
...Perhatian!!!...
...Cerita kali ini sedikit panjang, jadi di mohon untuk mencari tempat nyaman dan suasana santai untuk menikmati setiap kata pada cerita...
...********************************************************...
...Selamat membaca, dan tetap putus asa!...
Seminggu berlalu.
Kedamaian di rumah Adidjaya kental terasa, Feron yang berguling santai di lantai rumahnya hanya dapat mengucapkan kata syukur seraya menonton siaran azab kesukaannya yang hanya menampilkan semut beriringan.
"Hahahahahahha" Tawa Feron menggema di seluruh penjuru rumah mewah itu.
Entah apa yang membuat remaja itu bisa tertawa, tapi ya sudahlah. Sepertinya beban hidup telah membuat otaknya sedikit bergeser ke dengkul.
"Damai sekali" Setidaknya Feron hanya bisa mendeskripsikan kalimat itu sebelum kedatangan sang ayah yang menghancurkan liburan singkat Feron yang sudah nyaman tanpa kehadiran sang kepala keluarga pembawa awan hitam bagi sang putra bungsu.
"Feron, sebaiknya kamu tidak menaikkan kaki dan tiduran di lantai tanpa alas seperti Itu ! " Tutur Vein bermuka kalut memperhatikan tingkah laku sang putra bungsu.
Sementara Feron, ia hanya menggeser kepalanya sedikit menatap punggung sang ayah yang membawa begitu banyak tas dan satu koper besar di punggungnya.
" Mau melancong kemana ya- oooo!!! Feron tau, ayah pasti mau ngelamar jadi TKI kan, jadi TKI di negara mana yah? Cepat bener persiapannya, Feron belum tumpengan ni kalau ayah beneran minggat" Seru Feron bahagia langsung meloncat kegirangan.
"Dasar anak biadab! Ayah tidak ingin melancong ke negara manapun apalagi ingin menjadi TKI. Nanti kasian kamunya gak ada yang ngasih uang jajan" Imbuh Vein menjitak kepala sang anak kesal.
"Transfer e-banking pun Feron terima asalkan itu uang halal dari keringat jantan ayah sendiri" Balas sang anak menunjukkan ATM digitalnya dengan tersenyum lebar.
"Hmph! ATM kamu sudah mati dua hari lalu" Ucap Vein memperhatikan ATM sang anak dari smartphonenya.
"E!? APA? Tidak mungkin, bagaimana bisa?" Tanya Feron langsung mengecek ATMnya.
"Tapi ay-"
Wussssshhhhh~
"Waw, angin muson dari mana ini!!!?" Teriak Feron melindungi matanya dari sinar terang di depan pintu utama.
Tuk!
Suara hentakan sepatu heels memenuhi penjuru rumah.
"Felon" Ujar satu suara wanita berumur memanggil nama Feron yang langsung tegang di tempat.
"Suara jompo dan cadel ini!?" Syok Feron mencoba memperhatikan siapa gerangan yang berdiri di depan pintu tersebut.
"Nenekmu" Ucap Vein santai berjalan ke arah kamar tamu, enggan memperdulikan ke lebay-an sang putra.
"Gak usah lebay juga kali Ron" Lanjut Vein berjalan mundur dan langsung menurunkan tangan sang anak yang masih betah menghalangi pandangannya layaknya drama korea.
.
.
.
Ruang tamu.
"Sejak kapan nenek berencana untuk mat- berkunjung kesini?" Tanya Feron dengan ekspresi canggung.
Sang nenek dengan santai mengambil cangkir dan menyeruput isinya damai. Memandang cucunya dalam ketenangan yang hampir membuat senyum Feron kering menunggu sang nenek berbicara.
"Felon"
Zwwwiiinnngggg!!!!
"Kapan terakhil kamu makan sayang? Kenapa tubuh kamu sekulus ini? Apa Ayahmu tidak membelimu makan? Apa dia menganiayamu?" Tanya sang nenek menuntut, tangannya tak lepas mengapit kedua pipi Feron dan membolak balikkannya kasar.
"Hwaku bwuaik, hwayah tidak menwganiayaku" Jawab Feron kesulitan. (Aku baik, ayah tidak menganiayaku)
"Bagus" Ucap sang nenek langsung melepaskan cengkeramannya.
"Dimana Adi?" Tanya nenek melirik kesegala penjuru rumah.
"Adi sedang bekerja" Jawab Vein santai memakan pancakenya.
"Apa? Wah aku bahkan tidak sadal kalau anak itu sudah dewasa dan bekelja" Ujar Nenek merasa bangga dengan pandangan yang tak henti menatap Feron sang cucu yang lahap memakan cemilan buatannya.
"Dan kau! Kau kenapa masih disini!?" Tanya nenek ketus menatap Vein yang langsung berhenti melahap pancake.
"ASTAGA AKU LUPA ADA MEETING 5 MENIT LAGI!" Teriak Vein langsung meninggalkan pancakenya dan berlari tergesa untuk sampai ke carport.
"Dasal, menantu yang aneh" Gumam nenek menggelengkan kepala.
Sementara Feron hanya memperhatikan dalam diam setiap ekspresi yang di keluarkan sang nenek.
.
.
.
Hari senin.
"Adi, Felon mari ke dapul kita salapan" Panggil nenek dari arah dapur.
Adi yang tengah santai memasang arloji mahalpun sedikit tersentak, dan seketika langsung keluar kamar dan bergegas ke dapur.
Memperhatikan nenek dan Ayah yang sudah siap di meja makan.
"Duduklah Adi" Ujar nenek mempersilahkan cucu sulungnya untuk duduk di kursi makan.
"T-terima kasih nek" Jawab Adiniata hampir terbata.
Adi sedikit terharu dengan perhatian sederhana neneknya.
Sudah lama aura ini hilang
Batin Adiniata memperhatikan makanan yang dimasak oleh sang nenek dan langsung tersenyum bahagia.
Vein, ia selalu memperhatikan setiap pergantian ekspresi Adiniata yang sepertinya sangat senang dengan kehadiran mak lampir ini.
"Tunggu dulu, kenapa Felon belum tulun-tulun?" Tanya nenek meletakkan telunjuknya di depan dagu berpikir.
Seketika Vein dan Adi langsung menghentikan kegiatan makan mereka dan langsung tersenyum canggung.
"Biar Adi pa-"
Sebuah lengan berhasil membuat Adi menggantungkan kalimatnya begitu saja.
"Bial nenek saja" Ucap nenek tersenyum dengan spatula yang sudah di genggamannya.
"Semoga anak itu selamat" Gumam Vein mengunyah santai sup ayamnya.
.
.
.
Tok tok tok tok!!!
"FELON!!!! BANGUN NAK!!! FELON!!!! LON LON LON LON!!!" Teriak sang nenek berulang kali mengetuk pintu kamar Feron namun tidak ada respon berarti dari pemilik kamar yang masih sunyi mengalahkan kuburan.
"Ada apa dengan anak ini? Dipanggil tak ada sahutannya.. Hmmm" Sang nenek langsung berpikir mencari jawaban.
"APA JANGAN-JANGAN!!" Teriak sang nenek panik langsung mengambil kuda-kuda.
"Sabar cucuku! Nenek akan segera mengeluarkanmu sayang!!!" Ucap sang nenek mundur tiga langkah.
"1
2
3
Hyaaaaaaahhhh!!!!!!"
BRAK!!! Bum!!!
Berhasil, pintu kamar itu berhasil ambruk dan terlepas dari engselnya. Dari balik pintu, terlihat sang nenek yang langsung berlari panik kedalam kamar dengan spatula yang masih di genggamnya, dengan gesit ia langsung menatap gundukan selimut besar yang tak kunjung bergeming.
"Ya tuhan!!! Cucuku tak bergerak!!!! VEIIIINNN ADIIIII!!!! LIHAT FELON TAK BERGELAAAAAKKKKKK!!!!!" Teriak nenek dari lantai dua.
Ggrrrrkkk!! (suara kursi di geser)
Vein berdiri dari duduknya.
"Alhamdulillah, ayo Di kita ke atas. Jangan sampai nenekmu memanggil 911 hanya karna masalah sepele" Ucap Vein berjalan lebih dulu ke lantai dua.
"Ke lantai dua?" Tanya Adi bergetar.
"Ayah saja, Adi ogah kesana. Lebih baik disini sendirian" Ucap Adi bergetar tak ingin kembali ke kamar angker itu. Setelah barter kamar dengan sang adik secara licik, Adi kini enggan untuk singgah atau sekedar lewat di kamar itu.
"Dasar penakut" Imbuh sang ayah yang sudah naik ke lantai dua.
Kamar Feron
"FEROOONNNN!!! BANGUNLAH NAAAAKK HUAAAAA!!!!! OH BENAR, 911 911" Panik sang nenek mencoba mencari smartphonenya dan langsung mengetik nomor 911.
Tuuutttt...
Tuuuuttt...
"Hallo pa-" Belum sempat sang nenek menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba smartphone langsung di rebut Vein.
"Hallo, hmm... Tidak ada kejadian genting pak. Hanya salah meng-artikan kejadian.. Iya, baik pak. Iya, Terimakasih pak, selamat pagi" Ucap Vein mematikan panggilan.
Setelah mematikan panggilan, Vein menyerahkan smartphone nenek kembali, dan menghela nafas pasrah.
"Mama tidak harus sepanik itu, Feron hanya tidur mati kok" Ucap Vein membantu sang mama mertua untuk bangkit dari duduknya di lantai tepat di depan muka Feron yang masih membuat sungai mini (iler).
"Trus bagaimana? Cucuku bahkan tak bernafas!" Panik sang nenek hampir pingsan di tempatnya.
"Huuuhhh~ dia bukannya tidak bernafas ma. Cuma cara membangunkan Feron agak sedikit unik saja" Balas Vein berjalan mendekati Feron.
Vein dengan sigap langsung meraih tangan kanan Feron dan menariknya ke atas, memperlihatkan burket (ketiak basah) sang anak.
"Kamu mau ngapain Vein?" Tanya nenek heran.
"Ini yang akan ku lakukan" Ucap Vein mantap langsung menarik bulu ketek Feron yang keluar dari sarangnya.
Tik!
"HWAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!"
.
.
.
"Tangan kanan lu kenapa gitu Fer?" Tanya Lulba menatap Feron yang terus memberikan nafas pada ketek kanannya.
"Habis dapat pelecehan ringan dari bapak gua" Balas Feron mengipasi ketek kanannya yang masih berdenyut nyeri.
"Oooooo~" Jawab semua gank Feron menutup mulut.
"Nape si lu semua alay" Sanggah Feron marah.
"cepat jalan aja dah, ni gua pen ngerokok di batu hitam" Ucap Feron bergegas berjalan.
Pukul 08.00 WIB. Semua komplotan Feron bukannya menjalankan kewajiban menjadi murid teladan, malah bolos tak berkesudahan.
Feron sengaja mengintai hari yang fitri ini karna Nanda tidak berpatroli. Jadi aksinya aman terkendali. Sangat cerdik bukan? Bisa mengibuli anggota Passus tanpa Nanda itu sangat mudah bagi Feron.
"Cepetan lu naik ke punggung Lulba Ra" Jutek Alfi memandang bertapa leletnya dua makhluk ini.
"Iya lo pa*ok! Ni kan gua juga lagi usaha" Balas Ragas emosi berusaha naik ke punggung Lulba.
"Cepetan, entar ketahuan pak Puad langsung End kita" Seru Theo memandang sekitar, mengamankan situasi.
Sesampainya di atas.
"Gawat Ron" Ucap Ragas tercengang.
"Pagar yang udah kita bobol susah payah kemaren sekarang malah di tanam kawat besi" Balas Ragas turun dari punggung Lulba.
"Ck! Ibram!!!" Kesal Feron langsung menendang tembok sekolah setinggi 4 M itu.
"Bwahahahahahahaha" Semua langsung berbalik.
"Semua sudah bapak pagar, baik itu tembok yang bolong, saluran air, bahkan lubang WC pun sudah bapak pagar hahahahahah" Tawa pak Ibram puas melihat ekspresi getir gank Feron.
Sementara itu, di WC.
"Astaga, makhluk kejam mana yang tega menyabotase lubang suci ini! Mana saya lagi pengen bongkar celengan, ah!" Kesal Pak Bino sang kepala sekolah meratapi nasib tak bisa boker di WC umum, mana sudah terujung lagi celengannya.
Kembali ke situasi Feron dan kawan-kawan.
"Ck! Berakhir tragis deh kita" Ucap Regas datar, hormat di depan tiang bendera yang langsung menentang matahari siang nan suram.
"Ibram bang*s*at!!! Semua tempat sudah di pagar besi lagi!" Geram Feron seraya hormat.
"Jangan menggerutu, nanti hukuman kamu saya tambah kalau kamu terus menggerutu Feron" Ucap pak Ibram yang senantiasa duduk santai di kursi pantai dengan segelas jus jeruk dingin di gengamannya, tengah berteduh di bawah pohon rindang seraya memperhatikan 8 murid yang sudah berkeringat hormat menentang matahari.
"Waahhh~ nikmatnya jus Jeruk ini" Teriak pak Ibram memanasi.
"Bang*s*at" Gumam gank Feron kompak menatap sinis pak Ibram yang malah semakin gencar menggoda mereka dengan segelas jus Jeruk.
"Liat aja pak Ibram, entar gua borong semua jeruk yang ada di kantin sekolah ini sampai pak Ibram gak bisa minum jeruk lagi" Sinis Theo dendam.
.
.
.
Rumah keluarga Adidjaya.
"Hmmm hmmm hmm........" Gumam sang nenek bersenandung senang.
"Sekarang tinggal memberikan ini pada tetangga" Ucap nenek memandang senang kotak hadiahnya.
Ting tong...
"Ah! Siapa gerangan yang memencet bel?" Gumam nenek berjalan ke arah pintu utama.
Ting tong...
"Iya, sebentar"
Cklek
"Eh? Neti!" Seru nenek kaget.
"Eh, mama mertua kakak" Sahut Neti juga terkejut.
"Silahkan masuk Net, pas sekali mama baru selesai memasak. Mari makan" Tawar nenek mempersilahkan Neti untuk masuk kedalam rumah.
"Terima kasih ma, tapi Neti baru selesai makan sebelum kesini" Tolak Neti halus membuka jaketnya dan meletakkan di tempat yang sudah di sediakan.
"Silahkan duduk, mama buatkan teh dulu ya" Ucap nenek berlalu kedapur, menyisakan Neti yang duduk di meja makan seraya memperhatikan sekitar.
"Hm! Apa ini?" Tanya Neti menatap kotak besar penuh tanya.
"Ini silahkan" Nenek langsung meletakkan teh hangat di depan Neti yang masih menatap kotak besar penuh tanya.
"Oh iya, makasih ma. Ngomong-ngomong ini kotak apa ya ma? Seperti kotak sushi" Ucap Neti.
"Oh ini, ini bukan kotak sushi. Ini bingkisan untuk tetangga" Jawab nenek menyentuh kotak tersebut.
"Untuk?" Tanya Neti lagi, menatap nenek.
"Untuk memberi tau bahwa ada anggota baru di rumah Adidjaya" Ucap sang nenek senang.
"Ooooo~" Ucap Neti ber oh ria.
"Nanti temenin mama ke rumah tetangga ya"
"Ok syiap~" Jawab Neti mengacungkan jempolnya.
.
.
Rumah tetangga.
Tok tok tok!!!
"Permisi~"
Tok tok tok...
"Permisi" Ucap nenek terus mengetuk pintu rumah tetangga.
Cklek...
"Iya, ada apa ya? "
Neti yang tak Fokus seketika langsung melesat cepat menatap pemilik rumah setelah mendengar suara yang cukup familiar baginya.
"Kamu!" Sentak Neti langsung menatap orang itu terkejut.
.
.
.
Malam harinya.
"Kenapa bunda Neti juga ikutan nyungsep di rumah ini?" Tanya Feron menatap Neti yang berjalan mengantarkan sendok pada Feron.
"Tidak usah banyak bacot, bunda kesini juga berjadwal jadi tidak usah protes" Jawab Neti langsung memukul kepala Feron dengan sendok.
"Auch!" Gumam Feron langsung menyentuh kepalanya.
"Kak, lampu di WC di kamar Neti mati tuh. Perbaiki napa?" Ucap Neti memperhatikan kakaknya yang langsung menatapnya bosan.
"Huhhh~" Hela nafas gusar Vein berikan.
"Fer, ambil tangga di gudang" Perintah sang ayah tanpa memperhatikan Feron yang hampir memakan makanannya yang telah sampai di depan bibir tipis itu.
"Deeeeeehhh~ ayah, suruh kak Adi aja napa? Feron udah lapar ni" Keluh Feron kembali meletakkan makanannya.
"Uang jajan minggu ini mau di sumbangin berapa Ron!?" Tanya Vein menghitung uang di depan Feron yang langsung hilang dari meja makan.
.
.
.
"Uuuu!!! Jahat, bisa-bisanya gua di ancam pake uang jajan" Gerutu Feron berjalan kesal mencari tangga.
"Dimana lagi tu tangga jahanam" Kesal Feron mengacak isi gudang.
"Nah, ini dia" Ucap Feron tanpa aba-aba langsung menarik tangga yang terselip di beberapa alat kerja kebun tersebut.
Bruk!!!
Prank!!!!!
Bunyi benda padat itu terjatuh ke lantai gudang.
"Auch!!! Aduuuhhh" Keluh Feron mengusap kepalanya yang baru saja dicium benda padat.
Ia sedikit melirik benda apa gerangan yang menimpuk kepala pintarnya.
"Waw"
Dan sepertinya benda itu salah timing karna kini Feron malah memikirkan hal bejat yang pastinya merugikan sekolah.
"Wiiihhh mantap, gak salah gua mampir ke gudang buluk ini atas paksaan ayah" Ucap Feron meraih benda itu.
"Dengan ini pasti bakal berhasil khikhikhikhihi" Tawa Feron kesetanan.
"FERON CEPAT BAWA TANGGANYA! KAMU NGAPAIN DISANA LAMA-LAMA, NGERAM BATU!!!" Teriak sang ayah dari dalam rumah.
"Ayah biadab, gak ngasih gua waktu buat nikmati tertawa jahat" Sungut Feron meraih tangga yang sudah terjatuh dilantai dan membawanya ke rumah, tak luput barang itu juga ia bawa.
.
.
.
Keesokan harinya,
"Ayo ajalah" Ucap Feron memaksa ganknya untuk kembali kabur, namun kali ini sedikit berbeda, karna mereka akan mencoba membobol tembok berlapis kawat besi yang menampilkan suasana luar sekolah yang menyejukkan mata.
"Gimana caranya kita bisa keluar dari jeratan Ibram ban*gke ini? " Keluh Stevan menyentuh kawat besi itu.
"Sepertinya Ibram terlalu mencintai kita hingga rela membeli kawat besi ini supaya kita tetap dipingit" Ucap Regas bersedekap dada.
"Regas! Cepetan lu jongkok. Gua mau coba peruntungan" Ucap Alfi menyuruh Regas jongkok.
"Idih masak gua si?" Keluh Regas menolak.
"Cepetan gak lo, kalau ngak. Gua gak bakal kasih lu cilok mang Asep lagi" Ancam Alfi.
"10 bungkus tapi.." Regas menawar. Ia perlahan mulai jongkok.
"20 fiks" Balas Alfi langsung naik ke punggung Regas.
Setelah diatas.
"Gimana Fi?" Tanya Theo mendongak menatap Alfi yang bermuka gusar.
"Ngak bisa, Ibram bener-bener kasih bendera perang ama kita semua" Ucap Alfi berusaha menyingkirkan kawat besi.
"Hmph! Lu semua cuma kurang persiapan aja" Ucap Feron bersedekap dada.
"Lu bener si Ron, kita kurang pemotong kawat besi aja" Sesal Lulba lupa membawa barang sakral itu dari bengkel.
"Hmph! Untuk itulah gua di tunjuk menjadi ketua gank" Sombong Feron merogoh tasnya dan mengeluarkan benda tersebut.
"Widih! Keren Ron, gak sia-sia lo jadi ketua. Dengan alat pemotong kawat ini kita bisa kabur hehehehehe" Tawa Lulba langsung mengambil alat pemotong itu dari genggaman ringan Feron.
.
.
"Pak Puad, dimana mereka?" Tanya Pak Ibram berjalan mendekati pak Puad yang sudah tercengang di tempatnya menatap ke atas pagar.
"Kenapa pak?" Tanya pak Ibram lagi menyentuh pundak Pak Puad yang langsung mengalihkan pandangannya pada pak Ibram.
"K-ka-kawat besinya pak Ibram!" Ucap Pak Puad terbata.
"Kenapa kawat bes-"
Pak Puad langsung mencengkram pipi pak Ibram dan mengarahkan wajah itu ke arah Kawat besi yang sudah terpotong-potong, memberikan akses kabur bagi para berandalan sekolah.
"Ck! Rupanya mereka semakin berani saja" Gumam pak Ibram kesal.
"PANGGIL SETIAP WALAS MEREKA! SAYA INGIN MEREKA SEMUA DATANG TANPA TERKECUALI, DAN PANGGIL WALI SETIAP MURID. KITA AKAN MENGADAKAN RAPAT DADAKAN!!!!" Teriak Pak Ibram berjalan kesal meninggalkan tembok setinggi 4M yang sudah di bolongi dan di preteli gank Feron hingga memberikan akses bagi berandalan kecil lainnya untuk kabur.
"Aksi ini tidak bisa dibiarkan, saya semakin kesal melihat mereka yang semakin hari semakin bertambah sifatnya!" Geram Pak Ibram bergumam kesal.
.......
.......
.......
.......
...TBC...