
...All For Dreams ...
...Taktik Fiona...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Di kelas nan sunyi tanpa suara riuh kaum 11 DPIB. Dengan pelajaran selanjutnya, olahraga.
Kini terduduklah Fiona dkk (dan kawan-kawannya) yang tengah asyik ngerumpi sambil ngemil kuaci seribuan.
"Lu gak langsung ke lapangan bola Fiong?" Tanya Liza seraya tangannya cepat membuka setiap kuaci.
"Bentar lagi, makan dulu kita" Jawab Fiona mengunyah kuacinya.
Sementara itu, dilapangan.
"Sumpah gua malu banget tadi" Gumam Feron menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ngapain malu Ron? Kan segitiga lu cuma warna biru" Ucap Nanda tanpa Filter, membuat awan mendung di kepala Feron semakin membesar.
"Masalahnya tu cewek mau gua embat cok, lu sih! (menunjuk Nanda dendam) kenapa pake bilang resleting gua turun didepan calon embatan gua. Hancur sudahhh" Gumam Feron akhirnya pasrah dan memilih untuk berjongkok di bawah pohon rindang di dekat lapangan bola.
"Semua sudah hadir?" Tiba-tiba suara pak Puad hadir di antara hujan badainya hati Feron.
"Sudah pa- eh?! Belum pak, Fiona, Bunga, Liza serta Delima belum datang" Jawab Adam menghitung semua pasukannya (teman kelas)
"Ya udah (pak Puad duduk di dam penahan tanah lalu menatap Adam) tunggu apa lagi, cepatlah jemput mereka. Kenapa juga kamu masih disini Adaaammm!" Ucap pak Puad geram mengusir Adam dengan kipasan tangannya.
Adam langsung pergi, kini menyisakan pak Puad yang menatap 11 DPIB bergantian. Hingga tatapannya berakhir pada Feron yang malah asyik jongkok sambil menghitung semut rang-rang kembali ke sarangnya.
"Woy kutu Arab! Ngapain kamu disitu?" Tanya pak Puad langsung melempar penanya pada Feron, tidak mengenai Feron namun menancap tepat pada lubang kehidupan semut rang-rang.
Feron langsung menatap pak Puad dalam ekspresi sedihnya, ingus dan air mata seperti aliran angka seratus sebelas di muka panjang itu.
"Gak usah ditanya dia kenapa (langsung mengalihkan atensi pada siswa siswi 11 DPIB) sekarang baris-baris" Tegas pak Puad berdiri dan mengarahkan siswanya untuk berbaris memulai pelajaran.
"Pak puaaadddd!! Godain aku dooonggg!!" Teriak Feron alay.
"JIJIK!!!" Tegas pak Puad langsung menatap Feron jijik.
.
.
.
"Bagi kalian para lelaki, ni main bola" Perintah pak Puad langsung melempar bola ke-kerumunan para lelaki.
"Untuk para siswi, kalen mau main apa?" Tanya pak Puad kini mengalihkan atensinya pada para siswi.
"Basket pak" Jawab Atika semangat.
"Ok, ini bola basketnya" Ucap pak Puad menjulurkan bola basket pada Tika yang langsung meraihnya semangat.
"Kalau begitu, kalian main dengan sportif sementara bapak ingin mengurus beberapa urusan yang tertunda" Ujar pak Puad melambai pergi.
"Kita ngapain?" Bisik Delima pada teman-temannya yang langsung menatap ke arah Delima.
Atika semangat memainkan bola basket bersama Iis dan Anugrah sementara Nanda memilih untuk duduk di bawah pohon rindang memperhatikan Feron yang sedang berlari mengejar bola.
"Bola dikejar gua di anggurin" Gumam Nanda mengomen Feron yang malah kelihatan tampan saat berkeringat.
"Sepi juga jadi cewek penyendiri (melirik Atika dan Fiona yang saling berkumpul dengan teman masing-masing) mereka enaklah, temen sama cewek. Lah gua (langsung menatap Feron yang tengah mengejar bola) malah temenan ama cowok, alhasil gua selalu sendiri kalau di jam segini. Sementara Hawaaaa (melirik Hawa dan teman-temannya) dia udah bahagia sama temen barunya, ck! " Lanjut Nanda bergumam dan diakhiri decihan.
"Hmmm.... (menumpukan pipi di kedua tangannya yang bertumpu pada lutut kaki) bagaimana caranya supaya gua bisa ........" Ucap Nanda berusaha mengusir keheningan di hatinya.
Sementara itu, Feron dan Anwar yang saling menjadi tim musuh.
Gua anggap bola ini Nanda, sementara gua dan Feron adalah dua pria yang saling mencoba taktik mendapatkan Nanda. Heh! Gua pasti yang menang
Inner Anwar pongah. Ia melirik Feron yang tepat berada di depannya, mereka berdua saling merebutkan bola dengan permainan kaki masing-masing.
"Hgh! Lu belum liat yang lain aja" Jawab Anwar sombong dan langsung mengopor bola ke belakang.
Feron seketika menatap Anwar.
"Lihatkan" Lanjut Anwar menaikkan senyum miringnya.
Anwar langsung berlari pergi, menyisakan Feron yang masih mencerna maksud Anwar. Setelah beberapa saat, ia langsung membalikkan badan melirik punggung Anwar.
"Apaan sih tu orang?" Gumam Feron tak paham dan kembali berlari untuk merebut bola, namun sebelum benar-benar merebut bola Jojo (Johanes) malah tak sengaja mengarahkan tendangannya pada Nanda yang tengah melamun.
"Ha! NANDA!!!!!" Teriak Feron langsung berlari ke arah Nanda.
Bruk!
"Ukh!" Geram Feron berhasil menangkis bola dengan dadanya.
"Eh? Feron lu kenapa?" Tanya Nanda langsung mendekati Feron yang kesakitan.
"Gak apa-apa" Jawab Feron menepis tangan Nanda yang hendak menyentuh dada Feron.
Feron mengalihkan atensinya dan menyentuh pipi Nanda.
"Lu gak apa-apakan?" Tanya Feron, dan alhasil membuat rona merah langsung menghiasi wajah Nanda yang terdiam membatu.
"Anj*ink bener si Nanda" Geram Fiona mengepalkan tangannya menatap adegan itu, sementara teman-temannya hanya dapat memperhatikan dan mengelus punggung Fiona mencoba meredakan rasa kesal yang ada pada gadis manis itu.
Di sisi Anwar.
Gua kurang cepet sedetik dari Feron, As*w!
Geram hati Anwar jengkel.
Sebenarnya ia dan Feron sama-sama berlari hendak menyelamatkan Nanda dari bola salah tendang Jojo, tapi ia terlambat dan malah di dahului oleh Feron.
Saat ini Anwar hanya dapat menggeram kesal di belakang Nanda. Ia di cuekin, dan itu membuat Anwar kesal bukan main.
Jadi lo ajak perang Ron! Ok, lo jual gua beli.
Inner hati Anwar langsung pergi meninggalkan Feron dan Nanda yang masih asyik berucap saling mengkhawatirkan satu sama lain.
.
.
.
Beralih ke Fiona dkk yang juga langsung pergi ke kelas.
"Capek banget, daripada di lapangan berpanasan ngeliat adegan itu, lebih baik ke kelas ngadem dengan kipas" Ucap Fiona duduk di kursi Feron.
"Huuu~ lu bener banget Fiong" Balas Delima tiduran di meja Liza.
Sementara Bunga asyik menggosok kulitnya dengan body lotion.
"Sok pake body lotion segala lu Bung" Komentar Liza sewot menatap Bunga.
"Serah gua lah dugong, yang beli dan make gua kok lo yang sewot sih!" Balas Bunga jutek.
"Idih! Dibilangin yang bener malah jutek" Jawab Liza.
Sementara Fiona malah menatap botol body lotion itu lamat, dan seketika pikiran cemerlang singgah di otak berkaratnya.
"Aha! Gua punya ide" Fiona langsung meraih botol body lotion dan menatapnya penuh aura misterius.
"Mungkin sebagian orang menganggap ini botol body lotion biasa, tapi di tangan Fiona isi body lotion bisa menjadi mala petaka yang menjanjikan buat Nanda hahahahahahahaha" Tawa kencang Fiona mengelus sayang botol body lotion Bunga dalam nuansa otak licik yang sudah memikirkan seribu satu cara untuk membuat Nanda celaka.
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...