My soul mate

My soul mate
123. Liburan membawa petaka



Sudah 3 bulan Fathar pindah tugas ke Lanud Padang, pertama kali aku menginjakkan kaki di sini hanya satu yang ku sesali wanita yang dulu menghinaku ada di sini, tetapi aku bersyukur Fathar tidak bersikap berlebihan bahkan terkesan dingin padanya.


"Dek ntar siang jadi ke bandara menjemput Isal " tanya Fathar, Isal yang lagi liburan ujian semester ganjil akan datang berlibur dengan Bagas sekaligus melepaskan rindu pada sang kakak setelah 3 bulan berpisah.


"Iya mas".


"Apa perlu mas temenin"


"Tidak perlu Mas kerja aja jangan bolos demi satu hal yang tidak penting".


"Siapa bilang tidak penting Isal juga adikku Bagas saudaraku mereka keluargaku jadi itu penting"ucap Fathar sambil cemberut.


"Iya aku percaya tapi tidak mengorbankan pekerjaan juga kali, lagian aku jemput setelah pulang kegiatan PIA Ardhya Garini di Aula serbaguna selesai " ucapku sambil mengambilkan seporsi nasi beserta lauk buat sarapannya. Aku bersyukur Ibu-ibu asrama di sini menerimaku dengan baik bahkan dalam kegiatan PIA Ardhya Garini semua ibu-ibu juga Wellcome padaku, selama disini aku juga sudah beberapa kali menerima job membuat desain bangunan aku mempromosikan jasa Arsitek ku melalui dunia Maya.


"Ibu kapten mau kemana ini ko tumben bawa mobil dapat job gambar lagi" tanya Wina istri letnan Ikbal yang rumahnya berada disampingku.


"Tidak mau ke bandara adikku yang lagi liburan sekolah mau ke sini diantar sama sepupu ku" jawab ku sambil membantu menata konsumsi untuk rapat membahas kegiatan amal yang akan di lakukan di panti asuhan.


"Jam berapa pesawatnya nyampe ke sini?" tanya nya.


"Sebelum Dzuhur ".


" Berarti nanti izin mau jemput".


"Tidak mereka yang menungguku, sepupuku sudah pernah ke sini beberapa kali untuk pekerjaan jadi dia bisa sekalian jalan-jalan sambil menungguku tinggal aku menjemput di mana sesuai titik lokasi yang dikirim nya nanti "jelas ku.


" Sepupumu tukang gambar juga kayak kamu" ucapnya yang langsung ku pelototi , bukannya takut dia mah tertawa kencang .


"Haha bercanda " ucapnya, meski usianya lebih muda dariku tapi dia sudah menikah selama 4 tahun dan belum dikaruniai anak, pertama bertemu dia sangat sopan dan halus memanggilku Ibu karena jabatan Fathar yang sudah kapten yang di atas suaminya ,tapi dengan berjalan waktu dan keakraban kami sekarang dia memanggilku dengan sebutan Mbak.


"Lagian kamu nggak kasihan orang tuanya yang sudah membiayai sekolah mahal-mahal ,berpikir dengan keras supaya wisuda dengan nilai memuaskan di bilangnya tukang gambar" ucapku kesel.


" Hus jangan bercanda Mulu tar di marahin ibu Danyon" bisik nya aku cuma balas dengan memutar bola mata malas dengan omongannya.


Ibu Danyon yang kebetulan Kaka ipar Wina emang suka mencari kesalahan Wina dan membuat Wina malu di depan umum. Wina dan suami teman SMA yang kebetulan bertemu kembali dan saling jatuh cinta tetapi tidak disetujui oleh sang kakak karena kakak berencana menjodohkannya sang adik dengan temannya yang seorang dokter, sedangkan Wina hanya tamatan SMA yang saat itu bekerja menjadi staf TU di sebuah sekolahan SMP.


"Sudah siap semua ayuk kita mulai acara dengan pembukaan dan berdoa bersama " ucap ibu Danyon sebelum memulai rapat membahas kegiatan ke panti asuhan,


" Kamu itu jangan terlalu banyak memakan makanan yang tidak sehat begini biar cepat hamil " ucap bu Danyon yang menghampiriku dan Wina yang lagi menikmati hidangan berupa kripik singkong pedas.


" Masa kamu yang sudah nikah 4 tahun belum hamil sedangkan temanmu istri kapten Fathar yang baru nikah 4 bulan sudah hamil" ucapnya membuatku tersedak keripik singkong pedas yang ku makan.


" Maaf izin Ibu saya belum hamil " ucapku membantah, jangan sampai ada gosip aneh-aneh emang aku tidak meminum pil pencegah kehamilan tapi aku yakin aku belum hamil.


" Nggak usah malu dek kelihatan kok auranya orang hamil itu bagaimana" ucapnya santai sambil meninggalkan kami berdua.


"Bener Mbak kamu hamil" tanya Wina.


"Nggak lah kemarin aja 4 hari berturut-turut aku flek malah maju seminggu dari jadwal datang bulanku ini baru bersih kemarin" jawab ku.


"Wah pas banget ya mbak di tinggal suami latihan seminggu tamunya datang pas balik tamunya udah selesai "ucapnya sambil cekikikan.


"Dasar otak mesum " kataku.


" Lihat mbak itu letna Zahra ngintilin suami mu terus, apa nggak malu dia ngikutin suami orang kayak gitu" ucap Wina .


" Ya mungkin ada perlu" ucapku asal.


"Dulu pernah ada latihan disini ada dia juga begitu sama salah satu kapten yang ada kalau gak salah ingat namanya kapten Biantara "ucapnya.


Seketika aku ingat Bian pernah cerita kalau Zahra adalah mantannya.


"Dek belum pergi jemput " tanya Fathar yang menghampiri kami sendirian tanpa si Zahra.


"Entar aja Bagas baru kirim pesan kalau dia lagi berjalan-jalan di sekitar kota " ucapku.


"Ya ampun dek makanan apa yang kamu makan pedas sekali Ini nanti perutmu sakit jangan di makan lagi ya" ucapnya sambil menarik bungkus kripik singkong pedas yang ku makan.


"Mau ke mana Dek" tanyanya.


"Pulang ganti baju" ucapku kesel meninggalkan Fathar dan Wina.


"Baru semalam aku pulang tapi sikapnya aneh dikit-dikit ngambek"ucap Fathar sambil menarik nafas panjang.


"Sabar Kep " ucap Wina .


"Kalau sifatnya kekanak-kanakan mending kamu ceraikan dan menikah lagi denganku" ucap Zahra yang tiba-tiba menghampiriku.


"Apaan sih Zahra kata-kata mu sangat gak masuk akal " ucapku kesel pergi meninggalkan Zahra.


"Fathar dengar kan aku dulu" ucap Zahra sambil berlari mengejar Fathar yang berjalan menjauh.


"Bukannya kamu dulu suka padaku kenapa sih kamu menikah dengannya, bukannya wanita itu arsitek amatiran yang dulu disewa jasanya sama kapten Bian" ucap Zahra sambil berjalan menyamai langkahnya dengan Fathar.


"Iya dia arsitek yang disewa kapten Bian dulu dia teman SMA aku kenapa masalah" ucapku kesel sambil meninggalkannya menuju rumah.


"Dek mas ikut ya" ucap Fathar begitu sampai di rumah.


"Hmm "Jawa Feby yang masih fokus mengikat rambut panjangnya tinggi sampai memperhatikan leher jenjangnya. Fathar memperhatikan penampilan istrinya yang seperti anak kuliahan memakai celana jeans dan kemeja yang sangat pas di badan tapi juga tidak ketat tidak mencerminkan wanita berumur 30 tahun.


" Mass ah " desah Feby saat tiba-tiba Fathar memeluknya dari belakang dan langsung menciumi lehernya disertai hisapan ringan hingga kuat yang menimbulkan bekas disana.


" Kamu sengaja Mas" ucap Feby marah saat melihat tanda merah di sekitar lehernya yang baru saja di buat suaminya itu.


Fathar tidak menjawab hanya tersenyum dan melepas ikat rambut istrinya itu.


" Tunggu mas siap-siap".


"Siap-siap mau ngapain" tanya Feby kesel.


"Mau ikut kamu lah"jawabnya santai sambil berjalan ke kamar mandi.


"Nggak mau aku jemput sendiri" jawab Feby kesel sambil berjalan meninggalkan kamarnya.


"Kalau Mas pengen ikut ya ikut" ucap Fathar kesel sambil duduk di samping Feby yang siap di depan kemudi mobil.


"kamu nggak jadi mandi".


"nggak tar aku tinggal mandi kamu udah pergi".


" Terus kamu mau ikut jemput tidak pakai baju atasan kayak gitu" ucap Feby , seketika Fathar melihat dirinya yang hanya memakai celana loreng dengan atasan toples.


Dengan secepat kilat Fathar masuk ke dalam rumah mengabil kaos dan segera keluar lagi takut di tinggal istrinya lagi.


" Cepat sekali kamu ambil bajunya " ucap Feby sambil mengeluarkan mobil dari garasi.


"Kami sudah terlatih bergerak cepat di segala bidang " ucapnya bangga, mobil kami melaju menuju tempat yang sesuai titik lokasi yang di kirim Bagas .


"Ko aneh ngapain dia nginep di hotel " tanya Fathar.


"Katanya dia nginep di hotel biar Isal aja yang menginap di asrama " ucap Feby.


"Tapi kemarin waktu bertukar pesan dengan ku dia gak bilang apa-apa " ucap Fathar yang di jawab istrinya, dengan mengakat bahu tidak tahu.


"Nginep di kamar berapa "tanya Fathar yang di jawab Feby dengan memberikan ponselnya.


" kenapa kita harus masuk ke dalam kamar kita kan cuma menjemput Isal ".


"Tahulah aku kangen Isal ini pertama aku berpisah dengan Isal lama sampai 3 bulan sejak ibu tidak ada"ucap Feby dengan semangat dan langsung masuk ke dalam kamar sesuai instruksi dalam pesan tanpa curiga.


"Apa-apa ini " teriak Feby saat masuk hanya kamar gelap tapi begitu pintu terkunci dia melihat adiknya dan Bagas di ikat jadi satu dan saat menoleh ke suaminya sudah di todong pistol di kepalanya.