My soul mate

My soul mate
109. Mallet finger



Setelah Febi dan Bian meninggalkan tempat mereka tadi sekarang mereka berada di sebuah rumah makan Chinese di area mall tersebut.


" Maafkan insiden yang terjadi tadi" ucap Bian penuh sesal.


" kenapa Anda harus minta maaf ini di luar perkiraan kita, lagian bukan Anda yang menghina saya santai saja " ucapku.


" Zahra itu adalah mantan kekasih saya sewaktu kami masih menjadi Taruna, waktu itu dia masih tahun pertama dan saya tahun terakhir. Dulu Kami sempat menjalin hubungan selama setahun tapi setelah kami mengalami LDR hubungan kami menjadi renggang karena saya bertugas di Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh sedang dia masih pendidikan.


Setelah kita putus karena LDR kita menjalin hubungan lagi setelah Zahra bertugas di Lanud Hang Nadim, Batam. Tapi kali ini kendalanya adalah orang tua saya tidak setuju ,mereka bilang Zahra hanya memanfaatkan pangkat dan jabatan saya beserta orang tua saya" cerita Bian.


"Karena itu Anda belum menikah sampai sekarang masih ada cinta buat dia " tanya Feby.


" Kami putus tahun yang lalu saat aku mengetahui dia hanya mencintai jabatan dan uangku serta aku tidak menyukai sifatnya yang suka merendahkan dan meremehkan orang di sekitarnya" ucapnya.


"Sekarang gimana dengan desain ini Jadi anda menggunakannya" ucapku karena aku tidak mau membahas lagi tentang wanita itu.


"Tentu saya akan menggunakannya dan mengenai pembayaran akan saya transfer langsung ke rekening anda" .


" Terima kasih kalau begitu saya pamit jika masih ada kendala silakan hubungi saya" pamit Feby setelah Bian menunjukan bukti transaksi m-banking.


"Apa anda membawa kendaraan kalau tidak biar saya antar".


"Iya saya menggunakan sepeda motor, permisi saya duluan ".


Aku bergegas meninggalkan mall dan segera pulang karena cuacanya sepertinya akan turun hujan.


Aku tidak tahu apa yang terjadi semua begitu cepat saat tiba-tiba ada mobil yang berlawanan arah yang meluncur begitu cepat kearah ku, meski aku sudah berusaha menghindar tetapi stang motorku tetap tersenggol yang mengakibatkan aku terjatuh.


" Aduh maaf saya benar-benar minta maaf tadi saya melihat anak kecil mendadak menyeberang saya coba menghindar tapi malah mengenai Mbak.


Bagaimana ini mana yang luka apa kita ke dokter sekarang aja ,masalah motor nanti saya akan betulkan saya janji sekarang kita obati luka mbak aja dulu gimana " ucap wanita paruh baya mungkin jika mama hidup seumuran dengan Mama atau mungkin lebih mudah mama.Bicara panjang tanpa henti mungkin dia khawatir dan merasa bersalah.


" Tidak perlu ke rumah sakit Bu hanya luka ringan" ucapku berusaha menenangkannya.


" Kita tidak tahu itu luka ringan atau tidak sebelum dokter memeriksanya sebaiknya kita kerumah sakit sekarang " ucapnya kekeh mengajakku ke rumah sakit.


" Ya tuhan Feby gimana bisa terjadi mana yang luka " ucap Bian yang tiba-tiba muncul.


"Ohh. Mas Bian tidak apa-apa Mas hanya insiden kecil" ucapkan saat Bian membantuku bangun.


" Ya ampun Feby ibu jarimu , jari-jari tanganmu terluka " ucap Bian.


"Sebaiknya di bawah kerumah sakit" ucapan wanita yang tadi menabrak ku.


" Tidak perlu nanti saya obati sendiri di rumah" ucapku.


" Lukamu harus dibawa ke dokter biar tidak infeksi sekalian minta obat biar cepat sembuh ingat pekerjaanmu menggambar mengandalkan jari-jari tanganmu"ucap Bian.


"Iya mbak biar saya antar ,masalah motor kita titipkan saja ke bengkel yang ada di sini biar dibetulin sekalian nanti biaya saya yang tanggung jawab " ucap wanita itu.


"Ibu ini?" tanya Bian.


"Saya Ika, panggil saja Mama Ika saya tidak sengaja menabrak adik ini karena menghindari anak kecil yang menyebrang secara mendadak" ucap ibu Ika.


"Saya tidak apa-apa Ibu, Ibu tenang saja saya juga tidak akan menuntut Ibu masalah biaya motor insya Allah saya masih sanggup ,lagian saya juga salah sedikit melamun tadi jadi tidak bisa menghindar" ucapku.


" Tetap saja saya merasa bersalah Apalagi setelah saya tahu pekerjaan anda sangat bergantung pada jari-jari tangan anda yang terluka" ucapnya Keke ingin membawaku ke rumah sakit.


Dengan sangat terpaksa aku mengikuti kemauan Mama Ika dan Mas Bian untuk ke rumah sakit mengobati jari-jari tanganku, selama perjalanan di dalam mobil mama Ika aku sempat mengirim pesan pada Bagas supaya menjemput di rumah sakit.


" Dok teman saya seorang arsitek bagaimana jari-jari tangannya yang terluka apakah tidak parah " ucap Bian.


"Bisa saya cek sebentar " ucapkan dokter sambil melihat jari tangan ku yang terluka.


" Sepertinya mengalami Mallet fingerĀ  jadi harus di Belat" ucap dokter membuatku sedikit shock.


"Mallet finger gejala dimana jari tidak dapat meluruskan ujung jarinya karena tendon yang menghubungkan otot dengan tulang jari meregang atau robek" jelas dokter.


" Apa karena jari telunjuk saya karena terjepit ya dok" tanyaku.


"Kondisi ini biasanya cedera olahraga terutama pada olahraga basket dan baseball tetapi juga dapat terjadi karena terjepit atau terbentur suatu benda keras yang menekan ujung jari" jelas sang dokter .


" Biar cepat sembuh bagaimana pengobatannya dok" tanya Ika yang sangat merasa bersalah.


"Biasanya dokter akan memasang splint pada jari anda selama 8 minggu untuk memperbaiki fungsi dan meluruskan jari.Kami sarankan agar anda berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah tulang biar lebih jelas " ucapnya, dengan mengikuti saran dokter ahkirnya kami menemui dokter spesialis bedah tulang. Setelah dipasang splint di jariku agar ujung jari tidak menekuk, karena dapat memperlambat penyembuhan dan mengurangi keefektifan pengobatan.Dokter juga memasang belat ditempelkan dan harus dipakai siang dan malam selama 6 sampai 8 minggu agar kedua ujung tendon yang robek tetap bersatu dan sembuh. Belat hanya dilepaskan saat hanya saat hendak dibersihkan.


" Mama sangat menyesal dan minta maaf dengan apa yang terjadi " ucap Ika dengan penuh penyesalan.


"Ini musibah tante tidak perlu dipikirkan mungkin sudah nasib saya" ucapku berusaha mengenakannya.


" Sayang kamu tida apa-apa " ucap laki-laki seumuran tante Ika mungkin suaminya datang menghampiri kami dan langsung memeluk Tante Ika.


"Aku tidak apa-apa tapi adik ini tangannya luka" ucapnya.


"Saya suaminya perkenalkan saya Raffi,saya minta maaf atas kelalaian istri saya" ucapnya .


"Tidak apa-apa Om namanya juga musibah kita tidak dapat menghindar"ucapku.


"Anda bukannya Mayjen Raffi.." ucap Bian tapi belum selesai sudah di potong yang bersangkutan.


" Panggil saja Om Raffi saya Sudah pensiun " ucapnya sambil tersenyum, senyumnya mirip punya Fathar.


"Maaf saya harus pergi duluan saudara saya menunggu di depan" ucapku.


" Tapi bagaimana dengan lukanya nak" ucap Ika masih tidak tenang.


"Insya Allah tidak apa-apa mungkin ini teguran Tuhan buat saya supaya istirahat dulu" ucapkan sebelum berpamitan pergi dengan mereka semua.


"Apa yang terjadi" ucap Bagas saat aku sudah duduk di sampingnya di dalam mobil.


" Ada ibu-ibu yang tidak sengaja menabrak aku dia menghindari anak kecil yang menyeberang" ucapku sambil memperlihatkan tanganku dan beberapa luka ringan lainnya.


" Itu jarimu bagaimana kenapa bisa sampai dibungkus kayak begitu" ucap Bagas.


" Jari telunjukku kejepit atau terbentur tadi aku juga tidak tahu pastinya karena begitu cepat akibatnya tidak dapat diluruskan" ucapku sedikit sedih.


"Tidak apa-apa mungkin ini artinya kamu harus istirahat untuk sementara waktu" ucap Bagas menenangkan.


" Mungkin kamu benar teguran Tuhan agar aku tidak gila kerja".


"Gimana dengan desain gambar yang kamu pegang jika ada yang belum selesai serahkan saja padaku".


"Sudah hampir selesai semua tinggal finishing".


" Ok kamu sebaiknya istirahat saja ntar biar aku yang kerjakan, jangan banyak bergerak istirahat yang cukup biar jarimu cepat sembuh dan bisa menggambar lagi".


" thanks my brother".