
"Apa kamu yakin tidak ingin memberitahu keadaanmu yang sebenarnya kepada istrimu" ucap Raffi pada putranya yang duduk di kursi roda.
" Jangan misi belum 100 persen berhasil ,aku masih punya firasat masih ada antek-antek nya yang mengawasi ku sekarang " ucap Fathar. Ayah dan anak yang saling mengobrol layaknya teman sambil menikmati angin malam yang dingin di temani rokok di tangan masing-masing duduk di taman rumah sakit.
"Aku dulu tidak pernah membahas pekerjaan dengan kakek mu karena pilihan papa yang tidak sama dengan bidang kakek mu" ucap Raffi.
"Sekarang papa mengalami hal yang tidak pernah papa lakukan dengan kakek gimana rasanya?"tanya Fathar.
"Ternyata menyenangkan tapi sayangnya banyak hal yang tidak kami lewati bersama,kamu tahu sendiri kesibukan kakakmu"ucap Raffi , yang di benarkan Fathar melalui anggukan.
" Tadi Mama mengirim foto Feby bersama dengan Adiva sepertinya di sebuah butik, tetapi kenapa Feby masih memakai masker?" tanya Fathar.
" Ya mungkin sudah kebiasaan kali , hampir 3 tahun dia memakai masker kalau nggak pakai cadar setiap kali keluar rumah " ucap papa.
" Tapi benarkan dia sudah mau menjalani operasi buat wajahnya" ucap Fathar memastikan.
" ya kalau kamu nggak yakin ya kamu lihat aja sendiri ".
"Aku mau memeluk Adiva " ucap Fathar yang sangat rindu dengan putrinya.
" Ya udah temuin istrimu, lagian kenapa pura-pura amnesia segala " ucap Raffi yang di balas Fathar dengan dengusan.
" Ko aku baru tau papa sangat-sangat menyebalkan ya sekarang ".
"Papa menyebalkan juga gara-gara kamu" gerutu Raffi.
"Ko aku?"
" Siapa yang nyuruh papa ke sini setiap malam kamu kan" dengus Raffi.
" Habisnya aku nggak ada temennya"ucap Fathar tanpa dosa.
" Salah kamu sendiri kalau siang tidur terus dan kenapa juga pura-pura amnesia membuat semua orang bingung mau ngomong apa sama kamu, pada takut kamu sakit kepala lagi".
" Waktu pertama aku sadar aku memang lupa siapa aku , aku mulai ingat pas kepalaku sakit banget yang membuatku pingsan itu,tau sendiri mama dan Yumi menjejali otakku dengan foto anak dan istriku" jelas Fathar tersenyum mengingat perjuangan mama dan adiknya untuk memulihkan ingatannya.
" Kalau boleh tahu mama Diva hanya berdua dengan nenek?". Suara percakapan orang membuat Fathar dan papanya mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. Nampak seorang wanita berhijab menggendong seorang anak kecil sambil berjalan berdampingan dengan dokter laki-laki yang mungkin seumuran dengannya dan di belakangnya diikuti oleh seorang wanita paruh baya.
" Iya Pak dokter" jawabnya sopan, meski dia memakai masker nampak sekali kalau dia menjawab dengan tersenyum.
"Ini jam 03.00 pagi tidak apa-apa pulangnya hanya berdua saja" ucap dokter.
" Itu Feby kenapa dia di rumah sakit pada jam segini " bisik Raffi pada Fathar.
"Siapa bilang hanya berdua,kan kami bertiga dengan putri saya dok" ucapku yang disambut gelak tawa oleh dokter .
" Nggak usah cemburu " bisik Raffi saat melihat sang putra mencengkram sandaran tangan kursi kursi rodanya.
" Anda orang yang lucu dan menyenangkan kalau boleh tahu mama Diva namanya siapa ?"tanya dokter.
" Aduh dokter Apa arti sebuah nama cukup panggil aja mama Diva".
" Bagaimana kalau saya antar pulang " tawar sang dokter,membuat Fathar hendak menjalankan roda kursinya tapi di cegah papanya.
" Terima kasih Dok, saya tidak mau merepotkan lagian Jakarta 24 jam ramai terus, Rumah saya juga dekat kok dari sini" ucap Feby berusaha menolaknya secara halus.
" kalau begitu boleh nggak saya simpan nomor teleponnya Mama Diva" kata dokter.
" Kalau saya bilang nggak boleh ntar saya di bilang sombong lagian pasti dokter juga sudah menyimpan nomor saya" .
" Hahaha bener sekali yang Anda bilang saya bertanya hanya sebagai formalitas doang, perkenalkan saya dokter Dika" ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman yang di sambut dengan baik sebelum ahkirnya masuk ke dalam mobil.
" Kayaknya kalau kamu terlalu lama amnesia istrimu bakal diambil orang, beruntung sekali dokter itu mendapatkan istrinya yang cantik bonus anak yang Gemoy seperti Adiva" ucap Raffi membuat Fathar geram.
" Saudaranya tadi dok?" tanya Raffi kepada dokter Dika yang kebetulan lewat di hadapannya.
" Oh bukan pasien tadi putrinya demam tinggi hampir 40 derajat" jawabnya membuat Fathar dan Raffi saling memandang.
" Terus keadaan putrinya gimana kok sudah diizinkan pulang?" tanya Fathar merasa cemas dengan putrinya.
" Anda berpakaian pasien tapi kok jam segini belum istirahat malah masih ngerokok di sini" tegur dokter saat memperhatikan Fathar.
" Pengen menikmati malam dong melihat bintang"ucap Fathar asal.
" Ini bukan malam ini sudah pagi, jam 03.00 pagi malahan cepat istirahat biar cepat pulih " ucap dokter Dika sebelum meninggalkan kedua orang aneh menurut dokter Dika.
"Adiva sakit apa ya pa?"tanya Fathar.
" Mana papa tahu papakan di sini bersama kamu, lagian anak seumuran Diva emang kayak begitu sering sakit-sakitan dengan perubahan cuaca" jelas Raffi.
" Pasti Feby capek mengurus anak seorang diri " ucap Fathar.
" Kalau kamu kasihan dan tahu capeknya mengurus anak seorang diri, jadi biarkan Feby menikah dengan lelaki yang lebih baik dari kamu " ucap Raffi yang langsung di tatap tajam sama sang putra.
" Aku anakmu bukan sih pa" kesal Fathar.
" kamu itu anaknya Bayu sama Radit makanya kelakuanmu 11 12 sama mereka" ucap Raffi.
"Salah sendiri tidak pernah ada buatku tidak seperti Om Bayu dan Om Radit yang selalu ada waktu aku kecil " ucap Fathar.
" Balik aja kamu ke kamar sekarang papa mau pulang aja sebentar lagi subuh,pacar mu bentar lagi datang " ucap Raffi.
" Dia bukan pacarku, aku juga heran kenapa dia bisa tahu aku di rumah sakit ini, lagian sejak kapan sih dia pindah tugas dari Padang ke sini" ucap Fathar.
"Bukannya dia yang menemukannya ?" tanya Raffi.
"Bukan aku terdampar di Pantai Tanjung Pinggir yang terletak di kawasan Sekupang" jawab Fathar.
"Jangan-jangan " ucap mereka kompak.
Setelahnya mereka kembali ke ruang perawatan Fathar dan Raffi pulang ke rumah.
" Mah gimana kabar cucu kita ?" tanya Raffi.
"Baik pa tambah gemesin " jawab Ika.
" Mah selama aku dipingit Maaf Feby dan gemoy bawa ke sini ma biar aku nggak bosen" ucap Yumi.
" Dipingit cuma seminggu ini, sabar kenapa " ucap Ika.
"Mama begitu" jawab Yumi sambil cemberut.
"Pa tidak sebaiknya Feby dikasih tahu keadaan Fathar sebenarnya takutnya ntar mereka ketemu malah jadi masalah" ucap Ika.
"Iya entar kita kasih tahu kalau Raffi mengalami hilang ingatan,biar dia tidak shock" ucap Raffi. Sebenarnya Raffi merasa bersalah karena telah membohongi istrinya, tapi mau gimana lagi ini demi keselamatan menantu dan cucunya dan keberhasilan tujuan Fathar.
"Mama hari ini mau ke rumah sakit menjenguk kakakmu karena kamu sudah dipingit mulai hari ini jadi kamu di rumah aja jangan keluar rumah" ucap Ika.
"Kalau aku keluar bentar juga ga boleh "tawar Feby.
"Tidak usah aneh-aneh ikutin saran mama kamu nanti di rumah ditemani nenek ,nenek hari ini datang dari malang" ucap Ika.
"Siapa yang jemput gimana kalau aku saja "tawar Yumi.
"Tidak perlu dijemput nenek sama Om Bayu naik taxi ke sini " ucap Ika.
"Ya udah deh aku masuk kamar aja menyelesaikan pekerjaan aku yang tinggal dikit lagi "ucap Yumi sebelum berdiri meninggalkan meja makan berjalan menuju kamarnya.
" Semoga ini awal baru buat kebagian Putri kita" ucap Raffi.
"AMIN" jawab Ika.
" Aku pergi dulu ke kantor ya ma" ucap Raffi sambil berdiri, Ika ikut berdiri mengantar sampai di luar tidak lupa aktivitas pagi sebelum berangkat kerja ciuman di punggung tangan Raffi dan kecupan di kening Ika serta ******* singkat.
Membuat anak-anaknya selalu iri dengan keromantisan kedua orang tuanya.