
"Afni.. Afni, itu Feron dah datang" Teriak Wilda tertahan seraya mengarahkan wajah Afni kearah Feron.
Seketika muka Afni langsung cerah, rambut yang tadinya kusut cepat ia sisir dengan tangan, lipbalm yang sudah memudar kembali dioles, kini Afni berdiri cantik seraya melambai pada Feron yang langsung berjalan kearahnya.
Sementara Wilda sontak langsung bersembunyi, menunggu kesuksesan sang sahabat bersama Meilin yang hanya diam sedari tadi.
Aneh sekali.
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Kamu pilihan...
.......
.......
.......
Afni langsung menampilkan senyuman terbaiknya memandang Feron yang datang, rasa kesalnya seakan menguap jauh melihat pemuda itu.
Namun, benar kata petuah. Tidak boleh terlalu senang nanti bisa ketiban sial seperti saat ini.
...*****...
"Jadi apa yang ingin dibicarakan?" Tanya Alfi yang nyosor langsung meminum minuman didepannya yang diperuntukkan Afni untuk Feron.
Afni tersenyum masam seraya menggertakkan giginya melihat kelakuan Alfi yang seenaknya itu.
"Lu bisa gak sih, gak jadi kutu Feron sehari aja! Gua kesal tiap liat Feron lesuh karna ada lo yang selalu nempelin dia. Ini kayak gua lagi liat LGBT live action gitu lo tau gak seh, kalau liat lo nempel layaknya prangko ama Feron yang air mukanya saja sudah jijik liat lo" Tunjuk Afni pada Alfi yang malah menyandarkan kepalanya semakin nyaman pada Feron dengan mulut yang asyik menyeruput lemon tea makin kuat hingga membuat kedua pipinya mengerucut dalam.
"Jadi, apa gua terlihat perduli?" Tunjuk Alfi pada dirinya sendiri, menampilkan ekspresi tidak perduli dengan mata yang dirotasikan penuh pada Afni, seakan mengatakan 'Gak bisa kan lo nyender kayak gini'
Afni yang menatap ekspresi itu langsung geram, ia langsung berdiri dan menggebrak meja kesal berjalan ke arah Alfi dan menariknya agar minggat dari Feron.
"Gak usah jadi benalu buat Feron, kehadiran lu kayak Zigot " Sinis Afni dengan sekuat tenaga berhasil menyeret Alfi keluar dari sofa itu dan tanpa membuang kesempatan Afni langsung memeluk lengan Feron seraya memepetkan badannya makin erat.
"Zigot?" Tanya Alfi berpikir keras.
"Aa-!?" Alfi akhirnya sadar kalau Zigot adalah...
Alfi langsung marah, ia malah terbawa emosi melihat kelakuan Afni dan mulutnya yang kurang di format itu.
"Woy... Woy... Ingat lo udah punya Bruno ye, jadi gak usah keganjenan sama pemuda lain ntar yang ada malah lo buat kita pada perang gank sama Bruno, dikira kita pada yang ganjen lagi sama pembantu dia, padahal mah kebalik" Terang Alfi menyindir Afni seraya menariknya untuk menjauh dan kembali ketempat duduknya sendiri.
"Ck!" Desis Afni melihat Alfi yang kembali duduk disebelah Feron seraya mengeluarkan lidahnya mengejek Afni.
Feron, ia malah asyik makan cemilan sambil memperhatikan perdebatan Afni dan Alfi yang semakin lama semakin menjalar jauh permasalahannya.
Sampai ia memperhatikan seseorang yang ikut memperhatikannya menyeringai dan melambaikan tangan.
Hmph! Bruno!?
Inner Feron memutuskan kontak mata dengan Bruno dan kembali menatap ke arah makanannya.
"Ngapain dia gak nyamperin kita aja?" Gumam Feron yang berhasil di dengar oleh pendengaran tajam Alfi.
"Siapa Ron?" Tanya Alfi.
"Bukan siapa-siapa" Jawab Feron menatap Alfi dengan senyum tipis.
"Oh iya, Afni. Lo mau ngomong apa tadi ama gua?" Tanya Feron merotasikan matanya pada Afni yang tengah menggembungkan pipi berisinya menatap Alfi kesal, mengisyaratkan agar Alfi berhempas manja dulu agar Afni dapat berbicara secara pribadi bersama Feron.
"Apa?! " Tanya Alfi ketus.
"Minggat gak lu sekarang, gua pen ngomong empat mata ama Feron doang" Jawab Afni meraih tangan bebas Feron yang ia letakkan diatas meja.
Tadi si Feron bilang kacaukan acaranya, tapi sekarang kayaknya ni orang malah keenakan, hadeuh. Emang kalau lelaki udah dipertemukan ama betina, omongannya 80% jadi hoaks semua.
Inner Alfi cemberut dan berjalan untuk duduk dikursi seberang.
"Kedekatan nyet" Sinis Afni melebarkan matanya pada Alfi.
"Disini atau tidak sama sekali" Cibir Alfi menatap Afni menantang.
"Ck! Iya deh, tapi awas aja kalau tu telinga nyosor dengerin rahasia kami berdua, gua gunting langsung didepan umum" Ancam Afni seraya menampilkan gunting sakti yang entah dari mana ia dapatkan.
****
"Ron" Ucap Afni memanggil Feron lembut.
"Hmmm" Balas Feron meminum lemon tea dari gelasnya langsung, enggan meminum lewat pipet yang sama dengan Alfi sang sahabat, walau biasanya emang gitu, tapi sekarang mencoba jaga image dulu dari Afni.
"Apakah pengakuan 2 tahun lalu masih berlaku? Aku.. Gulp.. Aku kini sadar Feron, kalau aku... Kalau aku.. Menyukaimu.. Apakah kau juga masih merasakan hal yang sama? Kalau iya, tolong katakan kau meny-tidak mencintaiku" Tutur Afni penuh harap dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan Feron yang langsung ditatap sang empunya panik.
Feron melirik Bruno yang juga meliriknya santai.
Apa? Santai?
Feron terkejut melihat ekspresi itu, Bruno hanya menampilkan senyum simpul pada Feron yang sontak langsung terkejut menatap Afni dan berucap.
"Mungkin sudah limit" Ujar Feron melepaskan tangan itu pelan.
"Gua mungkin udah ngak bisa melakukannya seperti dulu lagi, gila dan begitu mendambakan lo. Gua... Gua ngak bisa menerima perasaan lo, ataupun dicintai oleh lo" Lanjut Feron tersenyum pada Afni.
Afni langsung syok, ia tidak tau kenapa Feron bisa-bisanya menolak.
"Kenapa Ron, apa aku kurang cantik? Apa sekarang aku jelek dimata kamu? Atau ada wanita lain dihati kamu sehingga kamu udah ngak punya rasa sama aku?" Tanya Afni bertubi yang sontak membuat Feron mengguratkan senyum simpul.
"Tidak ada Afni, semua masih sama, masih tetap lo. Namun udah ngak bisa" Ujar Feron berdiri dari duduknya.
"Kenapa? KENAPA!?" Teriak Afni ikut berdiri, sontak semua penghuni kafe merotasikan pandangan mereka kearah Feron dan Afni yang mengeluarkan banyak air mata.
"Padahal aku mulai menyukaimu, padahal aku sudah berkorban cukup banyak agar kamu bebas dari Reyo, dan ini balasanmu padaku!?" Ucap Afni menunjuk Feron dengan ekspresi sedih bercampur marah.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Feron dan Alfi yang langsung ikut berdiri dari duduknya.
"Aku, AKU MEMBERI TAU BAHWA KAU PERGI KELUAR KOTA AGAR REYO TIDAK DAPAT MENJEBAKMU, KU PERTARUHKAN NYAWAKU SENDIRI UNTUK MENYELAMATKAN MU, TAPI INI BALASANMU, KAU CAMPAKKAN AKU HANYA DEMI ALASAN YANG TIDAK LOGIS! OH, AKUU TAU, PASTI INI KARNA WANITA BERNAMA NANDA ITU BUKAN, PASTI KARNA DIA KAU TIDAK MENYUKAIKU LAGI, PASTI KARNA DIA KAU BERANI MENOLAKKU, PASTI BENAR!! OH TENANG SAJA, AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN SEKARANG JUGA" Teriak Afni murka berjalan penuh amarah keluar kafe.
"Afni, AFNI TUNGGU WOY!!" Teriak Feron mengejar Afni.
Feron meraih tangan gemetar itu, dan sontak Afni langsung mengarahkan wajahnya yang penuh air mata pada Feron yang langsung syok melihatnya.
"Jika kau tak mencintaiku, untuk apa aku bertahan, aku harus menjadi nomor satu dihatimu, dan jalan satu-satunya, adalah membunuh Nanda" Lirih Afni dendam, ia langsung menghempas tangan Feron hingga genggaman itu terlepas.
"Af-"
Tap!
"Bukan begitu juga Ni" Ucap suara Bruno tiba-tiba memeluk tubuh Afni erat dari belakang.
"Tenang lah" Bisik Bruno tepat ditelinga Afni yang sontak melemah dan perlahan mulai membuatnya diam.
"Kecantikan lo akan memudar kalau lo emosi" Lanjut Bruno lagi, ia langsung membalikkan tubuh gemetar Afni dan kembali memeluknya erat enggan melepaskan.
"Tapi... Tapi... Aku ditolak huaaaaaaa.... Haaaaa... Bruno aku di tolak Ferooonnnn... Huaaaaaaa..... Huaaaa....." Teriak Afni menangis dan ikut memeluk Bruno erat.
"****..., tenanglah Ok?" Bisik Bruno mengelus punggung bergetar itu.
"Hiks... Hiks.... Tidak, aku jelek Bruno, pasti itu yang membuat Feron menolakku, sekarang aku sudah jelek... Aku juga sekarang sakit.... Pasti sebab itu Feron... Dia.... -" Teriak Afni.
"Shitt... Tenanglah, Feron tidak pernah mengatakan itu, karna lo tau. Lo tetap cantik dimata yang tepat" Ucap Bruno tersenyum dan semakin mengetatkan pelukan.
...TBC...