All For Dreams

All For Dreams
Haruskah percaya?



Sudah genap 2 bulan Reyo menjadi siswa jurusan DPIB di SMK 1. Tak pelak pemuda itu juga mulai membuat teman dengan yang lainnya hingga membuat Feron agak sedikit jengkel melihat sikap Reyo yang baginya hanya topeng semata.


"Hi Ron, kali ini gua di tugasin buat sekelompok ama lu, mudah-mudahan pekerjaan ini dapat selesai dengan cepat ya" Ucap Reyo mulai duduk didepan Feron yang bermuka masam.


"Semoga tidak" Sinis Feron.


"Apa?" Balas Reyo berpura-pura.


"Adam, ini ada pesan dari pak Ibram supaya lu cepet datang ke aula. Dia bilang bakal ada yang diomongin" Feron tiba-tiba pergi dan memutuskan pembicaraan dengan Reyo yang langsung menampilkan smirk.


.


.


.


.


Jam istirahat,


Di kantin.


"Feron" Panggil Reyo semangat.


"Tidak" Balas Feron datar.


Di perpustakaan.


"Feron gu-"


"Tidak perduli" Potong Feron langsung berlalu pergi.


Di toilet.


"Dikit lagi keluauuuaaaarrrrr nghhhh"


"Feron!" Teriak Reyo tiba-tiba membuka pintu WC.


Plup!


Mereka berdua saling memandang satu sama lain, hingga atmosfer kecanggungan mengelilingi mereka.


"AN*JING!" Teriak Feron mengawali sesi KDRT.


Bruk


prak


Brak


"Ampun Ron" Teriak Reyo berlari keluar dari toilet dengan gayung yang sudah singgah di kepalanya.


...****...


"Ada apa gerangan ni bestie?" Tanya Nanda menyentuh punggung Feron yang sedang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengan.


"Gak pen hidup gua" Balas Feron malas.


" Kesucian gua di renggut" Jawab Feron memperlihatkan sedikit wajahnya yang sudah dipenuhi air mata dan ingus menjijikkan.


"Astaga! Kenapa bisa Ron? Lu hamil? Siape bapaknya? Kapan? Tanggal berapa?" Tanya Nanda panik langsung kalang kabut memberi tau berita bahagia ini.


"Re-"


"Hmphhhhh!!!" 11 DPIB langsung menahan nafas. Dari Hawa yang baru datang, hingga Fadli yang menahan boker tidak jadi ke WC.


"Jadi Reyo bapaknya, hiks! Maafkan bapak yang tidak dapat menjaga kesucianmu nak" Ujar Adam mendramatisir drama indo*siar dengan daun pintu sebagai lawan mainnya.


"Ngak be*go!" Balas Feron datar.


"Kenapa gua bisa di pertemukan dengan makhluk aneh cam mereka si?!" Gumam Feron tak habis pikir dan memilih untuk beranjak meninggalkan satu kelas Gaje-nya.


...***...


Drap


Drap


Drap


Suara hentakan kaki tergesa berhasil mengalihkan atensi Feron yang sedang tidak ingin diganggu. Sensor anti Reyonya juga sedang bekerja untuk mendeteksi ancaman kedatang kuyang jejadian satu itu.


"Hiks... Hiks...." Samar suara tangisan didengar Feron yang sedang nongki di replika mobil Ambulans di depan bengkel TP.


"Perasaan tadi gua gak buat ulah dah, sesajean masih aman kok" Ucap Feron memandang sesajean yang tak jauh dari lokasi nongkinya.


"Hmmm.. Kejadian aneh, apa karna Kunti nya kesepian di tinggal ngedate ama mas Poci jadi dia cari temen baru?" Intuisi Feron berpikir keras seraya meletakkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk pola ceklis di dagunya yang mulai di tumbuhi kumis tipis.


" Ah bodo lah, otak gua lagi korslet. Saatnya tidur menghilangkan beban naskah cerita" Ucap Feron bodoh amat dan memilih menyamankan diri di kursi Ambulans.


Namun sebuah jeweran berhasil menyadarkan Feron kembali.


"Adudududuh!!!!"


"Disini kamu rupanya, kemana aja ha!? Oh! Atau kamu sengaja kabur dari jadwal belajar supaya bisa enak-enakan baring disini? Sementara saya harus kelimpungan nyari kamu sampai harus keliling satu SMK 1 hanya demi menjawab Pak Kanza yang asik ngechat saya karna satu hewannya hilang! Begitu?" Cerca Ryou menarik telinga Feron hingga mereka keluar dari lembah kesunyian menuju lembah kesesatan yang bernama kelas pak Kanza.


.


.


.


"Silahkan pak Kanza, ini saya kembalikan hewan lepasnya ke kandang" Tutur Ryou menyerahkan jewerannya pada pak Kanza yang menerima dengan senang hati.


"Terima kasih pak Ryou, bapak memang bisa selalu di andalkan untuk mencari Feron" Balas Pak Kanza tersenyum pada Ryou yang malah menoel kepala Feron gemas pen di tabok tapi sayang ingat durasi.


"Kenapa aku memiliki tema cerita segaje ini" Rutuk Feron pada dirinya yang terpaksa mengikuti pelajaran bahasa indonesia, padahal dia sengaja menulis 'sedang sedih dan tak ingin di ganggu' di papan tulis, tapi kenapa masih di ganggu juga.....


"Be*go!" Celetuk Reyo dari tempat duduknya.


"Tulisan segede semut rang-rang mana keliatan sama orang" Sambung Reyo mencoba menahan emosinya melihat ke dunguan mantan musuh, atau masihnya itu?


...TBC ...