
"Vein, mama berharap kamu dapat lebih tegas" Ujar Miya memberikan pendapatnya pada Vein yang hanya dapat diam membisu di sofanya.
"Tapi ma-"
"Ngh! Tidak ada kata tapi, terakhir kali kamu mengatakan 'tapi' semuanya berakhir tragis" Potong Miya merotasikan matanya jengah.
.............
.......
.......
.......
.......
...102...
...Keluarga Adidjaya...
"Eits!" Feron memarkirkan motornya, pandangannya mengedar memperhatikan lokasi tempat ia magang, tak ada angin dan hujan, tempat magang ini sepi, terkunci, senyap dan pastinya kotor.
"Apa gua terlalu pagi?" Tanya Feron pada dirinya sendiri seraya menatap layar smartphonenya memperhatikan jam.
"Mungkin semalam mereka lembur, jadi hari ini agak telat masuknya" Gumam Feron masih positif thinkhing dan memilih duduk di Sofa teras rumah seraya memperhatikan tanaman di depannya.
Setengah jam,
Satu jam,
Feron masih menatap pot bunga penuh tanaman merambat.
Gua terlalu penyabar belakangan ini
Isi hati Feron masih menyatukan kedua tangannya memangku pipi.
Brrrrmmmm....
Brrrrmmmm....
Ciiittt...
"Eh, Feron? Kok gak masuk?" Tanya Mas Deni menghampiri Feron.
Feron menengadah, tatapannya sudah bosan menatap mas Deni yang malah menampilkan wajah bertanya.
"Berdiri dulu Fer, Mas mau ambil kuncinya"Imbuh mas Deni jongkok di depan sofa. Tangannya masuk kedalam kolong sofa, sedikit meraba dan akhirnya menemukan kunci yang dimaksud.
Jadi dari tadi gua cuma ngebodoh di mari dan kuncinya selama ini ada di bawah gua!!!! Fuc*ek memang
Inner Feron bermuka datar diluar, namun geram didalam.
Pintu kantor di buka, dan seperti perkiraan Feron sebelumnya.
Sangat rapi hingga mata ini tak sanggup untuk melihatnya lagi.
.
.
.
.
Warung Jendes.
Geng Feron hanya dapat menatap plafond dan kipas angin yang memutar pelan. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba saja Regas mengumumkan ingin berjumpa sekaligus bertegur sapa karna telah berhasil lulus di tempat magang favoritnya.
"Hayuk gaes, di makan traktiran aa' Regas" Ucap Regas tersenyum lebar.
"Makasih" Balas Feron mulai mengaduk mie ayamnya.
"Enak gak Fi?" Tanya Regas mendekati Alfi yang semangat memakan bagiannya.
"Uwenakbwangetgwas" Balas Alfi cepat.
"Hehehehhehe..... (memandang sekitar) Lul, lu magang dimana prend?" Tanya Regas.
"Gua magang di Padang, cukup jauh dan butuh biaya tambahan buat nyumpal mulut guru hobi makan uang magang, but it's ok. Kata bokap, asal gua bahagia berapapun nominalnya tetap bakal di bayar" Jawab Lulba masih menyatukan saus dengan kuah mie ayam.
"Keren banget, kalau lu The?" Lanjut Regas bertanya.
"Kalau gua magang di Pekanbaru, nyokap gak ngijinin gua buat jauh dari dia" Ucap Theo sedikit kesal.
"Hooo, kal-" Ucapan Regas langsung di potong.
"Gua magang di Ba*ngkinang" Ucap Stevan memotong ucapan Regas dengan sengit.
"Oh! O-Ok" Balas Regas sedikit canggung.
"Stevan ngeri amat" Nyinyir Regas berbisik pada saudara kembarnya.
"Gua denger Re" Balas Stevan menatap tajam.
"Gulp" Regas langsung bersembunyi di balik punggung Ragas.
"Lu nape si Stev, kesel mulu bawaan tu muka" Komentar Ragas mengambil alih suasana.
Regas menatap Ragas, sungguh berwibawa sekali adiknya ini hingga Regas seperti memiliki pelindung tak kasat mata.
"Aaaaaa... Mas Ragas tegas dehhhh... Aaaaaa..... " Ucap Regas bergelayut manja di lengan sang kembaran.
"Jijik asw!" Potong Ragas langsung menyingkirkan Regas dari lengannya.
"Lu kenapa Stev?" Tanya Feron yang duduk tepat disebelah Stevan.
Stevan melirik, cukup lama. Ia juga melirik teman-teman yang lain, semua juga menatapnya.
"Huhhhhhhh......" Nafas gusar di berikan Stevan, ia langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan yang langsung mengurut wajah itu hingga ekspresinya sedikit rileks.
"Lu semua masih ingatkan pemuda yang di bioskop waktu itu?" Tanya Stevan.
"Siapa?" Ucap Alfi ikut bertanya.
"Itu loh, yang wajahnya macam Ace di anime one p*iece" Terang Stevan menarik kedua ujung matanya, mencoba menirukan wajah pemuda yang ia maksud.
"Hmmmm.....???? Siapakah gerangan pemuda yang engkau maksud itu wahai sahabat sepergo*blokanku? Otak mas Regas sedikit korslet semenjak episode 100 rilis nih" Ujar Regas berpikir keras.
"DAFFA ANY*INK! CEPAT AE LAH GUA BONGKAR, ENTAR KELAMAAN BAHAS MUKA DIA DURASI JADI KEPANJANGAN KARNA SESUATU YANG GAK PENTING!" Omel Stevan menarik pipi Regas hingga sang empunya terpaksa berdiri.
"Sabar Stev, entar lu cepat tua hahaha-uhuk!" Stevan langsung memasukkan satu bulatan kerupuk ke mulut Lulba yang ingin berkomentar.
"Gak usah coment Lul, lu gak diijinin buat berdialog disini" Ancam Stevan menunjukkan satu bulatan kerupuk lainnya.
.
.
.
Singkat kisah...
Setelah pulang magang.
"Jadi kenapa lu bahas tu makhluk Pku?" Tanya Theo.
"Dia nyari perkara" Bisik Stevan.
"!!!" Semua pikiran geng.
"Maksud lo? " Tanya semua kompak.
"Dia ngasih surat ancaman ama gua 2 minggu lalu, padahal gua gak buat masalah semenjak kejadian di bioskop, tapi kayaknya memang benar kalau tu anak saraf. Mencari masalah mulu" Jawab Stevan menunjukkan beberapa berita mengenai Daffa sang siswa SMK 2.
"Daffa Muhammad, anak dari pak Guntur sang walikota ini telah berhasil membuat satu SMK 2 gempar dengan perilakunya yang berhasil membuat aksi demo di gedung Walikota berjalan anarkis" Ucap Lulba membaca berita hotnews dari smartphone Stevan.
Guntur? Bocah itu?
Bisik hati Feron.
"Lagian, buat apa dia ngasih surat ancaman? Gak etis banget dah" Ucap Ragas meminum colanya.
"Betul banget, gak jelas tu orang. Gak usah dihiraukan deh Stev, buat catatan kriminal kita nambah aja, baik lu kerjain aja urusan lain daripada menghiraukan manusia yang kita gak tau asal-usulnya macam tu orang" Tegur Alfi menggeser mangkuk kosongnya.
"Lu bener juga" Balas Stevan.
.
.
.
Di minimarket.
"Setelah jumpa ama teman-teman, baiknya kita cari cemilan dulu Fi" Ujar Feron memilah beberapa jajanan di rak.
"Ron, gua gak liat chiki-chiki yang biasa kita beli nih, dimanakah gerangan cintaku itu?" Tanya Alfi seraya menghampiri petugas minimarket yang kebetulan lewat.
"Sebentar ya mas, saya cari ke belakang dulu stoknya" Ucap petugas wanita itu berlalu pergi.
Feron yang masih asyik meletakkan jajanan asal ke dalam keranjangnya tanpa sengaja berhasil menangkap sesosok Anwar bersama Denada sang mantan.
"Feron" Panggil Alfi.
"Ya Fi, gua tau maksud lu kok" Balas Feron mulai menunduk diikuti Alfi disampingnya.
"Prahara apa yang sedang mereka hadapi di sana?" Bisik Alfi menatap ke luar minimarket.
"Sepertinya prahara cinta" Balas Feron semakin menajamkan telinganya, bahkan petugas minimarket yang tak sengaja lewat dan memberikan pesanan Alfi mereka hiraukan.
...Anwar dan Denada percakapan...
"Bang" Panggil Denada.
"Apaan sih De?" Sentak Anwar tak ingin meladeni Denada.
Denada langsung menunduk, sepertinya ia memikirkan sesuatu hingga kepala itu kembali menengadah "Bang Anwar, yok balikan" Teriak Denada mantap.
Disisi Feron dan Alfi.
Mereka malah langsung membuka bungkus cemilan dan memakannya bertiga bersama petugas minimarket.
"Taruhan ini pasti cekcok" Komentar Alfi mencomot jajanan ketiga yang baru saja di buka Feron.
"Menurut gua diselingi drama dulu deh, menurut mbak gimana mbak?" Tanya Feron melempar pertanyaan pada mbak petugas yang ikut nimbrung mengamati Anwar bersama Feron dan Alfi.
"Menurut saya ini bakal runyam seperti film And*ndi di An*tv. Diselingi suling dan Aaaaaaa.... Kayaknya tambah menarik deh" Tutur petugas itu mengambil jajanan di keranjang Feron dan langsung membukanya.
"Hmmmm.... Intuisi mbak petugas patut kita kunci" Balas Feron semakin tajam menatap dua sejoli itu.
Kembali pada Anwar dan Denada.
"Gak bisa ya bang kalau kita balikan?" Lirih Denada hampir meneteskan air mata, ia juga meraih lengan baju Anwar yang langsung menepis tangan itu.
"Sorry Denada, tapi abang udah gak bisa nerima kamu lagi, apalagi pernyataan kamu waktu itu sebenarnya abang enggan, namun karna kamu yang ngotot dan hampir menjatuhkan harga diri, abang terpaksa nerima kamu, tapi untuk yang kali ini abang mohon sama kamu Denada, abang mohon. Jangan permalukan dirimu lagi, perasaan gak bisa di paksakan De, abang udah bilang dari dulu kalau abang gak suka sama kamu, tapi kamu masih aja ngotot dan sampai umumin ke seluruh orang di kantin kalau abang gak nerima kamu, kamu bakal bunuh diri. Please Den, gak usah merendahkan diri lagi ok, lagian abang udah suka sama orang lain, dan perasaan ini tulus buat dia" Ucap Anwar panjang lebar.
"Hiks.. Kalau boleh tau, siapa gerangan gadis beruntung itu bang" Lirih Denada.
"Sok baku banget tuh bocah" Komentar Feron jijik.
"Nanda" Jawab Anwar mantap.
"UHUK-uhuk!!!!!!!"
"Ha?" Anwar langsung mengalihkan atensinya ke sumber suara.
"Kayak ada suara orang" Gumam Anwar hendak memeriksa namun tangannya langsung di cegat Denada.
"Apa?" Tanya Anwar dingin.
Disisi Feron dkk.
"Berita bahagia ni Fi, berita bahagia" Bisik Feron ceria.
"Bener Ron, alhamdulillah kita dapat prasmanan jadian dari Nanda sebentar lagi" Balas Alfi nyengir.
Sementara itu, tanpa sadar jajanan mereka sudah ludes dimakan sebelum dibayar.
"Waduh Ron, jajanannya" Sentak Alfi menatap keranjang mereka yang bukannya penuh plastik berisikan makanan malah penuh plastik sampah bekas jajanan.
.
.
.
Di kantor magang.
"Ekhem.... Ekhem..... Ekhem....."
"Apaan sih Ron" Komentar Nanda yang mulai jengah menggaruk kepalanya yang pusing akan laporan yang diberikan Mas Deni.
Feron mendekat "Cie-cie, yang disukai menyukai ni ye, cie-cie... Uhuy bentar lagi dapet pajak jadian, asyiiikkk" Bisik Feron tepat di telinga Nanda.
"Maksud lo? (Melirik Feron sengit) Oh! Ini gua yakin pasti karna ngerjain laporan setumpuk otak lu jadi rada korsletkan, hmm.. Pasti banget, udah cepetan lu tulis tu laporan sebelum nenek lampir datang ngomelin kita kayak kemaren, ditambah para dedemitnya yang nge-mood buat nurunin semangat magang kita kalau dengar omelanlu entar tambah berabe kita" Komentar Nanda kembali fokus pada pekerjaannya.
"Untuk masalah mereka bisa kita geser Nanda, kalau ini agak sulit untuk di skip, (Feron semakin mendekat) Anwar" Bisik Feron erotis.
"!" Nanda langsung menatap Feron.
"Besok gua ama Alfi datang ke rumah lu buat bicarain rencana cinta hehehehehe" Ucap Feron nyengir.
.
.
.
.
Keesokan harinya.....
Para orang kurang asupan cintapun berkumpul di rumah Nanda, alih-alih makan dengan khidmat malah asyik di ceramahi papa Nanda yang masih kesal dengan wajah Feron.
"Buat apalagi kamu kesini ha!? Belum puas kamu meneror keluarga kami!?" Sentak papa Nanda menodongkan sapu tepat ke hadapan Feron.
"Gak ada om, cuma pengen omongin prahara cinta sama anak o-"
"Gak ada cinta-cintaan, Minggat!" Marah papa Nanda mengusir Feron dan Alfi secara langsung.
"Tenang pap, Feron tidaklah datang dengan tangan kosong," Ujar Feron mengeluarkan bingkisan 5 tingkat dari balik punggungnya.
"Ini sebagai hadiah buat papa dan juga mama, kalau kurang ada uang tunai sebesar 5 juta didalam untuk papa shoping linggis di pasar kaget kok" Lanjut Feron menyerahkan bingkisan yang di terima papa Nanda dengan tangan terbuka.
"Hmmm..." Gumam papa Nanda menimang.
"Berhasil gak ya Ron?" Bisik Alfi bertanya.
"Kalau gak berhasil pakai rencana B Fi" Bisik Feron kembali.
"Ok! Kamu diterima disini dengan batas waktu berkunjung paling lambat hanya 2 jam, selebihnya golok siap menyapa" Ujar papa Nanda masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok bisa?" Tanya Alfi terkejut.
"Ada buah kesukaan papa Nanda di dalamnya" Jawab Feron masuk terlebih dulu ke dalam rumah Nanda.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam," Balas Nanda menjawab salam dari kedua sahabatnya.
"Jadi?" Tanya Nanda.
"Jadi dong" Balas kedua sahabat Nanda itu nyengir.
Singkat cerita, Feron menceritakan bagaimana perjalananannya bisa melihat dan mendengar penuturan Anwar, lebih dan kurangnya hampir membuat Nanda sport jantung dan gemetar kesenangan. Namun, dengan sekuat tenaga Nanda menahan semua itu demi jaga image.
"Dan begitulah bagaimana gua dan Alfi bisa kemari" Tutup cerita Feron.
"Trus, langkah selanjutnya?" Tanya Nanda.
"Ya ungkapan kalau lu juga suka sama dialah" Ucap Alfi semangat.
Pletak!
"Gak semudah itu titisan fir'aun!" Omel Nanda memukul punggung Alfi.
"Sakit bat dah" Lirih Alfi mengelus bekas pukulan Nanda.
"Gak semudah itu, lu pikir ini kisah sinetron apa? Lu berdua kan tau kalau gua itu orangnya pemalu kalau sama urusan asmara, ya kali gua dengan semudah itu temuin Anwar dan bilang suka sama dia!? Apa kata dunia kalau Nanda Triasla ngungkapin cinta duluan??" Curhat Nanda mengurut pangkal hidungnya.
Alfi dan Feron saling melirik.
" Betul juga apa yang dikatakan sahabat kita Ron, trus apa rencana kita berikutnya? " Tanya Alfi.
" Gimana kalau kasih surat aja" Ucap Feron.
"?" Ekspresi bertanya sontak di arahkan Alfi dan Nanda.
"Iya, surat cinta untuk aa' Anwar" Cengir Feron.
.
.
.
.
"Kita mau nulis apaan cok?" Tanya Nanda menatap lembar kosong kertas hvs.
"Hmmm......." Fikir Feron keras.
"Bantu berpikir Fi" Sentak Feron memandang Alfi yang malah serius memakan gorengan.
"Mau tulis apa juga gua kagak tau Fer, ini pertama kalinya gua liat ada orang yang masih pake surat ngungkapin cinta" Balas Alfi melahap habis goreng pisangnya.
"Setidaknya bersumbangsihlah dalam penulisan kalimat cinta di dalam kertas bersih ini, kan lo udah ada pengalaman dugong!" Cerca Feron.
"Lu kan juga ada!" Balas Alfi tak kalah.
"Tapi kan gua ngenes asw!" Balas Feron.
"Trus lu pikir gua berhasil? Kagak margasatwa!" Balas Alfi kembali.
"Jadi lu kagak punya ide gitu? Kemaren pas bicara ama Andin kamuslu segunung, timbang gua suruh tulis kalimat manis di kertas ini ciut lo gak ada inspirasi, pemuda macam apa sih lo!?" Tanya Feron menggebu.
Nanda di posisinya malah bersandar cantik di kursi seraya memperhatikan kedua sahabatnya berdebat.
Gile, asyik juga dengar ni dua orang debat. Lain kali gua pancing aja ah! Lumayan dapat hiburan gratis.
Inner Nanda memperhatikan perdebatan Feron Alfi dengan khidmat.
"Itukan sama Andin, kalau ini beda Feron! Beda, ini kan lanang, gua gak terlalu dekat lagi ama dia, gimana mau tulis kata-kata manis, yang ada ntar gua dibilang Homo kalau sampai paham ungkapan buat si Anwar!" Jawab Alfi final.
Semua diam, bahkan papa Nanda yang baru saja muncul dengan gelas kopi di tangannya langsung mundur teratur kembali ke dapur.
Dan akhirnya, semua tulisan di tulis atas garis besar perasaan Nanda dan ungkapan kalimat cinta di berikan oleh Feron yang begitu menghayati setiap kalimatnya, sementara Alfi dengan rela harus menjadi typing dadakan dengan tekanan hebat dari Feron dan Nanda yang tak ingin menerima tulisan ceker ayam Alfi.
Terkadang Alfi sampai heran dengan sahabatnya ini,
Selalu menghayati peran, bahkan dia sampai hapal ungkapan hati Nanda dan juga peran menjadi ibu tiri bagi Alfi yang hatinya serapuh kapas ini.
Inner Alfi melirik kecil Feron yang masih berceloteh seraya memandangnya nanar.
.
.
.
Skip time,
"Udah lu kasih parfum?" Tanya Feron.
"Udah dong" Jawab Nanda menambah parfum pada suratnya.
"Udah lu kasih lipstik?" Tanya Feron kembali.
"HA! Buat apa lipstik dugong?" Emosi Nanda hampir memukul kepala jabrik sang sahabat.
"Ya elah, zaman gini gak di cap bibir mana seru" Komentar Feron memanyunkan bibirnya.
"Lu pikir ini surat janda apa? Makanya, jangan keseringan nongkrong di kedai Jendes, kan lu jadi kebawa aura jendes" Hardik Nanda menyentil bibir Feron.
" Auch! Sakit atuh Nan (menggosok bibir) Oh iya, bungkus gih, masak ia kita kasih cuma suratnya doang, pakein amplop dong biar tambah kece" Ucap Feron memutar surat diudara.
"Iye dugong, sabar gua ambil dulu ke belakang" Balas Nanda pergi.
"Berhasil gak ya Ron?" Tanya Alfi.
"Gak berhasil kita santet" Balas Feron ber-Smirk.
"Anj*ay, sadisss" Balas Alfi.
"Nah, gua cuma ada plastik kiloan" Ucap Nanda datang dengan plastik kantong bening, menyerahkannya pada Feron yang langsung bermuka masam.
"Anjay, lu kira ni surat gula pake di bungkus plastik kiloan" Komentar Feron enggan menerima.
"Bungkus ae, gua gak punya amplop, semua amplop habis diborong tetangga buat hajatan kemarin" Jawab Nanda mengambil alih surat dan membungkus layaknya gula.
"Entah apa yang terjadi, yang jelas perjuangan kita kayak gak bermodal" Monolog Alfi di tempatnya.
"Apa Fi!? Lu mau gua goreng ya?" Sungut Nanda mengacungkan spatula.
"K-kagak paduka Nanda" Jawab Alfi ketakutan di belakang Feron yang langsung melirik datar.
"Ok, kita balik dulu, semoga ni surat ampe ke tangan yang berwenan-eh maksudnya tangan mas Anwar" Ucap Feron melambaikan tangannya.
Skip time...
" Alfi" Panggil Feron dari jok belakang motor.
"Apaan?" Tanya Alfi.
"Gimana caranya kita kasih ni surat?" Tanya Feron mengambil surat dari tas mininya.
"Hmmm..... Gimana ya?" Ucap Alfi ikut bertanya.
Tatapan fokus ke jalan, namun Fikiran Alfi malah bercabang berkat pertanyaan Feron sang sahabat.
Gimana caranya kita kasih tu surat ke tangan Anwar, gak mungkinkan di post-in, yang ada nyampenya seminggu.
Inner Alfi berfikir.
.........
......Tbc......
Ps: gimana yaaa?