
"Dek ko sepi pada kemana sih juga tumben Difa dan Isal ga ada suara" ucap Fathar saat masuk rumah dinas.
"Diva sudah tidur dikamar Isal, tadi habis mewarnai buku baru, eh malah ketiduran mau tak pindah kata Isal biar tidur sama dia aja" ucap Feby yang baru keluar dari kamar.
"Ya udah aku mau mandi dulu banyak kuman" ucap Fathar langsung masuk kamar mandi.
"Makan dulu mas ini teh hijaunya kiriman dari mama".
"Gimana Uda bisa berbaur di sini,betah ga di sini?"
"Kalau bertanya itu satu-satu biar enak jawabnya " ucapku.
"Maaf ya udah gimana ibu-ibu disini ?".
"Sejauh ini baik welcome mungkin juga karena aku istri atasan mereka kali ya" ucapku,karena sejauh itu yang kurasakan.
"Gak masalah tar lama-lama juga akan ketahuan yang tulus dan mana hanya baik di depan kita " ucap Fathar.
"Aku lebih suka yang biasa saja tidak berlebihan tapi juga tidak terlalu cuek " ucapku.
"Dek aku dengar hubungan *** itu di anjurkan buat memperlancar proses melahirkan " ucap Fathar keluar dari kamar membuat Feby yang lagi duduk di depan televisi sambil mengemil buah langsung mengalihkan pandangan melihat kearah suaminya.
"Berhubungan **** saat hamil yang mas bilang itu saat kehamilan menginjak trimester ketiga artinya di bulan yang ke-7,8 dan ke-9 bukan sekarang, itu dianjurkan untuk merangsang kontraksi, karena ****** mengandung prostaglandin yang dapat mempercepat proses persalinan" ucap Feby kesel , dasar modus kataku dalam hati.
"Terus kalau sekarang gimana boleh gak?" tanya Fathar.
"Boleh tapi gak sekarang aku masih capek tadi habis perkenalan dengan ibu-ibu asrama ,ini kakiku masih pegal semua " keluh Feby.
"Sini aku pijitin kakimu" ucap Fathar sambil mengangkat kakiku dan di letakkan di atas pahanya lalu mulai di pijitnya pelan-pelan sampai sang istri ketiduran.
"Dek nanti kamu acara bakti sosialnya sampai jam berapa selesainya ?" tanya Fathar.
"Jadwalnya sih sampai makan siang kan habis bakti sosial kami ada acara makan siang bersama-sama" ucap Feby sambil merapikan barang bawaannya.
"Diva kamu aja apa kamu titipkan mbak Ajeng ?" tanya Fathar mbak Ajeng istrinya om Bayu rumahnya berada di depan ku, sebulan disini om Bayu menawarkan rumah tetangganya yang berada di depannya rumah om Bayu. Rumah warisan orang tua yang anaknya tidak ada yang mau ngurusin,karena sudah pada punya rumah jadi lebih praktis dijual dan hasilnya dibagi rata semua anak dan saudaranya.
"Tak bawa aja mas bakti sosialnya ke panti asuhan ini biar Diva juga belajar berbagi dengan sesama " ucap Feby.
" Isal bawa kunci jangan lupa ya" ucap Feby yang di ok kan dengan tangan oleh Isal.
"Tapi jujur perasaan mas tidak enak Lo dek" ucap Fathar.
"Nggak enak kenapa ?" tanya Feby.
" Itu perutmu sudah besar sudah mau melahirkan kenapa tidak istirahat di rumah saja sih, tidak usah ikut kegiatan " ucap Fathar.
" Gak usah kuatir berdoa saja lagian Hari Perkiraan Lahir juga masih kurang seminggu lagi" ucap Feby.
Setelah Isal berangkat sekolah baru Feby berangkat bareng Fathar dengan mengendarai mobil pribadi mereka yang sudah penuh di isi mainan-maina bekas Diva yang sudah di bersihkan atau diperbaiki hingga terlihat baru.
"Agendanya mau menyalurkan bantuan apa aja?" tanya Fathar.
"Apa aja yang layak pakai yang di punya ibu-ibu tidak harus baru,itu mainan Diva sama mainan anak om Bayu yang udah di perbaiki dan dibersihkan" ucap Feby.
"Jangan lupa sisihkan uang kita juga" ucap Fathar.
"Sudah aku gabung sama punya ibu-ibu PIA Ardhya Garini, bahkan ada yang nanya itu perasaan kemarin gak sebanyak itu,aku jawab aja ada pihak donatur" ucap Feby sambil tertawa kecil.
Sesampai di lanud mereka berpisah Feby menuju gedung serbaguna yang sudah ramai ibu-ibu PIA yang hendak ikut kegiatan bakti sosial. Selain menyalurkan bantuan kami juga mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis,yang dokternya diambil dari dokter ibu PIA yang bersedia menyumbang dan tentunya dokter Rumah Sakit dr M. Munir Lanud Abdulrachman Saleh .
"Ibu Fathar kelihatan pucat mau langsung pulang atau ikut kegiatan selanjutnya " ucap ibu Galih istri kapten Wahyudi.
"Sepertinya perut saya sedikit tidak nyaman saya langsung pulang aja tidak apa-apa ?"tanyaku.
"Tidak apa-apa serahkan saja acaranya pada kami "ucapnya.
"Ya udah terimakasi kalau begitu saya pulang dulu maaf tidak bisa mengikuti acara sampai selesai " ucapku tidak enak hati.
Dengan diantar Sersan Nur aku di antar pulang.
"Langsung rumah sakit aja perutku ko mulesnya tambah parah ya" ucapku.
" Oya kamu benar " ucapku dan langsung ku hubungi no Fathar sampai panggilan ke 3 tetep tidak di angkat, ahkirnya aku kirim pesan kepadanya untuk segera menuju rumah sakit karena perutku mulai kontraksi, karena tidak ada jawaban aku ahkirnya aku kirim kan pesan kalau perutku mulai mules. Setelah ku masukkan kembali ponselku mules di perut ku malah hilang.
"Sersan Nur mulesku hilang berhenti di masjid atau mushalla aja dulu saya mau sholat Dzuhur " ucapku yang langsung di jalankan oleh nya. Setelah mulesku reda dan mobil kami berhenti kami menjalankan sholat Dzuhur secara bergantian karena harus menjaga Diva yang tertidur di mobil.
"Sersan langsung ke rumah sakit perut ku mules lagi" ucap ku sambil menahan rasa sakit.
"Siap Bu laksanakan "ucapnya.
"Gak usah formal santai saja aku bukan bapak "ucapku sambil tersenyum. Sesampai di rumah sakit nampak Fathar berdiri mondar-mandir di depan ruang UGD.
"Ko bisa lama sih nyampe rumah sakitnya , terrus kenapa teleponku ga diangkat " ucap Fathar sambil membantuku duduk di kursi roda.
"Satu -satu nanyanya ,tadi mulesku hilang jadi aku berhenti dulu di mushola untuk sholat Dzuhur dulu,itu Diva masih tidur di dalam mobil lo" ucapku.
"Iya biar sersan Nur yang jaga kamu biar di periksa dokter dulu" ucap Fathar.
Setelah dokter memeriksa ternyata baru pembukaan 3.
"Kenapa gak operasi aja sih dek kaya Diva dulu , aku tidak tega melihatmu dari tadi merasakan sakit dan melihat kamu yang berwajah pucat belum lagi keringat dingin mu" ucap Fathar.
" Kalau Diva dulu dioperasi karena kondisinya aku yang sangat lemah dan itu gara-gara kamu " ucapanku ketus sambil menahan sakit.
" Iya maaf, maafkan mas,mas salah " ucapnya.
"Karena itu lebih baik kamu diam atau sana keluar saja temani Diva di luar " ucapku judes, sungguh nikmat proses persalinan sekarang karena aku merasakan tahapan demi tahapan tidak seperti Diva dulu ,karena aku kondisi pingsan jadi dilakukan tindakan operasi.
Hingga 3 jam berlalu aku masih menahan rasa sakit dan mules yang mulai datang dalam waktu cepat dan sering.
"Mas aku ngompol " teriakku membuat Fathar segera menghampiri ku.
" Apa dek ngompol " ucap Fathar memastikan yang dia dengar.
" Iya buruan panggilin dokter atau bidan air ketuban sudah pecah" ucapku, tanpa bertanya lagi Fathar segera meluncur mencari dokter.
"Ketubannya sudah pecah ya Bu , sekarang Saya cek dulu ya Bu" ucap dokter Widy yang baru datang dengan ekspresi tenang.
" Wah pembukaannya udah sempurna, Bapak silahkan berdiri disampingnya istri beri semangat buat ibunya ya" ucap dokter Widy.
Setelah proses melahirkan normal ku lalui hari ini ada rasa bangga yang kurasakan, mengingat waktu melahirkan Diva aku dalam posisi tak sadarkan diri.
"Terima kasih dek , sudah melahirkan seorang jagoan ganteng buat mas " ucap Fathar sambil mencium seluruh muka ku, setelah mengadzani putra kami.
"Banci masa tadi keluar dari kamar persalinan langsung pucat mukanya dan langsung lemes, ga malu itu sama seragam kebanggaan " ledek Om Bayu kepada Fathar, Om Bayu masuk bersama mbak Ajeng istrinya beserta kedua anaknya dan Diva.
"Selamat ya Feby udah dapet sepasang hehe " ucap mbak Ajeng yang mempunyai 2 anak laki-laki semua.
"Terimakasih mbak,maaf merepotkan " ucapku.
"Tidak apa-apa kamu tenang saja Diva anteng bersamaku,kamu fokus aja sama jagoan mu" ucap mbak Ajeng.
"Mbak Ika paling juga lagi nyari tiket pesawat buat kesini, jadi puas-puasin besok atau tar malam kalau mbak Ika datang sudah kalah kamu" ucap Om Bayu,Diva kalau ada neneknya manjanya minta ampun dan neneknya terlalu memanjakan nya.
Aku yang dulu menikah hanya karena komitmen bahkan ada rencana mau mengahkiri pernikahan kami ,tidak menyangka akan sampai ke tahap ini, semoga perjalanan pernikahan kami akan berakhir hingga hayat memisahkan dari raga ini. Meski aku sadar akan banyak batu di depan semoga kami bisa bertahan sampai ahkir hingga raga ini tak bernafas.
"Terima kasih kau sempurnakan kebahagiaanku kau jadikan aku lelaki yang paling bahagia, aku tidak berjanji untuk tidak membuat menangis tapi aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dengan cintaku dan sayangku" ucap Fathar sambil mendekap Feby melihat putranya yang tidur dengan pulas di box bayi.
"Aku berharap hanya maut yang memisahkan kita" ucapku.
"Aku ingin menghabiskan hari tuaku hanya dengan bersamamu dan anak cucu kita nanti" ucap Fathar dengan ciuman di rambut Feby.
" Aku juga mau di cium " ucap Diva sambil minta di naikan di atas kasur rawat ku.
"Sini Ayah bantu "ucap Fathar membantu Diva naik ke atas kasur.
"Sini aku fotoin kalian " ucap Om Bayu yang melihat ke arah kami.
"Sekalian Dede ajak " ucap Diva yang langsung ditanggapi oleh Mbak Ajeng dengan membawa si kecil kearah ku.
Dengan duduk di ranjang pasien dengan posisi menggendong putraku dan Fathar menggedong Diva dengan posisi berdiri di sampingku, Om Bayu bertindak sebagai fotografer dan mbak Ajeng penata gayanya ๐.