sapa Santi sambil menggandeng Syifa putrinya usia mereka terpaut Lima bulan, sedang dengan Rony terpaut 6 bulan. Langka
"Mbak besok hari Minggu kita jalan-jalan yuk"
"kemana "
"Kebun Binatang Taru Jurug seru kayanya "
"boleh ada apa aja di sana "
" Banyak ada berbagai jenis satwa, ada juga taman bermain dan pertunjukan seni Solo seperti Reog yang akan menghibur kita "
"boleh, ajak Rony sekalian biar rame "
"ok "
Sesuai kesepakatan kita bertiga berangkat bersama dengan satu mobil, karena para suami belum ada yang pulang Jadi kita para Mahmud yang berangkat bersama anak-anak,
"naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali kiri kanan kulihat banyak banyak pohon cemara"suara nyanyi anak-anak mengiringi perjalanan kami berbagi lagu kami putar dan kita nyanyikan secara bersama menambah semangat anak-anak dalam wisata minggu ini.
"wah kalau itu namanya gajah kalau itu namanya harimau"terangku kepada Fathar yang di sambut antusias olehnya, kami berfoto bersama menaiki wahana yang tersedia sampai kejadian tak terduga
"awas ada monyet kabur "teriak salah seorang pengunjung, karena panik membuat suasana jadi tidak kondusif semua berlari mencari perlindungan masing-masing jadi kejaran monyet, secara spontan aku mendekap dan menggendong Fathar, begitu juga dengan Ratih dan Santi kami melindungi anak masing-masing dan ikut berlari sama pengunjung yang lain hingga nggak sengaja kakiku terkilir dan terjatuh, aku mendekap Fathar begitu erat saat monyet mendekat kearah ku.
"Alhamdulillah akhirnya ketangkap"seru mereka semua dan saat ku buka mataku nampak beberapa pegawai sedang mengamankan monyet tersebut.
"Ibu tidak apa-apa ,apa ada yang terluka"kata seorang petugas yang mendekatiku.
"tidak terima kasih"kataku sambil berusaha berdiri sendiri tapi karena kakiku yang terkilir membuatku kesusahan dalam diri.
"wah sepertinya ada yang terluka Bu"
"sebaiknya dibawa ke klinik biar diperiksa sama dokter klinik" karena Fathar terus menangis akhirnya aku putuskan untuk pulang dan berobat di rumah saja.
"Mbak ini kalau ketahuan suamimu bisa mati kita berdua"kata Santi setelah selesai mengantarku berobat di klinik, sedang anak-anak diasuh oleh Ratih di rumah.
"enggaklah enggak bakal tahu"
"Ya kalau pulangnya seminggu lagi nggak bakal tahu Mbak tapi kalau pulangnya besok ya pasti tahu"
"hehe ga lah namanya juga kecelakaan "
"kecelakaan gimana aku kan yang ngajak jalan-jalan, pulang-pulang kaki terkilir, tangan tergores,keningnya memar" selain kaki yang terkilir, tangan ku tergores panjang karena waktu terjatuh aku menahan tubuh Fathar dengan tangan ku supaya tidak terbentur aspal secara langsung dan kening memar karena terbentur trotoar.
"mampus aku Mbak"kata santi sedih karena saat nyampe di rumah nampak Raffi lagi melepas sepatu nya.
"udah tenang sana langsung pulang suami mu pasti juga pulang" takut turun dari motor Santi dan langsung pulang.
"assalamualaikum udah pulang mas"
"waalaikumsalam barusan dari mana ko Fathar ga di ajak "
"dari klinik"
"periksa kehamilan "
"hah siapa yang hamil "tanyaku balik.
"ya kamu lah dek sebelum aku berangkat Aku ngobrol sama Willy flek saat datang bulan bisa juga hamil muda lho"
"oh bukan,aku ambil Fathar dulu di rumah Riko,mas mandi biar bersih baru boleh pegang Fathar"
"siap jendral "kata Raffi masuk ke dalam kamar tanpa memperhatikan, ku hembuskan nafas lega karena Raffi tidak memperhatikan ku.
"ini Fathar, gimana suamimu tahu gak "tanya Ratih sambil mengantar Fathar.
"untuk saat ini aman dia belum tahu nggak tahu deh kalau nanti"
"Ya udah aku balik dulu ntar suami ku curiga"
"ok" begitu Ratih pulang aku bergegas masuk dengan menggandeng tangan Fathar.
"Dek tadi aku mentraktir anak-anak satu tim makan di restoran mewah buat makan siang, kira kira habis setengah gaji ku sebulan " kata Raffi ke luar dari kamar mandi dengan menggosok rambut nya.
"ini kenapa mas"kataku saat melihat pundak kanan Raffi ada bekas goresan luka yang lumayan panjang.
"tergores pisau ga pa pa sudah biasa"
"berati udah makan aku nggak perlu menyiapkan makan lagi kan"
"enggak aku mau istirahat dulu, papa bobok dulu ya ganteng"sambil mencium pipinya Fathar di lanjutkan memberi ciuman di kepala ku yang masih tertutup jilbab instan.Setelah Raffi masuk kamar aku membuat kan Fathar susu karena udah menguap dan mata tampak mulai mengantuk.
"gimana mbak "tanya Santi yang menghampiriku begitu aku membuka pintu rumah.
"masih belum tahu sekarang orangnya lagi tidur di kamar dan Fathar tidur di depan televisi"
"tenang tidak ada yang salah ini murni kecelakaan"kataku berusaha menenangkan Santi.
"tapi aku yang mengajak Mbak"
"udah kamu tenang sekarang kalian pulang istirahat kita semua pasti juga capek ya kan" Setelah semuanya pulang ke rumah masing-masing aku juga istirahat dengan tidur rebahan di samping Fathar.
"Dek adzan ashar salat dulu " kata Raffi berusaha membangunkan ku sambil menciumi pipi ku.
"kok tumben di dalam rumah jilbab nya gak di lepas"
"ketiduran "kataku sambil berusaha duduk dan bersandar di sofa.
"jamaah yuk"
"nggak ke masjid "
"nggak mau jamah sama istri ku" saat selesai ngambil wudhu Aku berusaha menutupi memar di kening aku dengan rambutku.
"kok jalanmu aneh kenapa dengan kaki mu"
"terkilir "
"udah di cek "
"tadi udah di klinik "
"yang diantar Santi tadi"
"iya ayuk buruan sholat Ashar dulu "kataku mengalihkan percakapan dan berhasil kami shalatnya tenang untuk sementara aku bisa mengundur supaya Raffi tidak tahu.
"jagoannya papa udah bangun"kata Raffi sambil mencium putranya.
"hari ini main apa aja boy"
"lihat binatang ada monyet mengamuk" kata Fathar dengan bahasa Cadell nya.
"Dede lihat monyet di mana"
"jauh naik bem sama Rony dan Syifa "
"oh ya senang nggak"
"iya senang tapi mama berdarah "katanya sambil menunjukkan lengan dan kening ku, seketika aku menutup mataku terbongkar sudah kata ku dalam hati.
"Mama berdarah di mana" Fathar segera mendekati ku dan menujuk luka yang tadi di lihat nya.
"sekarang buka jilbabmu dan ganti bajumu pakai lengan pendek"kata Raffi dengan tugas seolah-olah Aku adalah anak buahnya.Aku hanya pasrah mengikuti perintahnya aku mengganti bajuku dengan tanktop aku keluar dengan rambut yang sudah aku ikut ke atas, tanpa diperintah aku langsung duduk di pangkuannya harus dirayu nih biar nggak marah kataku dalam hati.
"kenapa duduk di sini mau merayu aku "
"enggak mana Fathar" kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"main sama Roni"
"ini kenapa cerita sendiri atau masang yang cari tahu"
"tadi kami jalan-jalan di Kebun Binatang Taru Jurug setelah bermain-main tiba-tiba ada monyet ngamuk jadinya kayak begini"
"terus dedeknya Fathar"
"emang aku hamil"Raffi memejamkan matanya saat mendengar perkataanku.
"biar tidak salah dan tidak terjadi yang tidak diinginkan sekarang ganti baju kita ke dokter kandungan"
"kita belum buat janji ketemu dokter"
"nggak usah janji aku langsung hubungi William kamu ganti baju"dengan terpaksa aku mengikuti kemauannya kalau aku bantah bisa marah.
"kalau ternyata tidak hamil malu Mas"bisikku pada Raffi, sedang fathar kami titipkan di rumah Ratih.
"ngapain malam kita bayar ini"
"kok kita duluan Mas"kata ku pas nama ku di panggil padahal aku baru nyampe.
"itulah untung nya kalau dokternya teman sendiri"
"gimana Udah dicek"
"belum aku habis ketemu kamu aku mendadak ada kegiatan baru selesai hari ini ,tapi pas aku pulang dari kegiatan lihat dia kakinya terkilir ,lengannya tergores keningnya ,memar katanya terjatuh Jadi aku minta supaya kamu cek dulu"
"oke ayo kita cek Suter tolong di bantu"
"tapi saya merasa nggak hamil dok"
"nggak papa kita cek aja yuk biar suami tidak was was"Fathar
"bener dugaan kita Raffi umurnya udah 10 minggu berarti jalan 3"
"hah benar saya hamil dok"
"iya dengarkan itu di bilangin ga percaya untuk anakku tidak apa-apa" setelah bisa membantu buat orang dari panjang pemeriksaan. Karena aku yang merasa bersalah jadi dari sepanjang selesai diperiksa sampai mengantri obat dan sampai ke rumah aku hanya diam dan Raffi terus jadi mengomel .