My soul mate

My soul mate
139. Amnesia Anterograde



" Bagaimana keadaan Diva mbak kok masih rewel " ucap Isal.


" Semalam pas di rumah sakit dikasih obat sudah turun makanya Mbak bawa pulang tapi ko sekarang panas lagi ya" ucap Feby.


" Udah di kasih obat mbak ".


" Udah baru Mbak kasih obat juga kalau dua jam lagi nggak turun mbak bawa ke dokter, udah kamu berangkat saja sana gak usah khawatir Mbak ada bibi yang menemani " ucap Feby menenangkan.


Setelah Isal berangkat ke sekolah dan menunggu 2 jam masih tidak turun juga panasnya Diva akhirnya aku bawa ke rumah sakit, bedanya semalam Diva rewel nangis terus kalau sekarang dia tidur tidak menangis sama sekali makanya aku ke rumah sakit sendirian.


" Sebaiknya Diva biar dirawat di rumah sakit sekarang biar kita lebih mudah mengecek kondisinya dan cek yang lainnya sekalian " ucap dokter Dika. Tadi saat aku baru sampai rumah sakit masih berada di parkiran aku keluar dengan menggendong Diva dan ketika sedang berjalan,aku bertemu dokter Dika sepertinya hendak pulang dari jaga malam dia langsung menghampiriku dan membawa Diva ke UGD untuk segera dia periksa sendiri olehnya.


"Baiklah aku akan segera mengurus administrasi nya kalau begitu " ucapku sambil berjalan ke luar meninggalkan Diva di UGD.


" Mama " ucapku kaget waktu melihat mama mendorong kursi roda setelah ku dekati sekilas seperti Fathar meski rambutnya sekarang nampak gondrong bahkan panjang sampai bisa di kuncir rambutnya, aku yakin itu Fathar kenapa dengan dirinya kata ku dalam hati. Sebenarnya aku sangat penasaran tetapi karena ada Diva yang membutuhkan aku ku urungkan niatku untuk mendekatinya.


" Diva sakit apa sampai harus dirawat segala" ucap Lilis saat jam istirahat menemui ku.


Aku lupa Kalau Lilis salah satu perawat di sini, tapi begitu tadi aku mengingatnya langsung ku hubungi dia dan kebetulan dia masuk pagi jadi begitu jam istirahat siang dia langsung menemui ku.


" Aku tidak tahu tapi tadi ada perawat yang mengambil sampel darahnya buat diperiksa" ucapku.


"Kamu udah makan belum mbak ?"tanya nya sambil menunjukan kotak bekal makan siangnya.


" Tidak tar aja kalau lapar aku ke kantin, lagian tar mbok mau kesini mengantarkan makan siang sekalian baju buatku ganti".


"Aku dulu ngira mbak bakal lepas hijab kalau luka mbak sudah sembuh ternyata aku salah mbak tetap pakai hijab bahkan masih menutup muka mbak pakai cadar " ucapnya.


"Kalau masalah hijab aku emang berniat Istiqomah tetapi kalau masalah cadar lebih karena terbiasa ,selama 2 tahun lebih pakai cadar terus sekalian saja mengikuti protokol kesehatan yang di terapkan pemerintah " ucapku sambil tertawa.


" Kamu bisa aja mbak, mbak ada salam dari AA "ucapnya.


"Walaikumsalam AA" jawab ku sambil tersenyum tipis.


"Mbak selalu begitu "ucapnya kesal.


"Ya mau gimana lagi kamu gak lupa statusku itu tidak jelas janda bukan,tetapi sudah hidup kaya janda " ucapku santai.


Lilis sangat getol menjodohkan aku dengan kakak sambungnya, aku juga sadar kakak sambung Lilis suka padaku padahal meski kami sering bertemu dia tidak pernah melihat wajahku yang selalu ku tutupi cadar atau masker .


"Mbak mau ada rencana mengurus perceraian mbak ga biar status mbak jelas,single apa bersuami" ucap Lilis.


" Pingin ngurus kemana berkas ku dan surat nikah di bawa pengacara ku entah kemana " ucapku.


"Sebenarnya AA juga seorang pengacara kalau mbak mau AA siap membantu mbak " ucapnya.


"Oya tetapi kenapa malah mengajar ?" tanyaku.


"Siapa bilang AA mengajar hanya di Sabtu Minggu aja ko, sebagai balas Budi sama keluarga besar pondok yang sudah membantu meringankan biaya kuliah AA dulu " ucapnya.


" kirain aku AA mu fokus mengajar doang di pesantren, makanya setiap kali aku ke sana selalu ketemu " ucapku.


"Kebetulan aja kali ya " jawabnya.


"Fathar aja ga tau kemana berada , gimana mau mengurus status ku yang menggantung ini". ucapku.


"Kau menggantungkan hubungan ini


Kau diamkan aku tanpa sebab


Maunya apa ku harus bagaimana kasih


Sampai kapan kau gantung


Hingga mungkin ku tak sanggup lagi


Dan meninggalkan dirimu oh


Detik detik waktu pun terbuang


Teganya kau menggantung cintaku


Bicaralah biar semua pasti


Kau menggantungkan hubungan ini


Kau diamkan aku tanpa sebab


Maunya apa ku harus bagaimana


Kasih.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar Lilis melantunkan lagu Gantung milik Melly Goeslow itu, meski tidak keras karena takut membangunkan si kecil Diva yang tidur aku cukup terhibur dengan kedatangannya menemani ku di jam istirahatnya.


" Suara mu bagus jadi penyanyi aja gak usah jadi perawat " candaku.


"Gak mau gara-gara menjadi perawat aku bisa kenal mbak ya" katanya.


"Aku tadi tidak sengaja lihat mama Ika bersama mas Fathar,apa kamu tahu sesuatu " tanyaku sambil menyelidiki ekspresinya.


"Aku pernah cerita ke mbak kalau aku sudah 2 Minggu merawat orang di ICU ke mbak ingat gak?" tanya Lilis padaku yang langsung ku anggukin.


"Orang yang di ruang ICU adalah mas Fathar, tapi sayangnya setelah dirawat di ICU dia sadar dalam kondisi hilang ingatan" ucap Lilis lirih.


" Maksudnya Fathar lupa kami keluarganya begitu" ucapku memastikan.


"Tidak mas Fathar hanya mengingat kejadian saat masih menjadi tentara, dia merasa masih menjadi tentara masih bertugas di Bandung" ucap Lilis.


"Jadi dia masih mengingat keluarganya,tapi tidak dengan aku dan Diva " ucapku lirih sambil melihat ke arah putriku.


" Dari penjelasan dokter yang ku dengar mas Fathar mengalami amnesia anterograde"ucapnya.


"Amnesia anterograde "ucapku yang di anggukin Lilis.


"Mas Fathar tidak mampu untuk mengingat informasi yang baru saja diterimanya. Informasi yang seharusnya disimpan dalam memori jangka pendek menghilang. Kondisi tersebut terjadi karena kerusakan otak mengakibatkan ketidakmampuan untuk mentransfer informasi atau peristiwa yang baru terjadi. Karena itu mas Fathar dapat mengingat informasi dan peristiwa lama yang terjadi jauh sebelum mengalami cedera".


"Tidak apa-apa mungkin sudah nasib kami di lupakan olehnya,tapi allhamdullilah masih ada kalian berada di sisi ku" ucapku memenangkan Lilis yang merasa tidak enak hati padaku.


"Dari pengamatan ku saat saudara-saudaranya menjenguk dan selentingan obrolan mereka mas Fathar melupakan masa dinas di Jakarta dan di Padang"ucap Lilis menceritakan semua yang iya tau sampai jam Istirahat selesai.


"Minta tolong jangan bilang kepada keluarga mereka kalau Diva dirawat di sini" ucapku saat Lilis pamit kembali bekerja.


Mereka tidak memberitahu kalau Fathar telah kembali, mungkin niatnya baik biar aku tidak kaget mengingat dia yang melupakanku tapi ternyata rasanya sakit. Apa ini yang dirasakan mereka semua saat aku dulu kecelakaan dan tidak menghubungi mereka semua. Dulu aku menyembunyikan kondisiku yang kecelakaan dari mereka, Sekarang gantian mereka yang menyembunyikan kondisinya dariku apakah sengaja membalas atau hanya kebetulan saja kataku dalam hati.


"Sayang sudah bangun "ucapku saat melihat Diva bangun dan langsung menggendongnya.


Tidak ku hiraukan pesan yang masuk dan panggilan dari Yumi, karena aku hanya fokus dengan Diva yang bangun dan langsung minta di gendong. Meski tidak menangis atau rewel seperti semalam tapi dia tidak mau lepas dari gendonganku kalau tidak tidur.


"Pasti ibu capek Diva gendong Mulu,mau mbok gantiin gak " tawar di mbok padaku,mbok datang tidak lama setelah Lilis kembali kerja.


"Boleh mbok aku mau makan dulu ke kantin " ucapku yang disambut dengan mengambil Diva dalam gendonganku.


" Kalau Diva rewel nggak mau diem mbok segera hubungi aku aja,aku akan segera balik kesini aku cuma makan di kantin Rumah Sakit "ucapku saat Diva sudah anteng dalam gendongan si mbok. sebelum keluar tak lupa aku pakai maskerku kembali , kali ini aku sengaja memakai kacamata hitam yang aku ambil di mobil.