
"Seperti yang kita tau,
Hahhhhh.......
Kita dapat amplop istimewa dari Walikota" Ucap kepala Sekolah kehadapan seluruh guru.
"Didalam surat ini berisi sebuah undangan untuk menghadiri acara ulang tahun kota kita, di sini juga ditulis bahwa perayaan akan dilaksanakan dengan sangat meriah, dimulai dari pawai, sampai lomba keseruan unik yang akan dikatakan esok" Lanjut kepala sekolah membaca surat tersebut.
"Jadi dengan kata lain seluruh murid di SMK satu juga akan turut diundang pada hari menggembirakan tersebut, sudikiranya kepada bapak dan ibuk untuk memberi tahukan perihal acara ini kepada para murid, sekian" Tutup kepala sekolah.
****
"Setelah mendapatkan maklumat dari kepala sekolah, semua wali kelas diperintahkan untuk menyampaikan pengumuman tersebut kepada seluruh murid yang menjadi tanggung jawabnya" Ucap Ryou dihadapkan seluruh kelas.
"Dan juga, diharapkan kepada seluruh murid untuk memakai pakaian adat sebagai bentuk penghormatan HUT ke 76. Dan datang pada pukul 08.00 WIB dilapangan pelajar"
Semua memandang Ryou dalam berbagai ekspresi, namun lain halnya dengan Feron yang menatap bosan sang walas. Sekilas orang berfikir dia memperhatikan, namun sebenarnya ia sedang berkhayal.
"Afni, semoga kita bercumpa. Hanya bertegur sapa saja gua udah senang sekali, kyahahahah" Gumam Feron melamun seperti orang gila.
"Bicit Ron" Sanggah Nanda dengan muka kesal.
Jujur sebenarnya Nanda sedikit cemburu pada Af.. Af... Siapa si?
Pokoknya Nanda cemburu, dari awal ni makhluk nampak di kelas ampe si Ryou masuk cuma Afni yang ni anak gumamkan. Sumpah Nanda kesal sekali, tap-
An*jir, ngapa gua cemburu? Sadar Nan, sadar. 'we Just friend
"Egggghhhhhhhh....." Dengan anehnya Nanda malah menjambak jilbabnya sendiri dengan ekspresi frustrasi, membuat Feron jadi berfikir kalau gadis ini sedang mengalami panggilan alam yang mendesak.
"Toilet TAV dibelakang Nan, sans aja. Si Ryou kalau dah habis energi juga bakal berhenti tu ceramahnya" Tutur Feron tidak sopan.
Bam!!!!!
Plak!!!
Nanda refleks menampar pipi Feron hingga sang empunya terjatuh dari kursi.
"INI MASALAH PERASAAN GUA BAN*GAT!" Teriak Nanda berdiri.
Satu kelas hening.
"Nan-"
"Gua butuh ketenangan, ijin pak" Tanpa menunggu penjelasan Feron, Nanda langsung pergi begitu saja.
"Padahal gua cuma mau bilang kalau eyelinernya tebal sebelah" Ucap Feron Heran.
****
Jam makan siangpun tiba.
Tidak seperti biasanya, Feron ditinggal makan siang sendirian oleh Nanda (walau berdua sama Alfi, tapi rasanya kurang kalau kursi sebelah hampa) . Gadis itu tidak kembali sejak dia izin dengan Ryou hingga membuat Alfi yang di tatap tajam Feron akhirnya buka suara.
"Nanda mana Ron?" Tanya Alfi.
"Gak tau Fi, tadi dia ijin sama Ryou di jam pertama dan ampe sekarang blum kembali juga" Jawab Feron malas.
"Aneh, gak biasanya tu anak ngilang" Alfi memperhatikan kursi Nanda yang kosong.
Grak... (suara kursi digeser)
"Gua tau harus kemana" Final Feron langsung pergi meninggalkan bekalnya yang sudah teraduk seperti bubur dan muka Alfi yang bingung.
"Kemana Ron? Eh, tunggu gua napa?"
***
"Nan, lu kok gak balik-balik si?" Tanya bang Ical sewot, ia yang sedang bekerja sedikit terganggu dengan kehadiran Nanda.
"NAPE HA!? gak suka gua disini!? Abang cukup lanjut aja maku papannya, gak usah urusin urusan gua bang. Gua lagi gak pengen di ganggu sama makhluk taek macam abang" Kesal Nanda semakin menghentakkan kakinya diatas sofa buluk yang ia tiduri.
Saat ini Nanda sedang terbaring resah diatas sofa buluk kesukaan bang Ical di basecamp Passus. Sejak jam 08.40 WIB, siswi tersebut tidak beranjak dari sana hingga tak memperdulikan kode bang Ical yang juga ingin rebahan di sofa buluk favoritnya.
"Sebenarnya gua juga malas buang air ludah buat bicara sama lo, cuma kelakuan lo dari tadi yang kayak cacing kepanasan bikin gua sumpek, mending lu bantu abang maku ni papan, ketimbang baring di sofa sambil menggerutu gak jelas" Tukas bang Ical langsung menghampiri Nanda dan menjatuhkan palu tepat di dada Nanda.
" Wanj*ir, sakit bat Da*ncok" Teriak Nanda mengumpat.
"Eleh, cuma abang taruh doang lu dah bilang sakit, gimana kalau abang lempar ke dada lu, abang jamin pasti tu dada makin tepos" Sindir bang Ical.
KRAKKKKK!!!
Tembok yang ditinjau Nanda seketika bolong dengan retakan yang menjalar di sekitar basecamp.
"sekali lagi abang ngomong kayak gitu, maka muka abang akan berakhir sama seperti tembok ini"
Udahlah bayar uang kas telat, ni anak pake bikin uang bulanan gua ilang karna benerin ni basecamp lagi. Sumpah ni kutu kuda harus gua singkirin sesegera mungkin
" I-iya d-dehhhh..... " Jawab bang Ical pasrah bercampur takut melihat retakan semakin menjalar.
Dan akhirnya, suasana kembali seperti biasa, Nanda dengan kesibukan menggerutunya, dan bang Ical dengan kegiatan memakunya.
"waaahhh, akhirnya selesai juga ni papan gua buat, taruh di depan pintu dulu ahhhh~"
Tuk! (suara papan kayu)
Senyuman sumringah senantiasa dipasang Ical dimuka berisinya, mengingat papan ini akan dipakai di acara sekolah dua hari lagi. Ooohh~ akhirnya Ical bisa tidur setelah begadang lima hari memikirkan bentuk papan ini.
Brakkkkkkk!!!!!
"Nanda!"
Tanpa disangka, Feron datang dan langsung menendang pintu ruang Passus tanpa ampun, hingga membuat pintu itu rusak dan langsung lepas dari engsel.
Nanda langsung syok melihat muka Feron lagi, oh no! Tidak bisakah muka itu fakum ke karya tetangga dulu? Nanda lagi butuh ketenangan tanpa karakter ini tuhannnn!!!!
"ngapain lo di mari?!" Sungut Nanda kesal.
"jualan lemang! Ya cari lu lah kutu Arab!" Umpat Feron berjalan kesal kearah Nanda.
Sementara Alfi malah memperhatikan pintu yang jebol, dan bertapa terkejutnya Alfi, melihat bang Ical dan setumpuk kayu yang sudah tidak berbentuk di balik pintu yang terayun mandiri.
"Kalau mau berdiri jangan dibelakang pintu bang, entar kesundul pintu gimana? Pasti sakit kan? hehehehe" Tutur Alfi dengan tangan yang senantiasa membersihkan muka bang Ical yang sudah kelam menatap papan kayu.
"Kau tu ya na-" Ucapan Feron seketika terpotong oleh sanggahan bang Ical.
"KALAU KALEN NAK MASUK KE SINI TU KETUK PINTU DULU! JANGAN MAIN KALEN BANTING AJA! LIAT LAH BERKAT KALEN PAPAN KAYU YANG KUBUAT JADI HANCUR BERANTAKAN, TANGGUNG JAWAB NGAK!" Teriak bang Ical marah.
Alfi benar-benar sial mengikuti Feron, perasaan dari episode satu ampe episode ini dia selalu sial melulu, mana sekarang Alfi dicekik bang Ical dengan penuh emosi lagi, bang lu salah cekik orang. mak! selamatkan Alfi dari malaikat maut ini~
Sementara Feron dan Nanda, setelah melihat kejadian itu malah kembali melanjutkan perdebatan yang sudah tertunda 30 detik tanpa rasa belas kasihan melihat Alfi yang sudah sekarat.
"Nan, lu kenapa gak balik-balik ke kelas ha?! Gua pusing nungguin lo makan siang, mana si Alfi udah start duluan lagi" Ucap Feron.
"gak perduli gua" Balas Nanda bersidekap dada seraya buang muka.
Melihat Nanda yang membuang muka membuat Feron kesal, ia langsung mencengkram pipi Nanda dan memaksa atensi tersebut untuk menatapnya.
"Lu harus perduli karna gua udah lapar " Ucap Feron berat, yang membuat Nanda jadi salah tingkah.
Pada akhirnya mereka bertiga menghabiskan makan siang dikantin, dengan menu mie nasi goreng (minas) satu piring bertiga yang kebetulan setelah diundi, Alfi mendapatkan jekpot membayar makanan dan minuman.
Poor Alfi.
"Nan, lu napa si? Beberapa jam ini gua liat lu rada aneh? Lagi PMS ya?" Tanya Feron.
"Kagak" Jawab Nanda jutek.
"Mulut lo mungkin bilang kagak Nan, tapi kami berdua dah feeling lo pasti ada masalah, masalah ama siapa? Biar gua bogem tu orang sekarang" Ucap Alfi garang dengan tangan yang sudah mengepal siap memukul mangsa.
"Kalau gua bilang yang lakuin itu papa, lo mau bogem juga?" Tanya Nanda menaikkan alisnya.
"Kalau untuk masalah itu bisa dipertimbangkan, heheheh" Alfi langsung kicep dan memilih menyeruput teh pocinya.
Nanda mengalihkan atensinya dari Alfi ke Feron yang sedang meminum teh poci dengan hikmat.
Ya kali gua bilang kalau gua cemburu liat Feron selalu mikirin Afni, malah dah disiapin coklat kesukaan gua lagi kalau mereka ketemuan, sabar Nanda Triasla. Ingat, jaga image
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC...