All For Dreams

All For Dreams
Hancur



"Eh-eh, Nan jangan gegabah Nand" Ucap Feron mengejar Nanda yang sudah lebih dulu berjalan pergi ingin menggerebek.


"Bagaimanakah kelanjutan kisah dari sepasang kekasih ini? Ikuti terus perjalan 'PUTUS NYAMBUNG' bersama saya Alfin Muhammad Hasqi, kita ikutin trus geng"Ujar Alfi dengan camera di genggamannya berlari mengikuti Nanda dan Feron, Sepertinya manusia satu ini masih mengikuti kehaluannya.


.......


.......


.......


...106...


...HANCUR...


.......


.......


.......


*Nanda Pov*


"ANWAR!!!" Teriak gua langsung menampar Anwar keras.


Plakkk


Plakkkk


Tamparan kiri kanan gua layangan, sungguh tega Anwar memainkan perasaan gua yang udah tulus sama dia.


"N-na" Panggil Anwar tertahan.


"Cukup!" Jerit gua menunjuk Anwar dengan tangan bergetar.


"N-Nann i-ini (menatap Yuna sebentar) ini bukan seperti yang kamu pikirin Nand, aku berani sumpah ini semua hanya kesalah pahaman Nand, Nand dengerin gua" Ucap Anwar merangkul gua yang trus mengelakkan muka, enggan mendengar penuturan Anwar yang bagi gua hanyalah kamuflase semata.


"NANDA!" Teriak Anwar.


Gua langsung natap Anwar gak percaya, dia bentak gua?


"Sorry Nand, tapi ini satu-satunya cara supaya lu mau liat gua," Lirih Anwar memeluk gua dalam.


"Nan, gua cinta ama lo" Bisik Anwar.


Gua hanya menggertakkan gigi, masih syok dengan kejadian tadi. Kenapa sih War, kenapa sih lo langsung main ama cewek lain, padahal anniversary aja kita belum.


"Nand, gua di jebak ama Yuna Nand, please percaya ama gua" Lanjut Anwar semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gua.


"Ini gak bercandakan?" Bisik gua memandang tengkuk Anwar, bahkan tangan ini dengan perlahan mulai membalas pelukan Anwar.


"Gua serius Nan, kalau perasaan hati. Gua gak pernah becanda" Ucap Anwar melepas pelukan mereka.


"Anwar..." Lirih gua memandang mata coklat itu dalam.


"Nanda, maaf" Ucap Anwar menyatukan kening kami, ia bahkan sampai menutup mata. Menyalurkan rasa bersalahnya.


*Nanda pov End*


"Sampai jam berapa kita dimari Ron?" Tanya Alfi menutup layar Cameranya.


"Sampai mereka berdua udah normal" Jawab Feron memukul lehernya.


"Banyak nyamuk" Racau Alfi.


"Tahan demi sahab-Eh! " Balas Feron memandang takjub muka Alfi yang sudah benjol di singgahi nyamuk.


"Apa?" Tanya Alfi menatap Feron.


"Gak apa-apa Fi, lanjutin aja kegiatan menggaruk lo" Balas Feron mengalihkan atensinya pada Nanda.


Si Nanda enak banget dikibulin cinta, tapi dia masih beruntung bisa merasakan cinta tanpa hambatan si.


Batin Feron tersenyum.


Sementara Yuna, ia menggeram kesal. Kenapa bisa tiba-tiba mereka datang? Aneh sekali.


Drrttt..


Drrttt.....


"Hah?" Bisik Yuna mantap Smartphone digenggamannya.


Daffa is calling


Tulisan di layar smartphone Yuna namun gadis itu malah me-reject panggilan tersebut.


Panggilan terus berlanjut hingga panggilan kelima, Yuna langsung mematikan smartphonenya kesal.


"Ngapain sih ni orang nelfon mulu ah!" Gumam Yuna kesal.


"Oh, jadi gitu" Ucap satu suara di belakang Yuna.


"Huaaa!!! Daffa" Pekik Yuna terkejut.


"Ya, dan apa-apaan dari tadi panggilan gua cuma di reject ha! Udah gak sayang nyawa lu" Hardik Daffa menyimpan smartphone kembali ke kantung jaket kulitnya.


"B-bukan gitu maksud aku Daff," Lirih Yuna mundur.


"Hooo... Bukan gitu tapi gini ya" Balas Daffa mencengkram tangan Yuna yang menggenggam smartphone hingga sang empunya terpekik sakit.


"S-sakit Daff" Lirih Yuna.


"Hap!"


"Gak gitu juga Caranya bro" Feron balik mencengkram tangan Daffa yang langsung kesal memandanginya.


"Ck! Pengganggu, gak usah ganggu urusan gua ama pacar gua" Hardik Daffa menendang kaki Feron.


"Wush..." Feron langsung menghindari kaki Daffa "Jadi dia pacarlu? (menunjuk Yuna) astaga, gua pikir dia cewek penggoda. Masalahnya dia baru aja cium pacar sahabat gua" Ucap Feron menunjuk Anwar.


"Apa?" Tanya Daffa kaget, dia langsung memandang Yuna tak percaya.


"Katakan kalau yang di bilang ni orang bohong" Ujar Daffa melepaskan genggamannya pada lengan Yuna dan begitu pula dengan Feron yang melepas cengkramannya pada lengan Daffa.


"Cepu lu Ron" Bisik Alfi yang tepat berada di sebelah Feron.


"Itu akibatnya kalau nyakitin perasaan Nanda," Balas Feron ber-Smirk.


"Udah Yuk, cus kita balik. Si Nanda juga udah ama si Anwar" Lanjut Feron berbalik pergi, meninggalkan sepasang kekasih yang saling berdebat setelah di Cepuin.


"Ron" Panggil Nanda.


"Yaps" Jawab Feron.


"Gua balik ama lo" Ucap Nanda berlari mendekati Feron.


"HA? Kenapa?" Tanya Feron.


"Kan gua perginya ama lu, tentu gua baliknya ama lu lah cebung!" Emosi Nanda.


"Lu gak mau balik ama cowok lu aja? Heran gua, entar Anwar cemburu lagi ama gua" Ujar Feron menggaruk kepalanya seraya menatap Anwar.


"Gak apa, gua percaya kok ama lu Fer" Balas Anwar tersenyum kecut.


Apa yang mereka bicarain selagi gua gak merhatiin sih?


Batin Feron bertanya.


Yuna yang melirik interaksi mereka hanya dapat menggeram.


Ini semua karna kalian berdua, awas aja. Gua bakal buat perhitungan, lebih-lebih sama cewek sok cantik itu, awas aja lo. Gua bakal buat seluruh perhatian yang mereka berikan buat lo menjadi sebuah kebecian, gua bersumpah!


Geram hati Yuna kesal.


.


.


.


Disisi lain.


"Ba*ngsat!!! Awas aja lu William," Pekik Ardi geram.


"Bisa-bisanya dia selalu menghalangi rencana gua! Akhhhhhhhhhhhh!!!!!!" Teriak Ardi di dalam kamarnya.


Ia tidak habis fikir, kenapa semua guru berpihak kepada pemuda Jerman itu dan malah menyingkirkan dia?


Apa yang telah dilakukan imigran itu hingga ia dapat menarik simpati banyak guru? Apa? Apa?


" Seharusnya yang gantiin buk Ariani sebagai walas 11 DPIB itu gua, GUA! Kenapa yang kepilih malah dia?" Ucap Ardi murka.


"Gua harus buat perhitungan ama tu orang yang udah berani mempermalukan gua di depan Buk Ariani dan yang lainnya, main santetpun bakal gua lakuin demi membalas rasa sakit hati gua," Gumam Ardi memandang jendela kamarnya.


"Awas aja lu William... Pembalasan gua itu nyata" Sambungnya mengalihkan perhatian pada lemari pakaiannya.


...Flashback...


Kantor guru DPIB.


Tok!!


Tok!!


"Assalamualaikum semuanya" Ucap Ardi ceria.


"Waalaikumsalam Ardi, tumben kamu datang" Balas Buk Sinta berjalan kembali ke kursi kerjanya.


"Iya ni Buk, saya cuma mau numpang letakin hasil ulangan siswa" Balas Ardi kembali, berjalan mendekati meja buk Sinta untuk duduk di kursi tamu.


Tak lama setelahnya pintu kembali terbuka, menampilkan seorang pria dengan setelan kemeja lengkap dengan Vest dan celana formalnya berjalan memasuki ruangan.


"Bagaimana Will perkembangan siswa kelas 12?" Tanya buk Ariani menatap wajah lesuh Ryou.


"Aa? Ah, baik sekali buk. Mereka juga sudah menyelesaikan pekerjaan UKKnya, bisa dikatakan mereka hanya tinggal ujian" Jawab Ryou duduk di kursinya, meletakkan tas dan juga lembaran absen siswa.


"Baguslah kalau begitu, kakak sangat berharap ujian ini akan sukses besar" Balas buk Ariani berharap.


Ryou memandang.


"Insyaallah buk, dengan usaha kita semua sebagai guru bengkel, pasti anak-anak akan bisa menjawab setiap ujian" Balas Ryou lagi.


"Yah, tapi bagi saya sendiri, melepas mereka untuk ujian ini saja rasanya sedikit resah. Apalagi dengan beberapa siswa. Terlebih Gusti dan Ayu, Gusti lemah dalam ilmu arsitek bersamaan dengan Ayu yang sering absen juga menambah kecemasan saya. Selebihnya hampir 50% kelas 12 hanya diisi oleh siswa/i yang kemampuannya hanya yaahhh hmmm.... " Ujar buk Sinta lemah.


Berbeda dengan fikiran mereka semua, Ardi yang tak tau menau malah memperdalam jurangnya sendiri.


" Namun saya yakin anak-anak saya pasti lulus buk," Ujar Ardi semangat" Apalagi dengan nilai matematika mereka, semuanya bagus-bagus. Saya yakin itu dapat membantu mereka dalam ujian" Sambungnya berdiri dan menatap ketiga guru jurusan bergantian.


Ryou mengeluarkan Smirk "Ck! Hahahahahahahaha, astaga (mengusap air mata) buk Ariani, dimana ibuk dapatkan guru semacam ini ha? Dan kenapa dia bisa jadi walas 12 GB? (menunjuk Ardi pongah) Astaga sangat dikasihani sekali bagi seorang walas yang tidak dapat memahami anak-anaknya sendiri," Ryou merotasikan matanya seraya mengusap dagu berpikir "Aku mau bertanya padamu Ardi, kau ini bodoh apa dungu ha? Untuk lulus itu pasti, namun untuk keberhasilan itu yang di khawatirkan. Kau seharusnya malu karna tak dapat mengetahui dimana letak kelemahan kelas 12 Ardi. Kalau mereka lulus, mau dibawa kemana ijazah itu? Hanya tamatan SMK, bisa apa? Aku Bisa saja tidak meluluskan anak-anakmu, namun.... " Ujar Ryou menatap Ardi seraya bersilang tangan didada.


" Buk Ariani pasti tau sendiri kelanjutannya, tak perlu saya sebutkan juga ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan para guru" Tegas Ryou mengutarakan pendapatnya.


Buk Ariani langsung diam, dia tidak tau ingin mengatakan apa. Tapi melawan seorang Ryouichi itu susah. Apapun yang dikatakan akan menjadi bumerang baginya.


Sementara Ardi, ia langsung kesal "Maksud anda apa ha? Anda meremehkan anak-anak saya hanya karna nilai kejuruan mereka rendah? Jangan berani anda, disini nilai umum anak-anak saya masih bisa mendukung. Jadi apa yang membuat anda sampai berpikir untuk tidak meluluskan mereka?" Tanyanya.


Ryou langsung memandang Ardi kesal "Kau tau bukan kalau ini itu SMK Ardi SMK, jangan kau samakan dengan SMA. Jika Disini pelajaran umum hanyalah penunjang bagi kami. Dan yang terpenting itu adalah pelajaran kejuruan yang harus dipahami oleh setiap siswa. Minus kalau siswa itu hanya sekedar masuk saja, namun walaupun begitu, setidaknya dia memiliki pembekalan," Tutur Ryou mengeluarkan permen mint dari sakunya.


"Dan lagi, kau itu hanyalah cadangan walas. (membuka bungkusan permen dan langsung memakan isinya) Kau seharusnya tidak dipilih untuk memahami para siswa kami, aku kasihan pada kelas 12 harus memiliki walas bodoh sepertimu yang hanya bisa ngomong besar dan ketawa sana sini seperti orang gila, terlebih lagi kau sering memalsukan nilai siswa kami, "


Ardi sontak terkejut.


" jangan fikir aku tidak tau (menatap Ardi menyeringai) Seharusnya yang menjadi walas kelas 12 itu pak Dimas. Dan apa-apaan itu, memasukkan anak-anak SB*PTN dengan iming-iming lulus lalu membayar uang sebesar 50 ribu perkepala kepadamu, Heh!? Sementara kau tau sendiri bahwa anak SMK tidak akan di terima SB*PTN" Tutup Ryou tersenyum puas menatap wajah pias Ardi.


" Ardi! Benar itu? " Tanya buk Ariani.


" I-itu... Itu tidak benar buk, Ardi hanya meminta uang sebagai pelurus saj- maksudnya sebagai biaya administrasi kepada pihak SB*PTN buk" Jawab Ardi gugup.


"Setau saya SB*PTN gratis Ardi, beda untuk beberapa jalur" Sambung buk Sinta.


"I-itu itu..."


...End flashback...


"Awas aja lu William!!!!!" Pekik Ardi murka.