All For Dreams

All For Dreams
Hari peringatan



"Setelah menyita barang-barang berharganya alangkah lebih baik untuk memeriksa isi di dalamnya" Ucap Vein mengeluarkan smartphone Feron dari saku jasnya.


Saat ini sang ayah tengah berada di kantor tempat ia bekerja. Daripada menggabut tidak ada kegiatan di jam istirahat, lebih baik membuka joki sang putra, dan hal pertama yang ia lihat adalah foto sang..


"Haaaaaahh~ Feroooonnn, kau membuat ayah menjadi urung untuk kepo pada smartphonemu" Rutuk Vein menaruh smartphone Feron kedalam laci meja kerjanya yang kebetulan terbuka dan langsung ditutup kembali secara kasar, ia beralih pergi begitu saja menyisakan layar smartphone yang masih menyala didalam sana.


***


"Cukup untuk hari ini, gerbang ditutup dan yang terlambat akan saya buat perhitungan" Ujar pak Bino menutup pintu gerbang.


"PAK!!!"


"PAK BINO, TUNGGU PAK!!"


"Huhuhuhu, mantap sekali ada yang telat ini.." Smirk pak Bino membuat gekstur sigap.


Feron memegang gerbang dan berusaha menahan desah lelahnya.


"Pak Bino ijinkan saya masuk pak" Ucap Feron agak tersenggal diluar gerbang.


"Oh tidak bisa, siswa yang terlambat wajib 15 menit berdiri diluar gerbang" Pak Bino langsung membaca peraturan dengan angkuh.


"Tapi saya sudah ijin sama bang Ical cuma mau nge-print tugas ini pak Bino," Feron langsung menunjukkan kertas hasil printnannya.


"Dan saya juga sudah datang dari pukul 06.47 WIB tadi pak, kalau bapak tidak percaya bapak bisa tanya pak Ibram. Tadi kami juga sempat bertegur sapa sekitar pukul 06.50 WIB di loby" Terang Feron panjang lebar.


"Hmmm? Apa bapak bisa mempercayaimu yang sering bohong ini?" Tanya pak Bino mengusap dagunya curiga.


"Eh Feron, ngapain kamu diluar gerbang. Cepat masuk sebentar lagi pelajaran mau dimulai" Pak Ibram tiba-tiba datang dan membukakan gerbang untuk Feron hingga pak Bino langsung tercengang hingga kepergian sang murid berandalan.


"Mungkin bisa kita sebut sekarang 'mantan berandalan' " Ujar pak Ibram menyadarkan pak Bino dari lamunannya.


"Mungkin saja" Balas pak Bino.


"Tapi saya jadi rindu sikap berandalnya pak, rasanya dengan sikap calm seperti ini membuat kegiatan sekolah saya menjadi agak membosankan" Terang pak Puad tiba-tiba hadir diantara pak Bino dan pak Ibram.


"Pak Puad benar, saya jadi ingin bertanya kenapa dia bisa bersikap seperti ini?" Keluh pak Bino khawatir, membuat pak Ibram langsung melirik sang guru yang lebih pendek darinya itu.


"Betul sekali" Ucap pak Ibram dan pak Puad kompak menatap kearah pembelokan koridor tempat hilangnya siluet Feron.


****


"Pelajaran hari ini cukup sekian, terima kasih dan jangan lupa untuk mengerjakan pr yang sudah ibuk berikan ya Feroooonnn!!!!" Ucap buk Mayang menatap Feron yang masih mencatat pr dengan lesuh.


"Iya buk Mayang" Jawab Feron lemas.


"Eh? Kok sikap kamu jadi aneh gini, ibuk sampai merinding nih lo" Balas buk Mayang pura-pura bergetar takut namun Feron hanya menatap sekilas dan kembali mencatat dalam diam.


"Aneh sekali" Celetuk buk Mayang berlalu pergi.


*Jam istirahat*


"Aneh sekali" Ucap Nanda menatap Feron seraya memakan bekalnya.


"Kenapa?" Tanya Alfi yang juga ikut menatap Feron yang hanya santai menyuap makanannya.


"Lo masih murung Ron, kenapa lagi? Tinggal lu doang lo. Si Alfi dah balek ke sifat cerianya" Komentar Nanda namun tidak ditanggapi lebih oleh sang objek.


****


Bengkel TSM.


"Aneh sekali" Gumam Theo menatap lekat Feron dari tempat duduknya.


"Nah Fi, udah bener rantai motorlu. Besok-besok rantainya lebih sering dirawat aja" Petuah Regas membersihkan sisa peralatannya.


"Woke~" Balas Alfi naik ke atas motor.


Ragas menyenggol pundak tegap Alfi hingga ia menatap hampir tersungkur.


"Kenapa sama Feron?" Tanya Ragas memperhatikan Feron yang duduk menjauh dari mereka semua.


Alfi ikut memperhatikan punggung Feron. Ia menatap lekat dan pada akhirnya hanya dapat mengeluarkan helaan nafas panjang sebagai pengganti jawaban.


Theo, Regas, dan Ragas akhirnya berhenti bertanya setelah Alfi memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala lemah.


. ****.


"Fi, gua berenti di gang depan rumah aja" Tunjuk Feron di persimpangan.


"Ok" Alfi berhenti tepat ditempat yang ditunjuk feron.


Alfi terus memperhatikan sahabatnya yang turun dan berdiri dengan lemas tak bersemangat. Raut wajahnya juga terlihat gelisah dan sedih.


"Tapi Ron, rumah lu masih jauh. Apa ngak sebaiknya kita angsur lagi minimal ampe depan rumahnya pak RT?" Lanjut Alfi.


"Kagak usah, gua lagi ada urusan. Makasih udah mau nebengin gua" Tolak Feron melambaikan tangan pergi dan dibalas Alfi dengan melambai kan tangannya juga. Setelah Feron berjalan cukup jauh, disitu lah Alfi baru sadar.


"Eh? Bukannya arah rumahnya Feron lurus? Ngapain dia belok kiri?" Gumam Alfi bertanya pada dirinya sendiri.


***


"Hmmm... Hmmmm..... Hmmm....... Hmmm....." Feron terus bersenandung seraya berjalan. Menatap langit yang sudah gelap siap menurunkan air hujan sungguh tampak indah.


Angin mulai berhembus, membawa sari-sari bunga ikut terbang bersamanya. Pemandangan ini, suasana ini. Benar-benar membawa Feron bernostalgia.


TIK!!!


Tik!!


Zrashhhhhhhhhh.........


"Hujannya deras sekali" Ujar sesosok gadis A melihat hujan yang deras dari balik kaca caffe tempat ia bekerja paruh waktu.


"Tapi terasa nyaman" Balas pelanggan wanita yang duduk disebelah jendela mencoba memejamkan mata menikmati suara rintikan hujan yang semakin deras.


Clink...


"?" Seorang wanita paruh baya berbalik, berjalan kearah depan siap menyapa pelanggan. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok pelanggan yang berkunjung.


Pelanggan itu memilih duduk di sudut ruangan, tempatnya cukup dingin namun memiliki pemandangan luar yang indah jika kau dapat memilih posisi duduk yang pas.


"Anda ingin pesan apa?" Tanya gadis A berdiri di sebelah pelanggan siap mencatat.


Wanita paruh baya tersebut terus memperhatikan wajah pelanggannya dari balik pintu pemisah dapur dan toko, berusaha mengingat kapan terakhir kali ia melihat wajah familiar ini.


"Baiklah akan segera kami siapkan" Ujar sang gadis A sopan berlalu pergi ke dapur.


Sementara wanita paruh baya mulai menghentikan langkah gadis A yang ingin menyiapkan pesanan.


"Kenapa kamu tidak memberikannya handuk? Dia sudah kebasahan, berikan handuk ini dulu padanya dan biarkan nenek yang menyiapkan pesanan" Ujar wanita paruh baya itu menyerahkan handuk ketangan gadis A dan mengambil kertas pesanan, ia langsung memaksanya untuk kembali ketempat pelanggan tadi.


Pelanggan itu, Feron yang semula tertunduk menatap tangannya yang mulai pucat dengan sedikit tetesan air dari rambut basahnya kini mendongak menatap gadis A yang kembali dengan sebuah handuk kecil di tangannya. Feron langsung tidak enak hati, ia sadar kehadirannya membuat caffe ini menjadi basah dan kotor.


"Maafkan aku" Ucap Feron mengusap air dimeja dengan terburu.


"Aaaaa... Itu anuuu... Ah iya! Tidak masalah hehehehe. Ini pakailah untuk mengeringkan diri anda iya begitu hahahahahahha" Ujar gadis A mencampakkan handuk tepat keatas kepala Feron hingga wajahnya ikut tertutup. Sanking panik dan salah tingkahnya gadis A langsung berlari kembali kedapur.


"Maaf kan gadis itu ya, dia baru saja bekerja 3 hari yang lalu jadi agak sedikit kaku saat berhadapan dengan pelanggan" Ucap wanita paruh baya berdiri dihadapan feron.


Feron menyingkirkan handuk dari wajahnya.


"Tidak apa-apa, saya juga minta maaf karna saya membuat caffe anda menjadi kotor dan beberapa properti jadi basah. Selain itu saya juga berterima kasih atas handuknya" Balas Feron sopan mulai mengeringkan diri dengan perlahan.


"Cappucino dengan shortcake, silahkan" Ucap gadis A kembali datang dengan pesanan feron.


"Terimakasih" Jawab Feron.


Wanita paruh baya itu tetap berdiri di posisinya, ia menatap Feron lamat mencoba mengingat.


"Ekhem!"


Feron kembali mendongak, rambutnya sudah tidak menitikkan air lagi. Kini hanya tersisa handuk yang lembab.


Wanita paruh baya duduk dikursi, ia memilih menatap keluar jendela.


"Apakah tempat ini membawa kenangan?" Ucap wanita paruh baya tiba-tiba mengejutkan hati Feron. Ia memilih mengaguk dengan pelan mengisyaratkan jawabannya dengan kepala yang langsung tertunduk memperhatikan kepulan asap dari Cappucino yang sedang digenggam cukup erat.


Plup..


Setetes, dua tetes air mata mulai jatuh. Feron lekas langsung mengusapnya berharap tidak ada yang melihat ia menitikkan air mata.


Namun wanita paruh baya itu tau, tapi berpura-pura tidak tau dan mengalihkan pandangannya kearah bunga yang dipangku Feron. Bunga yang indah namun memiliki makna menyedihkan.


"Kamu mau kemana anak muda?" Tanya wanita itu yang secara tidak langsung membuat feron jengah.


"..."


Sadar akan ucapannya, wanita itu langsung ingin mengucapkan kata maaf namun terhentikan oleh kalimat Feron.


"Mengunjungi seseorang yang kusayang" Ucap Feron langsung menghabiskan sisa makanannya dengan cepat, hujan juga sudah mulai reda. Saatnya untuk beranjak.


"A-"


"Maaf nyonya, tapi saya harus segera pergi. Saya sangat berterima kasih karna anda sudah bersedia untuk menemani saya makan, permisi" Feron berlalu kekasir dan segera membayar, tidak lupa ia mengembalikan handuk yang sudah dipinjamkan oleh gadis A tadi kemudian bergegas pergi begitu saja meninggalkan gadis A yang langsung menatap kearah wanita paruh baya yang hanya dapat tersenyum canggung.


***


Setelah membeli bunga, Feron langsung diterjang oleh derasnya air hujan yang turun tanpa diundang hingga langkah Feron harus terhambat dan membuat ia mau tidak mau harus mencari tempat berteduh. Karna tidak ada tempat menarik, akhirnya ia memilih salah satu toko secara random.


Dan berakhir di caffe dengan tema 60-an itu. Jujur saja pelayanan di caffe ini agak sedikit ketinggalan zaman dan penuh kecanggungan, mungkin karna tema membuat Feron harus terbiasa. Namun bagi Feron mendapatkan tempat berteduh untuk menunggu hujan redah saja sudah cukup walau ia harus membayar sekalipun.


Feron tidak dapat menghubungi siapapun, karna smartphonenya sudah disita oleh sang ayah selama satu bulan penuh membuat Feron jadi harus putar otak untuk menjalani hidup tanpa teknologi praktis itu.


Menjadi anak yang tidak memegang smartphone dan juga motor merupakan suatu keberuntungan terselubung, dimana Feron tidak akan diteror oleh Adiniata yang selalu menanyai dirinya jika pulang telat seperti sekarang. Apalagi ditambah dengan ia yang tidak memakai motor, sudah cukup untuk membuat Feron tenang menuju kesini.


Setelah hujan reda, Feron kembali melanjutkan perjalanannya walau merasa tidak enak dengan wanita paruh baya tadi. Seharusnya Feron mengatakan sesuatu hal yang lebih masuk akal padanya.


Kalau boleh jujur sebenarnya Feron tidak suka ditanya-tanya seperti tadi. Ia sedang badmood, jujur untuk bertukar kata saja rasanya begitu melelahkan. Namun Feron juga sudah mencoba untuk mengatakan kalimat yang mendeskripsikan maksud ia kesini bukan?


Perjalanan masih cukup jauh, perlu mendaki sedikit lagi agar bisa sampai ketujuan. Dan akhirnya ia mendapati makam sang ibu yang tersembunyi diantara dua pohon besar.


"Akhirnya sampai juga" Ujar Feron meletakkan bunga diatas makam sang ibu.


Ia termenung menatap nisan yang menampilkan nama ibunya dengan lengkap.


"Ibu, Feron datang" Ucap Feron tulus mengelus kepala nisan. Ia meletakkan tas dan membukanya, merogoh isi didalam tas kemudian mengeluarkan botol air.


"Maaf ibu, kali ini Feron lupa bawa air. Eh, tapi tadi kan sudah hujan. Otomatis ibu pasti tidak kehausankan? Hahahaha" Tawa Feron hambar.


Setelah itu semua kembali hening dan Feron yang kembali menatap gundukan tanah dalam diam. Ia beralih menatap botol air yang masih berisi setengah dan pada akhirnya pasrah menuangkan seluruh air tersebut keatas makam sang ibu.


"Kenapa ibu cepat sekali pergi? Ibu membuatku sedih hidup didunia yang sempit ini" Lirih Feron bersuara pelan.


Air mata terus mengalir tanpa henti meratapi kesunyian di pemakan tersebut.


...TBC...