My soul mate

My soul mate
111 . Galau



"Loh mbak kenapa dengan tanganmu" ucap Isal yang hendak berangkat ke mushola melaksanakan salat zuhur dan bertemu dengan kakaknya di pintu pagar rumahnya.


" Tidak apa-apa tidak perlu khawatir hanya insiden kecil kok" ucap Feby menenangkan sang adik.


" Bener tidak apa-apa itu tangan tapi kenapa dibungkus kayak begitu" ucap Isal penasaran.


" Udah Mbak tidak apa-apa sana berangkat ke mushola " ucap Feby.


"Mas Bagas langsung pulang apa tidak?" tanya Isal kepada Bagas yang masih berdiri di depan pintu.


" Salat zuhur dulu di sini terus pulang" ucapnya.


"Nitip mbak Febi jangan pulang dulu sebelum aku balik dari musola ya".


"Ok tenang aja mbakmu aman sama mas mu ini" ucap Bagas sambil memukul dadanya bangga .


" Bagaimana rencanamu sekarang "tanya Bagas.


" Aku ingin istirahat menghabiskan waktu dengan Isal, sejak mama meninggal aku terlalu fokus bekerja memenuhi pundi-pundi tabunganku tapi melupakan kebersamaan ku dengan Isal yang dulu sering aku habiskan dengannya" ucapku.


Dulu mama selalu mengingatkan aku supaya aku kerja sesuai porsinya jangan terlalu berlebihan kasihan badan jika terus diajak bekerja. Berbeda dengan sekarang tidak ada yang mengingatkan aku kapan harus istirahat kapan harus bekerja, sehingga diriku terus bekerja bekerja dan bekerja.


Setelah Isal pulang dari musola Bagas segera pulang karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum menangani proyek baru.


"Mbak mau ngapain"ucap Isal Saat melihatku hendak membuka kulkas.


" Cuacanya panas jadi mau buat yang seger - seger" ucapku.


"Kulkasnya kosong ga ada buah sama sekali " ucapku setelah melihat isi kulkas yang kosong.


"Mbak mau minum jus buah apa akan ku belikan di luar" ucap Isal.


" Nggak usah bagaimana kalau kita jalan-jalan sekalian belanja bulanan Setelah sholat ashar tapi ya" ucap Feby yang di anggukan oleh Isal.


"Kamu gak balik ke asrama thar" tanya Yuni kepada kakaknya.


"kenapa nggak boleh aku di sini" jawab Fathar ketus.


" Kenapa sih lu perasaan sensi amat dari tadi, ga mungkin karena cemburu melihat kebersamaan kami yang punya pasangan,gw tau loo kaya gimana" ucap Yumi.


" gue tidak punya pacar tapi gue merasa telah selingkuh " ucap Fathar, membuat Yumi yang mendengarnya berpikir keras maksud atau makna ucapan kakanya.


"Lo tau ga apa itu selingkuh, gimana Lo bisa selingkuh sedangkan pasangan aja loo ga punya " ucap Yumi.


"kalau menurut mu selingkuh itu apa?" tanya Fathar balik.


" Kalau kacamata gw selingkuh adalah istilah yang umum digunakan terkait perbuatan atau aktivitas yang tidak jujur dan menyeleweng terhadap pasangannya, baik pacar, suami, atau istri" jelas Yumi.


"Jadi intinya selingkuh itu bukan soal hubungan fisik sama orang selain pasangan kita kan selingkuh itu bisa berarti selingkuh fantasi, selingkuh online atau selingkuh emosional " ucap Fathar, yang di anggukin oleh adiknya.


" Loo tahu selama ini gw dekati Feby tapi hasilnya belum bisa seperti yang gw harapkan hingga satu Minggu yang lalu Feby memberi kesempatan buat kita saling mengenal dahulu, hingga hari Kamis kemarin pagi saat kami sarapan bersama aku memberikan Feby undangan menghadiri upacara di Istana Negara aku berharap dia dapat melihat atraksi manuver yang ku lakukan secara langsung tapi tidak ada komentar dia cuma bilang lihat nanti aja" ucap Fathar.


"Dan loo kecewa karena Feby tidak datang" tebak Yumi.


" Mungkin Iya mungkin juga tidak " ucap Fathar membuat Yumi mengerutkan kening .


" Siangnya terahkir aku latihan aku ketemu temen lama adik tingkat ku bisa di bilang cewek yang sempat aku taksir, tapi gagal dan sejak pagi aku ngasih undangan sampai sekarang aku tidak pernah menghubungi Feby lagi aku sibuk dengan adik tingkat ku. kami jalan bersama dan berkirim pesan jika tidak lagi bersama, aku benar-benar lupa keberadaan Feby" ucap Fathar diam.


" kok diem sih terusin ceritanya lah biar aku nggak penasaran, biar aku juga bisa ngasih solusi yang terbaik buat kakak ku tersayang ini" ucap Yumi sambil mengambil ponsel Fathar yang terus bergetar tanpa suara.


" Hallo assalamualaikum" ucap Yumi yang telah mengaktifkan pengeras suara.


" Mana Fathar kamu siapanya Fathar kenapa kamu bisa mengangkat teleponnya di mana dia" pertanyaan yang panjang dan tanpa jeda membuat Yumi melongo mendengarnya.


" Hai kenapa diam jawab kamu siapa, kenapa bisa mengakat ponsel Fathar di mana Fathar katakan" ucapnya lagi .


" Gw istrinya kenapa " jawab Yumi menantang orang di seberang telepon yang tadi bertanya tanpa titik koma dan tanpa memberi kesempatan buat lawan bicaranya untuk menjawab pertanyaannya.


" Kenapa sekarang diam" ucap Yumi dan langsung mematikan ponsel Fathar Setelah 5 menit tidak ada jawaban atau respon dari seberang telepon.


" Zahra ini yang kamu maksud teman lama mantan gebetan yang membuatmu galau, bicara tanpa sopan santun tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya.


Waktu jaman sekolah Febi pernah mengancam ku tapi sekarang aku sadar itu hanya sifat kelabilan ABG, karena saat ketemu aku kemarin di acara pertunangan ku dia bisa menolak ajakan ngobrol ku secara sopan meski ada nada tidak suka pada sorot matanya " ucap Yumi panjang.


" Karena dia tau kalau kita saudara dari dress code yang kita pakai, tapi dia belum tau jika kita kakak beradik dia merasa kita sengaja ngerjain dan membohonginya " ucap Fathar.


"Sampai sekarang dia juga belum tahu berati kalau kita kakak beradik" ucap Yumi.


"Ya.Parahnya lagi kemarin Zahra menghina Yumi di depan".


"Bentar gimana ceritanya si Zahra bisa menghina Feby bukannya kamu bilang Kamis pagi kamu terakhir bertemu dan habis itu tidak ada komunikasi lagi kamu sibuk dengan Zahra" ucap Yumi.


" Tadi pagi kami jalan berempat aku bersama Zahra dan temanku Ali bersama ceweknya. di mall kami ketemu kapten Bian yang lagi ketemuan dengan seorang arsitek dan Zahra menghina penampilan arsitek itu yang hanya ala kadarnya".


" Dan arsiteknya Feby" ucap Yumi memotong ucapan Fathar dan ternyata benar tebakan Yumi yang dijawab dengan anggukan lesu Fathar.


" Hahaha si Feby diam aja dihina " tebak Yumi yang dijawab juga dengan anggukan lesu.


"Hahaha gw gak nyangka Feby berubah " ucap Yumi.


" Saat aku ketemu Feby dengan kapten Bian membahas desain rumah aku merasa telah berselingkuh karena tidak memberi kabar secara beberapa hari dan tiba-tiba kami ketemu dengan posisi aku lagi ngedate"ucap Bian.


" Jadi itu yang bikin lu galau, dari ceritamu aku mengambil kesimpulan kamu berdekatan dengan Zahra melupakan untuk sesaat Feby dan sekarang merasa bersalah sama Feby " ucap Yumi yang di anggukin Fathar.


"Makanya kalau jadi laki-laki itu harus teguh pendirian kalau dari awal kamu mendekati Feby ya udah dekati dia terus sampai dapat, jangan mentang-mentang ada yang baru kau melupakan yang lama untuk mendekati yang baru" ucap Yumi,Fathar hanya diam mendengar ocehan adiknya tanpa berkomentar hanya anggukan dan gelengan yang bisa di tunjukkan.


"Aku jadi penasaran Zahra kayak apa sih".


" kalau segi kecantikan sih sama kulitnya lebih putih Karena dia keturunan timur tengah, tapi Zahra yang dulu ku kenal tuh lemah lembut aku pernah beberapa kali mengajak jalan dia selalu menolak Apa yang kau berikan berbeda yang sekarang bahkan berani meminta sesuatu padaku" ucap Fathar.


"Hah yang bener Lo " ucap Yumi tak percaya.


"Pertama bertemu sebelum upacara malamnya kami makan malam bersama dia memilih restoran sesuai seleranya dan minta kepadaku untuk dibelikan sepatu harganya sih standar sejuta" ucap Fathar.


" Dia meminta langsung begitu ".


" Tidak dia beralasan dompetnya tertinggal"ucapku yang disambut gelak tawa oleh Yumi.


" Fix itu salah satu ciri pembohong " ucap Yumi sambil tertawa.


" Udah Adzan sholat jamaah dulu terus nganterin mama beli laptop "ucap mama yang baru datang menghentikan obrolan kami berdua.


Bercerita dengan Yumi bukannya mendapat solusi malah jadi bahan ketawaan ucap ku dalam hati sambil berjalan keluar menuju kamar berganti pakaian yang sopan buat ke mushola.


Sekarang gimana caranya mengajak Feby sedangkan beberapa hari aku menghindarinya tidak mungkin tiba-tiba aku ke rumahnya dan mengajak jalan setelah apa yang terjadi tadi pagi.


Lebih baik menghadapi ******* yang jelas-jelas pakai senjata daripada begini.