
Aksi saling dorong akhirnya terjadi di antara kedua pemuda itu.
Feron yang tak tau dan tak ingin tau malah dipaksa duduk di depan sofa keadilan sang nenek.
"Jadi...." Ucapan Bunda Neti menggantung "Apa yang terjadi pada lipstikku?" Lanjutnya mengangkat botol lipstik yang langsung menjatuhkan serpihannya ke lantai.
"Yah begitulah" Jawab Feron nyengir, ia memandang sejenak sang nenek yang tidak ada senyum-senyumnya. Persis seperti karakter ibu tiri.
Sang nenek memperhatikan kedua pemuda itu dalam pandangan datar.
"Ck! Sudahlah" Final Miya menepuk jidatnya dan berlalu pergi.
"Nenek kenapa?" Tanya Feron mendekati Neti.
"Tidak tau" Jawab Neti.
Arsyal datang, memberikan padnya menunjukkan suatu hal yang berhasil membuat Feron menatap sang sepupu dalam pandangan bertanya.
"Sebentar lagi" Ucap Arsyal mengambil kembali padnya.
"Dia ngomong apa Ron?" Tanya Alfi berbisik.
"Entah, gua juga gak paham maksud si Arsyal apaan" Balas Feron menjawab pertanyaan Alfi.
.
.
.
...104...
...Pacar kontrak...
.......
.......
*Feron POV*
Udah 2 minggu berlalu, dan surat cinta yang gua sampaiin sama Anwar udah di terima dengan suka cita. Bermodalkan pengalaman cinta dan berkah otak encer akan hubungan asmara (walaupun gua masih apes akan pernyataan cinta Afni), akhirnya pada pukul 20.30 WIB Anwar secara langsung menghubungi Nanda yang sudah menunggu dengan fikiran campur aduk, bahkan dapur sang mama sudah ia jadikan miniatur kapal titanic kalau saja tidak di cegah, mungkin rumah beserta perabotan sudah tinggal kenangan. Dan untungnya hanya cobek saja yang terbelah dua dan sudah di musiumkan di belakang rumah.
Kembali pada keadaan...
"Pagi..." Suara bang Anto mengawali pagi di kantor, menyapa seluruh rekan kerja yang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Dan juga tak terlepas dari gua beserta Nanda yang tengah sibuk menulis kalimat buat tanda-tangan doang.
"Eh, ngapain ni anak magang?" Tanya bang Anto berdiri di belakang kursi kami.
"Biasa bang, menanggung beban negara dipundak ringkih penuh penderitaan dan konsekuensi hidup berlapis kesengsaraan yang fana" Ucap gua berceloteh panjang lebar melupakan atensi gua pada kak Layla yang sedang nge-print dokumen meeting 2 jam lagi dengan mulut komat-kamit entah ngumpatin apaan.
Setelah bercerita sedikit dengan bang Anto, akhirnya ia memilih duduk di kursinya. Sementara itu, bang Sukma yang baru saja kembali dari dapur seraya memegang kopi kini kembali berusaha membully kami. Ya, secara kata dia kalau gak tes mental anak baru dia gak bakal bisa tau seberapa jauh kemampuan kami. Wait the minuts! Apa itu masuk ke dalam peraturan magang?
Secara gua dan Nanda adalah dua remaja kedua yang sudah magang di CV ini, dan gua rasa kita gak ngelakuin apapun dan malah di bully ama ni setan Arab kelebihan enzim kulit.
Terlepas dari perkenalan gua akan lingkungan, kini kak Layla malah ingin memulai perang setelah seluruh anggota CV, minus om Wen yang langsung ke lokasi proyek. Malah mengajak gua beserta Nanda untuk menghampiri kursinya.
"Karna kakak pikir kalian berdua tidak memiliki skill sama sekali, maka dari itu kakak akan mengajak kalian ke perusahaan, melihat bagaimana kami para konsultan bekerja, hitung-hitung buat pembekalan kalian" Ucap kak Layla mengambil kunci mobil dan berjalan terlebih dahulu keluar.
Gua ama Nanda yang cuma bisa diam sambil mengikuti hanya dapat berwajah kalut, sebenarnya cukup grogi saat satu mobil dengan bos besar yang selalu sensian ini.
Saat gua melewati meja bang Anto, tiba-tiba tangan Bang Anto langsung meraih ujung baju gua.
"Ron, hati-hati ya" Bisik Bang Anto tersenyum.
Gua hanya menatap heran "O-ooo Ok?" Ucap gua bertanya.
Bang Sukma memandang "Kayaknya kalau kalian berdua datang bukannya berlangsung alot meetingnya, malah jadi malapetaka" Komentar bang Sukma pedas.
"UDAH BANG SUKMA GAK USAH BACOT" Omel Nanda meninggikan nada suaranya seraya menggeplak kursi bang Sukma hingga sang empunya terjengkal ke depan.
.
.
.
Sesampainya di kantor, kak Layla izin untuk keluar terlebih dahulu. Ia mengatakan bahwa ada panggilan yang harus di jawab, meninggalkan gua ama Nanda yang hanya bisa pasrah mengikuti alur.
Didalam mobil, gua hanya melirik Nanda yang sedang tersenyum membalas chat, dan gak perlu ilmu nujum buat tau siapa gerangan teman chat Nanda.
Nanda memandang gua sejenak "Iya dong, secarakaaaaa-eh si Anwar ngajak Vc nih (merapikan jilbabnya) gua angkat dulu Ron"
"Iya, silahkan" Jawab gua malas, gua lebih memilih untuk memandang keluar, enggan untuk memperhatikan makhluk yang sedang di mabuk asmara seperti Nanda.
Jangan sampe aja si Nanda entar nangis gegara si Anwar, kalau sampai itu terjadi maka....
Isi hati gua memandang kak Layla yang berjalan mendekati mobil.
"Yuk masuk ke kantor" Ucap kak Layla.
.
.
.
Jadi ini kantor yang sering didatangi ayah gua, jangan sampe gua jumpa ama dia dimari
Inner gua berdo'a.
Cklek
"Perm-" Ucapan kak Layla seketika terhenti.
"Tidak bisa dasar gendut!!! Sudah kukatakan berkali-kali kalau proyek jalan ini sudah pas dan tidak bisa diganggu gugat, baik untuk upah tukang dan juga untuk keuangan dalam pembelian bahan" suara ini, air muka gua langsung datar.
"Suara iniii....???" Gumam Nanda langsung merotasikan matanya ke gua.
"Bapak gua" Balas gua datar.
.......
Kak Layla langsung meminta maaf pada kami secara formal, ia mengatakan bahwa ia akan kembali mengajak kami di waktu lainnya dan menyuruh kami pulang dengan om Wen yang kebetulan tengah mengantar bahan ke kantor.
Setelah sampai kantor, kami langsung pulang diiringi dengan muka suram. Di kursinya, bang Sukma langsung memberikan wajah mengejek andalannya.
"Udah abang duga, pasti berakhir tragiskan hahahahahahha" Ucap bang Sukma tertawa puas.
"Diam lu bang sebelum layar pc kak Layla nyungsep ke muka abang" Ancam gua sudah bersiap dengan layar pc kak Layla di genggaman.
Tak ambil pusing, tanpa menunggu balasan bacot dari bang Sukma, gua beserta Nanda langsung memilih pulang saja. Cukup bosan bersilang pendapat dengan bang Sukma, yang ada entar bukannya pulang malah adu mekanik.
Di parkiran,
"Ron, makan Yuk" Ajak Nanda menatap gua dengan senyum getirnya.
Ada apa lagi ama ni anak?
Akhirnya gua turuti aja, mumpung perut juga udah misscall minta jatah.
Gua ama Nanda akhirnya memilih buat makan siomay di depan Tk, selain karna harganya miring dan pas di kantong, siomay ini adalah langganan gua sama almarhumah nyokap.
"Jadiii" Gua menatap Nanda yang tengah pundung "Lu kenapa?" Tanya gua.
Nanda masih enggan untuk membuka mulut, alih-alih berbicara, ia malah memilih untuk menutup majah dengan satu tangan yang bebas.
Ya gininih, kalau bicara ama cewek emang harus ekstra sabar. Harus pandai baca situasi, keadaan, serta mood mereka. Alih-alih di sayang, gua malah selalu menjadi tempat aksi KDRT Nanda yang moodnya suka naik turun macam ibu hamil.
"Jadi gini, " Nanda membuka suara dan langsung menatap gua "Jadi pacar kontrak gua dong Ron"
"UHUK!"
Semua diam, mamang tukang siomay diam, burung lagi lewat diam, sepasang kekasih sedang adu bacot diam, kang bola yang lagi kartu Kuningan di seberang jalan diam, dan gua ternganga setelah batuk.
"APA!!!!!?" Teriak gua, hampir membuat bapak-bapak yang tengah menikmati siomay di belakang gua mengantarkan nyawanya ke malaikat maut.
"Iya, gua pen buat Anwar cemburu dan liat seberapa jauh dia sayang ama gua" Ungkap Nanda mengepalkan tangannya kuat.
"Emang lu kenapa ama dia?" Tanya gua heran.
"Sebenarnya......." Ucap Nanda lesuh.
...Tbc...
...Sebenarnya hubungan itu butuh rasa cemburu jugakan? Tapi kenapa si Nand? ...