
"Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi pecundang." Vein benar-benar menekan setiap kalimat yang bisa ia tumpahkan di hadapan Feron yang hanya menunduk.
Rokok di sesap kuat, Vein kali ini benar-benar marah. Kuku jari bahkan sudah menancap sempurna di sofa single. Setelah menyesap rokok secara cepat, Vein langsung membuang puntung rokoknya ke asbak dan berdiri tegas berjalan lebih dulu untuk kembali berhenti dan melirik Feron.
"Mari kita ke sekolah buangan itu, aku ingin mengebiri."
Dan respon ajaibnya, Feron malah tersenyum seperti mendapatkan sesuatu yang menarik.
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...D...
.......
.......
"Ayah.. Ku mohon, ayah tidak usah sejauh itu." Ucap Feron berusaha menghentikan langkah dendam Vein.
"Jadi maksudmu apa?" Tanya Vein menatap lekat Feron dalam banyak hal.
Feron langsung tercekat.
Gua gak pernah liat ekspresi Vein seterluka ini. Atau pernah?
Tiba-tiba Feron langsung melemahkan cengkaraman, ia melepaskan sang ayah untuk kembali melangkah pergi bersama lapornya di tangan kiri Vein.
Feron menatap plafond lorong, fikirannya kalut karna sebuah angka di dalam kertas.
.
.
.
"Tidak ada orang." Gumam Vein mengintip sela-sela jendela yang menampilkan isi ruangan.
"Kemana semua guru disini, bahkan aku tak melihat satpam satupun." Lanjut Vein melirik kiri dan kanan secara cepat.
"Hmmm.... Ini harus di selesaikan secara brutal." Gumam Vein mengambil smartphone dan mulai mengetik sesuatu.
Setelah mengetik, Vein langsung menghampiri Feron dan duduk di samping pemuda itu. Melirik anaknya sedikit sebelum ia berkata "Hubungi buk Ariani, bilang ayah mau bicara 4 mata bersama beliau." Tutur Vein memberi perintah yang langsung di turuti oleh Feron.
Beberapa menit kemudian.
Vein yang sudah jengah, bahkan sudah mondar-mandir sana sini pada akhirnya dapat melihat buk Ariani yang tengah mengendarai motor datang ke arah mereka.
Tatapan coba Vein lunakkan, bibir yang menggeram coba Vein senyumkan, gurat kesal coba Vein lunturkan.
Dia benar-benar bersikap layaknya seorang wali yang berwibawa sekarang, menyapa buk Ariani dan memberikan salam formal.
Buk Ariani seperti biasa, memberikan kata basa-basi sebelum Vein langsung menyambar dengan pertanyaan sarkastik yang membuat buk Ariani serta Feron langsung terdiam dan pada akhirnya langsung membuat buk Ariani memilih menyambut kedua ayah anak itu di ruangannya saja.
.
.
Suasana di dalam ruangan kian mencekam, setiap kalimat yang di berikan buk Ariani selalu di balas Vein dengan keseriusan, kalimat tajam juga tak luput di layangan Vein saat mendengar sedikit saja kesalahan dalam penuturan kalimat buk Ariani.
Vein geram, ia bahkan mengecap buk Ariani sebagai salah satu guru yang tidak berkompeten. Mencaci dengan segala kekecewaan adalah langkah terakhir Vein sebelum ia mengarahkan tinju ke dinding ruang guru di bengkel DPIB.
"Jika ibuk tidak bisa menyelesaikan ini secepatnya, jangan salahkan saya jika di depan nama guru itu akan tertulis almarhum." Ucap Vein tegas dan bangkit menyisakan rasa takut buk Ariani yang tiba-tiba menyertai kepergian Vein.
"Ayahku mungkin lupa mengatakannya, tapi ia akan datang tiga hari lagi dan menunggu perkembangan." Ucap Feron kepada buk Ariani yang semakin terpojok.
.......
"Yuna!" Ucap Vion mendatangi Yuna yang hanya terduduk lemas dengan jejak air mata yang sudah mengering, merenung di bawah pohon beringin.
"Kenapa?" Tanya Vion seraya menyentuh pundak dan memeriksa wajah Yuna "Lo kenapa? Tadi emangnya Daffa ngelakuin apa sama lo ha?" Tanya Vion menuntut.
"Hiks..." Yuna semakin dalam menunduk.
"Yun Hey... Tatap gua, lu kenapa? Ghmph... Oh iya, dia udah taukan kalau lu ngandung anak dia?" Tanya Vion sambil duduk di samping Yuna yang masih menundukkan kepalanya, enggan untuk menatap Vion secara langsung.
" H-" Belum selesai Vion berucap Yuna langsung menggelengkan kepala dan berucap serak" Sebelum gua kasih tau, dia lebih dulu mutusin gua. "
Seketika pandangan Vion melebar tak percaya, apa sebenarnya isi otak Daffa?
Vion berdiri dengan marah dan langsung melangkah lebar hanya untuk di hentikan oleh Yuna yang langsung memeluk Vion dari belakang.
" Lu mau apa? Jangan ngelakuin sesuatu yang merugikan cuma buat wanita murahan seperti gua, apalagi kalau lu sampai adu tinju, jangan, jangan sampai hal itu terjadi." Gumam Yuna di punggung tegap Vion, Yuna mencengkeram erat baju Vion, mencegahnya agar tak pergi sia-sia demi Yuna yang merasa tak pantas untuk di kasihani.
Vion melirik, pandangannya ter arah pada Yuna yang masih betah pada posisinya.
" Biarlah untuk kali ini gua yang kasih tau si Daffa apa yang seharusnya ia tau, jika didiamin, yang kasihan itu bukan lu tapi manusia yang ada disini." Tunjuk Vion pada perut Yuna yang sudah membesar.
.
.
.
.
"Kenapa kau menghubungi ku Vein?" Tanya Ryou sambil melihat ke arah rumah lamanya yang tak pernah ia kunjungi lagi semenjak kejadian itu.
"Hmmm... Aku akan datang, tidak usah berdialog seperti itu, kau membuatku muak dengan ucapanmu yang seperti tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah."
.
.
.
"Hahahahaha, buk Ariani bisa saja." Canda Ardi menepuk meja cukup keras.
"Iya Ar-"
Blammmmm....
"Oh aku menghancurkan pintunya, bertapa tak sopannya." Ucap Ryou dengan muka mencemooh.
"Pagi." Sapanya pada semua orang yang berada di dalam ruangan, termasuk murid kelas satu yang langsung tancap gas kabur sebelum ia menyaksikan dialog yang tak patut untuk di dengar olehnya.
"Kau..... Bertapa tak sopannya." Ucap Ardi melangkah maju mendekati Ryou dengan hati yang merasa geram pada tingkah Ryou yang ia nilai tak sesuai untuk di lakukan seorang guru tepat di depan seorang murid.
Ryou menatap remeh dan langsung mencengkram wajah sok suci itu dengan tangan kiri dan langsung melemparnya kebelakang hanya untuk mendapat tatapan kecewa dari buk Ariani yang menahan bobot tubuh Ardi yang hampir limbung ke belakang.
"Tidak usah sok suci, aku kemari hanya untuk mengambil berkas kepindahanku saja." Ucap Ryou dan langsung menggeledah lemari yang tepat berada di samping buk Ariani.
"Tolong setidaknya sopan." Tekan buk Ariani geram, melepaskan Ardi yang sudah kembali seimbang dan langsung menunjuk Ryou dengan telunjuk kirinya.
Sementara Ryou hanya menatap dingin sebelum kembali memperhatikan tumpukan berkas dan berkata "Ibuk tidak pantas menekanku, aku bukan anak kecil polos yang bisa kau takutkan hanya dengan ucapan dan pengandalan jabatan. Aku bukan orang seperti itu."
"Kau.... Perbaiki ucapanmu, dasar tidak tau sopan santun. Tidak sopan, kurang ajar dan sekarang lancang berbicara seperti itu." Balas buk Ariani mulai terpancing. Entah apa yang terjadi, tapi sikap ini sudah di ketahui oleh Ryou.
'Vein berhasil melakukannya, bahkan untuk menyulut emosi seorang kajur yang terkenal akan kesabaran tinggi seperti Ariani ini dapat dengan mudah ia taklukkan, menarik, partner yang cukup menguntungkan.'
Ryou menyeringai "Sebelum kita ke permasalahan inti antara kita berdua, aku ingin tau sebenarnya apa yang terjadi pada muridku Feron hingga walinya menelfonku tengah malam hanya untuk mengatakan 'berisikan sampah dan buang aib' siapakah dia? ~" Tanya Ryou, namun tatapannya yang tajam ter arah pada Ardi.
.
.
.
.
.
" Aaa.....??? Daffa tidak pernah bilang kalau dia pindah." Kata Vion sebelum ia kembali memencet bel rumah yang sudah kosong itu.
" Percuma tuan Vion, tuan muda Daffa sudah berangkat dari pukul 14.25 WIB, jika saya perkirakan mungkin ia sudah sampai di tujuannya." Ucap salah satu satpam yang menjaga rumah Daffa.
Satpam itu diam sejenak, dan kembali di ancam Vion untuk mengatakan semuanya "Tuan Daffa akan melangsungkan pernikahan 3 hari lagi di Brazil, nyonya besar yang telah merencanakannya setelah tuan besar di nyatakan tiada beberapa bulan lalu oleh polisi."
.
.
.
.
Ck..
Pintu terbuka lebar dengan wajah Vein yang tersenyum senang menatap hasil usahanya" Setidaknya Ariani tidak akan buka mulut, aku sudah mencegahnya untuk tidak melaporkan hal ini pada polisi. " Kalimat Ryou sebelum ia memberikan sebuah toples kaca pada Vein yang tersenyum senang menerima organ itu.
" Terima kasih partner," Ucap Vein " Aku tidak suka lalat yang menggagu permataku berkeliaran dengan bebas. "
Ryou mengangguk singkat "Dikatakan juga dia adalah seorang LGBT, tak menyangka rupanya para guru DPIB itu hanya diam saja melihat salah satu guru non jurusan bersikap tidak terhormat berkeliaran bebas," Balas Ryou ikut menatap objek yang di tatap Vein.
" Bagaimana dengan pertambangan? Apa semua berjalan mulus? " Lanjut Ryou bertanya.
" Semua aman terkendali, setelah aku mencungkil mata Gundur, aku menyuruhnya menandatangani surat peresmian itu dan.."
"Dan? Apa kau masih melakukan kebiasaan burukmu?" Ryou melirik dari ekor matanya "Hahhh.... Sekarang aku tidak perlu pura-pura terkejut lagi jika Feron juga mewarisi penyakit 'itu' Heh! Terakhir kali aku memergokinya sedang menyiksa murid sma 1 itu, siapa ya namanya?"
Vein langsung mengalihkan pandangannya "Aku harap dia juga punya koleksi organ dalam sepertiku Hmph!"
"Hmph... Sudahlah, mengesampingkan hak itu, mau kita apakan cangkang kosong ini?" Tanya Ryou menunjuk tubuh Ardi yang sudah tak berbentuk.
"Apalagi?" Menyentuh kulit yang sudah berlumuran darah.
"Serahkan ke pasar gelap, aku yakin PEKAN*ARU itu tidaklah sepenuhnya bersih dari pasar gelap." Tutur Vein dengan seringaian yang mengembang bahagia.
.
.
"Buk A-"
"Sudahlah, k-kita anggap A-ar... Hiks.... Di pindah sekolah, tulis demikian sebelum dia Dataaaaaanggggggggg..... Hahhhhhhh!!!!" Kalimat Buk Ariani dengan ketakutan yang jelas kembali membayangkan ketika pisau itu menyayat Ardi yang sadar secara pelan.
.
.
.
.
Feron duduk nyaman di tempatnya, menatap sunset dengan damai seakan hari ini adalah hari yang paling indah di matanya yang takjub memandang langit sore.
Tangannya juga tak luput menyentuh bekas luka bekas goresan seorang teman smp yang akan selalu terukir dan membekas selama ia hidup.
"Hey, udah lama nunggu ya?" Tanya Nanda ikut duduk di samping Feron.
"Cappucino?" Tawar Feron menggeser satu cup Cappucino ke hadapan Nanda yang langsung menerima dengan tangan terbuka.
"Makasih."
"Masama Cantik." Gombal Feron.
Sambil menyedot perlahan minumannya, Nanda bertanya "Jadi lu mau bilang apa ke gua Ron?"
"Hmph... Apa ya? Gua bingung harus mulai dari mana."
"Santai aja kali, gak usah gugup gitu. Kayak bicara sama Angelina Joli aja lo pake acara bingung segala." Canda Nanda.
"Hehehehe... Ok deh kalau gitu," Hening "Nand."
"Ya?"
"Untuk ucapan lo yang waktu itu, apa lo gak mau pikir lagi? Apa lo yakin suka sama gua?"
Keadaan langsung hening.
.
.
.
.
"Daffa bener-bener mutusin kontak ama gua." Ucap Vion setelah menerima telfon terakhir dari Daffa.
"Hehehehehe..... Hiks..... Hehehehehe..."
"Yuna.... Tenangin diri lo, jangan depresi ok?" Vion langsung berlari dan membekap Yuna erat, berusaha untuk mengalirkan kehangatan Vion yang juga menjadi cemas melihat keadaan Yuna yang tiba-tiba memburuk.
"Trus gimana nasib anak ini Vi? Setelah apa yang terjadi, dan bahkan lo udah bilang sama dia walaupun lewat telfon, tapi dia.... Tapi dia malah bilang aborsi? Kejam banget gak sih tu manusia?"
Vion diam, sebenarnya, membicarakan hal se-senstive ini melalui telfon sungguh tidak ironis, namun karna sang objek sudah tak menginjakkan kaki di negara yang sama Vion bisa apa? Dan mendengar kalimat pedas serta dingin dari Daffa sukses membuat Vion membanting smartphonenya hingga hancur berkeping-keping.
Vion kecewa, Bisa-bisanya manusia seperti Daffa bisa terlahir di dunia ini.
Vion menelan ludah, mengakhiri sesi berpelukan mereka Vion berkata dengan tegas "Mari menikah Yuna, meskipun ini terdengar main-main dan penuh kekurangan, tapi setidaknya kita udah lulus sekolah. Untuk masalah kedepan, baik itu kuliah atau sejenisnya, bisa kita urus belakangan, yang jelas lu harus fokus sama bayi yang ada di dalam sini, dan biarkan... " Vion langsung menggenggam tangan Yuna erat.
" Dan biarkan gua, Vion. Dengan segala kekurangan gua, mengisi kekosongan figur bapak dan seorang pelindung bagi lo Yun, gua berjanji gua bakal ngelindungin kalian berdua, tidak perduli sebesar apa rintangannya, tak perduli seberapa banyak caciannya, karna gua tau, menjadi sesosok anak seperti bayi ini itu ngak mudah. "Ucap Vion tersenyum tulus.
Dan sekelebat ingatan kembali muncul, kembali menyadarkan Yuna jika Vion juga memiliki latar belakang yang sama seperti bayi di dalam kandungannya.
" Hiks... Viooonnnnn~" Isak Yuna memeluk Vion erat.
.
.
.
.
" Dan untuk jawabannya....
Mari kita pacaran... Nanda, dan semoga lo gak terkejut saat mengetahui siapa gua yang sebenarnya." Kalimat Feron sebelum ia tersenyum lebar, menganggap kalimat itu sebagai suatu lelucon yang pada akhirnya hanya akan menjadi impian bagi seorang Nanda.
" Gak mungkin gua bakal bilang begitu Nand, gua gak mau hubungan persahabatan kita berakhir menjadi pacar. Itu gak ironis, gak work it. Hehhhh~ Meskipun pada akhirnya, perasaan ini juga gak bakal bisa bohong ke elu." Feron langsung menyentuh dadanya dan menatap Nanda yang masih berusaha mencerna ucapannya secara pelan.
" Jadi maksudnya? Lo terima gua apa nolak? Gua si gak masalah di tol-"
" Shuttt.... " Feron langsung mendekatkan wajahnya pada Nanda setelah berhasil menghentikan bibir itu berucap dengan telunjuknya " Jangan bilang kalimat pasaran itu lagi Nand, karna lo tau apa? Karna kalimat itu udah terlalu sering lo ucapin ke semua cowok yang nolak elu, dan gua tau pada akhirnya lo bakal nangis sendirian di kamar lo yang sepi dan sunyi. Jadi.... Tolong rangkai kalimat yang lebih menarik supaya gua tertarik buat ngajak lo nge-date minggu ini." Setelah menyelesaikan ucapannya, Feron langsung menjauhkan wajahnya yang menyunggingkan senyum.
" Jadi gua harus bilang apa? "Tanya Nanda pelan.
" Bilang kalau lu pengen di terima dan gua bakal pertimbangkan semua itu Nanda Triasla. Katakan isi hati lo yang sesungguhnya ke gua, lu pengen banget pacaran ama gua kan?"
Nanda langsung memalingkan wajah di sertai pipi yang menggembung, memikirkan kalimat yang sama berulang kali sampai pipinya memerah.
Namun bagi Feron itu semua lucu, tinggal menunggu sebentar sebelum kalimat itu berjalan dari mulut sahabatnya sendiri.
"Feron...
Gua....
Lo....
Apakah bisa bersama?"
Kita?
.............
.......
.......
.......
.......
.......
...End...