
Rintik hujan mengantarkan Vein pada malam sunyi yang makin terasa saat lemari jam besar di sudut ruang kerjanya berbunyi nyaring.
"pukul 00.00 WIB" Gumam Vein langsung mengambil smartphone.
Mendial nomor tak di kenal dan menelfonnya, cukup lama hingga seseorang mengangkatnya.
"Aku butuh pertolonganmu" Ucap Vein.
.
.
Keesokan harinya,
Keadaan sekolah sunyi membisu. Walaupun kegiatan belajar mengajar dilakukan, namun suasana berduka kental terasa.
Di sana, tepatnya di ruang kepala sekolah yang sudah di beri garis polisi. Feron yang masih mencari bukti keterlibatan sang ayah berencana untuk mengungkap kasus ini seorang diri.
Tidak ingin di curigai, Feron sengaja memilih waktu yang tepat. Ia bahkan sudah mengelabui Alfi yang selalu menempel layaknya prangko itu bersama Nanda.
Pukul 19.08 WIB.
Feron mulai mengamati ruangan itu, gelap dan pengap. Keadaan ruangan masih dibiarkan seperti terakhir kali pak Ibram membuka pintu.
Berantakan, satu kata yang jelas masih dapat di sematkan pada ruangan ini.
Feron memperhatikan sejenak sebelum memilih berjalan perlahan, tak ingin membuat suara yang mencurigakan. Bahkan ia sengaja memasukkan obat tidur pada kopi mang Oskar saat pria itu tak sadar Feron menguntit dirinya sampai keruang pribadinya.
Tak tanggung-tanggung dalam aksinya, bahkan pak Puad yang selalu memantau cctv sekolah Feron buat pingsan dengan memukul tengkuk guru olahraga itu tepat di ruang Cctv di sebelah ruang kepala sekolah sebelum menguntit mang Oskar.
Mengesampingkan hal itu, kini Feron memilih untuk memakai sarung tangan dan membongkar laci meja pak Bino. Semua dokumen bahkan beberapa surat pribadi masih lengkap didalamnya, mulai dari sesuatu yang tak penting sampai sesuatu hal yang membuat Feron hampir menggelatukkan gerahamnya.
"Anjay memang, kenapa foto MOS nan memalukan ini masih disimpan sekolah si!" Geram Feron menahan malu menatap Foto dirinya yang masih culun dengan rambut belah tengah dan kulit belang hampir menyamai zebra itu.
Pada akhirnya Feron hanya dapat mengembalikan foto memalukan itu ketempatnya dan beralih pada tujuan utamanya.
Album Foto yang masih di letakkan pihak berwajib di dalam laci meja. Masih rapi dengan sidik jari pak Bino di dalamnya.
Alasan mereka melakukannnya adalah untuk melakukan olah TKP secara menyeluruh keesokan harinya, bertepatan besok pagi. Sedangkan Feron malah melakukan kegiatan menguntungkan otak pribadi di malam harinya. Memang cari mati, namun Feron mana perduli.
Feron mulai membuka lembaran demi lembaran kertas pada album foto seraya berjalan menuju jendela, berharap mendapatkan cahaya rembulan yang dapat membantunya dalam mengenali isi dari album foto.
"Pak Binosti Kusumo, meninggal dengan kondisi mengenaskan seraya memeluk album Foto anaknya Radit Pamungkusuma Patria Sutejo Kusumo Diningrat, atau lebih di kenal sebagai ketua geng sebelumnya" Tutur Feron membaca tulisan di awal Album, mahakarya tangan sang polisi otopsi.
Di halam album berikutnya, terdapat sepucuk surat tentang kerinduan seorang ayah pada anaknya yang ditulis dalam ejaan bahasa Indonesia lama, di balik beberapa foto juga tertulis beberapa kode yang dicoret dengan tinta. Sepertinya masih baru, dapat terlihat dari beberapa tinta yang bertebaran di sekitar album.
"Dan isi surat itu adalah..." Lirih Feron membuka surat.
...(Ejaan tulisan dalam isi surat ini diartikan kedalam ejaan bahasa Indonesia baru)...
Setelah kepergian mu nak....
Masih bapak rasakan rasa itu, rasa disaat tubuh ringkihmu menggeliat didalam dekapan amatir bapak. Tubuh merah dan suara khas bayimu seperti trompet penyemangat baru pengantar deru angin kebahagian pelengkap keluarga kecil kami.
Kau adalah Radit Pamungkusuma Patria Sutejo Kusumo Diningrat kami.
Radit kecil, dan akan selalu begitu.
Kami akan memberikan cinta kami padamu, wahai matahari ku. Anak pertama yang menjadi simbol kekuatan baru keluarga Kusumo.
Radit kecil kami,
.......
.......
.......
Tahun-tahun setelah kelahiranmu berganti, Radit kecil kini sudah berusia 5 tahun. Sudah saatnya untuk memulai langkah manisnya menuju sekolah.
Saat itu, masih dapat bapak ingat dengan jelas. Alunan suara kesalmu meminta bapak untuk menggendongmu di punggung bapak. Dengan gigi hitammu yang bukan karna coklat, namun karna gigi kecil itu sudah busuk karna kesalahanmu yang selalu memakan makanan manis saat malam, padahal ibukmu telah melarang. (kasian)
Kau selalu mengatakannya...
'Bapak-bapak! Gendong Ndit gendong Ndit' Dengan aksen cadelmu..
Namun karna bapak yang ego dan masih tak dapat memberikan kasih sayang secara benar malah memarahimu.
Kau terdiam sejenak, dan bapak hanya menanggapi kecil gumamanmu itu.
.......
.......
.......
Waktu berlalu, seorang anak gadis kecil nan imutpun mengisi keluarga kecil kita. Monalisa Dewita Kusumo nan manja.
Masih tak dapat bapak lukiskan bertapa kesalahan itu membuatmu berubah....
Penyesalan dan rasa penyesalan selalu bapak Gumamkan hingga hari ini. Mengubah rasa maklummu menjadi dendam dan bahkan hampir membunuh Dewita kecil.
Buah hatiku,
Rasa sayang dan iri selalu menyertai langkah kedewasaan kalian, Radit yang ingin bersekolah ke Swiss harus bapak tolak dengan mentah, mengutarakan kembali rasa ego bapak yang bodoh ini untuk memaksamu tetap bersekolah di SMK 1.
Mengubur cita-cita besarmu dan memberikan semuanya untuk Dewita yang terlalu menguras banyak uang.
Kesalahan itu semakin menjadi tatkala Dewita hamil. Perasaan gagal menjadi seorang kakak membuatmu hampir membunuh Dewita, dan itu semua tak luput membuat perasaan bapak tersiksa.
Namun kewarasan selalu kau mainkan, menyalurkan rasa kesalmu dengan tawuran sudah menjadi laporan kerja bapak setiap harinya. Seorang pewaris Kusumo yang seharusnya menjadi teladan malah menjadi bumerang bagi kepala keluarganya.
Kau selalu membawa pisau rakitan dari rantai motor yang kau rakit khusus di bengkel TSM dan selalu kau jadikan sabuk pinggang, menolak percaya sampai kematianmu bapak masih tak dapat mengenali kepintaranmu Radit.
Pisau itu selalu menjadi alat terakhir yang membunuh banyak siswa SMA 1 kala itu. Kau bahkan sampai di tahan hampir diberi hukuman mati.
Namun disitulah letak kesalahanku sebagai seorang bapak.
Bapak malah memukul dan mencacimu sebagai aib keluarga. Hingga bapak tak sengaja berhubungan dengan mereka yang menjadi jalan satu-satunya agar kau kembali dapat bebas dan bersekolah.
.......
.......
.......
Semua sekolah disini tunduk akan ancamanmu. Bahkan, 90% anak lelaki yang masuk untuk mendaftar sekolah bukan karna ingin mengenyam pendidikan, namun ingin menjadi berandalan sepertimu.
Itulah SMK 1 yang di kenal semua Orang, SMK 1 penyetak berandalan tersadis hingga bocah itu mengisi hari-harimu.
Seorang bocah culun dengan tatapan tajam membunuh. Berhasil menjungkir balikkan fikiranmu. Dari seorang Radit yang pendiam dan penuh emosi menjadi Radit yang tenang penuh senyum keceriaan.
Seorang anak lelaki pengubah kehidupan Radit si ketua geng SMK 1.
Namun rasa senang bapak akan perubahan sikapmu taklah berjalan lama, rasa dendam serta benci para murid SMA malah membuat kedua SMA 1 dan 2 menjadi bersatu dan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang SMK 1.
Hingga kejadian itu terjadi....
Kejadian dimana senyummu yang menawan berubah menjadi bercak darah. Sangat merah hingga membuat setiap mimpi bapak terisi oleh senyum kesedihan itu....
.......
.......
.......
Anakku,
Kerinduan selalu bapak rasakan nak, tak pelak selalu membuat bapak sedih saat melihat album ini. Bahkan ibukmu sudah tak kuasa setiap mengingat kejadian itu, sekarang ibukmupun telah jatuh sakit.
Semua yang menjadi penopang semangatnya telah pergi bersama bau anyir tanah kuburanmu.
Raditia, bapak menyesal tak sempat memberikanmu kebahagiaan yang kau impikan.
^^^Bino, 17 mei^^^
.
.
Setelah membaca isi surat secara cermat, pada lembaran berikutnya tak sengaja Feron menjatuhkan surat lainnya. Saat menunduk dan meraih surat itu, sebuah sepatupun datang menghampiri tatapan rendah Feron.
Tap!
"?" Respon tubuh Feron.
"Kau benar-benar membuatku terkesan ADIDJAYA"
Sentak suara itu bernada seram.
.
.
.
Kantor Dinas.
Pukul 08.00 WIB.
"Dimana Feron?" Tanya Buk Sinta mulai kesal.
"Sabar ya buk Sinta, sebentar lagi Feron pasti datang, hahahahaha" Ucap Nanda mencoba meredakan emosi buk Sinta.
Kemana sih tu margasatwa negri papua?
Inner Nanda kesal.
"Sudahlah, kita teruskan saja perjalanan. Biarkan anak itu menyusul" Titah buk Sinta mulai menyalakan motornya.
"B-baik buk hehehe" Jawab Nanda seadanya dan mengikuti arah motor Buk Sinta.
.
.
.
Disisi lain,
"Tuan" Panggil Robert yang malah di anggap kacang rebus panas di pinggir jalan.
Pandangan pria itu datar, namun tidak dengan isi hatinya.
Kalau bukan karna tuan William, gua ogah di kacang gini.
Inner Robert masih mempertahankan air muka, padahal di jantung dan sanubari dia sudah siap untuk membuang makhluk ini ke jendela terdekat di lantai 8.
Namun Robert masihlah berimajinasi, tidak kurang dan mungkin lebih.
Sementara Vein, masih betah berbolak-balik di ruang kerjanya. Ogah memperdulikan Robert yang semakin membuat emosinya meninggi.
Ia memperhatikan smartphonenya yang sedari tadi selalu menelfon nomor yang sama hingga 20 kali.
"Feron kamu dimana?" Gumam Vein cemas.
Sudah dari semalam, anaknya tak kunjung pulang setelah beradu argumen dengannya di meja makan waktu itu. Anaknya hanya akan menatapnya jijik setiap mereka berpapasan dan akan berdecih di saat Vein berbicara, namun tak pernah Vein fikirkan kalau anaknya sampai minggat
Atau
Sebenarnya tidak?
.
.
.
...Tbc...