All For Dreams

All For Dreams
Masih air tenang



"William" Panggil pak Ibram.


Ryouichi berbalik, menatap pak Ibram dengan tatapan cerianya.


"Iya pak Ibram, ada apa?" Tanya Ryou sopan.


"Bisa bicara sebentar" Imbuh pak Ibram berjalan lebih dulu.


"Ah, hmmm..." Gumam Ryou mengedikkan bahunya pertanda setuju.


Sesampainya di ruang guru, pak Ibram melangkah masuk diikuti oleh Ryouichi yang masih tidak menyadari maksud pak Ibram. Ruang guru gelap ditutupi gorden, tidak ada satu cahayapun singgah di ruang sebesar 7x8 itu. Namun, ada beberapa kesimpulan yang dapat di ambil oleh Ryou.


Aku di jebak


Isi hati Ryou memandang sekitar secara cermat.


Tiba-tiba langkah itu terhenti, membuat Ryou tanpa sadar malah menabrak tubuh bagian belakang pak Ibram.


Puk!


"Liat kedepan, saya berenti ni" Peringat pak Ibram.


"Gak usah dibilang pak, udah ketabrak kok" Balas Ryou mengusap dadanya yang baru saja bersentuhan dengan kepala runcing pak Ibram.


Perlu di ketahui bahwa pak Ibram hanya se-dada Ryou saja.


pak Ibram berbalik. Sedikit gurat kesal tercetak di wajahnya yang tak bersahabat.


"Kauu....." Lirih pak Ibram menunjuk dada bidang Ryou.


"Ya" Balas Ryou memasukkan tangannya ke kantung celana seraya berjalan mundur memberi jarak, bahkan ia berusaha bersikap senormal mungkin.


"Sebenarnya hal ini sudah lama ingin saya sampaikan, namun sepertinya tuhan lebih memilih waktu ini untuk saya agar dapat menginterogasi kamu" Ucap Pak Ibram.


Cklek!


Pintu tiba-tiba terkunci dan Pak Ibram hanya bersmirk seraya melipat kedua tangannya di dada. Sementara Ryou hanya dapat melirik dari sudut matanya, bersikap tenang adalah kuncinya saat ini.


"Bagaimana bisa kamu berhubungan dengan kasus ini? " Tiba-tiba suara pak Ibram datang kembali seraya meletakkan sebuah foto buram di atas meja tepat di antara mereka.


Sejak kapan disini ada meja?


Inner Ryou bertanya dan langsung melirik sudut tergelap ruang guru.


" Aku rasa ada lebih dari 3 orang disini" Gumam Ryou ikut menunjukkan smirknya.


"Kau terindikasi jelas berada di lokasi sebelum saya dan Puad hadir, jadi William...." Pak Ibram menjeda, ia menatap setiap inci wajah lawan bicaranya dalam gurat kesal.


"Apa kau tau...." Menunduk, pak Ibram harus kuat mengatakannya.


"Apa kau tau siapa pelaku dalam tragedi pak Bino?" Tanya Pak Ibram.


Ah... Rupanya hanya bertanya hal biasa toh


"Hmmm...." Gumam Ryou.


Ia merotasikan matanya sejenak, dalam otaknya tengah tersusun skenario yang sepertinya menarik untuk diolah.


Ryou mengusap tengkuknya, mencoba merangkai kata di depan guru dan setan-setan di kegelapan rupanya cukup sulit juga.


"Sebenarnya waktu itu aku tak sengaja lewat disana saat mengantarkan lembaran tugas siswaku kepada buk Mayang"


Tiba-tiba ada pergerakan di sudut ruangan dan Ryou yakini itu buk Mayang yang langsung tersentak.


"Hmmm.... Lanjutkan" Ucap Pak Ibram.


"Dan tanpa sadar Aku melihat keganjilan di ruang pak Bino setelah mengantar kertas-kertas itu, dan tanpa sadar menatap Veiner Abdi Adidjaya keluar dari ruangan setelah suara tembakan, ia juga berlumuran darah dan menggenggam sebuah dokumen di tangan kirinya dengan ekspresi kesal" Ucap Ryou, ia melirik sekilas. Melirik bagaimana ekspresi pak Ibram yang seketika langsung menampilkan wajah terkejutnya saat mendengar nama itu sebutkan.


"Adidjaya...." Gumam Pak Ibram.


"Alferon...... Adidjaya.....


Adidjaya....


Veiner.....


A!" Terkejut, pak Ibram sungguh terkejut bukan main mendengar ini semua.


"Ini sulit pak Ibram" Seru salah seorang dari kegelapan sudut ruangan.


Seketika gorden disibak, memperlihatkan banyak guru yang tak dapat berkomentar lebih selain alis mata yang bertautan.


Geotan disana, sebagai pengomentar berjalan pelan ke arah pak Ibram dan juga Ryou yang hanya tersenyum misterius.


"Adidjaya itu keluarga yang sulit untuk di jatuhkan, ber-urusan dengan mereka itu sangat sulit pak" Ujar Geo memberikan pendapatnya.


Pak Ibram berpikir.


"Kau benar Geo, apalagi pengaruhnya di kota ini tidaklah main-main. Kita benar-benar terjepit" Balas pak Ibram.


Namun, sepertinya ada yang sadar dengan perilaku Ryou.


"Bule itu aneh" Gumam Rizka menatap nyalang Ryou dari tempatnya.


.


.


.


Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II


"Nenek hati-hati ya, kalau ada apa-apa terjun dari pintu darurat pesawatnya aja, entar harta warisan bisa Feron tanda-tangani kok tenang aja, ok" Wasiat Feron mengelus pundak sang nenek.


Pletak!


"Dasar cucu kurang ajar" Emosi nenek menggeplak kepala Feron dengan tas Gu*ccinya hingga kepulan asap mengisi kepala jabrik itu.


"Aduh nek sakit!" Komen Feron mengusap kepalanya.


"Bisa-bisa harta warisan kamu nenek Serahkan ke Amo kalau begini" Ucap nenek berjalan menuju Travelator tanpa menghiraukan panggilan Feron yang menjerit seperti istri kehilangan uang bulanan. Feron masih terus mengikuti walau tak di hiraukan, hingga ke lantai dua, nenek hampir saja masuk ke pintu yang akan memisahkan mereka.


"NENEK!!! SETIDAKNYA KASIH SURAT WARISAN DULU DONG! DI BANDARA INI GAK ADA TEMPAT BUAT NGELIAT KEPERGIAN PESAWAT NENEK YANG BAKAL JATUH KE LANGIT HONGKONG! PEK*NBARU BELUM UPDATE BANDARANYAAAAAAAAA!!!!!!" Teriak Feron membuat semua mata menatapnya.


"Astaga, dia bukan cucuku" Gumam nenek hampir masuk ke tempat check in. "Tahan sebentar ya nak, saya ingin kasih paham anak monyet itu dulu bagaimana caranya makan pisang" Ucap Nenek meletakkan tiketnya dan berjalan ke arah Feron.


"Nenek" Feron langsung memeluk erat.


"Aku sendirian lagi," Gumam Feron membenamkan kepalanya di ceruk leher nenek.


Feron menangis.


"F-Feron" Panggil nenek mengusap punggung bergetar itu.


"Kalian semua pergi satu persatu, meninggalkan aku sendirian menghadapi semuanya" Lanjut Feron.


Gurat kesal sedikit di berikan nenek.


"Feron, dengar dulu!" Nenek langsung melepaskan pelukan "Nenek tidak mati, nenek masih hidup. Nenek pulang hanya untuk mengurus beberapa urusan, selain itu nenek juga meninggalkan Amo untukmu, berarti itu pertanda bahwa nenek akan kembali" Nenek langsung menyentuh pundak Feron "Nenek akan kembali, tetaplah tegar bersama Amo. Dan jangan lupa beri dia makan, ok"


"Ok" Balas Feron pasrah.


.....


Setelah melambai untuk yang terakhir kali, Feron akhirnya hanya dapat menghembuskan nafas lelah.


***Drrrrrttttt.....


Drrrrrttttt***......


Tertulis apik di smartphone Feron.


......Nenek miyaku yang gila harta gono gini......


"Assalamualaikum nek" Ucap Feron mengawali telfon.


^^^[Gak usah pake salam, sore ini segera datang ke rumah utama, ada yang ingin nenek bicarakan dengan kamu dan juga Adi]^^^


Cklik!


Telfon langsung dimatikan tanpa sempat Feron berkomentar.


"Keluargaku yang gila" Komentar Feron memilih untuk duduk di kursi tunggu terdekat.


Drtttt.....


"Alfi, tumben" Gumam Feron mengangkat telfon.


"Iya Fi, hmmm... Bisa banget. Entar lagi gua sampai di rumah lo- apa? Tempat magang lo? Oo-hmmm ok, siip, ok. Waalaikumsalam" Tutup Feron mengakhiri telfon.


Klik


Ting!


Pesan WhatsApp.


...Niken...


...Feron, nenek menyuruhmu untuk datang secepatnya. Cepatlah datang sebelum nenek sihir murka....


Feron membaca pesan itu dengan seksama.


"TUHANNNN!!!!!! HAISH!!! BISAKAH AKU TIDAK BERHUBUNGAN DULU DENGAN KELUARGA VEIN!!!!" Marah Feron langsung membanting smartphonenya hingga hancur berkeping-keping.


...Tbc...


Ps: tawuran menegangkan akan segera datang.