
...All For Dreams ...
...Simulasi gerakan memukul yang benar...
.......
.......
.......
...🍅Warning dilarang nungging🍅...
...Adegan kali ini agak brutal dan mungkin akan kena peringatan, jadi jangan pernah mengikuti sikapnya....
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Di bangsal penuh kesunyian, Feron hanya dapat menghela nafas lemah berkali-kali. Rasa bosan hampir membanjiri fikiran Feron yang langsung saja kembali membaca pesan dari para sahabat dan juga teman-teman sekelas yang katanya ingin berkunjung.
Cklek!
Feron seketika langsung mengalihkan atensinya ke ambang pintu.
"Ayah?" Ucap Feron menatap aneh sang ayah yang hanya menampilkan gurat kemarahan di wajah tampannya.
"Feron, ayah ingin bicara" Ucap Vein berjalan mendekati tempat tidur Feron dalam aura menyeramkan.
"Ukhmmm" Gumam Feron yang hanya dapat menampilkan wajah bingungnya memperhatikan Vein yang sudah duduk di samping tempat tidurnya.
"Bagaimana sekolahmu selama ini? Menyenangkan?" Tanya Vein.
Apa-apaan dengan pertanyaan ini? Tumben sekali
Inner hati Feron menatap sang ayah penuh tanya.
"Aku bertanya padamu Feron ayo lekas dijawab!" Bentak Vein, membuat Feron terperanjat.
"Aaaaa-baik, aku punya segalanya. Teman, sahabat, guru-guru yang menyenangkan d..." Vein terus memperhatikan setiap perubahan ekspresi yang di berikan Feron, ceria, tertawa, getir, emosi hingga sedih.
"Dan begitulah, kini aku malah terbaring tidur disini" Akhir ucapan Feron tertunduk diam, membuat Vein langsung berdecak.
"Sudahlah Feron, sahabat tidaklah sepolos pemikiran kecilmu itu," Balas Vein tersenyum remeh.
"Rasa kepedulian mereka yang kau banggakan itu perlahan akan memudar, hilang dan tergantikan dengan rasa hampa," Lanjut Vein menatap Feron yang langsung membelalakkan matanya pada Vein yang semakin tersenyum.
"Rasa kepedulian dan janji akan selalu bersama itu semua omong kosong, itu palsu Feron, dan kau tau (menyentuh pundak Feron) kau hanya akan berakhir sendirian" Ucap sang ayah berhasil membuat Feron langsung menepis tangan itu kasar.
"Tidak! Semua itu tidak benar, contohnya saja Alfi dan Nanda. Mereka berdua selalu ada untukku, mereka selalu menemaniku mendengar keluh kesahku, memaklumi segala tindakan dan emosiku, mereka sempurna untukku" Jawab Feron tak kalah emosi mendengar hasutan sang ayah yang hanya bermuka datar mendengar jawaban sang anak.
"Ck! Mereka ya (mengusap dagu seraya berjalan pelan memunggungi Feron) bagaimana jika ayah katakan mereka berdua itu suatu saat akan meninggalkanmu?" Vein berhenti berjalan dan melirik Feron dalam Smirk misterius.
"Apa maksudmu?!" Tanya Feron geram, ia mencoba untuk meredam emosinya dengan meremat selimut erat.
Vein tidak akan melewatkan momen dimana sang anak kini mencoba menahan emosinya, sebagai seorang ayah tidaklah sulit bagi Vein untuk memancing emosi Feron.
"Contohnya, setelah berpisah mungkiinn?" Ucap Vein.
"Ngak! Aku pastikan itu gak bakal terjadi, aku percaya sama mereka, aku selalu dan akan percaya dengan janji-janji kami. Ak-"
Ucapan Feron terputus, sang ayah lantas menutup mulut sang anak dengan jari telunjuknya. Mengisyaratkan agar sang anak diam. Tatapan tajam dari Vein seketika membuat Feron langsung menghentikan ucapan berikutnya.
"Percayalah Feron, karna kehidupan akan selalu begitu, siklus pertemanan, jodoh, semuanya akan berakhir tragis. Tidak ada yang namanya setia, tidak ada yang namanya perhatian, tidak ada yang nam-"
Bruukk!!!
Vein menatap pukulan sang anak yang meleset. Posisi mereka saat ini benar-benar dalam keadaan yang tidak baik.
Vein tertidur di lantai dengan Feron yang berada di atasnya, tengah menggeram marah pada Vein.
Vein melirik sejenak pukulan itu dan beralih menatap wajah emosi Feron.
"Pukulan sengaja melesetmu padaku tidak membuatku takut nak!" Vein ber-smirk.
"Heh! Biar ayah tunjukkan apa itu berandalan yang sebenarnya" Senyum miring berlapis kan tatapan tajam menusuk dari sang ayah yang tanpa aba-aba langsung membalikkan keadaan dalam sekejap.
"Akh!"
Feron berhasil di taklukkan Vein dalam kurun waktu 0.2 detik, Kini posisi berbalik dengan Feron yang berhasil di bekuk dengan kedua tangan Feron yang berhasil di kunci Vein kuat di punggung sang anak. Sedikit sentuhan terakhir, kini Vein mendekatkan wajahnya pada telinga sang anak.
"Lihatlah, meskipun sudah tua kemampuanku masih belum berkurang. Kau adalah anakku yang benar-benar bebal. Aku menyuruhmu sekolah dengan baik, tapi kau malah tawuran dan menyebabkan banyak masalah" Bisik Vein mengintimidasi.
Feron terperangah, kenapa bisa orang tua yang sudah Feron cap sebagai bang Toyib ini malah mengetahui hal-hal yang Feron yakin sudah ia simpan rapat-rapat itu.
Feron menggertakkan giginya, tidak mungkin ia akan kalah. Dan itu tidak akan pernah meskipun Vein ayahnya sendiri. Memanfaatkan kelenturan sendi kakinya, Feron langsung melilit kaki kanan Vein dan langsung membalikkan badannya selagi Vein yang lengah dengan kuda-kudanya.
Untuk episode kali ini Feron akan mencoba mempercayai jika orang tua tidak akan setega itu pada anaknya, jadi apa salahnya kini Feron mencoba kebenaran kalimat itu?
Dan terbukti sudah, mereka malah semakin tidak ingin mengalah satu sama lainnya.
Hingga lantai penuh bercak darah dan perabotan rumah sakit rusak berat. Vas bunga pecah, tirai tempat tidur putus, tempat tidur terbalik, sofa terbelah dua, meja kaca hancur hingga lampu ruanganpun sampai pecah dan serpihannya berhasil membuat kaki Telanjang Feron berdarah.
Namun Feron seakan mati rasa dan malah makin semangat memukul wajah tegas sang ayah, kapan lagi kan bisa memukul ayahmu sendiri di saat-saat emas seperti ini. Bahkan Feron sudah berhasil mematahkan hidung mancung itu hingga bengkok dan mengeluarkan darah tanpa henti.
Sementara Vein tidak kalah, ia juga berhasil mematahkan kaki kiri sang putra bungsu. Namun seperti memiliki tenaga banteng, Feron malah makin brutal memukul Vein hingga saling adu jotos antara ayah dan anak ini malah makin seru eh-salah menjadi maksudnya. Kalimat hinaan dan watak asli Feron tak pelak malah terbongkar di saat seperti ini.
"Mati Lo ANJI*NK!!!" Teriak Feron murka. Wajah dan pendarahan kepala sebelumnya kembali terbuka dan mengalirkan darah, membasahi wajah dan tangan Vein yang hanya ber smirk tajam menatap Feron.
"BERANI KAU MENGATAI AYAHMU ANJ*INK! DASAR ANAK IBLIS!" Balas Vein memukul perut Feron hingga sang empunya langsung muntah darah.
"UHUK! Uhuk! (mengusap bekas darah di mulut) Berarti Lo raja iblisnya!" Sarkas Feron menatap wajah Vein murka.
"Apa kau bilang! Anak dajjal!" Geram Vein langsung meninju kepala sang putra hingga Feron terpelanting jauh mengenai pintu ruangan.
.
.
.
"Pak Ryou, apa Feron akan memaafkan saya jika saya membawa semua hadiah ini?" Lirih Fiona, berjalan di sebelah Ryou.
Ryou mengusap kepala sang murid.
"Tentu saja Fio, kamu hanya perlu memberikannya dengan segenap perasaan maafmu" Jawab Ryou seraya tersenyum teduh dan membuka pintu ruang inap Feron.
Klek klek
"Kok macet ya?" Tanya Ryou di sela usahanya mencoba membuka pintu tersebut. Senyum masih mengembang di wajahnya, namun urat halus mulai keluar dari keningnya.
"Kenapa pak?" Tanya Adam berjalan ke arah Ryou yang makin berusaha membuka pintu, bahkan kakinya pun sekarang ikut andil mendobrak pintu ber cat putih itu.
"Pintunya macet" Jawab Ryou akhirnya dapat membuka pintu itu dan membukanya lebar.
"Assalamualaikum Ferrrrrrrrrr..... FEROOONNNN!!!!!!" Ucap semua panik tatkala melihat Feron dan sang ayah yang saling terlilit tirai yang saling terhubung dengan leher masing-masing, tak pelak juga kedua tangan itu saling mengetatkan genggamannya pada tirai yang melilit leher lawan berusaha mencekik dengan perantara tirai.
"Mati lo blagu, puki*mak! Asw iblis jin, semoga lo di jemput hantu penari aja sekalian!!!!!" Geram Feron semakin mengetatkan kain tirai yang melilit leher sang ayah.
"Kurang ajar sekali mulutmu dasar anak tak tau sopan santun!" Balas Vein juga melakukan hal yang sama pada leher Feron.
Mereka berdua sudah babak belur, sudah bermandikan darah, dan sudah saling melilit. Keadaan ruang inap juga tak kalah berantakannya, mirip kapal pecah dengan tersangka ayah anak yang malah saling ingin membunuh.
"Sudahlah, hentikan semua ini!!!!!" Pekik Neti yang tiba-tiba saja hadir dengan sekantong buah segar di genggamannya.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...