
"Iya, makasih ya Wil." Ucap Afni dan melambai pergi meninggalkan Wilda yang tersenyum ke arahnya dan juga Feron yang sudah menunggu di seberang jalan.
Feron yang bersandar pada motornya sambil bersedekap dada hanya memberikan senyum simpul sebagai balasan pada Wilda yang menyapanya semangat, memaklumi dulunya mereka satu kelas sewaktu SMP, jadi untuk tidak beramah dengan Wilda rasanya sangat sulit bagi Feron.
Sementara Afni yang tidak di balas ucapannya oleh Feron langsung cemberut dan menendang kaki pemuda yang sudah mencuri hatinya itu hingga sang empunya mengaduh kesakitan.
"Syukurin, memangnya siapa suruh kamu gak perduliin panggilan aku!" Ucap Afni cemberut.
"Shhh.... Ya maaf, orang si Wilda yang ngomong duluan." Kilah Feron.
"Memang ya, semua lelaki itu sama aja sifatnya, walau di depan baik rupanya bangkai akan tercium juga." Sungut Afni.
"Berarti gua gak perlu balas karna kalimat berikutnya pasti lo jawab pasaran." Balas Feron naik ke motor.
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Gak bisa gitu Nan...
.......
.......
.......
"Maaf sebelumnya dan terimakasih kepada bapak-bapak (memandang pak Dimas, Ryou dan juga Ardi) dan juga buk Sinta yang berkenan hadir pada rapat mendadak yang saya adakan pada sore kali ini," Buk Ariani memulai rapat dengan nuansa tegang.
"Bermaksud ingin membahas sekaligus memberi dan menerima beberapa usulan untuk kemajuan jurusan DPIB saya Ariani ingin meminta usulan guru-guru jurusan mengenai keterlibatan pak Ardi untuk Ujian Kompetensi Keahlian atau UKK yang akan di selenggarakan, beberapa hal seperti yang telah di lakukan di kelas 12 lalu sungguh mengecewakan, dan kita berharap di UKK berikutnya dapat memberikan sebuah gambaran baru bagi jurusan yang sudah berganti nama semenjak pak Sabran pindah ini."
Buk Ariani memandang semua guru, termasuk Ryou yang hanya bisa diam. Dia hanya diam tidak ingin berkomentar banyak, kenapa?
Karna yang akan menjalani UKK berikutnya adalah kelasnya, kelas Feron. Kelas yang isinya hanya bocah yang penuh kebawah, bolong di tengah, kosong di atas itu.
Dan Ryou sungguh ketar-ketir, takut terjadi apa-apa. Takut anak-anaknya tidak lulus, takut mereka kesusahan saat UKK, pokoknya Ryou serba khawatir sekarang.
Sementara Ryou yang asyik memikirkan keselamatan kelasnya, para guru lainnya malah asyik memperdebatkan bagaimana cara untuk mengajarkan materi yang banyak tertinggal lebih cepat, namun seperti biasa, komentar Ardi selalu di luar ekspetasi seorang Ryouichi.
"Bagaimana jika saya menggantikan posisi Pak William yang sepertinya kesusahan dalam menyelesaikan semuanya, hitung-hitung membantulah istilahnya." Ucap Ardi yang membuat Ryou langsung menatapnya Sinis.
"Really? Lancang sekali kau berbicara seperti itu Ardi, menganggap aku seperti tak berdaya hanya untuk mengurus anak-anak hyperaktive seperti mereka." Ryou langsung meninggikan suaranya, air muka kesalnya tak dapat di sembunyikan.
Ryou benar-benar tak menyukai pria satu ini. Semenjak awal, semenjak pertama kali mereka bertemu Ryou benar-benar tak menyukai tenaga pengajar satu ini.
" Saya cuma ingin membantu bapak, " Balas Ardi membuat gekstur simpati pada Ryou "Lihatlah kantung mata itu pak Will, anda benar-benar kurang tidur dan makan-makanan bergizi, setidaknya (menyentuh pipi Ryou) setidaknya biarkan saya membantu." Ucap Ardi menyenduhkan wajahnya.
"Jijik!" Ryou langsung menepis tangan itu "Pokoknya untuk segala hal yang berkaitan dengan kelas 11 DPIB yang sedang saya bina ini diharapkan tidak ada campur tangan si banci ini!" Ryou langsung menunjuk muka Ardi dengan dendam.
.
.
.
.
.
.
"Fer."
Feron yang termenung cukup lama langsung memandang Afni.
"Ya?" Jawabnya singkat.
"Kamu kenapa?" Tanya Afni lagi, namun wajah Afni agak sedikit mengerut.
"Tidak ada kok, kenapa lu nanya begitu?"
"Gak mikirin siapa-siapa kok, udah gak usah banyak tanya, habisin aja makanannya." Ujar Feron mendorong makanan Afni agar lebih dekat dengan pihak bersangkutan.
Skip time...
"Makasih ya Ron, buat hari minggu jadi kan?"
"Ya Afni, hari minggu." Balas Feron dan langsung melanjukan motornya pergi meninggalkan pekarangan rumah Afni.
Namun gas motornya harus terhenti saat atensinya tak sengaja menatap Bruno. Pemuda itu dalam balutan kasualnya memanggil ringan nama Feron yang langsung memandangnya bertanya.
"Ya?" Balas Feron lebih ke arah bertanya.
"Kenapa begitu cepat pergi padahal gua baru datang kemari." Ucap Bruno tersenyum simpul.
Dan pada akhirnya Feron harus berakhir di meja taman rumah Afni, walau ini bukan pertemuan pertama kali, namun bertemu dan bertukar kata tanpa adu jotos dengan Bruno seperti mimpi di tengah hari, sulit di percaya namun nyata terjadi.
Bruno di tempatnya hanya bergerak santai, mengambil cangkir teh dan meminumnya perlahan, berusaha menikmati setiap tetes Sari bunga melati itu.
"Gua dengar lu mau jalan bareng Afni pekan ini, suatu perkembangan ya Feron," Bruno tersenyum lebar hingga matanya hampir tenggelam karna senyuman
itu "Gak nyangka lo masih mau dekatin Afni walau lu tau dia memiliki banyak sekali kekurangan." Lanjut Bruno menggoyang pelan teh di dalam cangkir miliknya.
Feron tersenyum menanggapi "Itu bukanlah penghalangnya bukan? Meskipun gua udah tau Afni punya kekurangan-" Feron menunduk, dia sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Tidak apa, ungkapin aja. Gua menerima maksud lo kok."
"Dan meskipun gua masih menyukainya, tapi gua tau bahwa gua udah kalah Bruno. Gua udah kalah dari lo yang begitu ramah untuk menerima kekurangan Afni. Afni cinta pertama gua, orang pertama yang berhasil membuat gua jatuh dengan kata cinta sebenarnya. Namun tuhan seakan mempersiapkan kejutan lain bagi gua, karna, "Feron memandang hamparan bunga matahari yang sengaja di tanam Afni di sekitar taman.
"Karna gua tau rasa gua sama Afni itu hanya sekedar mengagumi."
.
.
.
.
***Klatak..
Klatak...
Klatak***...
"Apa? Jadi William itu!!?"
Skip time
"Suasana pagi ini rada merusak hati." Gumam Feron memandang matahari pagi dan kembali menatap lurus kedepan untuk kembali melangkah, namun langkahnya kembali terhenti saat pandangan mata itu tak sengaja menatap Ryou yang berjalan tergesa ke arah ruang guru.
"Ada apa dengannya?" Gumam Feron memandang ke arah punggung Ryou yang menghilang di telan pintu ruang guru.
.
.
.
Di ruang guru.
Ryou menerjang semua guru yang menghalangi tujuannya, pandangan tajam dan penuh kemarahan itu terus ter-arah lurus ke satu orang yang menjadi target pukulannya.
"Benar-benar penyebar gosip." Geram Ryou saat ia telah sampai tepat di depan Ardi yang tersenyum culas menatap ke arahnya.
.......
.......
.......
.......
...Tbc...