All For Dreams

All For Dreams
Sang penopang



Di lapangan sekolah SMK 1 yang terik dan panasnya menyamai mesir ini, terduduklah semua siswa siswi SMK 1 di lapangan tanpa karpet sebenangpun sesuai jurusan masing-masing, sementara para guru akan mencari tempat duduk yang lebih layak.  


"****** memang" Maki Lulba menatap sinis ibuk-ibuk yang tengah asyik duduk berteduh di bawah payung Gazebo.


Namun berbeda jauh dengan anak Multimedia yang terpilih mendapatkan mandat menjadi perekam acara wajib ini.


Dan diantaranya adalah Alfi yang saat ini tengah duduk santai di pot bunga besar dibawah pohon rindang dengan pandangan yang tidak beralih dari kamera digital yang sedang merekam kegiatan.


Sebut saja Alfi sebagai anak emasnya jurusan Multimedia, dia sangat digemari baik oleh para siswi maupun guru di jurusannya.


Jadi, tidak salah jika ada siswi yang sekelompok dengannya seperti Diana saat ini, maka akan sangat beruntung sekali bahkan sebelum ke lapangan saja Diana sudah jambakan dulu dengan fans Alfi yang lain hingga membuat Alfi yang melihat keadaan Diana yang datang dengan berantakan sempat berfikiran aneh.


Dengan kecerdasan, kecakapan, pandai dalam hal jurusannya, ditambah lagi dia tampan dan ramah sudah cukup untuk membuat kepala jurusan selalu menunjuknya sebagai siswa kepercayaan dalam mengurus segala hal, termasuk yang saat ini tengah Alfi kerjakan. Tidak akan pernah bergeser kecuali jika Alfi sakit ataupun kabur.


Jujur saja, sebenarnya Alfi lebih suka bermalas-malasan dari pada selalu disuruh ini-itu oleh guru. Dan sebagai pelariannya Alfi akan selalu bolos pelajaran baik jurusan maupun umum untuk membuat namanya tercoreng.


Awalnya ia pikir akan ada hukuman dan cercaan serta makian, namun sudah hampir 2 tahun satu suratpun tidak pernah ia terima, aneh memang namun Alfi hanya bergidik bahu melihat itu semua. Please Man, Alfi juga pengen di maki ama Kajur.


Lain halnya dengan alfi yang berteduh sambil merekam, lain pula dengan pak Ibram yang tengah menantang matahari menghadap ke arah ratusan pasang mata yang menatapnya penuh arti itu.


Ia mengambil alih menjadi pengisi acara berikutnya setelah kegiatan siraman rohani. Kegiatan ceramah yang akan disampaikan oleh pak Ibram ini sebenarnya sudah biasa, contohnya seperti memberi tau pengumuman ataupun hal-hal yang berhubungan dengan masalah libur.


Namun semenjak 'orang' itu terkenal, semua berita selalu bersangkutan dengannya.  


"Tes.." Suara pak Ibram menguji kebersihan suara mic.


Tuk!


Tuk!


Pak Ibram mengetes keakuratan mic-nya sebelum berbicara.


"Yap, terimakasih telah mengikuti kegiatan jum'at pagi, semoga berkah bagi kita semua, amiin. Berikutnya..." Jeda Pak Ibram menatap sinis kebelakang panggung.


"Kita panggilkan pemenang adu jotos MELAWAN SMA 2 pada hari selasa lalu, siapa lagi kalau bukaaaannnn...!!!" Pak ibram memberikan gekstur menyuruh 5 satpam untuk membawa sang tersangka yang bisa dibilang juga bukan tersangka.


"GUA GAK NGAPA-NGAPAIN KEMAREN PAK IBRAM! SUMPAH PAK GUA CUMA DUDUK DI MOTOR, ASWWWWWWWWW SAKIT ANJ*NG!!!!! " Teriak Feron berusaha memberontak dari kekangan paksa para satpam namun semua sia-sia saja. Dia malah digotong layaknya karung beras dengan tangan dan kaki yang diikat dengan lakban.


Pak Ibram ditempatnya hanya bisa mengurut pangkal hidung, pusing dengan sikap Feron yang makin hari semakin aneh saja.


GRAB!!


"Jika kamu bisa diam, ini tidak akan lama" Bisik pak Ibram seraya mencengkram leher Feron kuat, hingga membuat Feron bisa mencium aroma ketek pak Ibram dengan jelas.


Sumpah asem banget


Inner Feron ingin muntah.


"Nah ini dia pelaku yang makin hari semakin ingin jadi artis antar sekolahan, sudahlah skornya besar perilakupun ikut membesar" Ucap pak Ibram melepaskan Feron dari cengkramannya. 


"Sekarang mari kita introgasi pelaku ini, Alferon Adidjaya, kamu itu mau jadi apa sih sebenarnya? Setiap hari pasti buat catatan merah, pasti buat onar, pasti buat pusing, pasti buat saya selalu sport jantung, pasti selalu buat kami para guru ketar-ketir dengan sikap kamu, bahkan guru yang tidak pernah masuk kelas kamu saja sudah sangat hafal jelas dengan sikap kamu Feron! Kamu mau kami keluarkan dari sekolah ini?! Mau kamu ha!!! Masih kecil sudah jadi preman, BESAR KAMU JADI APA HA? Masa depan kamu akan suram jika kamu bersikap seperti iniiii!!!" Geram pak Ibram benar-benar menceramahi Feron didepan khalayak ramai, hampir semua kata-kata yang ia keluarkan akan diberikan penekanan sekuat rasa kesalnya pada sikap Feron.


Bagi orang luar, kelakuan pak Ibram seperti mempermalukan Feron, namun sebenarnya ini sudah merupakan tradisi dan juga kesepakatan bersama saat pertama kali berpikir untuk masuk kesekolah ini. Jadi, siapapun ia, harus menerima konsekuensinya.


"Jadi koruptor pak" Bisik feron yang berhasil didengar pak Ibram.


"APA!!!" Teriak pak Ibram membuat seluruh orang yang berada dilapangan langsung menutup rapat kedua kupingnya.


Feron langsung kalang kabut mencari jawaban berbeda "Ngak ada pak hahahahaha sumpah deh" Lirih Feron melirik kebelakang tepatnya kearah tempat duduk tamu, ia melihat ajudan SMA 2 tengah memperhatikan mereka atau lebih tepatnya Feron, dengan serius.


"Kamu harus bapak beri hukuman! Kamu akan.." Pak Ibram melirik sedikit kebelakang "Bapak berikan hukuman scors selama waktu yang tidak ditentukan dan berhutang permintaan maaf kepada SMA 2, itu saja terima kasih" Tutup pak Ibram.


Setelah pak Ibram memberikan maklumatnya, semua orang dipersilahkan bubar untuk menuju kelas masing-masing.


Sementara Alfi langsung berdiri dari tempatnya, menyerahkan kamera digital pada Diana yang menatap Alfi penuh tanya, namun Alfi tidak menggubris dan lebih memprioritaskan satu hal saja, ia langsung berlari pergi keruang tunggu para tamu sekolah.


Sesampainya Alfi disana, ia melihat Ragas tengah duduk disamping ajudan SMA 2 dengan muka kusut. 


"Gas!!" Alfi langsung meraih tangan Ragas dan menariknya hendak keluar namun ditahan oleh para ajudan.


"Tuan tidak boleh kemana-mana tanpa seizin saya" Ucap ajudan itu dingin menatap Alfi yang mulai marah.


 "Gas!! Gua butuh penjelasan lo buat semua ini, kok bisa si Feron doang yang kena scors!" Tegas Alfi marah. 


"I-" Kalimat yang sempat ingin diutarakan Ragas seketika terpotong.


"Ini bukan wewenang anda untuk berbicara" Ajudan itu berdiri dan melepaskan cengkraman tangan Alfi pada Ragas dengan kasar serta langsung menghalangi pandangan tajam Alfi pada Ragas yang tidak seperti biasanya itu.


Sementara Ragas dengan pikiran yang begitu kacau hanya bisa berjalan pergi diikuti ajudan SMA 2 meninggalkan Alfi yang semakin marah akan sikapnya yang aneh.


"WOY ASW! JANGAN JADI PENGECUT LU, KEMARI DAN JELASIN KEJADIANNYA AMA GUA SEBELUM KAMERA MELAYANG!!!"  Teriak Alfi marah.


Ragas benar-benar tidak melirik Alfi yang sudah naik pitam siap melempar kamera mahal, ia hanya memilih melangkah semakin menjauh.


"Benar-benar pasrah tu anak"


"Hwaaa!!!" Alfi reflek terkejut melihat Feron dan pak Ibram sudah berada disampingnya.


“Tu anak harus gua kasih pelajaran dulu baru boleh minggat dari sekolah ini” Ucap Alfi yang hendak menyusul Ragas langsung ditahan oleh pak Ibram .


"Biarkan saja mereka" Kata pak Ibram memandang arah hilangnya Ragas dan ajudan itu.


"Tapi pak, kenapa bisa cuma Feron yang di skors, kenapa si Ragas ngak? Ini kan gak adil?" Tanya Alfi menuntut pada pak Ibram.


"Haaahh~ sebenarnya saya juga tidak ingin men-skors nak Feron, namun ini semua adalah keinginan dari kepala sekolah SMA 2. Saya sendiri sudah mendengar cerita realnya langsung dari pak Beno yang tidak sengaja juga berada di tempat kejadian, dan cerita yang disampaikan pak Beno dan kepala sekolah SMA 2 sangat berbeda jauh. Saya juga tidak akan Men-skors murid yang terang-terangan membela SMK 1 dari ucapan tidak berpendidikan mereka" Terang Pak Ibram menatap Feron yang hanya tersenyum simpul.


"Gini Fi ceritanya, " Feron merangkul pundak Alfi dan mengajaknya menyudut dan diikuti pak Ibram yang juga ingin mendengarkan.


"Sebenarnya hari selasa sore, gua sama Ragas bergegas pengen ke-kolam renang di Stams yang ngelewatin jalur SMA 2 yang juga kebetulan pulang di jam yang sama dengan keberangkatan kami. Ragas yang saat itu tidak ingin di marahi pak Puad bergegas untuk meminta jalan kepada SMA 2 yang malah berhenti di tengah-tengah jalan dan membuat kemacetan yang cukup panjang. Haaahhh~" Feron mengambil nafas panjang sejenak.


"Akhirnya ragas memilih untuk mengklakson panjang mereka, namun seorang siswa tambun terusik dengan klakson motor Ragas yang panjangnya mengalahkan seriosa itu. Dan dimulailah kegiatan saling nyinyir antara mereka hingga siswa tambun itu menghina SMK, dan berakhir dengan adu jotos karna siswa tambun itu merasa terhina oleh ucapan Ragas dan sebaliknya, karna Ragas yang memang jago dalam bertarung pada akhirnya berhasil mengalahkan siswa tambun itu dalam waktu singkat. Siswa SMA 2 yang lain tidak terima dan akhirnya mengeroyok Ragas termasuk gua yang gak tau apa-apa" Feron menunjuk dirinya sendiri yang memang memiliki luka memar di beberapa tempat. 


"Trus lo terima gitu aja? Gak ada inisiatif buat balas tinju mereka? Lo pasrah aja, gitu? " Tanya Alfi menuntut.


" Ya kagak, mau taruh dimana muka seorang Alferon Adidjaya ntar. Dengan semangat gua juga ikut membogem siswa SMA 2, mana mau gua dianiaya seenaknya sama mereka. Eh, tapi malah tendangan gua kesasar ampe ke Bruno Ferdinand Brahma " Ujar Feron menunduk, mengusap tangannya yang diperban.


"Bruno Ferdinand Brahma? Kok bisa?"  Tanya pak Ibram terkejut.


“D-“


“BRUNO!!!” Alfi langsung menjerit.


“Kenapa Feron? Kenapa lo tendang tu makhluk ha!? Lu bosan hidup damai ya?! IYA?” Tanya Alfi langsung mengguncang Pundak Feron hingga sang empunya harus rela terbanting sana-sini.


"Dia sok kuat, datang seperti jailangkung dan langsung mukul muka gua kencang dan dengan refleks gua malah nendang anu-nya" Ucap Feron memelankan suara diakhir.


Pak Ibram dan Alfi sontak memegang milik masing-masing, ikut merasakan derita Bruno walau samar.


Itu pasti sangat ngilu


Inner mereka berdua kompak.


"Ah! Hehehehehehehehe" Feron hanya bisa nyengir ditempatnya mengingat kejadian itu.


"Untuk satu info, Ragas Brahma dan Regas Brahma adalah anak kandung kepala sekolah SMA 2, dan Bruno Ferdinand Brahma adalah saudara tiri mereka, jadi semua kejadian ini pasti berhubungan juga dengan kepala sekolah SMA 2 itu" Lanjut Feron serius.


"Hermantino Brahma" Sambung suara lainnya.


 


“INNALILLAHI” Refleks Feron langsung meloncat kegendongan Alfi yang juga sama refleksnya menerima beban tubuh Feron. Sementara pak Ibram malah bersembunyi dibalik punggung Alfi seakan pasrah menyerahkan muridnya pada penjahat.


“PAK KEPSEK!! Mengagetkan saja” Sembur pak Ibram masih menetralkan rasa keterkejutannya.


“Hahahahahahaha… refleks kalian lucu sekali hahahahaha…..” Tawa pak Bino.


“Ngak lucu sama sekali pak” Ucap ketiga korban kompak.


 


...TBC...