
28 oktober.
SMP harapan 1
Feron pov
Saat itu tepatnya diusia 13 tahun, masa dimana gejolak puber gua begitu meronta-ronta hingga membuat rasa suka mulai timbul dan membumbung tinggi layaknya kembang api, dan disaat itulah perasaan untuk Afni datang tanpa sebab.
*****
Awal pertemuan kami cukup sederhana, hanya karna satu tempat les bahasa inggris saja sudah membuat gua selalu curi-curi pandang pada Afni.
Afni adalah sesosok gadis polos dimata gua, dia cantik, pintar dan misterius. Kulitnya putih bersih dengan senyum manis menggoda iman.
Bahkan gua gak menyangka kami bakal dipertemukan dalam satu sekolah yang sama, Hingga menjadi satu kelas. Sungguh kenikmatan mana lagi yang didustai, setiap sekolah gua bisa natap Afni dari tempat gua duduk, sungguh sangat strategis dan tidak terlihat seperti mengintip.
"Ron, belakangan ini gua liat lu sering merhatiin si Afni ada gerangan apa ini?" Tanya Dino merhatiin gua yang masih setia mengintip Afni dari jendela kelas B.
"Hello~ spada" Dino yang dikacang lantas tidak tinggal diam dengan sikap yang gua berikan, ia langsung menarik telinga kanan gua tanpa ampun hingga membuat gua terpaksa mengalihkan pandangan.
"Aaaaaaauauauauauauauauauuuuu!!! Sakit Dino" Teriak gua kesakitan.
"Bodo amat, dari pada merhatiin si Afni lebih baik kita perduliin tugas pak Agus bro. Bentar lagi tu ajudannya bakal nongol, cus berangkat ke perpus!" Ucap Dino menarik paksa lengan gua dan berlalu pergi meninggalkan tempat persemedian gua.
"Afniiiiiiii" Gumam gua menatap sayu Afni, tapi dianya gak melirik barang sesenti.
**'*
Di lain sisi,
Normal pov
"Af, lu sadar gak diperhatiin sama Feron?" Ujar Lidia melirik arah hilangnya Feron barusan seraya menusuk bakso diplastik genggamannya.
"Gua sadar, tapi ya gua pura-pura gak sadar aja" Balas Afni dengan gaya angkuh.
Saat ini Afni dan Lidia tengah duduk nyaman didepan kelas A yang bersebalahan langsung dengan kelas B. Sebenarnya selama ini Afni sadar diperhatikan oleh Feron, namun dia hanya mencoba untuk acuh.
"Lagian ni Af, gua dengar dari Della kalau si Feron udah nyimpan rasa sama lo semenjak kalen satu kelas di tempat les lo, apa bener?" Tanya Lidia kembali.
"Gua mah udah biasa dicintai banyak cowok Lid, tapi gua ogah dicintai ama cowok jelek, bau, dan gak tau style macam si Feron. Amit-amit gua deket ama dia, bayangin ditembak ama Feron aja gua geli. Iuuuuuuuueeee buek! " Balas Afni kembali diakhiri dengan gaya muntah.
"Bener juga lu ya, hahahahahahha" Ucap Lidia tertawa renyah.
****
"Oh Afni..... Hehehehhehe" Gumam Feron berkhayal.
Brak!!!
"Berkhayal jangan disini Ron, disini tempatnya menggali ilmu bukan menggali imajinasi liar" Ucap Dino menjatuhkan beberapa tumpukan buku diatas meja Feron, sementara Feron yang imajinasinya sudah di binasakan Dino hanya bisa pasrah. Ia mengambil random satu buku Didepannya dan membukanya tanpa minat.
"Iya Feron iya, jangan banyak ngeluh deh lu ah! Baca dan ringkas aja tu buku apa susahnya si?" Sarkas Dino mengambil buku lainnya yang berada didepan Feron kemudian langsung duduk disebelah Feron.
Tap
Tap
Feron melirik pintu perpus tanpa minat, disana ia dapat melihat Alfi dan teman-temannya yang baru saja datang ingin meminjam buku seperti mereka. Feron terus memperhatikan arah perginya Alfi dan teman-temannya, dari meja perpus ini cukup sulit untuk menatap mereka yang sudah tenggelam diantara rak buku yang ada.
"Lo lagi ngapain si?" Tanya Dino nyolot.
"Lu diam dulu ngapa? Gua lagi liatin Alfi sama temen-temennya" Jawab Feron.
Dino langsung melirik kesegala arah, mencari dimana Alfi berada.
"Hahhh~ gua jadi gak nyangka lo pernah dekat ama dia, eh btw kenapa lo ama dia bisa renggang?" Tanya Dino menatap Feron, sementara yang ditatap malah jadi bosan diperhatikan layaknya pelaku tindak kejahatan oleh sang teman.
"Sebenarnya sederhana saja, dia yang dah bosan ama pertemanan kami dan dia yang udah dapat temen baru yang seprekuensi membuat dia ama gua akhirnya memilih jalan pertemanan masing-masing" Ujar Feron lekas menatap buku kembali.
"Lagian menurut gua si Alfi tu juga rada kasian si Ron m, dia juga termasuk ke salah satu siswa yang sering di bully dikelas, dikatain culun, idiot, dan dungu. Apalagi waktu dia gak sengaja jatuhin air bekas pel kebaju si Afni, waduh gak bisa dibayangin putri sekolah bau comberan hahahahaha" Kata Dino tertawa yang malah membuat Feron meliriknya tajam.
"Jaga kata-kata lu Din, mau serenggang apapun pertemanan gua sama Alfi, bagaimanapun dia masih tetap teman pertama gua di SMP ini. Dia juga adalah orang yang selalu berteman ama gua disaat gua gak tau harus berteman ama siapa, tapi semua mulai mengabur semenjak Lino datang diantara kami. Selain itu jangan pernah lu julid ama Afni karna gua gak suka orang yang gua suka dijulid-in sama mulut kresek macam lo" Ucap Feron sewot diselubungi curhat.
"He'eleh, trus gua lu anggap apa selama ini? Pake dikatain mulut kresek lagi. Asal lu tau ya, mulut gua ini adalah mulut suci terseksi yang pernah dimiliki makhluk bumi dasar bucin!" Sarkas Dino tidak terima.
"Apa tadi! Mulut terseksi? Kayaknya telinga gua harus dikorek dulu supaya lebih tajam dengerin bahasa lu dasar monyong. Lagian lu juga harus ingat kalau selama ini lu itu selalu anggap gua saingan doang, apalagi selama ini lo juga cuma dekat ama Divi dan Lino, hanya karna ditinggal dua orang itu aja lo mulai deket ama gua kalau gak lu pastinya udah gabung ama tu dua orang nyinyir" Balas Feron menatap Dino yang juga menatapnya facepalm.
"Serah lu aja dah, mending kita lanjutin ni tugas" Sambung Dino akhirnya, ia jadi jengah dengan penuturan Feron yang benar semua. Lebih baik mengerjakan tugas daripada kembali berdebat.
'**'
Feron berjalan dengan terburu, jam pulang sudah lewat setengah menit lalu namun karna Feron yang ceroboh meninggalkan buku pelajarannya maka mau tidak mau ia harus kembali secepat mungkin kekelas sebelum penjaga menguncinya. Namun langkah cepat Feron seketika melambat saat mendengar suara pujaan hatinya.
"Afni, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi separuh hatiku?" Tanya suara itu.
Suara siapa ini? Dan kenapa dia...
Feron memelankan langkahnya di tangga, berlari sedikit menuju kesudut dinding berusaha mendengar lebih percakapan mereka.
"Iya, aku mau Reno"
Feron melirik kecil, berencana ingin melihat ekspresi mereka malah yang didapat adalah aksi pelukan yang langsung dilayangkan pria yang kini resmi berstatus sebagai pacar baru Afni itu.
Feron tanpa sadar mengepalkan tangan hingga kuku jarinya memutih.
"Afni.... Padahal gua sangat tulus mencintai lo tapi lo...."
...TBC...