All For Dreams

All For Dreams
emosi



Lampu tiba-tiba mati, namun rasa marah Anwar masih di hati.


"Baj*ngan, siapa yang matiin lampu woy!!!" Teriak Daffa marah, masalahnya ia hampir menjangkau kerah baju Anwar dan hampir menikamnya, namun karna lampu sialan itu, Daffa menjadi kehilangan kesempatan.


"Ok, Nand saatnya kab-" Ucapan Feron terputus.


"Kenapa Nand, cepat pegangan ama gu-"


"Mhhhmmmmm!!!!" Teriak Nanda dalam kegelapan.


"Nanda, gak ada waktu buat mulai pensi, sekarang kita harus pergi sebelum gak ada kesempatan lagi." Desak Feron langsung membopong Nanda yang memberontak.


"Cepat War, tinggalin si Daffa." Ucap Feron berlari pergi.


"Tapi gelap Fer, gua gak bisa liat." Balas Anwar membuang balok kayu dan berlari asal.


Teck (lampu kembali hidup)


Wajah emosi Daffa langsung terlihat dengan jelas "Jangan kabur lu padaaaa!!!!"


Klik (lampu kembali mati)


"Ba*gsat!"


Teck (lampu kembali hidup)


"Anj*ink, PLN Kim*k! Udah berapa bulan sih si Yuna gak bayar listrik!"


Padahal Daffa tidak tau saja kalau yang sedang mempermainkannya adalah Ragas yang asyik senam tangan dengan box panel listrik.


"Asyik juga ni tombol-tombol kayak Pioneer DDJ-RZ Record-box DJ Controller, jadi betah gua ah." Seru Ragas semakin semangat membuat emosi Daffa meledak di dalam rumah.


"Bang*at! Mending gua kejar target dul-"


Triiinnkkkk....


Klik.


"Paman?"


"......."


Daffa mengarahkan telfonnya ke telinga "Hallo." Ucap Daffa.


"........"


"Apa? Segitu aja? Padahal gua belom ngelakuin apapun tapi paman bilang udahan," Memandang arah menghilangnya Feron "Gua merasa lemah kalau gak adu jotos dulu, tapi mau gimana lagi. Paman yakin itu cukup?"


"........."


"Ck! Iya-iya, tapi paman udah janji bakal beliin gua itu kalau berhasil buat Feron di benci Nandakan?" Seringaian langsung menghiasi wajah Daffa.


"........"


"Hmph! Percaya ama gua semua mulus dan terkendali, tapi saat perjumpaan berikutnya gua pastiin perang yang bener-bener final. Sekarang buat mental Feron down adalah tujuan sebelum semua di lakukan." Senyuman penuh kemenangan sudah di ukir Daffa yang percaya pasti semua akan terjadi sesuai rencananya.


" Ok, sekarang gua lebih baik ke gudang liat box panel listrik dulu, siapa tau ada tikus yang iseng gigitin kabel. " Dengus Daffa berjalan ke arah belakang rumah dengan santai.


"Coba kamu buka mulut perlahan, ia seperti itu." Perintah Luna memeriksa keadaan Nanda.


"Cukup, sekarang kamu bisa istirahat."


Luna pergi dan menutup pintu kamar, sedikit helaan nafas ia keluarkan sebelum Feron menghampirinya dan bertanya.


"Gimana Lun?" Tanya Feron masih belum mengganti pakaiannya.


Luna menunduk meremat tangannya dan sedikit menimbang ucapan yang akan ia keluarkan.


"Seharusnya dia ngak apa-apa, selebihnya semua itu hanya akan tergantung pada diri dia sendiri." Ucap Luna pergi.


"Ron, gua pulang dulu. Emak bapak gua udah nelfon nanya gua. Nanti ketemuan di sekolah ya, ok bye.. " Pamit Anwar pergi dan di balas Feron dengan lambaian.


Feron menatap pintu sejenak sebelum ia pergi, "Maafin gua yang terlambat Nan."


Mata itu terbuka, semuanya samar.


"Enghh..."


"Lo udah sadar? Gimana keadaan lo?"


"F- eghh....." Rasa sakit mulai menjalar seluruh tubuh Nanda yang kaku.


"Lo kenapa Nan? Ayo duduk dul-"


Nanda langsung menepis tangan Feron yang hendak menolongnya untuk duduk di ranjang.


"Pergi Ron, gua mau sendiri." Lirih Nanda menyentuh kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.


"Kenapa? Gua cuma mau bantu lo kok, sini gua tol-"


"GUA BILANG PERGI YA PERGI!!!" Teriak Nanda mendorong Feron membabi buta.


"PERGIIIII!!!!!!! Aaaaaaaaaa!!!!!" Teriak Nanda histeris.


Ada apa ini?


"Dia bakal datang sama gua." Ucap Daffa percaya diri.


"Benarkah? Segampang itu? Kenapa aku merasa janggal." Seru Ryou menyunggingkan senyum mengejek.


"Hy Vein, anak buahmu idenya bolong-bolong ya seperti pot bungaku hehehehe." Ryou mengarahkan gelas Vodka yang baru saja ia isi kehadapan Vein.


Kepala keluarga itu sudah bermuka getir saat Daffa mengungkapkan hasil kerjanya pada dua orang dewasa di depannya.


"Tidak buruk, otak mu dan Gundur benar-benar sebelas dua belas, hanya ************ dan uang. Hmph! Terlalu mudah di tebak." Komentar terus di layangkan oleh Ryou yang tak henti-hentinya meremehkan setiap tindakan Daffa.


Namun Daffa hanya diam, menganggap setiap ocehan Ryou sebagai angin lewat. Baginya sendiri yang di sama-samakan dengan Gundur bukanlah suatu yang patut untuk di selesaikan dengan otot.


Vein memajukan wajahnya, kedua lututnya setia menopang tangan yang mulai menerima beban dagu "Jadi, jika kau sedari tadi hanya dapat meremehkan kinerja seseorang, apakah aku boleh meminta pendapatmu bagaimana caranya agar 'anakku' mau pindah?" Tanya Vein.


Ryou memperhatikan wajah Vein dalam gurat jenaka "Kupikir otakmu cukup pintar untuk memikirkan rencana ini seorang diri, apakah kau sudah menyerah?" Satu tegukan langsung tandas, gelas langsung kosong dan hanya menyisakan 2 es batu kecil sebagai penghias gelas mahal.


Muka yang semula serius langsung tergantikan dengan gurat tersenyum tipis" Well, memangnya apa yang bisa ku harapkan pada seorang pria yang putus cinta sepertimu, bahkan saran termudahpun sepertinya akan kau katakan dalam sajak hyper bola. Itupun jika kau bisa, Hmph... " Vein langsung menahan tawanya yang hampir saja meluncur bebas dari bibir tipis itu.


Gelas kembali di isi "Baiklah, jika Daffa sudah bertindak sejauh itu. Sepertinya kita harus menunggu terlebih dahulu setelah aku menyelesaikan permasalahan kecil ini bersama guru penyimpang itu, karna apa, karna kau benar Vein. Dia ancamannya."


Vein langsung tersenyum menyatukan kedua tangannya hingga terdengar bunyi tepuk tangan yang mengisyaratkan kemenangan awal baginya.


"Kau pikir sudah berapa lama aku hidup?" Tanya Vein hampir beranjak pergi sebelum kalimat Ryou membuatnya langsung merotasikan mata cepat.


"Selama Rere masih menghabiskan masa mudanya disini." Ucap Ryou memperhatikan gelasnya dalam ketenangan.


"Yun, lu gak papakan?" Tanya Vion mendekati ranjang Yuna.


Yuna mengangguk "Gua baik, makasih ya Vion." Jawab Yuna lemah.


"Gak usah makasih, yang penting lu harus kembali pulih Yun, kasian anak lu entar kalau lu sampai sakit." Nasehat Vion mengelus perut Yuna.


"Mmm..." Gumam Yuna.


Setelah itu semua hening, Yuna yang tidak tau harus apa hanya memandangi plafond sebagai pengganti kebosanannya.


"Vion.." Panggil Yuna.


"Iya, ada apa Yun? Ada yang sakit? Atau lu mau makan sesuatu?" Tanya Vion panik.


"Kenapa lu baik ama gua?" Tanya Yuna di selingi air mata yang mulai mengalir "Padahal selama ini kita gak begitu dekat, tapi kenapa lu baik?"


Vion diam, ia tak menjawab apapun.


Yuna menghapus air mata itu, sedikit kecewa dengan dirinya sendiri yang malah bertanya.


"Vion," Panggil Yuna lagi.


"Iya, ada apa?" Ucap Vion setelah jeda yang begitu lama.


"Gua agak ragu," Yuna berhenti, kalimatnya terputus saat perasaannya langsung kalut, sesegukan dan langsung berfikir negatif "Apakah gua harus kasih tau Daffa atau gak soal anak ini? (mengelus perut) gua takut dia gak bakal mau terima anak ini, gua takut Daffa bakal suruh gua buat gugurin anak ini, gua takut kalau dia bakal lakuin hal-hal yang gak gua fikirin, gua takut Vion, gua tak-"


Vion langsung membekap mulut Yuna dengan telunjuknya "Stop ngomongin sesuatu hal yang gak bakal terjadi Yuna. Karna gua yakin kalau Daffa orangnya bukan seperti yang elu fikirin, Daffa bukanlah orang bejat yang gak bisa bertanggung jawab, karna gua tau siapa dia sebenarnya. Sekarang semua tergantung ama lo, lo berani bilang ke Daffa, semua aman. Jangan buat anak lu lahir tanpa ayah Yun, jangan. Setidaknya," Vion langsung mengambil nafas cukup banyak, kalimat ini akan menyemangati Yuna, ia yakin "Jangan seperti gua. "