
"Tapi gua yang cari ribut" Ucap Bruno pongah.
"It's really good, lumayan dari pagi belum peregangan," Jawab Feron turun dari motor.
"Setidaknya untuk kali ini" Lirih Feron.
"Kenapa kita tidak buat taruhan? Menarik bukan?" Lanjut Feron.
"Heh! Taruhan gimana yang akan lo beri ke gua?" Kembali ungkap Bruno menantang.
"Mudah saja, jika lo menang maka lo berhak ngelakuin apapun dan gua akan mengakui kekalahan dan bertapa pengejutnya smk 1 pada sma 2. Tapi, jika gua menang maka Afnia Elsa Nabila resmi jadi milik gua seutuhnya. Gimana, gampang kan? Sesekali pake taruhan apa salahnya" Feron langsung melayangkan senyuman licik pada Afni hingga membuatnya sedikit terjengkat.
Sebegitukah obsesinya padaku?
Afni tidak bisa mengatakan sepatah kata pun, lidahnya keluh menatap teman semasa SMPnya yang sekarang berubah 180°.
Siapa kau? Kau bukan Feron yang kukenal dulu
Begitulah kira-kira isi dari air muka Afni yang bisa dibaca Feron, ia hanya bisa tersenyum pahit.
"Udah gua bilang Afni, gua bakal balas dendam" Ucap Feron dingin.
"Eits! Tapi sebelum kalian adu bogem, lebih baik kita ganti tempat" Sikat Alfi mencairkan suasana.
*lapangan balap BKN*
"Mending kita pulang aja deh No, disini udah mulai gak enak suasananya" Aku Afni merinding.
"Gak usah sok manja deh Afni, lo harusnya takut ama tuhan bukan ama setan" sinis Feron membuat Afni langsung syok, Afni langsung memandang Feron meminta pembelaan namun yang ia dapat hanya muka tidak perduli dari Bruno.
"Tanpa banyak mukodhimah langsung aja kita adu bogem Ron" Singkat Bruno langsung membuat kuda-kuda bersiap.
" Lu bener juga" Ujar Feron ikut bersiap.
"HUAAAAA!!!!"
Bruno berhasil membogem dagu Feron hingga Feron sedikit oleng kebelakang, darah segar langsung mengalir dari hidung namun dengan gesit Feron langsung menyapunya hingga samar.
"Hmm... Boleh juga lu Bruno, Cuih!" Darah segar juga tak luput keluar dari mulut Feron.
"Gua gak mau kalah dari lo!!!!"
Zwinggg
Srakkkkk
Bukkkkk
Bukkk
Bukkkkk
Buuukkkk
Mereka berdua saling mundur, Bruno mulai merasakan sakit disekujur kaki dan perutnya yang sepertinya memar, sementara Feron mencoba tetap tegap walau luka yang sama juga dialaminya.
Kali ini gua pasti
Gua pasti bakal dapetin Afni
Inner Feron absolut.
Feron kembali mengambil gerakan tegap siap menyerang, dan Bruno yang bersusah payah kembali menegaskan badannya walau sudah mencapai batas.
"AFNI Milik GUA BRUNOOOOO!!!!"
"DALAM MIMPI LO!!!!"
Buuukkkkk
Brukkkkk!!!!
Mereka berdua sama-sama terpental.
Ayo Bruno, lo bisa
Bisik hati Bruno menyemangati diri. Ia memandang tangannya yang terkepal lemah, ia sudah tidak sanggup, kemudian Bruno beralih memandang Afni yang tak jauh dibelakangnya, tepatnya disebelah motor Bruno yang terparkir tidak terlalu jauh.
Afni dibelakangnya bertampang sangat khawatir, mata itu kini berembun siap menumpahkan liquid bening kapan saja, dan Bruno benci itu semua.
Dengan sisa tenaga yang ada Bruno bangkit walau sempoyongan. Ia tidak akan membiarkan Afni bersama pemuda yang pernah menjadi sahabat karibnya dulu, tidak akan pernah. Bruno bersumpah akan hal itu.
Tapi sebelum berbalik.
DWAKKK!!!
Feron berhasil menumbangkan Bruno dengan memukul bekas luka dikepalanya dengan satu pukulan yang begitu kuat yang berhasil ia hantamkan.
"Fyiuuuuiiittt~ apa ini bisa dianggap tidak adil?" Tanya Alfi yang berjalan perlahan mendekat kearah Feron dan Bruno.
"Brunoooo.... Tidak Bruno, sadar Bruno!" Afni langsung berlari kearah sang kekasih dengan air mata yang begitu deras mengalir. Namun naas, keinginan tersebut sepertinya harus diundur karna seseorang mencengkram lengannya kuat.
"Hey Afni, tenang saja. Gua dan Feron ngak bakal membunuh Bruno, tenang aja ok. Lagian kami juga bosan selalu keluar masuk kantor polisi, jadi santai aja bre" Bujuk Alfi yang datang entah dari mana
"Eh? Kamu pikir aku bisa tenang begitu saja ha!? Aku bahkan tidak bisa melihatnya selalu berkelahi setiap saat, itu membuatku ketakutan setiap kali ia berdarah" Ucap Afni marah.
"Eh Afni, mana ada berkelahi gak berdarah? Lu pikir ini ajang pencarian bakat yang mana orang-orang kelahi itu cuman dilebihin musik ZING BUK BAK BRUKnya doang?" ucap Alfi berkacak pinggang.
"Sudahlah Alfi, jaga emosi lo sama pacar gua" Ucap Feron dengan gesit memukul tangan Alfi yang masih setia menempel pada lengan afni.
"Sorry Feron hehehehe.. " Tawa Alfi memutar atensinya malas.
"Ayo Afni" Kini beralih Feron yang menggengam pergelangan Afni, ia sedikit terkejut namun dengan segera ia berusaha untuk menyingkirkan tangan tegap itu.
"Lepasin aku Ron" ucap Afni meronta.
"Lepas? Sampai langit dan seisinya minggat ke planet lainpun gua gak bakal pernah lepasin lo lagi Afni, cukup untuk yang dulu. Lo sendiri tau kan kalau gua suka sama lo? Jadi tolong untuk kali ini saja, nurut ama gua"
Afni tidak bisa berkata lagi, lidahnya kelu. Ia dapat melihat dengan jelas dua bola mata yang redup tanpa cahaya yang menghiasi.
Dia....
.....
"HUAAAAAAAA!!!!!"
"Afni kamu kenapa sayang?" tanya sang mama dari balik pintu kamarnya.
"Ha? Ng-ngak ada apa-apa ma" Setelah mengucapkan kalimat itu, Afni langsung mengusap mukanya kasar.
Belakangan ini ia sering memimpikan hal yang sama secara acak dan itu semua berhubungan dengan satu orang, yaitu
"Feron" Gumam Afni diatas tempat tidur.
Sejak pertemuannya di HUT ke 76 itu, semakin hari bayangan Feron selalu muncul di fikirannya, menghantui. Entah apa yang terjadi, yang jelas Afni merasa sangat menyesal telah memperlakukan Feron dulu.
"Aku sangat menyesal Feron" Lirih Afni menangis.
*****
"satu! Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh! Delapan!"
"Beralih ke tangan kanan, ayo!" Ucap pak Fuad semangat menjadi contoh pemanasan pada sesi kali ini, karna biasanya ia akan duduk saja dan akan beralasan yang aneh-aneh agar ia bisa santai di bawah pohon rindang.
"Setiap kali olahraga rasanya badan ini lemas~" Keluh Feron yang mengikuti pemanasan dengan gerakan lemas seperti akan pingsan.
"Berhentilah menggerutu sebelum gue aduin sama pak fuad" Ujar Yuni yang tepat disebelah Feron.
"Blebleble, dasar cewek cepu" Ejek Feron.
(Cepu: Tukang pengadu)
"Serah gua dong, orang juga mulut gua" Balas Yuni tidak terima.
"Yuni Wulandari luuuuuuu........!!!!!! Sabar Feron sabar dia betina ingat betina Huuuufff..... Hahhhhhhh..... hmmmm..... betina hah.. Hah...." Gumam Feron mencoba tenang.
"Masak ia pejantan kalah sama betina? Lihatlah, gua bahkan ngak ngos-ngosan ataupun mengeluh dengan pemanasan pak Fuad yang sebegitu banyaknya hingga satu jam" Ucap Yuni membanggakan diri.
Sementara Feron yang mendengarkan ocehan Yuni semakin mengasamkan muka, ia rindu pemanasan disebelah Nanda sahabatnya ketimbang bersebelahan dengan kucing hutan ini,sungguh menjengkelkan si Fuad itu.
Tega sekali ia menjauhkan Feron dari sumber payung gratisan berjalannya. Selain Nanda yang punya badan lebih seinci darinya, Nanda juga cukup lebar untuk menjadi peneduh Feron dikala panas datang menyapa bumi ini.
Tapi sekarang, malah digantikan dengan kue bantet ini.
Punya dendam apa tu Fuad ama gua
Inner Feron menatap sinis punggung tegap Fuad yang masih semangat pemanasan.
"Kalau masih menggerutu, pemanasan kamu saya tambah 20x putaran Feron" Ucap pak Fuad langsung menoleh sinis pada Feron.
Seketika Feron langsung semangat pemanasan, bahkan intonasi hitungannya jadi dua kali lebih cepat dari teman-temannya, membuat mereka semua langsung menatap Feron ternganga.
Nanda di barisan belakang hanya bisa terkikik geli melihat kelakuan sahabatnya satu itu, selain bodoh sikapnya juga aneh, cocok untuk menghibur Nanda dikala bosan.
Kembali ke Feron yang memandang Yuni tak minat.
"Ngapain lo liat-liat?! Suka sama gua!?" Cerocos Yuni yang tanpa sadar mengeluarkan hujan gratis.
"Najis gua suka ama lo kue kemojo" Maki Feron langsung buang muka.
Dari pada memandang Yuni yang terus mengoceh seraya pemanasan, Feron lebih suka mencari pemandangan baru.
Contohnya seperti melihat sang sahabat yang sedang salah tingkah disebelah Anwar sang pujaan hatinya dalam diam.
"Hmmm~ menarik buat dipersatukan" Ucap Feron mulai mengendap perlahan meninggalkan barisannya untuk mendekati barisan Nanda yang berada disudut belakang.
Sementara diposisi Nanda sekarang.
Astaga, hati gua gemetar. Oh ya ampun o My God
Tanpa sadar saat mundur untuk peregangan berikutnya Nanda malah tersandung balok kayu?
"Huaaa!!!"
"Nanda!" Teriak Anwar langsung sigap meraih punggung nanda.
Oh ya ampun, bertapa cerobohnya gua
Khilaf Nanda didalam hatinya, melihat wajah Anwar sedekat ini sungguh nikmat tuhan.
Wajah Nanda semakin merah, wajah mereka semakin mendekat. Anwar membisikkan sebuah kata yang berhasil membuat hatinya tambah dilema.
"Lo gak apa-apa kan nan?" Suaranya lembut tepat di telinga kiri Nanda.
Sebelum menjawab, tanpa sadar ia menolehkan atensinya kearah kanan. Disana ia melihat Feron yang malah bermuka senang sambil menahan tawa gelinya.
Sekarang Nanda tau siapa yang melakukan semua ini,
Feron, makasih
Telepati Nanda dan mengacungkan jempolnya malu-malu agar tidak disadari Anwar seraya kedip-kedip mata.
Apapun buat lo bestie
Gerak mulut Feron menjawab dengan senyuman jahil yang tak luntur dari wajahnya.
Kembali Nanda menyadarkan dirinya.
"Gua gak apa-apa war, mungkin kelelahan aja"
Sementara seorang gadis yang tidak jauh dari adegan tersebut hanya bisa meremas minuman kalengnya kesal, ia tengah memperhatikan mereka dengan aura cemburu yang pekat.
"Seenaknya aja lo nempel-nempel ama pacar gua!!!!" Bisik suara itu geram.
...TBC ...